[Resensi] Akkadia: Gerbang Sungai Tigris



Judul: Akkadia: Gerbang Sungai Tigris
Pengarang: R.D. Villam
Penerbit: Penerbit Adhika Pustaka
Jumlah hlm: 400

Gadis itu berlutut dengan kedua tangan mencengkeram tanah. Cahaya yang jauh lebih terang dan menyilaukan daripada cahaya merah Gada Geledek keluar dari dalam tubuhnya, menembus lapisan-lapisan tebal baju putihnya yang berlumuran darah. Kepalanya mendongak. tak sampai sedetik kemudian sinar merah menyambar dari sepasang matanya. Ratusan prajurit yang berada pada lintasan garis lurus dari puncak bukit hingga ke ujung lembah terbelah seketika. Potongan-potongan tubuh mereka hangus dalam jilatan api. Ada kegelapan di dalam diri gadis itu. Sesuatu yang sangat jahat.

Mesopotamia, abad ke-24 Sebelum Masehi.

Pada masa itu Kerajaan Akkadia berhasil menaklukkan negeri-negeri di sekitarnya, dan untuk menahan serangan mereka seorang penyihir bangsa Elam dari tanah Persia menciptakan dinding ajaib di sepanjang Sungai Tigris. Naia, putri dari Kazalla yang negerinya telah dihancurkan Akkadia, bermaksud menyeberangi sungai dan meminta perlindungan pada bangsa Elam, namun di tengah perjalanan ia diserang dan harus berpisah dari para prajuritnya. Dalam keadaan terdesak Naia terpaksa mengambil keputusan tersulit: memanggil makhluk-makhluk terkutuk dari dunia kegelapan.




Satu hal yang patut dicatat dalam sejarah saya membeli buku adalah saya terpikat oleh buku ini sejak pertama kali karena kovernya! Kebetulan pengarang buku ini aktif di salah satu forum yang juga saya ikuti, jadi meskipun jarang mengecek buku baru ke toko buku terdekat, saya tahu kapan buku ini dirilis dan seperti apa tampilan kovernya, jadi saya benar-benar terpikat murni oleh kovernya, bahkan tanpa pernah membaca sinopsisnya sama sekali. Tapi karena distribusi yang (sepertinya) kurang merata atau memang Bandung kurang up-to-date, saya mendapatkan buku ini bukan karena membeli tapi meminjam dari teman.

Oke, mari mulai dari bagian terluar, yakni kover. Sekilas pandang, kover ini punya daya tarik tersendiri. Kalau boleh subyektif, akan saya katakan karena paduan warna gelapnya yang pas. Saya suka dengan warna dominan biru hitam yang menghiasi kover novel ini. Kalau dilihat lebih dekat lagi, akan terlihat bahwa detail gambarnya pun ciamik, bukan kualitas main-main. Saya, jujur, jauh lebih menyukai kover yang semacam ini ketimbang kover yang menggunakan foto orang asli yang diedit. Sekali lagi, kover dari Adhika Pustaka, hasil karya Imaginary Friends, sukses menyokong angka penjualan buku. :D :D

Baiklah, mari kita lihat isinya. Seperti biasa, di bagian awal terlihat adanya daftar isi (sampai 20-an chapter, whew, banyak juga untuk buku setebal ini) dan peta. Peta yang ada tidak seberapa detail, hanya menunjukkan kota, sungai, dan gunung. Saya yang pelajaran sejarah dan geografinya buruk ini kurang mengerti apakah peta tersebut dibuat demikian karena memang daerah yang digunakan sebagai setting cerita adalah daerah yang minim sekali hutan atau skala petanya membuat tidak perlu ditambahkan gambar landscape lain selain sungai dan gunung.

Oke, memasuki cerita, saya mendapati penulisan yang rapi dan gaya bahasa formal yang enak dinikmati. Aduh, apa yang bisa dikomentari dari masalah ini? Sepertinya tidak ada. :D :D Ini salah satu poin bagus novel ini, penulisan yang rapi dan dapat dinikmati. Untuk novel yang beredar di pasaran, cukup jarang ada novel yang secara teknis penulisan belepotan sampai-sampai membacanya pun terasa tidak nyaman, tapi masih ada beberapa novel yang kurang enak dibaca karena masalah gaya bahasa si pengarangnya. Dalam poin ini, Akkadia menempati posisi aman.

