Kamis, 24 Desember 2009

[Resensi] Ring

Judul: Ring
Pengarang: Koji Suzuki
Penerbit: Qanita
Harga: (lupa)
Jumlah hlm: 440

Empat remaja tewas mengenaskan dengan ekspresi wajah penuh ketakutan.
Sebuah kaset video misterius ditemukan.
Seorang jurnalis berjuang melindungi dirinya dan keluarganya.
Semuanya terhubung dalam suatu lingkaran setan tak berujung.


Di suatu tempat peristirahatan, empat orang remaja menonton sebuah video misterius. Keempatnya tewas tepat seminggu kemudian. Di tempat yang sama, Kazuyuki Asakawa, seorang jurnalis surat kabar di Tokyo, menemukan video itu dan mengungkapsebuah kutukan. Hanya tujuh hari yang dimiliki Asakawa untuk mempertahankan hidupnya. Suasana diperkeruh dengan keberadaan Sadako, seorang gadis misterius dari masa lalu.

Mampukah Asakawa mengungkap rahasia yang bisa menyelamatkan nyawanya? Siapakah Sadako, dan apa yang diinginkannya? Misteri apakah yang tersembunyi dalam kaset video itu?


Selengkapnya

Sadako, karakter hantu yang tiba-tiba menjadi populer di sekitar tahun 2002 lalu—tidak salah lagi—membuat saya membeli novel ini tanpa pikir panjang. Selain penasaran sehebat apa horor dalam novel ini sehingga filmnya laris manis bahkan sampai dibuat ulang di Amerika, saya juga ingin tahu versi asli cerita Sadako (seperti biasa,novel yang diadaptasi menjadi film kan tidak selamanya memiliki jalan cerita yang sesuai).

Dan ternyata tidak salah kalau novel ini menjadi booming di Jepang. Segera setelah saya selesai membaca, saya langsung menyetujui bahwa inilah yang dinamakan novel horor.

Gaya penulisan Koji Suzuki sangat khas orang Jepang: simpel (saya suka sih yang seperti ini) sehingga novel ini otomatis menjadi mudah dimengerti. Settingnya Jepang luar dalam (wajar, mengingat sang pengarang adalah orang Jepang asli) dan (sepertinya) tidak memerlukan pengetahuan banyak untuk memahami settingnya.

Senjata utama dari novel ini sendiri adalah ketakutan akan waktu dan kematian. Sekedar informasi, saya tidak menemukan ada sosok berambut panjang dengan gaun putih yang merangkak keluar dari TV (ciri khas Sadako). Si pemeran utama benar-benar hanya menonton video, yakin deh kalau saya nonton juga nggak bakalan setakut waktu nonton video yang ada Sadako merayap keluar dari layar. Ketegangan yang dibangun terasa agak longgar, tapi konsisten selama beberapa saat sebelum ending. Sempat mereda menjelang akhir dan—sial, membuat saya deg2an membacanya—tiba2 meningkat tajam beberapa halaman sebelum ending. Formula menarik untuk sebuah horor. :D

Dan dari novel ini akan ketahuan kenapa horor Jepang bisa menjadi terkenal (beda sekali jika dibandingkan dengan “Suster Ngesot”, “Tali Pocong Perawan”, dkk yang asli buatan bangsa sendiri). Saya tidak akan membeberkan rahasia kecil itu di sini. Sebaiknya sih dibaca sendiri saja novel ini. :D

Skor: 7,5 / 10

Senin, 07 Desember 2009

[Resensi] Xar&Vichattan: Takhta Cahaya



Judul: Xar&Vichattan: Takhta Cahaya
Pengarang: Bonmedo Tambunan
Penerbit: Penerbit Adhika Pustaka
Harga: Rp 49.500,-
Jumlah hlm: 312

Peperangan antara Kuil Xar dan Vichattan berhadapan dengan Kuil Kegelapan tidak terhindarkan. Pasukan Kegelapan mulai mendekati Desa Cimea. Sementara itu pasukan Xar dan Vichattan yang telah mengetahui gelagat itu mulai mengungsikan penduduk dan berjaga-jaga.

tapi perang kali ini tampaknya berlangsung tidak seimbang. xar dan Vichattan tidak lagi didukung kekuatan Cahaya yang telah hilang seiring hancurnya Kuil Cahaya tujuh tahun yang lalu. Satu-satunya cara untuk mengimbangi Kuil Kegelapan adalah dengan membangun kembali Kuil Cahaya.

Namun menegakkan kembali Kuil Cahaya tak semudah membalikkan telapak tangan. Hanya orang terpilih saja yang dapat membangkitkan Kuil Cahaya. Akhirnya Dalrin, Gerome, Kara, dan Antessa ditunjuk oleh roh Cahaya masa lalu sebagai ahli waris Kuil Cahaya. Penduduk Xar dan Vichattan tidak ada yang percaya mendengar berita itu. Mereka hanya empat orang anak kecil, tetapi diberi tugas yang sangat berat. Sekarang mereka mau tidak mau harus menjalankan tugas itu demi membangun kembali kekuatan Cahaya dan mengalahkan Kegelapan.


Selengkapnya

Seperti yang bisa ditebak oleh mereka yang lumayan sering membaca resensi saya, yap, buku ini juga dibeli pada saat Gramedia menggelar diskon di BSM (diskonnya 30%! b[>_<]d). Sejujurnya, dari kemarin kemarin memang saya penasaran dengan novel fantasi lokal ini karena kemasannya yang ciamik. Akhirnya karena merasa kapan lagi saya bisa mendapatkan novel terbitan non-GPU dan rekan-rekan yang didiskon sampai 30%, saya beli buku ini. :D

Agak sama dengan kasus novel fantasi lokal yang pernah saya bahas, Zauri, ada kemungkinan dalam pembahasan ini ada komentar yang muncul karena saya sudah terlebih dahulu membaca resensi orang lain mengenai novel ini. Mohon dimaafkan untuk kekhilafannya.

Seperti biasa, novel lokal harus dibahas mulai dari kover dan sinopsisnya. :D

Sinopsis, sejauh ini terasa baik-baik saja. Selain ditampilkan dengan tulisan yang mudah dibaca, sinopsis juga menjabarkan garis besar cerita secara seperlunya—meskipun setelah saya membaca isinya, ada urutan yang terasa terbalik—tanpa membocorkan hal penting dalam cerita.

