[Resensi] Zauri: Legenda Sang Amigdalus
Judul: Zauri: Legenda Sang Amigdalus
Pengarang: Dian K
Penerbit: PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Harga: Rp 45.500,-
Jumlah hlm: 311
Bingo! Ini adalah novel fiksi fantasi lokal yang mendapat kehormatan untuk menempati lemari buku saya. Sebenarnya sudah cukup lama juga sejak saya pertama kali mengetahui novel ini, hasil mengikuti salah satu forum terbesar di Indonesia dan membaca resensi di blog milik salah satu anggota forum tersebut. Lalu kenapa menunda membelinya?
Pertama, rupanya novel ini sudah cukup lama berada di pasaran dan kebetulan toko buku yang paling dekat dengan tempat saya berdomisili, hobinya adalah kehabisan stok, entah itu komik, entah itu novel. Kedua, saat saya berhasil mengontak pengarangnya langsung dan sudah diberi tahu bahwa ia bisa mengusahakan satu jilid, kirim via pos, saya—jujur—mendadak ragu-ragu membelinya. Alasannya simpel, produk lokal memang sukar dipercaya kualitasnya. Silakan maki-maki saya karena alasan terakhir itu.
Oke, jadi setelah saya benar-benar kehabisan, tiba-tiba Gramedia mengadakan bursa buku, lokasinya hanya tinggal menyeberang jalan—bisa sih lewat terowongan khusus karena lokasinya juga termasuk bagian dari universitas. Gambling, saya ke sana, karena berdasarkan pengalaman silam, ada saja stok buku “langka”. Memang dasar sudah nasib, dengan uang minim di dompet, rupanya saya ketemu novel yang satu ini dengan harga yang pasti bikin pengarangnya sakit hati karena jauh dari aslinya—saya sih bahagia karena dapat buku murah banget. :D
Yak, jadi mari dimulai saja pembahasannya. Hm, sebelum berlanjut, ada beberapa hal yang mungkin menjadikan resensi ini berbeda dengan resensi-resensi saya yang lain, hal itu karena:
1. Saya kenal pengarangnya. Mau dibilang bagaimana juga, ada rasa sungkan kalo menghina terlalu dahsyat, lha wong saya juga belum tentu bisa bikin sebagus ini, kok menghina, mau dicincang apa? :D :D
2. Ini novel lokal. Berbeda dengan kebanyakan buku koleksi saya yang merupakan terjemahan dari bahasa lain, pembahasan untuk novel lokal pasti lebih banyak, mulai dari kover, sinopsis, teknis menulis dan lainnya. Kenapa? Murni karena ini bukan terjemahan. Saya harus protes apa soal terjemahan yang di luar pengetahuan saya selain cerita dan “taktik” bercerita si pengarang?
3. Saya pernah membaca resensi orang lain mengenai novel ini. Resensi yang pernah dibaca, sedikit banyak mempengaruhi pendapat, itu benar.
Baiklah, mari mulai dari kover dan sinopsis.
Kover ... hmm, setuju dengan pendapat di resensi yang pernah saya baca. Harusnya font seperti itu dipakai buat judul novel “Kuntilanak Jembatan Ancol” yak dan semacamnya. Kesan kerennya salah lokasi, singkatnya demikian. Gambar kristal, pedang, kayaknya sih baik-baik saja. Saya tidak begitu pintar soal layout sih ...
Yang membuat saya stres adalah sinopsisnya! Agggh!!! Kover buku ini, depan dan belakang, didominasi warna biru gelap. Di bagian belakang, memang ada warna yang lebih muda, yang cenderung putih ditaruh di atas warna lain yang lebih gelap. Alih-alih menggunakan warna kontras sekalian, sinopsis ditulis dengan warna hitam dan ukuran hurufnya kecil! Bahkan saat mengangkat novel ini dari tumpukannya, saya langsung malas baca sinopsisnya, padahal biasanya itu adalah bagian inisiasi ritual saya dalam menilai buku. Jadi, setelah akhirnya saya membaca sinopsis—berhari-hari setelah novel ini menjadi penghuni baru lemari—kemudian membaca isi buku selama sehari penuh, saya agak menyesalkan kenapa yang disebut sinopsis ternyata adalah potongan dari isi novelnya sendiri. Rasanya itu bukan sinopsis deh namanya ...
