Pengarang: Koji Suzuki
Penerbit: Qanita
Harga: (lupa)
Jumlah hlm: 440
Empat remaja tewas mengenaskan dengan ekspresi wajah penuh ketakutan.
Sebuah kaset video misterius ditemukan.
Seorang jurnalis berjuang melindungi dirinya dan keluarganya.
Semuanya terhubung dalam suatu lingkaran setan tak berujung.
Di suatu tempat peristirahatan, empat orang remaja menonton sebuah video misterius. Keempatnya tewas tepat seminggu kemudian. Di tempat yang sama, Kazuyuki Asakawa, seorang jurnalis surat kabar di Tokyo, menemukan video itu dan mengungkapsebuah kutukan. Hanya tujuh hari yang dimiliki Asakawa untuk mempertahankan hidupnya. Suasana diperkeruh dengan keberadaan Sadako, seorang gadis misterius dari masa lalu.
Mampukah Asakawa mengungkap rahasia yang bisa menyelamatkan nyawanya? Siapakah Sadako, dan apa yang diinginkannya? Misteri apakah yang tersembunyi dalam kaset video itu?
Selengkapnya
Sadako, karakter hantu yang tiba-tiba menjadi populer di sekitar tahun 2002 lalu—tidak salah lagi—membuat saya membeli novel ini tanpa pikir panjang. Selain penasaran sehebat apa horor dalam novel ini sehingga filmnya laris manis bahkan sampai dibuat ulang di Amerika, saya juga ingin tahu versi asli cerita Sadako (seperti biasa,novel yang diadaptasi menjadi film kan tidak selamanya memiliki jalan cerita yang sesuai).
Dan ternyata tidak salah kalau novel ini menjadi booming di Jepang. Segera setelah saya selesai membaca, saya langsung menyetujui bahwa inilah yang dinamakan novel horor.
Gaya penulisan Koji Suzuki sangat khas orang Jepang: simpel (saya suka sih yang seperti ini) sehingga novel ini otomatis menjadi mudah dimengerti. Settingnya Jepang luar dalam (wajar, mengingat sang pengarang adalah orang Jepang asli) dan (sepertinya) tidak memerlukan pengetahuan banyak untuk memahami settingnya.
Senjata utama dari novel ini sendiri adalah ketakutan akan waktu dan kematian. Sekedar informasi, saya tidak menemukan ada sosok berambut panjang dengan gaun putih yang merangkak keluar dari TV (ciri khas Sadako). Si pemeran utama benar-benar hanya menonton video, yakin deh kalau saya nonton juga nggak bakalan setakut waktu nonton video yang ada Sadako merayap keluar dari layar. Ketegangan yang dibangun terasa agak longgar, tapi konsisten selama beberapa saat sebelum ending. Sempat mereda menjelang akhir dan—sial, membuat saya deg2an membacanya—tiba2 meningkat tajam beberapa halaman sebelum ending. Formula menarik untuk sebuah horor. :D
Dan dari novel ini akan ketahuan kenapa horor Jepang bisa menjadi terkenal (beda sekali jika dibandingkan dengan “Suster Ngesot”, “Tali Pocong Perawan”, dkk yang asli buatan bangsa sendiri). Saya tidak akan membeberkan rahasia kecil itu di sini. Sebaiknya sih dibaca sendiri saja novel ini. :D
Skor: 7,5 / 10