Kover? Itu hal yang paling saya puja puji dari novel ini. Gilaaa, ini pertama kalinya saya sebegitu terpesonanya dengan kover novel fantasi lokal sampai-sampai beberapa jam sesudah membelinya, saya mengamati detail kovernya. [>_<] Ilustrator kovernya memang top dah! Apa yang digambarkan di depan cukup sesuai dengan gambaran makhluk serta karakter di bagian dalam novel. Satu hal yang terasa janggal adalah pada ilustrasi wanita berambut merah yang ada di punggung angsa raksasa (jika sesuai dengan cerita, nama karakter itu adalah Lahana). Bagian—sori—dada Lahana terlihat agak aneh dan menurut saya seseorang dengan jabatan seperti dirinya kemungkinan besar akan menggunakan baju yang lebih tertutup—kecuali ada konsep baru yang menyatakan bahwa dalam pertarungan baju yang minim akan memudahkan pergerakan, terlepas dari perlindungan terhadap serangan menjadi lebih minim. Oh, ya, sekedar info tambahan, saya telah melakukan kroscek tentang tim ilustrator novel ini, Imaginari Friends Studio, dan memastikan bahwa studio tersebut rupanya juga pernah membuat ilustrasi untuk majalah National Geographic edisi Juili 2009, pada artikel mengenai satwa purba nusantara. Mereka memang seorang pro di bidangnya, saya akui. :D

Memasuki halaman awal novel, saya menemukan berturut-turut: daftar isi, peta setting, kata pengantar dari pengarang. Tidak ada masalah dengan ketiganya. Petanya sendiri melingkupi wilayah yang cukup kecil, dibuat secara sederhana, tapi informatif. Kata pengantar sih ya gitulah ya, pendek kok, jadi bisa dibaca sendiri, dijamin nggak bakal ketiduran pas baca.

Mari beralih ke mode pembahasan secara menyeluruh. :D (saya lebih suka menggunakan cara demikian karena saya memang meminimalisir bocoran cerita)

Cerita, secara garis besar … mohon maaf karena harus mengatakan ini, game RPG lawas sekitar dua puluh tahun lalu, mungkin. Inti ceritanya dapat dijabarkan dengan: jahat versus baik, cahaya versus kegelapan, tidak lebih tidak kurang. Tidak lebih tidak kurang. Itulah yang membuat saya kurang berkenan dengan jalan cerita novel ini. Terakhir kali saya menemukan plot cerita seperti ini adalah di game Dissidia (PSP) di mana game tersebut memang merupakan suatu game fighting yang menjual karakter-karakter (semua karakter utama antagonis dan protagonis Final Fantasy dari 1-10 ada di sana) dan gameplay yang unik, bukan menjual cerita seperti pada game-game RPG. Tidak ada larangan untuk menggunakan suatu ide yang sudah ada berpuluh-puluh tahun silam, tapi sejauh ini para pembuat cerita—novelis, pembuat cerita game, anime, manga, komik, film, dan lainnya—telah melakukan inovasi pada cerita dengan tema yang serupa sehingga penggunaan ide cerita klasik tanpa adanya variasi akan terlihat seperti pesawat Fokker lawan pesawat Sukhoi. Sama-sama pesawat tapi yang satu kalah inovasi, memble lah jadinya. 

Tapi, terlepas dari tema cerita yang ketinggalan jaman, saya merasa ada nuansa campursari—ini bukan maksudnya menghina, lho—dalam komposisi yang membentuk novel ini. Ada campuran antara gameWarcraft III: Reign of Chaos/The Frozen Throne (dari deskripsi pasukan kegelapan), novel His Dark Materials (dari segi karakter berusia muda), Deltora Quest (dari misi mencari sesuatu untuk mengalahkan lawan), dan, yang paling terasa, The Chronicles of Narnia (dari perjalanan yang mereka lakukan). Hm, ketimbang memikirkan kemungkinan bahwa pengarang memang mencomot konsep dari judul yang saya sebutkan, saya lebih berpikir positif dan menerima nuansa yang ada dalam novel ini sebagai pengalaman baru.

Sekarang! Saatnya menjabarkan hal-hal yang saya temukan secara lebih spesifik! Baik dan buruk! Here I come.

Positif:

- Teknis
Tidak ada kekurangan yang signifikan dalam teknis menulis. Kalaupun ada, sejauh yang saya ingat, hanya terbatas pada penggunaan tanda baca yang berjumlah lebih dari satu, seperti “!!!” atau “!!?”.

- Konsep sihir
Original. :D Acungan jempol untuk konsep sihir yang ditata dengan rapi, tidak sekedar rapal mantera, ayunkan tongkat, cahaya berkelabat, dan “BLAAARRR!”, tapi pengarang juga melengkapi konsep sihirnya hingga perbedaan pengaplikasian hingga keterbatasan penggunaan sihir. Jika dibandingkan dengan sihir dalam Harry Potter (saya memilih judul yang paling “sihir” di antara yang lain) yang jarang didetailkan prosesnya dan tidak ada yang namanya kehabisan energi, konsep ini terasa jauh lebih manusiawi. :D

- Glosari
Salah satu cara terampuh dalam menangani penjelasan yang tidak berhasil dimampatkan ke dalam cerita. Saya tidak pernah menolak ada glosari, lumayan membantu di saat perlu mengecek konsep dan istilah.

Negatif:

- Karakteristik
Hampir setiap karakter dalam novel ini dapat diungkapkan dengan satu hingga beberapa kata sifat singkat, tapi tidak lebih dari sepuluh sifat. Hasilnya? Saya sampai berpikir yang membedakan para karakternya adalah cara mereka berkata-kata dan penampilan fisik.

Selain itu, penampilan para karakter pun sejak awal seakan-akan dialiansi sehingga pihak baik atau pendukung protagonis selalu berpakaian cerah dan secara fisik bersih, dalam artian tidak ada cacat fisik yang signifikan (apalagi mental) sementara pihak jahat atau pendukung antagonis selalu berpakaian serba hitam dan secara fisik lebih kena sifat tegaan dari pengarang, alias ada yang punya banyak bekas luka, ada yang jalannya pincang, dan seterusnya.

Kenapa karakter baik tidak boleh cacat mental atau fisik …? Ini namanya diskriminasi karakter! *ilustrasi protes para karakter antagonis dan pendukungnya*

Respons karakter satu sama lainnya pun terkesan datar. Kalaupun ada sesuatu yang terbilang lucu, itu hanyalah terjadi antara Gerome-Kara. Lucunya juga datar sih sebenarnya menurut standar saya. Mau bukti???

