[Resensi] The Golden Compass


Judul: The Golden Compass (Kompas Emas)
Pengarang: Phillip Pullman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 57.500,-
Jumlah halaman: 488

Ketika temannya, Roger, lenyap, Lyra dan daemonnya, Pantalaimon, bertekad menemukannya. Pencarian itu membawa mereka ke alam Utara yang dahsyat, muram tapi menakjubkan, tempat beruang-beruang berbaju besi menguasai dunia es tersebut dan ratu-ratu penyihir beterbangan di langit yang membeku--dan tempat sekelompok ilmuwan melakukan eksperimen mengerikan.

Lyra berhasil melalui berbagai kengerian ini, tapi sesuatu yang lebih berbahaya menunggunya--yang tak pernah terbayangkan olehnya...




Formal tapi luwes dan enak dibaca, seperti itulah gaya bercerita Philip Pullman. Pertama kali saya membeli novel ini justru karena mendengar kabar bahwa filmnya akan segera beredar, dan kebiasaan saya adalah kalau film berasal dari novel, jelas harus baca dulu novelnya baru nonton filmnya. Karena itulah saya membeli novel ini, sama sekali tidak tahu akan seperti apa ceritanya.

Hal pertama yang menarik di novel ini adalah sinopsisnya. Pertama kali membaca sinopsisnya, saya penasaran dan setelah membaca seluruh isi buku hingga tuntas, rasa penasaran saya terjawab. Itu salah satu strategi pembuatan sinopsis yang baik menurut saya: membuat pembaca penasaran dan merasa puas setelah membaca novel yang dibelinya.

Kelemahan novel ini ada pada karakteristiknya. Seorang Lyra yang usianya sekitar sepuluh atau dua belas tahun terasa sebagai seorang anak yang dewasa (menurut saya, tidak sewajarnya sedewasa itu). Karakteristik tokoh-tokoh novel ini tidak biasa--harusnya bisa menjadi poin yang bagus karena menawarkan sesuatu yang tidak generik, tapi entah kenapa saya pribadi justru tidak suka karakteristik seperti itu. Terasa ganjil dan tidak nyata.

Kelemahan lain menurut saya adalah endingnya. (Sekedar info, novel ini adalah bagian pertama dari trilogi His Dark Materials) Tidak perlu heran menemukan sebuah novel berseri sekarang ini, saya sendiri sudah mengoleksi empat seri termasuk His Dark Materials dan membaca sekitar enam judul. Nah, jika dibandingkan dengan tiga seri lainnya, seri pertama His Dark Materials ini memiliki ending yang terkesan menggantung dan kurang memuaskan. Bagi saya, novel berseri yang baik justru tidak membuat penasaran di akhir novelnya dengan sebuah ending menggantung. Seharusnya masalah satu buku diselesaikan dalam buku itu saja. Apakah masalah buku pertama berhubungan dengan masalah di buku kedua adalah urusan nanti.

Sisanya, gaya penulisan, terbilang cukup mudah dimengerti. Buku ini adalah salah satu contoh novel fantasi bersetting dunia lain yang tidak banyak membuat deskripsi dengan menggunakan perbandingan dengan dunia nyata, salah satu poin plos dalam mendeskripsikan sebuah dunia lain dan merupakan bukti bahwa membuat setting dunia lain yang demikian mirip dengan dunia nyata adalah strategi untuk menghindari banyak penjelasan yang berpotensi membuat pembaca bosan.

Skor: 7 / 10

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi] Valharald

Simple Notes: Fiction Junction (Character Part 1: Classification)

Simple Notes: Ketika Negara Api Menyerang ...