Sekarang, mengenai plotnya sendiri. Plot Akkadia menurut saya cukup menarik, tapi saya tegaskan sekali lagi bahwa saya membubuhkan kata “cukup”, berarti masih ada yang terasa kurang. Dengan blak-blakan saya menyatakan bahwa saya merasa tertipu dengan sinopsis cerita yang ditulis di belakang buku! Dengan pernyataan “Mesopotamia, abad ke-24 Sebelum Masehi”, saya mengira cerita di dalam Akkadia akan seperti Jonathan Strange&Mr Norrell atau trilogi His Dark Materials yang mengambil tempat Inggris alternatif, serupa tapi tak sama dengan dunia nyata. Masalah pertama—menurut pendapat saya, ini masalah pengarangnya, mungkin—tidak banyak pembaca yang mengetahui seperti apa kondisi Mesopotamia di abad ke-24 SM, membuat imajinasi mereka harus dituntun habis-habisan oleh deskripsi pengarang. Tentu saja ada beberapa pembaca yang bisa memahami karena memang mencintai dan senang mempelajari sejarah, mereka adalah perkecualian. Akkadia, menurut pandangan saya yang lemah di bidang sejarah, tidak menuntun pembacanya terlalu dalam memahami Mesopotamia pada jaman dahulu kala. Ini berimbas pada saya kehilangan imajinasi mengenai Mesopotamia masa abad ke-24 SM itu seperti apa dan imajinasi saya melantur membayangkan setting suka-suka yang menggambarkan sebuah dunia antah berantah berdasarkan petunjuk saya akan setting wajar suatu dunia fiksi-fantasi. Itulah masalah kedua, alhasil saya merasa semua kejadian di novel ini tidak terjadi di dunia “serupa tapi tak sama” seperti yang tertera di sinopsisnya.

Kalau dianalogikan, saya merasa seperti membeli sekotak dodol yang tulisan di kemasannya “Dodol Garut Enak Banget” dan saat saya buka, saya mendapati isinya adalah “Mochi Sukabumi”, gak klop biarpun adonannya mirip-mirip. Setelah saya cicipi, mochi-nya memang uenak tenan seperti labelnya, tapi saya tetap merasa tertipu. Kan saya beli dodol, tapi dapatnya mochi. Haa, bagaimana ini??? Mochi-nya memang enak banget, tapi saya tadinya berharap dodolnya yang enak banget …

Baiklah, sekarang merinci lebih lanjut kelebihan dan kekurangan yang saya dapati. Here we go.

Kelebihan:

- Penggarapan yang apik
Ini mencakup penulisan dan lain sebagainya. Sudah saya jabarkan cukup jelas kan di atas? :D :D

- Glosari
Satu hal yang saya sukai dari glosari ini adalah berbekal isi glosari dan sinopsis yang menyatakan bahwa setting cerita ada di Mesopotamia, saya … berkonsultasi kepada Wikipedia. :D :D Saya merasa glosari ini sedikit banyak membantu saya meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam cerita novel ini berlokasi di Mesopotamia abad ke-24 SM, tapi sesudah saya baru merasa demikian setelah melakukan kroscek mengenai beberapa hal, salah satunya nama raja-raja Elam dan kota Kazalla. Silakan dicari di internet bagi yang sudah membaca Akkadia. :D :D Ini salah satu bukti juga bahwa pengarangnya telah melakukan riset untuk materi ceritanya.

- Nama dan karakteristik
Nama-nama di novel ini, sekalipun saya tidak tahu apakah sesuai dengan penamaan di jaman dan lokasi geografisnya, singkat dan cukup mudah diingat. Karakteristik, terutama karakteristik fisik tokoh-tokohnya juga mudah diingat dan saya sama sekali tidak tertukar mengenali karakter selama perjalanan cerita. Nice! :D :D Dalam tulisan lain kadang ada yang karakteristik atau nama membuat saya tertukar dengan karakter lainnya.