Antessa dan Dalrin tersenyum geli melihat tingkah laku kedua sahabat mereka itu.


Berapa kalipun Gerome-Kara tonjok-tonjokan (Kara menonjok Gerome, tidak berlaku sebaliknya :D) teman mereka responsnya senyum aja, sampe pengarangnya juga kayaknya capek sendiri dan akhirnya meng-copas pernyataan mengenai respons Antessa-Dalrin.

Ada apa ini dengan karakteristik??? Padahal kelemahan plot sebenarnya bisa diangkat hanya dengan karakter-karakter yang solid, tapi pengarang sepertinya kurang pol dan berani dalam meramu karakteristik tokoh-tokohnya. Sangat disayangkan.

- Dialog
Pola paling umum dialog dalam novel ini adalah:

”*Nama yang diajak bicara*, *apa yang hendak ditanyakan/diberitahukan/diperingatkan dan lainnya*”


” *Apa yang hendak ditanyakan/diberitahukan/diperingatkan dan lainnya*, *nama yang diajak bicara/panggilan teman/sobat/sahabat dan sejenisnya”


Pola di atas sangat banyak ditemukan dalam dialog, membuat saya sempat jengah membacanya dan bertanya-tanya apakah pengarang memang memasukkan unsur dialog seperti ini sebagai ciri khas orang dunia sana dalam berbicara, suatu ketidaksengajaan atau hal ini memang untuk kepentingan penyusunan kalimat yang artistik or whatever it called?

- Deus ex Machina
Deus ex Machina sebenarnya wajar untuk dilakukan, hanya saja ada batasan berupa konsistensi dan logika untuk menerapkannya sehingga Deus ex Machina yang terjadi akan diterima sebagai suatu “keberuntungan berpihak pada para karakter” bukan sebagai “ini pengarangnya ikut-ikutan aja, dasar geje”.

a. Black Hole
Di awal hingga pertengahan cerita, diceritakan bahwa penyihir dari pihak Kuil Kegelapan mampu mengeluarkan bola hitam yang efeknya menghisap serangan sihir lawannya bahkan perapal sihirnya seperti black hole. Mengerikan memang, saya baru saja terpikir kalau para penyihir itu baik, mereka akan menyelesaikan permasalahan sampah, minimal di Indonesia yang gunungan sampahnya hobi longsor.

Tiba-tiba, menjelang akhir cerita, bola hitam ini jadi kurang mantap lagi, padahal statusnya Kuil Cahaya yang menyokong keampuhan ilmu para pengikut Xar&Vichattan bangkit juga belum. Saya merasa efek bola hitam ini sengaja dibuat melempem oleh pengarang demi menyelamatkan para karakternya—yang sebenarnya nggak utama-utama amat sih, mati agak konyol harusnya dibiarin aja, toh namanya juga lagi perang dahsyat.

b. Teleport?
Menjelang akhir cerita, ada suatu prosesi yang harus dijalani oleh keempat karakter utama, di mana kondisi mereka menjadi, sebutlah, tidak bisa melakukan apapun untuk membela diri mereka dari berbagai upaya menggagalkan prosesi. Di saat-saat itu, terjadi sesuatu yang menegangkan: salah satu oknum Kuil Kegelapan berhasil melepaskan serangan yang mengarah cukup akurat kepada mereka berempat dan serangan tersebut terlambat disadari oleh dua makhluk non-manusia yang tengah bertarung melawan naga berkepala dua (Nama naganya Nolacerta dan dia edan-edanan! Bodinya segede gunung dan katanya dia memperbesar diri lagi berkali-kali lipat! Pantesan aja jin yang dipanggil Sangkuriang bikin perahu yang dibalik aja bisa jadi gunung. Para jin gaulnya sama makhluk macem Nolacerta yang gedenya amit-amit sih! [>o<]). Ketika usaha pertolongan dari dua makhluk non-manusia dan seorang manusia nampaknya akan gagal karena masalah kecepatan dan sisa kekuatan, tiba-tiba …

Ayahnya Dalrin yang menahan serangan itu (dan tidak terhisap seperti khas serangan bola hitam yang dijabarkan sebelumnya, lihat poin a. di atas mengenai serangan black hole, kecuali ada beberapa tipe bola hitam yang saya tidak ketahui).

*krik?*

Saat membaca bagian itu, saya berseru dalam hati, “TADI DIA NGGAK ADA DI SANAAAAAA!!! Cepet amat dia tahu-tahu udah ada di atas aja!”

- Kesalahan minor lainnya
Ada beberapa, saya paling memperhatikan masalah sebutan (apakah “biarawan” juga dapat digunakan untuk menyebut Ka-Xar dan Es-Xar?), masalah ukuran (Shiba tidak akan kelihatan kalau Nolacerta memang sebesar gunung, mungkin Nolacerta lebih kecilan dikit? Rumah mungkin?), dan penggunaan bahasa Inggris yang terasa kurang pas.

Overall, saya menganggap novel ini termasuk ke dalam jajaran “lumayan”, agak disayangkan karena jatuhnya hanya di level itu bukan “bagus” karena kekurangan yang—menurut saya—cukup signifikan serta fatal di karakteristik dan plot.

Skor: 6/10

[Resensi] Musashi


Judul: Musashi
Pengarang: Eiji Yoshikawa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 155.000,-
Jumlah hlm: 1248

Miyamoto Musashi adalah anak desa yang bercita-cita menjadi samurai sejati. Di tahun 1600 yang penuh pergolakan itu, ia menceburkan diri ke dalam Pertempuran Sekigahara, tanpa menyadari betul apa yang diperbuatnya. Setelah pertempuran berakhir, ia mendapati dirinya terbaring kalah dan terluka di tengah ribuan mayat yang bergelimpangan.

Dalam perjalanan pulang, ia melakukan tindakan gegabah yang membuatnya menjadi buronan hingga seorang pendeta Zen berhasil menaklukkannya. Otsu, gadis cantik yang mengaguminya, membebaskan Musashi dari hukumannya, tapi Musashi kembali tertangkap. Selama tiga tahun ia mesti menjalani kehidupan mengasingkan diri, dan masa-masa itu dipergunakannya untuk menyelami karya-karya klasik Jepang dan Cina.