Terserah deh soal sinopsis, yang pasti saya sekarang sudah selesai bacanya. :D :D
Ada kalimat pembuka dalam bahasa Inggris ala dongeng anak-anak di halaman kelima. Ehee, nggak tahu deh ini kerjaan editor atau kerjaan pengarangnya. Sesudah baca, udah jelas kalimat itu bisa dibuang jauh-jauh. :D Really, believe me.
Karena saya merasa sudah menulis panjang lebar dari atas, saya kena serangan rasa malas membahas isi novel per bab, jadi saya akan mengubah bahasan saya jadi mode “secara keseluruhan”.
Oke, secara keseluruhan, runtutan cerita cukup bersih, dalam artian tidak ada logika salah yang terlalu mengganggu. Jujur, saya yang terbiasa main game dengan pola “karakter-utama-ditemukan-di-suatu-tempat-dalam-keadaan-amnesia-dan-baru-memperoleh-kembali-ingatan-selama-dalam-perjalanan” cukup kaget mendapati bahwa bab pertama justru menceritakan proses si pemeran utama kehilangan ingatan, jadi alih-alih di sepanjang cerita saya terkaget-kaget dengan “wah, si ini ternyata ...” dan sejenisnya, saya malah secara rutin merasakan “aduuuh, gak gitu ...” dan “dia kan sebenarnya ...” :D Mungkin untuk orang lain, formula ini dirasakan aneh atau bahkan mengganggu, tapi saya cukup menikmati “sensasi” yang tidak biasa tersebut.
Berlanjut ke bab-bab selanjutnya—mungkin karena saya sudah banyak main berbagai game RPG—runtutan cerita mengarah ke pola klise. Karakteristik-karakteristik para tokohnya pun sebenarnya ala game RPG, tapi game RPG yang sekitar sepuluh tahun silam, jaman sekarang para pengembang game juga sudah menghindari pola-pola tersebut supaya penggemar game tidak bosan. :D Pola cerita klise yang saya maksud di sini, terutama sekali kentara menjelang akhir cerita. Tipe party member game berguguran satu persatu yang saya sebut sebagai pola, “kalian pergilah duluan, aku akan menahan mereka di sini” Buat yang bukan penggemar game, pasti tidak masalah sih. :D Klise tidak selamanya buruk, itulah hebatnya novel ini. Dia bisa membuat saya bertahan membaca meskipun ada banyak adegan dan pola klise.
Hmm, setelah cerita, saya akan beralih pada teknis penulisan. Secara keseluruhan, teknis penulisan sudah sangat bagus, meskipun saya agak bingung saya membandingkannya dengan apa kok bisa bilang begitu? :D Yaa, anggaplah, saya yang juga hobi menulis ini tahu cukup banyak mengenai teknis tulisan yang bagus dan baik. Benar kok! Tidak ada tanda kutip yang ketinggalan menutup sebuah kalimat langsung, penempatan tanda baca lain, huruf kapital dan lainnya juga sudah sesuai dengan aturan yang saya tahu, makanya saya bilang bagus. Masalahnya adalah pada duet tanda elipsis dan tanda pisah “...—“ yang tidak hanya sekali saya temukan. Itu penggunaan tanda baca yang setahu saya salah. :|
Mari beralih ke hal yang lebih spesifik. Jadi, saat membaca, saya sempat kebingungan dengan “blok” kalimat di bawah ini:
Dari percakapan itu, yang saya tangkap—percakapannya ditebalkan—Kid mencari “perempuan lain selain Kayla” bukannya mencari Dios seperti yang disimpulkan di akhir percakapan. Saya sampai membaca berulang kali di bagian itu, kebingungan sendiri dengan makna yang saya tangkap.
Tapi, tenang saja, hal seperti yang saya contohkan di atas hanya terjadi satu kali itu saja. :D Sudah saya bilang kan secara teknis dan cerita, novel ini bagus? :D
Selain “blok” percakapan di atas, saya menemukan penggunaan frase yang terasa salah, terjadi lebih dari satu kali dalam cerita:
Maksudnya mungkin tanpa bagian putih dari mata, bukan tanpa bola mata ... Bola mata, kalau makhluknya memang punya mata, pasti ada kan? :D Serem amat kalau tidak ada! :|
Beralih lagi ke hal yang lebih luas. Beberapa hal yang menurut saya janggal, tapi tidak terhitung sebagai plothole:
- Mio. Dia adalah salah satu karakter yang mengetahui persis kejadian yang menimpa si pemeran utama, sayangnya karena diubah menjadi peri, dia tidak bisa menceritakannya pada orang lain. Selama cerita, saya menyadari bahwa sekalipun ia adalah peri, intelejensianya tetap intelejensia manusia, dalam artian dia memang masih memiliki pola pikir dan akal seperti manusia. Kalau memang begitu ... peri bisa menulis kan? Harusnya dia tulis saja apa yang ingin dia komunikasikan, terutama cerita mengenai pemeran utama ...