Kekurangan:

- Siapa pemeran utama yang paling utama di antara yang utama?
Ini pertanyaan terbesar setelah saya menuntaskan membaca Akkadia. Siapa pemeran utamanya? Saya merasa seorang pemeran utama adalah karakter paling utama dari yang utama. Eh, bingung? Saya akan mengambil contoh sedikit, misalnya dari … Saint Seiya. Semoga contoh yang saya ambil tidak terlalu uzur untuk dipahami.

Di serial Saint Seiya, ada sekitar lima karakter yang dianggap “utama”, major, tapi dari berlima itu hanya Seiya yang merupakan pemeran utama (yang paling utama di antara yang utama), sedangkan teman-temannya hanya pemeran utama tanpa embel-embel.

Di Akkadia, saat saya merasa bahwa pemeran utama cerita ini adalah X, tiba-tiba muncullah Y yang perannya tidak kecil, menggeser si X, saat saya berpikir bahwa Y adalah pemeran utama, Z datang menggeser Y. Pergeseran yang terjadi ditandai dengan kejadian yang cukup fenomenal, seperti misalnya memanggil makhluk berbahaya untuk menyelamatkan nyawa sendiri dan pasukan (dilakukan X), melewati suatu ujian berat (dilakukan oleh Y), mengalahkan musuh sebenarnya (dilakukan oleh Z). Saya akan menolerir kalau ketiga hal tersebut memang dilakukan oleh karakter yang berbeda untuk pembagian bobot “keutamaan karakter”, supaya karakter lain tidak terlalu tenggelam oleh karakter lain, tapi saya mendapati masing-masing aksi tersebut justru menenggelamkan karakter lainnya karena perbedaan level aksi.

- Karakter yang terlalu kuat
Salah satu adegan yang menurut saya terasa salah adalah pada saat terjadi pengepungan oleh sebuah pasukan (saya akan menghindari menyebutkan nama) terhadap dua orang pemeran utama. Para pasukan jumlahnya lebih dari selusin, bersenjatakan tombak, dan seperti layaknya pasukan, mengenakan pelindung cukup lengkap. Lawan mereka adalah dua orang, satu bersenjatakan gada, satu lagi bersenjatakan pedang. Kemudian ada dua paragraf di bawah ini (yah, kesebut juga deh namanya siapa pelaku-pelakunya):

Naia menghitung jumlah prajurit akkadia yang mengepung mereka. di jalanan sempit ini, yang terlihat olehnya ada sekitar tiga puluh prajurit bertombak. Sepuluh di antara mereka sudah terkapar tak sadarkan diri atau mati, tetapi mungkin masih lebih banyak lagi prajurit yang akan datang. sebanyak apa pun musuh yang telah dijatuhkan oleh Fares, tampaknya masih lebih banyak lagi yang datang mengepung.


“Heaahh!” Naia tak lagi mampu menahan diri. Pedangnya meliuk-liuk kencang bagai angin liar, mengutip kepala beberapa prajurit Akkadia
.

Pertama-tama! Mari kita buat suatu asumsi akan ukuran pedang, tombak dan gada. Saya membuat ini berdasarkan pengetahuan saya, mohon diralat jika didapati kesalahan.

========>> (ini tombak)

==>>>> (ini pedang)

===[[[]]] (ini gada)

(tidak usah komentar kalau ilustrasinya macam alay …)

Lihatlah perbedaan panjang masing-masing senjata. Tombak adalah senjata terpanjang di sini. Dalam kondisi pertarungan satu lawan satu, tombak bisa dikalahkan oleh gada atau pedang dengan memanfaatkan ruang pergerakan si pengguna tombak dan memanfaatkan kecepatan pergerakan kaki si pengguna gada/pedang. Tapi! Itu kondisinya satu lawan satu, bayangkan jika dua orang melawan banyak orang! Puluhan! Dikepung! Pengepungnya membawa tombak, yang bertahan membawa gada dan pedang! Gada mungkin saja digunakan untuk menghancurkan tombak, membuka ruang serangan (awas itu yang bersenjatakan pedang kegebuk …), tapi pedang tidak akan semembabi buta gada dalam menghancurkan tombak lawan. Selain itu, jika melakukan serangan tanpa menyingkirkan tombak-tombak terlebih dahulu, ruang untuk menyerang secara akurat akan sempit sekali. Nyelip ke sono mau tebas, aduh ketusuk tombak!