Setelah bebas kembali, ia menolak diberi jabatan sebagai samurai. Selama beberapa tahun berikutnya, ia mengejar cita-citanya dengan tekad penuh mengukuti Jalan Pedang, dan menjadi samurai sejati. Lambat laun ia mengerti bahwa mengikuti Jalan Pedang bukan sekedar mencari sasaran untuk mencoba kekuatannya. Ia terus mengasah kemampuan, belajar dari alam dan mendisiplinkan diri untuk menjadi manusia sejati. Ia menjadi pahlawan yang tidak mau menonjolkan diri bagi orang-orang yang hidupnya telah ia sentuh atau telah menyentuh dirinya. Ujian puncak baginya adalah ketika ia harus bertarung melawan Sasaki Kojiro, saingan terberatnya yang masih muda dan sangat tangguh. Mereka akan mengadu kemampuan, dan Musashi ingin membuktikan bahwa kekuatan dan keterampilan bukan satu-satunya yang bisa diandalkan untuk menentukan kemenangan.


Selengkapnya

Semenjak puas dengan Taiko karangan Eiji Yoshikawa, saya mulai melirik karyanya yang satu lagi ini, Musashi. Buku dengan tampilan fisik kira2 sama dengan Taiko ini (bahkan sebenarnya lebih tebal) butuh waktu lebih lama dari perkiraan hingga akhirnya terbeli di Pasar Buku Palasari, Bandung. Ini karena masalah dana sebenarnya...

Oke, langsung saja dimulai pembahasan isinya.

Pertama kali membuka buku, setengah sadar saya melihat siapa penerjemahnya. Murni setengah sadar lho. Lalu untuk pertama kalinya dalam membaca novel saya mendapati di sana tertulis “Tim Penerjemah Kompas”. Wow, “tim”??? Menarik, menarik, pikir saya.

Kemudian, ada semacam kata pengantar. Satu hal lagi yang tidak biasa dari sekian banyak novel yang bertengger di lemari saya. Penasaran, saya baca juga kata pengantarnya.

Dari kata pengantar itulah saya akhirnya tahu bahwa dulunya novel Musashi ini pernah dimuat sebagai cerita bersambung di harian Kompas. Jujur, agak ngeri membayangkan buku setebal ini dimuat di koran! Berapa lama yah sampe tamat? :D

Kemudian, ada informasi lain bahwa novel Musashi ini awalnya memiliki tebal 35000 halaman! Ini jelas fakta yang kelewat mengerikan! 35000 halaman! Lalu ada proses peringkasan hingga menjadi 1200+ halaman. (kerja keras pihak yg meringkas nih) Hal inilah yang membuat saya maklum apabila rentang waktu semua kejadian di dalam novel terasa cepat berlalu.

(masih mikir... 35000 halaman itu... apa karena pake tulisan Jepang yang pake kuas itu dan nulisnya gak bolak balik yah? Kalo iya sih masih agak wajar)

Satu hal yang baru saya sadari, ketiga novel Jepang saya (maksudnya, ditulis oleh pengarang Jepang) ternyata mengalami dua kali proses penerjemahan. Dari bahasa Jepang diterjemahkan menjadi bahasa Inggris, baru kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Sama halnya dengan novel Musashi ini. Ternyata novel yang sudah berbahasa Indonesia ini hasil terjemahan dari versi bahasa Inggris. Ya, tidak apa-apalah, yang penting ceritanya sama kan?

Secara garis besar, isi dari novel ini terfokus pada perjalanan hidup Musashi, sama seperti yang tersirat dari judulnya. Tapi, mengimbangi banyaknya porsi Miyamoto Musashi, tokoh2 lain yang berkaitan dengannya juga diceritakan. Dari banyaknya penceritaan yang dilakukan, pembaca dikenalkan lebih jauh pada sifat2 karakter lainnya dan juga perasaan serta keterkaitan mereka dengan sang tokoh utama. Nyaris tak terasa adanya pemeran figuran dalam novel ini karena pemberian porsi cerita yang cukup besar kepada tokoh2 lain selain sang protagonis.

Meskipun saya menyukai cara penulis mempertahankan karakter2nya agar tidak tenggelam oleh “aura” pemeran utama, ada resiko strategi menceritakan karakter2 lain scr mendalam ini dapat membuat pembaca jadi tidak fokus pada pemeran utama dan mgkn melupakan nama2 yang banyak terdapat di dlm novel ini (suatu hal yang tidak terjadi terlalu parah pada saya).

Kemudian... satu hal yang menurut saya cukup fatal adalah terlalu rapatnya jalinan hubungan antar karakter. Akan saya jelaskan maksudnya.

Pertama, karakter2 yg demikian banyak sering berpapasan atau bertemu secara kebetulan di negeri Jepang yang ukurannya lebih besar daripada Pulau Jawa dan pada masa cerita itu terjadi, belum sepadat Jepang masa kini. Seberapa mungkin sih orang tanpa sengaja bertemu dalam perjalanan menuju suatu tempat yang berbeda, tapi kebetulan saja bersilang jalan?

Kedua, hubungan yg bersifat “si ini ternyata adalah anak si itu” dan variasi “si ini ternyata...” lainnya banyak beredar di antara karakter2nya. Kadang agak menyebalkan kan berpikir mengenai betapa kecilnya dunia ini? (betapa kecilnya Jepang ini kalo di novel ini :D)

Ketiga, perubahan karakter! Salah satu ciri khas sebuah novel menurut pelajaran bahasa Indonesia yang pernah saya dapat salah satunya adalah “adanya perubahan nasib tokoh”. Musashi menerapkannya, sangat menerapkannya, tapi dalam cara yg mendekati cara menyajikan Pop Mie. Nyaris instan. Saya tidak akan mengungkapkan terlalu detail di resensi ini karena tidak ingin men-spoiler apapun, jadi akan saya contohkan bbrp yg dpt diceritakan scr garis besar.

Misalnya,

- Teman lama Musashi. Dari yang awalnya teman, karena suatu kesalahpahaman dia jadi membenci Musashi. Sejak lama sifatnya memang luar biasa parah. Pemalas dan kurang usaha (menjengkelkan bukan? :D). Kemudian, sekian ratus halaman menjelang akhir buku, dia mengalami suatu kejadian yang mengubah hidupnya. Ia tertangkap basah, nyaris menghadapi hukuman mati, namun atas kebaikan seseorang hidupnya diselamatkan dan setelahnya, ia tiba-tiba diceritakan telah bertemu kembali dengan Musashi dan sama sekali tdk nampak menaruh dendam kesumat padanya. Ada entah berapa ratus halaman, yang menguraikan seluk beluk ia dapat berbaikan kembali dengan temannya, hilang. Lalu, sama cepatnya dengan ia berbaikan kembali dengan Musashi, karakter ini diceritakan berubah sikap menjadi orang yang lebih konsisten dan bertanggung jawab. Jika memperhatikan jalannya waktu, sikap pemalas dari karakter ini telah berlangsung selama sekitar enam tahun, lalu perubahannya terjadi dan berlangsung selama dua tahun. Memang bukan tidak mgkn terjadi, tapi saya kira agak langka.

