[NaCl] 3: Mother - pt 3

Sebelumnya: Mother - pt 2

P.S.: Mohon maaf atas keterlambatan posting cerita bagian ketiga ini.



“Kau benar waktu menyuruhku menanyai orang-orang tentang apotek itu.” Rekan Jon Daryll itu membuka pembicaraan setibanya di kantor.

Jon tersentak kaget dari kursinya. Sesaat yang lalu matanya sudah terpejam dan dia sudah nyaris tertidur di balik meja kerjanya.

“Hei, kenapa kau, Bung?”

“Sori.” Jon otomatis meraih gelas kertas di mejanya, mendapati bahwa ia sudah menghabiskan kopi di dalamnya.

“Berjaga di rumah sakit lagi semalam?” tanya rekan kerjanya.

“Susah tidur.” Jon menggosok matanya yang berair. “Oke, apa yang kau temukan soal apotek itu?”

“Well …” Rekan Jon mengernyitkan kening. “Sangat aneh. Aku bertanya ke sekitar … selusin orang. Mereka semua sudah lumayan lama tinggal di sana.” Rekan Jon mengeluarkan notes kecil dari saku dalam jasnya. Dia menyebutkan nama orang-orang yang ditanyainya—yang ternyata tepatnya berjumlah empat belas orang—sekaligus berapa lama mereka tinggal di daerah itu. “Nah, coba pikir Jon, bagian mana yang tidak aneh kalo orang-orang ini,” sambil berbicara, partner Jon itu mengetukkan jari ke notesnya, “memberiku jawaban berbeda-beda ketika kutanya sejak kapan apotek itu berdiri?”

“He?”

“Yeah. Orang yang ini, yang paling lama tinggal di sana, dan tinggal di seberang apotek, bersikeras mengatakan bahwa apotek itu adalah restoran milik mafia setempat sampai sebulan yang lalu. Lalu berandal-berandal di sekitar sana bilang bangunan merah itu sudah ada sejak awal tahun ini. Ketika kutanya ibu-ibu penggosip yang ini—baru tiga tahun lalu pindah ke daerah sana—dia bilang dia langganan membeli obat ke apotek itu sejak pindah. Kakek-kakek yang hobi nongkrong dan bermain kartu ini juga bilang kalau dia langganan membeli obat ke apotek itu, tapi baru sejak setahun atau dua tahun lalu.”

Jon diam-diam memuji tingkat kedetailan informasi yang diberikan rekan kerjanya ini. Dia menunjuk nama-nama yang dimaksud sambil menyebutkan orang seperti apa pemilik nama itu seolah-olah sudah mengenalnya sejak lama.

“Tidak ada kepastian kapan tepatnya tempat itu didirikan.”

“Tidak ada.” Partner Jon menggaruk belakang lehernya. “Seolah-olah apotek itu muncul di sana begitu saja. Bam.”

“Kita bisa mencoba mencari data di bagian kependudukan kalau-kalau bangunan yang tadinya restoran itu beralih fungsi menjadi apotek.” Jon memiringkan kepala sedikit. “Lucu sekali kalo mafia yang terlibat dalam bisnis obat-obatan terlarang—kemungkinan besar—malah mengganti restorannya dengan apotek. Itu seperti minta kepada polisi untuk diawasi, digeledah, dan diperiksa habis-habisan.”

“Oh, iya, Jon, anakmu namanya siapa?”

“Tom. Aslinya Thomas, tapi kami memanggilnya Tom.”

“Mungkin aku salah lihat, tapi sepertinya aku melihat anak itu keluar dari dalam apotek saat aku berkeliling dan bertanya kemarin.”

Wajah Jon langsung berubah kaku.


Tom sedang mengerjakan PR-nya di ruang tengah saat ayahnya pulang. Tidak tahan dengan suasana rumah yang sepi, anak itu memulai kebiasaan mengerjakan PR di ruang tengah ditemani televisi yang menyala, menayangkan apapun, tapi terutama sekali Tom akan menyetel saluran yang sedang menayangkan berita. Lebih banyak berita buruk daripada berita bagus, tapi Tom lebih suka mendengar suara pembaca berita ketimbang acara lawak atau reality show.

“Bau masakan,” celetuk ayahnya ketika melewati dapur. “Kau memasak?”

“Cuma sosis dan telur.”

Ayahnya menghilang ke dapur dan kembali lagi dengan makan malam yang dimasak Tom. Stok kentang beku mereka habis jadi Tom memasak lebih banyak sosis, terutama untuk ayahnya yang makannya banyak.

“Enak,” puji ayahnya sambil duduk di sofa di belakang Tom. “Dan tidak gosong. Kenapa kalau aku yang buat selalu gosong ya?”

“Soalnya ayah selalu menganggapnya kurang matang …”

“Daripada cacingan karena dagingnya kurang matang?”

