[Ufuk Fantastic Fiction] Fragmen Memoir Germain
Jadi saya ikutan lomba Ufuk Fantastic Fiction tempo hari ini. Hnaah, karena pengumumannya sudah keluar (lihat sini) dan telah terbukti saya tidak menang, maka saya memutuskan untuk memposting cerita yang saya ikutsertakan di lomba tersebut di sini. Rasanya sih tidak ada larangan untuk memposting di tempat umum jika tidak menang (kalau ternyata tidak boleh, terpaksa saya hapus deh postingan ini :P).
Selamat membaca. :D
Selamat membaca. :D
Belakangan ini aku tidak sering
terbangun. Ini membuat kelopak mataku terasa kian berat untuk dibuka dan
setelah semua usaha susah payah membuka mata, sering kali aku hanya menemukan
televisi-televisi yang berjajar serta saling menumpuk menayangkan berbagai
saluran dari seluruh dunia tanpa suara.
Kali ini suara kekeh dari dua sosok
di dekat tempat tidurku memberitahuku bahwa si kembar kebetulan sedang ada di
bawah sini.
Tanggal
berapa sekarang?
“Sekarang tanggal 11 Maret 2011.”
Suara si kembar yang laki-laki menjawab. “Heheheh.”
Kapan
terakhir aku bangun?
“Awal tahun. Tak lama setelah
pergantian tahun. Heheheh.” Suara si kembar yang perempuan menjawab.
Samar-samar—tak dapat melihat mereka
dengan jelas karena tak dapat menolehkan kepalaku—aku mendengar suara kapur
digoreskan di lantai semen di bawah tempat tidurku. Suara lain, gesekan plastik
dan sesuatu yang beroda digeser, terdengar dari sampingku. Si kembar sedang
memperbarui simbol raksasa yang digambar di lantai dan botol-botol infus.
Tangan-tangan si kembar menyentuh
kedua punggung tanganku. Tangan mereka hangat (kalau bukan “panas”) seperti
biasa, bertolak belakang dengan suhu tubuhku yang ada di bawah rata-rata
manusia normal. Sepertinya tanpa sadar keinginanku untuk merasakan sentuhan
mereka tersampaikan via telepati yang menghubungkan kami bertiga.
Aku
ingin meneruskan memoarku.
“Ayah harusnya beristirahat, ehehe.”
“Tidak mau menonton televisi?
Hehehe.”
Terlepas dari celetukan mereka, si
kembar menyelesaikan pekerjaan mereka dan kembali ke sisiku setelah mengambil
beberapa buku dari lemari.
Apa
saja yang sudah kutulis?
Si kembar mulai membuka buku-buku
dan menceritakan kembali padaku semua yang telah kutuliskan.
***
Jika aku diijinkan, maka dengan
tegas akan kunyatakan bahwa hidupku dimulai bukan dari ketika aku dilahirkan di
dunia. Sama sekali bukan. Hidupku yang sesungguhnya dimulai ketika guruku
menemukan Ramuan Kehidupan yang legendaris.
Sebagai seorang muridnya yang paling
berbakat, beliau memberiku kesempatan untuk turut serta dalam keabadian. Guru
membutuhkan seseorang yang setia, yang tidak akan mengkhianatinya—seorang
asisten—untuk menemaninya. Tentu saja, siapa yang dapat menolak tawaran
menggiurkan itu? Hidup untuk selamanya, tidak terpengaruh oleh usia dan
penuaan; meski harus kutekankan ulang bahwa “keabadian” yang didapat dengan
Ramuan Kehidupan tidak mencegah kematian akibat hal-hal seperti ditusuk di
jantung, ditembak di kepala, atau terbakar hingga menjadi abu.
Proyek terakhir yang kami kerjakan
adalah menciptakan homunculus. Lebih
daripada homunculus lain yang pernah
diciptakan alkimis lain, kami berdua ingin homunculus
yang tak bisa dibedakan dengan manusia; dapat berpikir, bertindak, memiliki
perasaan, dan dapat belajar. Dan kami juga ingin homunculus itu dapat hidup abadi seperti kami, bahkan melebihi kami
jika perlu.
Sayangnya, guruku tewas dalam salah
satu percobaan tersebut. Homunculus
yang diciptakannya “terlalu cepat menjadi dewasa” dan akibatnya makhluk
setengah jadi itu menarik beliau dari dalam kuali raksasa tempatnya dibuat
hingga guruku jatuh tercebur ke cairan mendidih. Jasad guruku tak pernah
ditemukan. Itu alasan sebenarnya mengapa makamnya kosong. Orang-orang menduga
guruku memalsukan kematiannya dan akan kubiarkan mereka tetap berpikir demikian
untuk menjaga nama baik beliau. Mati tercebur kuali agak terlalu konyol untuk
alasan kematian seorang alkimis ternama.