- Ibu dari teman lama Musashi. Wanita tua ini demikian membenci Musashi krn menganggapnya telah merusak anaknya. Saya berani menjamin, siapapun yg membaca novel ini juga akan merasa bete sendiri mendapati bagaimana karakter yg satu ini bersikap. :D Lalu tiba2... Sama seperti yg terjadi pada anaknya, sekian ratus halaman menjelang akhir buku, ia bertobat! Padahal selama hidupnya dia adalah org yg saleh dan tiba2 di suatu titik menjelang akhir cerita itu ia memperoleh pencerahan yg mengubah seluruh sikapnya yang keras.

Saya, sekali lagi, menyalahkan peringkasan 35000 halaman menjadi 1200+ halaman utk hal ini! [>_<]

Cukup sekian dengan kekurangan, skrg saatnya beralih ke komentar netral dan bagus. :D

Menurut saya, poin bagus yang ditawarkan oleh novel ini adalah motivasi dan pembelajaran yang ditawarkan dalam ceritanya. Saya pribadi menangkap bbrp pesan tersirat semacam “perubahan itu mungkin”, “belajar dan berkembang seiring dgn waktu”, dan “memutuskan akan menjadi apa dalam kehidupan”. (saya tidak memaksakan pembaca lainnya menangkap pesan yang sama dari novel ini, ketiga pesan yg saya dapat itu murni hasil tafsiran pribadi)

Saya menolerir semua kelemahan2 yg telah dijabarkan di atas karena saya rasa novel ini lebih difokuskan utk menceritakan pencerahan2 dan pelajaran2 yg didapat oleh seorang Musashi dalam perjalanan hidupnya. Buku ini, jelas, tidak akan cocok bagi mereka yg plg malas mendapat “kuliah” mengenai bagaimana sebaiknya bersikap dlm hidup ini dari sebuah buku. :D Saya jelas tidak menyarankan untuk kalangan seperti itu, tapi bagi penikmat novel (standar biasa dan standar pecinta Paulo Coelho) bolehlah novel ini dijajal. :D

Satu hal yg lupa saya bahas. Sang pengarang novel, hidup lama setelah masa2 Musashi. Saya benar2 salut karena beliau sanggup menceritakan sebuah masa entah berapa ratus tahun silam dgn tingkat kebenaran yg cukup tinggi. Ini membuktikan pengarang menuliskan sesuatu dgn bekal pengetahuan yg memadai, sehingga karyanya tidak hanya berkesan “apa adanya”.

Skor: 9 / 10

Minggu, 06 Desember 2009

[Resensi] Zauri: Legenda Sang Amigdalus

Judul: Zauri: Legenda Sang Amigdalus
Pengarang: Dian K
Penerbit: PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Harga: Rp 45.500,-
Jumlah hlm: 311

”Iya, tapi Amigdalus itu apa?” tanya Kid tak sabar.

“Amigdalus adalah orang yang punya kekutan hampir tak terbatas. Selama ini Cuma desas-desus, tapi aku tidak mengira ini akan benar-benar terjadi. Legendanya sendiri usianya sudah ratusan tahu,” kata Zen.

Semua sibuk mencerna kata-kata Zen. Kedua alis Kid bahkan nyaris bertaut saking kerasnya ia berpikir. Ternyata permasalahan ini berkembang menjadi sangat serius. Lebih dari itu, sekarang melibatkan Elgamb dan mungkin seluruh dunia, mengingat Mario punya ambisi yang menyeramkan. Pemikiran ini membuat mereka merinding.

“Sebentar... kau bilang kekuatan Amigdalus hampir tak terbatas? Lalu, kalau Dios seorang diri menantangnya...” Kid tidak meneruskan kata-katanya. Semua berpaling ke arah kepulan asap, merasa ngeri.

Selengkapnya

Bingo! Ini adalah novel fiksi fantasi lokal yang mendapat kehormatan untuk menempati lemari buku saya. Sebenarnya sudah cukup lama juga sejak saya pertama kali mengetahui novel ini, hasil mengikuti salah satu forum terbesar di Indonesia dan membaca resensi di blog milik salah satu anggota forum tersebut. Lalu kenapa menunda membelinya?

Pertama, rupanya novel ini sudah cukup lama berada di pasaran dan kebetulan toko buku yang paling dekat dengan tempat saya berdomisili, hobinya adalah kehabisan stok, entah itu komik, entah itu novel. Kedua, saat saya berhasil mengontak pengarangnya langsung dan sudah diberi tahu bahwa ia bisa mengusahakan satu jilid, kirim via pos, saya—jujur—mendadak ragu-ragu membelinya. Alasannya simpel, produk lokal memang sukar dipercaya kualitasnya. Silakan maki-maki saya karena alasan terakhir itu.

Oke, jadi setelah saya benar-benar kehabisan, tiba-tiba Gramedia mengadakan bursa buku, lokasinya hanya tinggal menyeberang jalan—bisa sih lewat terowongan khusus karena lokasinya juga termasuk bagian dari universitas. Gambling, saya ke sana, karena berdasarkan pengalaman silam, ada saja stok buku “langka”. Memang dasar sudah nasib, dengan uang minim di dompet, rupanya saya ketemu novel yang satu ini dengan harga yang pasti bikin pengarangnya sakit hati karena jauh dari aslinya—saya sih bahagia karena dapat buku murah banget. :D

Yak, jadi mari dimulai saja pembahasannya. Hm, sebelum berlanjut, ada beberapa hal yang mungkin menjadikan resensi ini berbeda dengan resensi-resensi saya yang lain, hal itu karena:

1. Saya kenal pengarangnya. Mau dibilang bagaimana juga, ada rasa sungkan kalo menghina terlalu dahsyat, lha wong saya juga belum tentu bisa bikin sebagus ini, kok menghina, mau dicincang apa? :D :D

2. Ini novel lokal. Berbeda dengan kebanyakan buku koleksi saya yang merupakan terjemahan dari bahasa lain, pembahasan untuk novel lokal pasti lebih banyak, mulai dari kover, sinopsis, teknis menulis dan lainnya. Kenapa? Murni karena ini bukan terjemahan. Saya harus protes apa soal terjemahan yang di luar pengetahuan saya selain cerita dan “taktik” bercerita si pengarang?