Ayahnya pasti benar-benar kelaparan karena sosis dan telur yang banyak itu—menurut Tom sebagai yang memasak—habis dalam sekejap.

“PR?” tanya sang ayah setelah mencuci piring bekas makannya. Kali ini pria itu duduk di sebelah Tom, melihat apa yang tengah dikerjakannya. “Ada yang perlu kubantu?”

“Sudah hampir selesai.”

Tom menggerung kaget ketika tangan ayahnya mendarat di kepalanya, mengacak-acak rambutnya.

“Anak pintar.”

Tom dan ayahnya tidak banyak berbicara lagi setelah itu. Tom membereskan buku-buku dan alat tulisnya, menyimpannya dalam tas, lalu turun lagi ke bawah untuk menonton televisi bersama ayahnya. Selain komentar ayahnya atas beberapa berita yang dilihatnya, keduanya tak mengatakan sesuatu.

“Eh, Tom?”

“Ya?”

“Katanya temanku di kepolisian melihatmu di daerah Ventura kemarin.”

Tom menelan ludah.

Daerah Ventura? Kemarin? Saat dia pergi ke apotek aneh itu?

“Kau tahu kan itu daerah yang … bukan daerah orang baik-baik. Banyak masalah di sana, tahulah. Apa yang kau lakukan di sana?”

Ayahnya berusaha mengutarakan pertanyaannya dengan kasual dan santai, tapi Tom tahu ayahnya sedang menginterogasinya. Tom tidak ingin berbohong. Ia bahkan sebenarnya ingin membicarakan tempat aneh yang didatanginya itu dengan ayahnya.

Tom tidak bisa.

Tom tidak ingin berbohong, sungguh. Pikirannya mengatakan demikian. Hati kecilnya menyuruhnya demikian. Tapi lidahnya … lidahnya bergerak di luar kendali semua itu.

“Mampir ke rumah teman,” jawab Tom. “Ada temanku yang tinggal di sana.”

“Oh?”

“Daerah itu memang agak membuatku tidak tenang. Aku tidak lama-lama di sana.”

“Yeah, itu memang bukan daerah baik-baik.”

Ada yang sangat salah di sini, pikir Tom. Ayahnya selalu tahu kalau Tom berbohong. Profesi ayahnya sebagai polisi selama bertahun-tahun membuatnya dapat mendeteksi kebohongan-kebohongan amatir seperti yang biasa dilakukan anak-anak seperti Tom. Kenapa kali ini ayahnya bahkan tidak meragukan ucapannya?

“Lain kali kalau kau mau ke tempat temanmu itu, bilang padaku supaya aku bisa menemanimu,” lanjut ayahnya. “Memang siang hari lebih aman, tapi tetap saja.”

“Oke.”

Ayah Tom memulai kebiasaan jeleknya mengganti-ganti saluran televisi.

“Ehm, Tom?”

“Ya?”

“Akhir pekan nanti … mau ke rumah sakit?” tanya ayahnya. Kentara sekali kalau ia ragu-ragu menawarkan ajakan tersebut. “Menjenguk ibumu.”

Intensitas kunjungan Tom dan ayahnya ke rumah sakit untuk menjenguk sang ibu sudah jauh berkurang dibanding saat-saat awal beliau dirawat. Jika dulu Tom dan ayahnya berkunjung setiap hari, dua minggu kemudian berkurang menjadi dua hari sekali dan bergantian, lalu semakin berkurang hingga menjadi tak menentu. Tom benci mengakuinya, tapi baik ia maupun ayahnya sama-sama mulai merasa kehilangan harapan. Apalagi dengan kondisi sang ibu yang tak kunjung menunjukkan perubahan selain memburuk setiap minggunya, perasaan mencekik dan putus asa selalu menggelayut di hati keduanya setiap kali mereka usai menjenguk. Mereka berusaha menghindari tekanan itu tanpa sadar, dengan semakin jarang menjenguk.

“Boleh.”

Ingatan Tom melayang pada kedua sosok misterius di ruang bawah tanah apotek.

Kalau tidak salah mereka juga bilang tentang berkunjung menemui ibunya.

Kapan ya?


Si kembar mengutus Saltman untuk melihat posisi kamar yang hendak mereka kunjungi di rumah sakit. Sebagai penanda untuk Nate dan Chloe, Saltman diperintahkan untuk mengoleskan cairan tak kasat mata di jendela kamar tersebut.

Menyelinap dari satu bayangan ke bayangan lain, malam ini Nate dan Chloe bertandang ke rumah sakit tersebut, sesuai janji mereka pada Tom Daryll. Selain derap langkah kaki ketika mereka berpindah dan suara terkekeh pelan yang sesekali keluar dari mulut keduanya, Nate dan Chloe tak menimbulkan suara lainnya. Mereka sudah tiba di salah satu sisi luar rumah sakit.