- “Benteng” Hutan Gizmoa. Jadi, di akhir cerita, hutan ini dikelilingi semacam penghalang, membentuk sejenis benteng milik bos terakhir kalau dalam game. Pertanyaannya adalah ... daripada nungguin di benteng, kenapa si antagonis nggak melaksanakan niatnya untuk menguasai dunia aja? Udah punya kekuatan hebat gitu malah nunggu-nunggu, jadi kan mati. Salah sendiriiiii!!! Antagonis kok goblok!
Yap, yap, saya rasa pembahasan saya akan berhenti sampai di sini. Alasannya simpel, masa saya menulis resensi lebih tebal dari bukunya? :D Ngawur sekali deh rasanya. Overall, novel ini adalah novel yang mengobati saya dari trauma terakhir saya membaca novel teenlit. Betul sekali, meskipun ceritanya tergolong klise dan ada kecenderungan sederhana dalam penulisannya, saya benar-benar menikmati membaca novel ini dari awal hingga akhir. :D :D
Skor: 7/10
Pengarang: Dian K
Penerbit: PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Harga: Rp 45.500,-
Jumlah hlm: 311
”Iya, tapi Amigdalus itu apa?” tanya Kid tak sabar.
“Amigdalus adalah orang yang punya kekutan hampir tak terbatas. Selama ini Cuma desas-desus, tapi aku tidak mengira ini akan benar-benar terjadi. Legendanya sendiri usianya sudah ratusan tahu,” kata Zen.
Semua sibuk mencerna kata-kata Zen. Kedua alis Kid bahkan nyaris bertaut saking kerasnya ia berpikir. Ternyata permasalahan ini berkembang menjadi sangat serius. Lebih dari itu, sekarang melibatkan Elgamb dan mungkin seluruh dunia, mengingat Mario punya ambisi yang menyeramkan. Pemikiran ini membuat mereka merinding.
“Sebentar... kau bilang kekuatan Amigdalus hampir tak terbatas? Lalu, kalau Dios seorang diri menantangnya...” Kid tidak meneruskan kata-katanya. Semua berpaling ke arah kepulan asap, merasa ngeri.
Bingo! Ini adalah novel fiksi fantasi lokal yang mendapat kehormatan untuk menempati lemari buku saya. Sebenarnya sudah cukup lama juga sejak saya pertama kali mengetahui novel ini, hasil mengikuti salah satu forum terbesar di Indonesia dan membaca resensi di blog milik salah satu anggota forum tersebut. Lalu kenapa menunda membelinya?
Pertama, rupanya novel ini sudah cukup lama berada di pasaran dan kebetulan toko buku yang paling dekat dengan tempat saya berdomisili, hobinya adalah kehabisan stok, entah itu komik, entah itu novel. Kedua, saat saya berhasil mengontak pengarangnya langsung dan sudah diberi tahu bahwa ia bisa mengusahakan satu jilid, kirim via pos, saya—jujur—mendadak ragu-ragu membelinya. Alasannya simpel, produk lokal memang sukar dipercaya kualitasnya. Silakan maki-maki saya karena alasan terakhir itu.
Oke, jadi setelah saya benar-benar kehabisan, tiba-tiba Gramedia mengadakan bursa buku, lokasinya hanya tinggal menyeberang jalan—bisa sih lewat terowongan khusus karena lokasinya juga termasuk bagian dari universitas. Gambling, saya ke sana, karena berdasarkan pengalaman silam, ada saja stok buku “langka”. Memang dasar sudah nasib, dengan uang minim di dompet, rupanya saya ketemu novel yang satu ini dengan harga yang pasti bikin pengarangnya sakit hati karena jauh dari aslinya—saya sih bahagia karena dapat buku murah banget. :D
Yak, jadi mari dimulai saja pembahasannya. Hm, sebelum berlanjut, ada beberapa hal yang mungkin menjadikan resensi ini berbeda dengan resensi-resensi saya yang lain, hal itu karena:
1. Saya kenal pengarangnya. Mau dibilang bagaimana juga, ada rasa sungkan kalo menghina terlalu dahsyat, lha wong saya juga belum tentu bisa bikin sebagus ini, kok menghina, mau dicincang apa? :D :D
2. Ini novel lokal. Berbeda dengan kebanyakan buku koleksi saya yang merupakan terjemahan dari bahasa lain, pembahasan untuk novel lokal pasti lebih banyak, mulai dari kover, sinopsis, teknis menulis dan lainnya. Kenapa? Murni karena ini bukan terjemahan. Saya harus protes apa soal terjemahan yang di luar pengetahuan saya selain cerita dan “taktik” bercerita si pengarang?