3. Saya pernah membaca resensi orang lain mengenai novel ini. Resensi yang pernah dibaca, sedikit banyak mempengaruhi pendapat, itu benar.

Baiklah, mari mulai dari kover dan sinopsis.

Kover ... hmm, setuju dengan pendapat di resensi yang pernah saya baca. Harusnya font seperti itu dipakai buat judul novel “Kuntilanak Jembatan Ancol” yak dan semacamnya. Kesan kerennya salah lokasi, singkatnya demikian. Gambar kristal, pedang, kayaknya sih baik-baik saja. Saya tidak begitu pintar soal layout sih ...

Yang membuat saya stres adalah sinopsisnya! Agggh!!! Kover buku ini, depan dan belakang, didominasi warna biru gelap. Di bagian belakang, memang ada warna yang lebih muda, yang cenderung putih ditaruh di atas warna lain yang lebih gelap. Alih-alih menggunakan warna kontras sekalian, sinopsis ditulis dengan warna hitam dan ukuran hurufnya kecil! Bahkan saat mengangkat novel ini dari tumpukannya, saya langsung malas baca sinopsisnya, padahal biasanya itu adalah bagian inisiasi ritual saya dalam menilai buku. Jadi, setelah akhirnya saya membaca sinopsis—berhari-hari setelah novel ini menjadi penghuni baru lemari—kemudian membaca isi buku selama sehari penuh, saya agak menyesalkan kenapa yang disebut sinopsis ternyata adalah potongan dari isi novelnya sendiri. Rasanya itu bukan sinopsis deh namanya ...

Terserah deh soal sinopsis, yang pasti saya sekarang sudah selesai bacanya. :D :D

Ada kalimat pembuka dalam bahasa Inggris ala dongeng anak-anak di halaman kelima. Ehee, nggak tahu deh ini kerjaan editor atau kerjaan pengarangnya. Sesudah baca, udah jelas kalimat itu bisa dibuang jauh-jauh. :D Really, believe me.

Karena saya merasa sudah menulis panjang lebar dari atas, saya kena serangan rasa malas membahas isi novel per bab, jadi saya akan mengubah bahasan saya jadi mode “secara keseluruhan”.

Oke, secara keseluruhan, runtutan cerita cukup bersih, dalam artian tidak ada logika salah yang terlalu mengganggu. Jujur, saya yang terbiasa main game dengan pola “karakter-utama-ditemukan-di-suatu-tempat-dalam-keadaan-amnesia-dan-baru-memperoleh-kembali-ingatan-selama-dalam-perjalanan” cukup kaget mendapati bahwa bab pertama justru menceritakan proses si pemeran utama kehilangan ingatan, jadi alih-alih di sepanjang cerita saya terkaget-kaget dengan “wah, si ini ternyata ...” dan sejenisnya, saya malah secara rutin merasakan “aduuuh, gak gitu ...” dan “dia kan sebenarnya ...” :D Mungkin untuk orang lain, formula ini dirasakan aneh atau bahkan mengganggu, tapi saya cukup menikmati “sensasi” yang tidak biasa tersebut.

Berlanjut ke bab-bab selanjutnya—mungkin karena saya sudah banyak main berbagai game RPG—runtutan cerita mengarah ke pola klise. Karakteristik-karakteristik para tokohnya pun sebenarnya ala game RPG, tapi game RPG yang sekitar sepuluh tahun silam, jaman sekarang para pengembang game juga sudah menghindari pola-pola tersebut supaya penggemar game tidak bosan. :D Pola cerita klise yang saya maksud di sini, terutama sekali kentara menjelang akhir cerita. Tipe party member game berguguran satu persatu yang saya sebut sebagai pola, “kalian pergilah duluan, aku akan menahan mereka di sini” Buat yang bukan penggemar game, pasti tidak masalah sih. :D Klise tidak selamanya buruk, itulah hebatnya novel ini. Dia bisa membuat saya bertahan membaca meskipun ada banyak adegan dan pola klise.

Hmm, setelah cerita, saya akan beralih pada teknis penulisan. Secara keseluruhan, teknis penulisan sudah sangat bagus, meskipun saya agak bingung saya membandingkannya dengan apa kok bisa bilang begitu? :D Yaa, anggaplah, saya yang juga hobi menulis ini tahu cukup banyak mengenai teknis tulisan yang bagus dan baik. Benar kok! Tidak ada tanda kutip yang ketinggalan menutup sebuah kalimat langsung, penempatan tanda baca lain, huruf kapital dan lainnya juga sudah sesuai dengan aturan yang saya tahu, makanya saya bilang bagus. Masalahnya adalah pada duet tanda elipsis dan tanda pisah “...—“ yang tidak hanya sekali saya temukan. Itu penggunaan tanda baca yang setahu saya salah. :|

Mari beralih ke hal yang lebih spesifik. Jadi, saat membaca, saya sempat kebingungan dengan “blok” kalimat di bawah ini:

”Hei, Kid,” bisik Kayla. “Apa tidak ada perempuan lain di sini? Selain aku, tentunya.”

Kid masih celingukan. “Tentu saja ada. Mana dia, ya?” katanya setengah pada diri sendiri.

Kayla ikut mencari. “Itu dia! Dia sedang bicara dengan seseorang berjanggut di sebelah sana! Kau lihat?”

Kid menoleh dengan antusias. Tetapi, kemudian rasa tertariknya menghilang. “Bukan dia!” katanya kecewa.

Lho! Bukanya kau mencari dia?”

“Untuk apa aku mencari dia?! Aku sudah bosan melihatnya setiap hari!”

Kayla menatap Dios, yang sedang menunjukkan botol-botol madu bubaglop pada orang berjanggut itu. “Lalu, siapa yang kau cari?” gumamnya heran.


Dari percakapan itu, yang saya tangkap—percakapannya ditebalkan—Kid mencari “perempuan lain selain Kayla” bukannya mencari Dios seperti yang disimpulkan di akhir percakapan. Saya sampai membaca berulang kali di bagian itu, kebingungan sendiri dengan makna yang saya tangkap.

Tapi, tenang saja, hal seperti yang saya contohkan di atas hanya terjadi satu kali itu saja. :D Sudah saya bilang kan secara teknis dan cerita, novel ini bagus? :D

Selain “blok” percakapan di atas, saya menemukan penggunaan frase yang terasa salah, terjadi lebih dari satu kali dalam cerita:

Pandangannya langsung tertumbuk pada sepasang mata hitam kecil yang aneh karena tanpa bola mata.