Aku melanjutkan penelitian.
Bertahun-tahun perjuangan mengkombinasikan sains, alkimia, dan ilmu lain yang
tak diakui dunia, akhirnya aku berhasil. Aku menciptakan sepasang benda yang
memungkinkan homunculus ciptaanku
berpikir, bertindak, memiliki perasaan, dapat belajar, namun tak akan pernah
mengkhianatiku sebagai penciptanya. Aku menamai benda tersebut Inti Besi. Entah
apa yang kupikirkan saat itu. Kata “besi” bahkan sebenarnya sama sekali tak
cocok dengan material apapun yang membentuk benda tersebut. Aku masih dapat
mengingat dengan jelas bagaimana Inti Besi itu terasa hangat di genggamanku dan
ada degupan penuh kehidupan dari dalamnya.
Aku melahirkan si kembar dengan Inti
Besi itu. Saat itu aku belum memberi mereka nama dan, terus terang saja, aku tak
begitu paham harus menyikapi mereka seperti apa. Apakah aku harus menyikapi
mereka sebagai sekedar makhluk buatan atau sebagai manusia?
Tak berapa lama setelah keberhasilan
itu, kedua kakiku lumpuh tanpa alasan jelas. Sambil mengajari si kembar banyak hal
(pertumbuhan fisik mereka lebih cepat daripada manusia, namun penampilan fisik
mereka berhenti di kisaran belasan tahun usia manusia) aku bergantung pada
mereka berdua dan beberapa pesuruhku untuk bepergian kemana-mana.
Aku melakukan beberapa percobaan
pada mereka. Salah satunya adalah mencoba menyuntikkan klorofil ke mata mereka
untuk mengubah warna mata mereka. Reaksi tubuh homunculus berbeda dari manusia biasa, itu yang membuat
percobaan-percobaan semacam itu jadi lebih menarik. (Percobaan klorofil itu
adalah sesuatu yang tidak seharusnya kuceritakan pada Josef, mengingat apa yang
telah diperbuatnya setelah itu.)
Situasi dunia kemudian memburuk.
Perang berkecamuk, agresi militer di mana-mana. Khawatir dengan kondisi saat
itu, aku dan si kembar berpindah ke negara lain. Salah satu dari si kembar—aku
tidak yakin yang mana, sudah lama sekali—tewas akibat ledakan bom atom yang
dijatuhkan di kota tempat tinggal kami. Aku dan si kembar yang satu lagi
kebetulan selamat karena tengah pergi ke ibukota.
Homunculus
ciptaanku memang terbukti menarik.
Setelah kembarannya tewas, homunculus-ku yang tersisa seolah-olah
kehilangan kewarasannya. Dia tak mematuhi laranganku dan menerobos masuk tempat
jatuhnya bom untuk—ini sungguh mengejutkanku—membawa kembali Inti Besi
kembarannya yang tak tergores sedikit pun.
Ah, benar. Aku memberi keduanya nama
di masa-masa itu juga, terpicu oleh tingkah si kembar yang mencari-cari
“saudara”-nya tanpa mempedulikan resiko apa pun dan pikiran aneh menyambarku
ketika sedang makan siang dengan telur dadar yang kebanyakan garam.
Aku membuat ulang homunculus yang satu lagi. Dengan ini,
aku membuktikan bahwa homunculus yang
memiliki Inti Besi di dalam dirinya dapat dihidupkan kembali dengan membawa hampir
seluruh memori serta karakteristik dari dirinya yang terdahulu. Mereka abadi dengan cara sedikit berbeda dari
keabadianku.
Setelahnya, kondisiku terus
memburuk.
Menyusul lumpuhnya separuh badanku
ke bawah, separuh badanku ke atas lumpuh total. Aku hanya dapat bernafas,
mendengar, melihat, namun tak dapat menggerakkan tangan sama sekali. Bahkan
menolehkan kepala maupun mengangkat tubuh saja aku tak bisa.
Ada beberapa teori mengenai hal
tersebut—sudah kupastikan aku melaksanakan kewajibanku sebagai seorang ilmuwan
dengan mencatat hipotesis-hipotesis di buku terpisah dari memoar. Salah satu
yang menduduki urutan pertama adalah dugaanku mengenai keterkaitan kelumpuhan
ini dengan Inti Besi yang kuciptakan. Sepertinya ada suatu proses yang tak
kuketahui yang menjadi timbal balik antara Inti Besi dengan kondisi fisikku.