3. Saya pernah membaca resensi orang lain mengenai novel ini. Resensi yang pernah dibaca, sedikit banyak mempengaruhi pendapat, itu benar.
Baiklah, mari mulai dari kover dan sinopsis.
Kover ... hmm, setuju dengan pendapat di resensi yang pernah saya baca. Harusnya font seperti itu dipakai buat judul novel “Kuntilanak Jembatan Ancol” yak dan semacamnya. Kesan kerennya salah lokasi, singkatnya demikian. Gambar kristal, pedang, kayaknya sih baik-baik saja. Saya tidak begitu pintar soal layout sih ...
Yang membuat saya stres adalah sinopsisnya! Agggh!!! Kover buku ini, depan dan belakang, didominasi warna biru gelap. Di bagian belakang, memang ada warna yang lebih muda, yang cenderung putih ditaruh di atas warna lain yang lebih gelap. Alih-alih menggunakan warna kontras sekalian, sinopsis ditulis dengan warna hitam dan ukuran hurufnya kecil! Bahkan saat mengangkat novel ini dari tumpukannya, saya langsung malas baca sinopsisnya, padahal biasanya itu adalah bagian inisiasi ritual saya dalam menilai buku. Jadi, setelah akhirnya saya membaca sinopsis—berhari-hari setelah novel ini menjadi penghuni baru lemari—kemudian membaca isi buku selama sehari penuh, saya agak menyesalkan kenapa yang disebut sinopsis ternyata adalah potongan dari isi novelnya sendiri. Rasanya itu bukan sinopsis deh namanya ...
Terserah deh soal sinopsis, yang pasti saya sekarang sudah selesai bacanya. :D :D
Ada kalimat pembuka dalam bahasa Inggris ala dongeng anak-anak di halaman kelima. Ehee, nggak tahu deh ini kerjaan editor atau kerjaan pengarangnya. Sesudah baca, udah jelas kalimat itu bisa dibuang jauh-jauh. :D Really, believe me.
Karena saya merasa sudah menulis panjang lebar dari atas, saya kena serangan rasa malas membahas isi novel per bab, jadi saya akan mengubah bahasan saya jadi mode “secara keseluruhan”.
Oke, secara keseluruhan, runtutan cerita cukup bersih, dalam artian tidak ada logika salah yang terlalu mengganggu. Jujur, saya yang terbiasa main game dengan pola “karakter-utama-ditemukan-di-suatu-tempat-dalam-keadaan-amnesia-dan-baru-memperoleh-kembali-ingatan-selama-dalam-perjalanan” cukup kaget mendapati bahwa bab pertama justru menceritakan proses si pemeran utama kehilangan ingatan, jadi alih-alih di sepanjang cerita saya terkaget-kaget dengan “wah, si ini ternyata ...” dan sejenisnya, saya malah secara rutin merasakan “aduuuh, gak gitu ...” dan “dia kan sebenarnya ...” :D Mungkin untuk orang lain, formula ini dirasakan aneh atau bahkan mengganggu, tapi saya cukup menikmati “sensasi” yang tidak biasa tersebut.
Berlanjut ke bab-bab selanjutnya—mungkin karena saya sudah banyak main berbagai game RPG—runtutan cerita mengarah ke pola klise. Karakteristik-karakteristik para tokohnya pun sebenarnya ala game RPG, tapi game RPG yang sekitar sepuluh tahun silam, jaman sekarang para pengembang game juga sudah menghindari pola-pola tersebut supaya penggemar game tidak bosan. :D Pola cerita klise yang saya maksud di sini, terutama sekali kentara menjelang akhir cerita. Tipe party member game berguguran satu persatu yang saya sebut sebagai pola, “kalian pergilah duluan, aku akan menahan mereka di sini” Buat yang bukan penggemar game, pasti tidak masalah sih. :D Klise tidak selamanya buruk, itulah hebatnya novel ini. Dia bisa membuat saya bertahan membaca meskipun ada banyak adegan dan pola klise.