Maksudnya mungkin tanpa bagian putih dari mata, bukan tanpa bola mata ... Bola mata, kalau makhluknya memang punya mata, pasti ada kan? :D Serem amat kalau tidak ada! :|

Beralih lagi ke hal yang lebih luas. Beberapa hal yang menurut saya janggal, tapi tidak terhitung sebagai plothole:
- Mio. Dia adalah salah satu karakter yang mengetahui persis kejadian yang menimpa si pemeran utama, sayangnya karena diubah menjadi peri, dia tidak bisa menceritakannya pada orang lain. Selama cerita, saya menyadari bahwa sekalipun ia adalah peri, intelejensianya tetap intelejensia manusia, dalam artian dia memang masih memiliki pola pikir dan akal seperti manusia. Kalau memang begitu ... peri bisa menulis kan? Harusnya dia tulis saja apa yang ingin dia komunikasikan, terutama cerita mengenai pemeran utama ...

- “Benteng” Hutan Gizmoa. Jadi, di akhir cerita, hutan ini dikelilingi semacam penghalang, membentuk sejenis benteng milik bos terakhir kalau dalam game. Pertanyaannya adalah ... daripada nungguin di benteng, kenapa si antagonis nggak melaksanakan niatnya untuk menguasai dunia aja? Udah punya kekuatan hebat gitu malah nunggu-nunggu, jadi kan mati. Salah sendiriiiii!!! Antagonis kok goblok!

Yap, yap, saya rasa pembahasan saya akan berhenti sampai di sini. Alasannya simpel, masa saya menulis resensi lebih tebal dari bukunya? :D Ngawur sekali deh rasanya. Overall, novel ini adalah novel yang mengobati saya dari trauma terakhir saya membaca novel teenlit. Betul sekali, meskipun ceritanya tergolong klise dan ada kecenderungan sederhana dalam penulisannya, saya benar-benar menikmati membaca novel ini dari awal hingga akhir. :D :D

Skor: 7/10

Minggu, 29 November 2009

[Resensi] The Amber Spyglass


Judul: The Amber Spyglass
Pengarang: Philip Pullman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 67.500,-
Jumlah hlm: 624

Will adalah si pembawa pisau. Sekarang, didampingi para malaikat, ia bertugas mengantarkan senjata yang dahsyat dan berbahaya itu kepada Lord Asriel---sesuai perintah ayahnya ketika menjelang ajal.

Tapi bagaimana ia bisa mencari Lord Asriel, ketika Lyra hilang? Padahal hanya dengan bantuan gadis itu ia dapat memahami berbagai intrik yang mengepungnya.

Dua kekuatan besar dari banyak dunia bersiap-siap perang, dan Will harus menemukan Lyra, sebab mereka dalam perjalanan menuju pertempuran, perjalanan tak terelakkan yang bahkan akan membawa mereka ke dunia kematian...

Selengkapnya

Buku terakhir dari trilogi His Dark Materials! Satu hal yang saya senang adalah kata “trilogi” yang dikatakan si pengarang bukan mengarah ke “trilogi bohongan” yang katanya ada tiga gak tahunya ada empat ato lebih kalo mau tuntas-tas-tas. (plg gak suka ama jenis itu) Dan—wow—harus saya akui The Amber Spyglass adalah pamungkas untuk trilogi ini!

Di buku ketiga ini rencana peperangan melawan Otoritas (benar sekali! Otoritas dengan “o” huruf kapital! Kalian tahu siapa maksudnya. :D) dijabarkan lebih lanjut. Karakter bernama Lord Asriel yang sejak buku pertama dan kedua kelihatan timbul tenggelam lebih diekspos lagi. Siapa yang menyangka dua orang yang di dua buku sebelumnya terkesan sebagai antagonis (Lord Asriel dan istrinya, Mrs Coulter) akhirnya berperan besar dalam perang tersebut. (tidak akan saya beberkan di sini) Satu-satunya hal yang membuat saya agak bertanya-tanya adalah kenapa daemon Mrs Coulter tidak pernah disebut namanya dan jarang diceritakan tengah berbicara dengan Mrs Coulter. Daemon milik Lord Asriel saja akhirnya diketahui bernama Stelmaria (nama yang bagus :D) dan lebih sering berbicara ketimbang “si monyet emas” milik Mrs Coulter. Jangan-jangan pengarangnya sudah kehabisan ide untuk nama?

Untuk karakteristik, sebenarnya masih terasa adanya banyak kejanggalan dalam buku terakhir trilogi ini. Kadang karakteristik berubah secara membingungkan, seperti misalnya sikap Lord Asriel terhadap putrinya, awalnya seperti menganggap anak itu tidak ada apa-apanya dan cenderung menyusahkan, kemudian berubah secara drastis menjadi membanggakan anak tersebut setelah suatu kejadian besar. (saya tahu hal tersebut mungkin terjadi, tapi semuanya tahu mengubah persepsi seseorang dengan sebuah kejadian adalah hal yang sukar, benar?) Sisanya, hampir sebagian besar karakter novel ini mengalami perubahan karakteristik setelah berbagai kejadian dan rata-rata terkesan alami.

Masih tentang karakter, entah merupakan kelemahan atau memang harus begitu, ada banyak karakter yang perannya besar namun hanya muncul dalam waktu singkat. Satu berperan besar dalam membangunkan pemeran utama dari tidur panjang akibat obat, satu berperan sebagai penyelamat kedua pemeran utama. Untuk karakter pertama, kemunculannya dan interaksi dengan karakter lain porsinya cukup banyak, tapi untuk karakter kedua... dia muncul di awal cerita, kemudian menghilang dan muncul lagi menjelang akhir buku sebelum akhirnya lenyap sama sekali (bukan manusia sih, jadi “lenyap” sebutnya bukan “mati”) . Hmm, apakah ini taktik pengarang untuk mengamankan pemeran utamanya?