Dan bisa diamati kembali bahwa dikatakan kalau Naia mengutip kepala lawannya. Itu terdengar segampang saya mencuil ceri dari atas kue. Pedang tidak memotong leher semudah itu, apalagi situasinya sedang dikepung, oleh tombak pula. Mau maju, adaww, tombakkk!

- Karakter utama berjaya, karakter sampingan mati aja lu …
Yep, seperti yang saya tulis, saya mendapati kecenderungan:
a. Karakter utama banget: kuat dan pny skill melebihi yang lainnya, susah matinya
b. Karakter cukup utama: kuat, susah matinya
c. Karakter kroco: kita tahu namanya cukuplah, mati itu salah sendiri, namanya juga lagi perang …

Itu gambaran umum dari saya mengenai nasib karakter-karakter dalam novel ini. Tidakkah … ada komisi yang akan memperjuangkan kesetaraan hak hidup dan skill untuk karakter-karakter dalam novel?

- Terlalu banyak julukan untuk para karakter

… Dan tidak dijelaskan lebih lanjut makna dari julukan tersebut hingga akhir cerita. Saya terutama bertambah bete karena salah satu karakter menjelang akhir cerita menjadi semacam kepanjangan lidah pengarang dan menyampaikan bahwa semua julukan, semua sebutan yang dikenakan pada para karakter manusia di novel ini hanyalah sebutan/julukan yang diciptakan oleh sesama manusia lainnya, belum terbukti kebenaran sejatinya. Tambah tidak menjawab apa makna julukan yang disebar sejak awal cerita dan dijadikan judul tiap bab.

Kesimpulan dari pembahasan di atas jika dinyatakan dengan nilai adalah:

Skor: 7/10

Komentar

Luz Balthasaar mengatakan…
Ada hal yang lalai kuperhatikan pada resensi duetku di Fikfanindo, tapi disebutkan oleh Om Pur dan banyak orang: soal dunianya.

Aku bisa membayangkan dunianya secara garis besar hanya karena baru abis nonton film dan baca buku TimTeng. Tapi kalau kupikir lagi, yeah, dunianya memang agak kekurangan detail khas Mesopotamia.

Kalau nggak disebutin di cover belakang bahwa itu di Mesopotamia, terus nama-namanya diganti jadi nama-nama barat, mungkin aku langsung ngebayangin setting medieval.
Juno Kaha mengatakan…
Yep. Sementara gw ini bukan org yg pernah nonton ato pny pengetahuan lbh soal Mesopotamia 2400 SM, makanya gak seberapa "kena" tentang setting dunianya.

Mgkn Villam waktu awalnya buat sengaja mau pake setting yg udah ada supaya gak perlu banyak ngejelasin, tapi dia pakenya Mesopotamia ... Coba kalo dia pake Mesir dan mengganti judul novelnya dengan Mesir: Gerbang Sungai Nil, mgkn lbh byk org yg dpt gambaran setting yg lbh mengena. :D :D

Ato ada pendapat lain? :-?

Hehe.
Unknown mengatakan…
Novel-novel yg gw baca sblm ni kurang enak. jadi menurut Gw novel cukup Ok. kalo judul mang bukan di akkadia tapi critane ni lagi kabur dari kejaran Akkadia; make sence to me...
Critane ni dibagi dua supaya pembaca gender bisa nempatin diri jade yg cowok ato cewek dan supaya bisa ngejelasin jalannya cerita, supaya nggak ada kesan nge-gurui gitu loh.
Coz nii neh crita fantasy kadang-kadang nggak nyangkut ke pikiran sampe dijelasin dl knape.

Postingan populer dari blog ini

[Resensi] Valharald

Simple Notes: Fiction Junction (Character Part 1: Classification)

Simple Notes: Ketika Negara Api Menyerang ...