Hmm, setelah cerita, saya akan beralih pada teknis penulisan. Secara keseluruhan, teknis penulisan sudah sangat bagus, meskipun saya agak bingung saya membandingkannya dengan apa kok bisa bilang begitu? :D Yaa, anggaplah, saya yang juga hobi menulis ini tahu cukup banyak mengenai teknis tulisan yang bagus dan baik. Benar kok! Tidak ada tanda kutip yang ketinggalan menutup sebuah kalimat langsung, penempatan tanda baca lain, huruf kapital dan lainnya juga sudah sesuai dengan aturan yang saya tahu, makanya saya bilang bagus. Masalahnya adalah pada duet tanda elipsis dan tanda pisah “...—“ yang tidak hanya sekali saya temukan. Itu penggunaan tanda baca yang setahu saya salah. :|
Mari beralih ke hal yang lebih spesifik. Jadi, saat membaca, saya sempat kebingungan dengan “blok” kalimat di bawah ini:
”Hei, Kid,” bisik Kayla. “Apa tidak ada perempuan lain di sini? Selain aku, tentunya.”
Kid masih celingukan. “Tentu saja ada. Mana dia, ya?” katanya setengah pada diri sendiri.
Kayla ikut mencari. “Itu dia! Dia sedang bicara dengan seseorang berjanggut di sebelah sana! Kau lihat?”
Kid menoleh dengan antusias. Tetapi, kemudian rasa tertariknya menghilang. “Bukan dia!” katanya kecewa.
“Lho! Bukanya kau mencari dia?”
“Untuk apa aku mencari dia?! Aku sudah bosan melihatnya setiap hari!”
Kayla menatap Dios, yang sedang menunjukkan botol-botol madu bubaglop pada orang berjanggut itu. “Lalu, siapa yang kau cari?” gumamnya heran.
Dari percakapan itu, yang saya tangkap—percakapannya ditebalkan—Kid mencari “perempuan lain selain Kayla” bukannya mencari Dios seperti yang disimpulkan di akhir percakapan. Saya sampai membaca berulang kali di bagian itu, kebingungan sendiri dengan makna yang saya tangkap.
Tapi, tenang saja, hal seperti yang saya contohkan di atas hanya terjadi satu kali itu saja. :D Sudah saya bilang kan secara teknis dan cerita, novel ini bagus? :D
Selain “blok” percakapan di atas, saya menemukan penggunaan frase yang terasa salah, terjadi lebih dari satu kali dalam cerita:
Pandangannya langsung tertumbuk pada sepasang mata hitam kecil yang aneh karena tanpa bola mata.
Maksudnya mungkin tanpa bagian putih dari mata, bukan tanpa bola mata ... Bola mata, kalau makhluknya memang punya mata, pasti ada kan? :D Serem amat kalau tidak ada! :|
Beralih lagi ke hal yang lebih luas. Beberapa hal yang menurut saya janggal, tapi tidak terhitung sebagai plothole:
- Mio. Dia adalah salah satu karakter yang mengetahui persis kejadian yang menimpa si pemeran utama, sayangnya karena diubah menjadi peri, dia tidak bisa menceritakannya pada orang lain. Selama cerita, saya menyadari bahwa sekalipun ia adalah peri, intelejensianya tetap intelejensia manusia, dalam artian dia memang masih memiliki pola pikir dan akal seperti manusia. Kalau memang begitu ... peri bisa menulis kan? Harusnya dia tulis saja apa yang ingin dia komunikasikan, terutama cerita mengenai pemeran utama ...
- “Benteng” Hutan Gizmoa. Jadi, di akhir cerita, hutan ini dikelilingi semacam penghalang, membentuk sejenis benteng milik bos terakhir kalau dalam game. Pertanyaannya adalah ... daripada nungguin di benteng, kenapa si antagonis nggak melaksanakan niatnya untuk menguasai dunia aja? Udah punya kekuatan hebat gitu malah nunggu-nunggu, jadi kan mati. Salah sendiriiiii!!! Antagonis kok goblok!
Yap, yap, saya rasa pembahasan saya akan berhenti sampai di sini. Alasannya simpel, masa saya menulis resensi lebih tebal dari bukunya? :D Ngawur sekali deh rasanya. Overall, novel ini adalah novel yang mengobati saya dari trauma terakhir saya membaca novel teenlit. Betul sekali, meskipun ceritanya tergolong klise dan ada kecenderungan sederhana dalam penulisannya, saya benar-benar menikmati membaca novel ini dari awal hingga akhir. :D :D
Skor: 7/10
Komentar