Satu hal yang sedikit berbeda dengan plot “nobody that become somebody to save everybody” yang biasanya berkaitan dengan “takdir” dan “ramalan”, The Amber Spyglass menerapkan resep yang sedikit berbeda. Kedua pemeran utama (Lyra dan Will, lupa sebut dari tadi) seolah-olah digerakkan oleh kebutuhan dan keputusan pribadi mereka dan tanpa mereka sadari sepenuhnya, mereka telah melakukan perubahan besar yang berpengaruh. Lyra, terutama, telah mengetahui ramalan mengenai dirinya, namun ia tidak sepenuhnya mengerti dan di sepanjang cerita berbuat “egois” sesuka hatinya, seperti mencari temannya yang telah tewas hingga ke dunia tempat orang mati. Will tidak jauh berbeda. Ia (memaksa) mencari Lyra yang diculik di buku sebelumnya dan kemudian begitu saja menyertai Lyra pergi ke dunia tempat orang mati berada. Saat berada di sana, mengetahui situasi dan keadaan di sana, mereka membuat keputusan lain lagi (dengan sedikit konsultasi dengan alat bernama alethiometer milik Lyra) dan setelahnya mereka mencari daemon masing-masing yang terpisahkan saat memasuki dunia orang mati. Di sepanjang cerita, mereka mungkin hanya tahu mengenai perang dari karakter lain yang menyertai mereka tanpa pernah sedikit pun berinisiatif untuk terlibat. (masuk akal, anak seumuran mereka mana mungkin berinisiatif terlibat perang?) Ini resep yang berbeda dari plot dengan karakter utama “berkesadaran wajib militer”. :D

Satu hal paling luar biasa dalam cerita ini adalah inti utama cerita. Banyak beredar omongan bahwa trilogi ini menjerumuskan orang pada atheisme. Saya tidak akan menyangkalnya, tapi jika mengesampingkan hal itu sebentar saja, harusnya pembaca yang baik dapat menemukan sisi lain selain sekedar “kampanye atheisme” (yang kalau tidak salah juga disangkal oleh pengarangnya sendiri). Saat baru membaca setengah buku ini, saya sempat memikirkan sebuah pertanyaan “apa yang akan dilakukan orang seandainya apa yang selama ini ia percayai sebagai sesuatu yang benar dan mutlak ternyata tidak benar?”. Itu pertanyaan yang cukup menarik. :D (hei! Bukan berarti saya sudah jadi atheis karena terpengaruh buku ini!!! NO!) Dan menurut pendapat saya, wejangan dalam buku ini bukanlah “lawan apa yang salah”, tapi lebih cenderung ke “jalani kehidupanmu sepenuhnya” (ada versi bhs Inggrisnya yg lbh keren, tapi gw lupa dan daripada salah lebih baik tidak mencoba mem-bahasainggris-kannya :D). Setiap orang punya kehidupan, dalam kehidupan itu, lakukan sesuatu, buatlah keputusan, dan jangan menyesal saat kehidupan berakhir. Saya menangkap pesan tersebut dalam buku ini (selain masalah atheis yang diributkan orang...) dan menurut saya itu pesan yang disisipkan dengan bagus oleh sang pengarang dalam karyanya ini.

Satu hal yang agak membuat saya mengernyitkan kening saat membaca buku ini adalah kisah cinta Lyra-Will. Memang dipadatkan di akhir buku, tapi kadarnya... kadarnya setara dengan kisah cinta di novel Twilight yang disebar di sepanjang cerita. Saya jenis orang yang tidak menolerir porsi kisah cinta sebanyak itu, mungkin berbeda untuk pembaca yang lain. Tapi harus saya akui, kisah cinta yang disisipkan di saat-saat akhir buku ini cukup romantis. :D

Skor: 8 / 10

I-buk versus I-badi

Suatu pagi di hari Minggu.

Nyokap: "Eh, itu YM-an gimana sih caranya?"
Gw: "Kalo dari hape pake ebuddy saja." *penggembar e-buddy kalo untuk chat HP*
Nyokap: "Mana? Kemarin dicari, adanya buku semua."
Gw: "Gubraks. Itu mah e-book, bukan e-buddy!"
Nyokap: "Oh, salah yah? Namanya tapi kan masih mirip-mirip dikit."
Gw: "Yang sama cuma 'e' ama 'b' doang ..."

==

Hehe.

Kamis, 10 September 2009

[Resensi] The Subtle Knife


Judul: The Subtle Knife (Pisau Gaib)
Pengarang: Phillip Pullman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga:
Jumlah hlm: 408

Will baru berumur dua belas tahun tapi telah membunuh orang. Sekarang ia sendirian, dalam pelarian, bertekad menemukan fakta yang sebenarnya tentang ayahnya yang hilang.

Lalu Will memasuki jendela yang menuju ke dunia lain, dan mendapat teman baru—gadis kecil liar dan aneh bernama Lyra. Seperti Will, gadis itu punya misi yang akan dilaksanakannya dengan risiko apapun.

Tapi dunia Cittagazze ajaib dan meresahkan. Spectre yang mengisap jiwa dan mematikan gentayangan di mana-mana, sementara jauh di atas, samar-samar terdengar kepakan sayap para malaikat.

Dan di Torre degli Angeli yang misterius bersembunyi rahasia paling penting Cittagazze—benda yang membuat orang-orang dari banyak dunia rela melenyapkan nyawa orang lain untuk mendapatkannya...


Selengkapnya

Sama seperti seri sebelumnya—The Golden Compass—The Subtle Knife unggul dalam penulisan sinopsisnya. Terbukti saya penasaran setelah bolak-balik membaca sinopsisnya di toko buku (atau bisa jadi ini sih karena saya saja yang mudah terpengaruh :D).

Sayangnya, jalan cerita dalam seri kedua ini lebih terasa sebagai lanjutan. Jika tidak terlebih dahulu membaca The Golden Compass, dijamin susah mengikuti cerita novel kedua ini. Ini menjadikan poin minus lain selain ending yang sekali lagi berkesan mengambang dan membuat pembaca merasa “wajib” membeli lanjutannya.

Kekurangan lain yang saya temukan adalah semakin jauh dari kenyataannya isi novel ini. Salah satu contohnya adalah saat sang pemeran utama terluka dan lukanya berdarah selama berhari-hari. Harusnya di akhir cerita dia sudah mati kehabisan darah kan? :D Ditambah—lagi-lagi—dengan karakteristik tokoh-tokohnya yang terlalu dewasa, semakin terasa kurang dekat dengan keseharian pembaca.

Untungnya dari semua poin2 negatif itu masih ada satu poin positif selain sinopsisnya: unsur kejutan. Si pengarang masih tetap menyisipkan elemen kejutan dalam ceritanya (tentu tidak akan saya bilang apa kejutannya :D). Meskipun jika dibandingkan dengan novel lain yang saya baca, kejutan di sini tidak seberapa hebat.

Skor: 6 / 10