Tapi apa? Sukar melakukan penelitian mendalam serta menyeluruh mengenai hal
tersebut jika aku tak bebas bergerak, jadi sejauh ini aku hanya mencatat
berbagai asumsi yang terpikirkan olehku.
***
“Sampai sana,” kata si kembar perempuan,
mengakhiri ringkasan memoar yang dibacanya.
Suara tawa terkekeh terdengar dari
si kembar tanpa alasan jelas. Mereka selalu begitu. Tertawa-tawa dan
menyeringai bodoh sepanjang waktu. Ada dua kemungkinan untuk yang satu itu:
pertama, isi kepala mereka harusnya diperbaiki (sayangnya kalau kondisiku
begini aku tak bisa melakukannya sendiri); kedua, mereka telah mencapai suatu
taraf dalam hidup di mana mereka tak lagi mengenal emosi yang pasti. Aku
benar-benar iri dengan mereka jika yang terjadi adalah kemungkinan kedua.
Apapun yang terbebas dari emosi adalah pencapaian terbaik lainnya selain
keabadian.
“Ayah mau melanjutkan sekarang?”
tanya si kembar lelaki. Aku mendengar gemerisik gesekan kertas.
Hmm.
Hidup begitu lama dan ini kali
pertama aku menyadari bahwa hampir tidak ada lagi yang bisa kutuangkan dalam
memoarku karena kelumpuhanku. Seluruh televisi yang disusun si kembar di
seberang tempat tidurku sebenarnya dimaksudkan sebagai sumber informasiku akan
perkembangan dunia luar, namun sebuah memoar tidak dapat disusun dengan
pengetahuan dan informasi semata. Aku harus menuangkan apa yang kualami
sendiri, barulah tulisan itu dapat kusebut sebagai memoar.
Seluruh hidup abadiku sekarang
ditunjang oleh lingkaran magis raksasa yang dipenuhi simbol-simbol sakral di
lingkaran-lingkaran yang lebih kecil di dalamnya, botol-botol infus, kantong-kantong
darah, alat-alat penunjang kesehatan, dan komputer untuk mengkomunikasikan isi
benakku pada orang lain selain si kembar dalam wujud tulisan di layar monitor.
Hidup abadiku telah berubah menjadi begitu menyedihkan. Aku menua dengan sangat
perlahan. Tidak ada penyakit yang menghinggapiku. Aku melemah dan terus
melemah, namun efek Ramuan Kehidupan mencegahku meninggalkan dunia ini. Bahkan,
aku percaya, jika tidak ada lingkaran sihir itu dan penanganan medis yang
kuterima, aku akan terus hidup namun tidak lebih dari onggokan daging belaka.
Orang bodoh pun tahu bahwa semua ini
bermula dari Inti Besi yang kutemukan dan homunculus
yang kemudian kuciptakan.
Aku tidak menyesalinya. Banyak yang
harus kukorbankan untuk si kembar yang sekarang hidup di dunia ini
mendampingiku. Sangat banyak. Atau terlalu
banyak. Aku melanggar begitu banyak aturan. Aku akan dihukum mati oleh agama
yang paling mengajarkan belas kasihan sekali pun.
Aku tidak menyesalinya. Setitik pun.
Pengorbanan yang telah kubuat itu.
Si kembar kembali bergerak dari
posisinya masing-masing. Kali ini mereka masing-masing mengangkat kedua belah
tanganku yang terkulai tanpa daya di sisi tubuhku, kemudian menggerakkan tanganku
hingga telapakku menggosok rambut mereka yang kering serta kasar.
Untuk dua makhluk ciptaanku yang
sempurna ini, untuk dua makhluk ciptaanku yang membuatku menjadi seorang ayah
yang sesungguhnya, aku rela hidup walau hanya sebagai onggokan daging. Tak ada
yang kusesali.
Komentar
Pertama kali baca project ini aku baca chapter The Castle dulu makanya jadi agak bingung hehehe
Setelah baca ini baru paham.
Aku suka ceritanya Kak Monda.
Onong-omong siapa nama ayahnyaNate dan Chloe ini Kak?
Kok aku curiga ya guru dari ayahnya Nate dan Chloe itu adalah err.. ituloh si alkemis terkenal yang sering disebut-sebut di beberapa novel...
Yang inisialnya NF ituu.. XD