“Di sini?” tanya Nate, mendongak ke deretan jendela-jendela di sisi rumah sakit tempat mereka berada.

“Mungkin,” jawab Chloe. “Heheheheheh.”

“Eheheheh. Saltman bilang dia sendirian di ruangannya kan?”

“Ya.”

“Heheheh.”

“Heheheh.”

Nate berjongkok, mengeluarkan sepotong kapur dari balik jaketnya, dan mulai menggambar sebuah lingkaran sihir di trotoar. Chloe berdiri di dekatnya, mengawasi keadaan sekitar.

Lingkaran sihir yang digambar Nate mengeluarkan pendar lemah.

“Kelihatan tidak?” tanya Nate.

“Tidak,” jawab Chloe setelah melihat ke jendela-jendela.

“Pindah lokasi kalau begitu.” Nate menjauhkan tangannya dari lingkaran sihir dan pendarnya pun menghilang. Sol tebal sepatunya berdetak ketika ia berlari-lari kecil menuju lokasi selanjutnya. “Heheheh.”

“Tunggu, tunggu, eheheheh.” Chloe membuka botol air kemasan yang dibawanya. Air dari botol melayang keluar dari wadahnya dalam rupa gumpalan-gumpalan yang kemudian jatuh ke atas lingkaran sihir, melenyapkan bekasnya. Chloe mengeluarkan airnya tanpa memiringkan botolnya sama sekali. Selesai menghilangkan lingkaran sihir, ia bergegas menyusul Nate.

Sama seperti sebelumnya, Nate menggambar lingkaran sihir di trotoar kemudian mengaktifkannya.

“Ada?” tanya Nate.

“Ooh, ada, ada.” Chloe menunjuk ke salah satu jendela yang terletak di lantai atas. Sebuah tanda menyala dalam warna kehijauan pucat di kaca jendela.

“Heheheheh. Ayo.”

Kali ini Nate menunggu Chloe menghapus lingkaran sihir dengan air. Keduanya berdiri bersisian, membelakangi tembok rumah sakit.

“Ehehehe.”

“Ehehehe.”

Nate dan Chloe membungkuk bersamaan, menekuk lutut, mengambil ancang-ancang untuk melompat. Dengan satu sentakan, keduanya melenting melewati puncak tembok rumah sakit dengan mudah, bersalto satu kali di udara, dan mendarat dengan mulus nyaris tanpa suara di halaman dalam rumah sakit.

Keduanya langsung melesat menyeberangi halaman rumah sakit, menuju gedung. Sama seperti sebelumnya, Nate dan Chloe mengambil ancang-ancang kemudian melompat secara bersamaan. Keduanya mendarat di dinding rumah sakit, nyaris tidak ada bedanya dengan cicak atau pahlawan super yang dapat menempel di dinding, yang baru tahun lalu diangkat menjadi film bioskop.

“Heheheheh.”

“Heheheheh.”

Nate dan Chloe memanjat gedung dengan gerakan seperti berlari menggunakan kedua kaki dan tangan masing-masing. Tidak butuh waktu lama bagi keduanya untuk mencapai jendela yang telah ditandai Saltman. Saltman melakukan tugasnya dengan baik, membukakan gerendel jendela dari dalam sehingga Nate dan Chloe bisa langsung membukanya dari luar dan masuk ke dalam kamar.

Satu-satunya pasien yang ada di dalam sana adalah seorang wanita. Berdasarkan apa yang tertulis di papan di kaki tempat tidurnya, usia wanita itu masih di pertengahan tiga puluhan, tapi dari wujud fisik yang terbaring di atas tempat tidur, wanita itu kelihatan berkali-kali lebih tua. Tubuh wanita itu sangat kurus, hampir sungguh-sungguh memenuhi ungkapan “tulang terbalut kulit”. Ia sama sekali tak terbangun oleh kedatangan si kembar. Alat-alat penunjang kehidupan berderet di kiri kanan tempat tidur wanita itu; salah satu diantaranya mengeluarkan bunyi teratur yang tidak menenangkan hati.

Nate dan Chloe menurunkan tudung jaket masing-masing, menampakkan rambut pirang yang, selain kering dan kasar, samar-samar memiliki warna kehijauan kotor seperti mata mereka.

“Saatnya bekerja.”

“Eheheh.”

Si kembar menarik rantai kalung yang selama ini tersembunyi di balik jaket masing-masing. Sebuah kunci mungil nampak menggantung di rantai tersebut. Nate menggunakan kunci yang dikalunginya untuk membuka borgol Chloe dan Chloe menggunakan kunci yang dikalunginya untuk membuka borgol Nate. Selesai membuka borgol masing-masing, membiarkan satu cincin borgol tetap melingkari salah satu tangan, keduanya membuka sarung tangan masing-masing, menyimpannya ke dalam saku jaket. Tanpa sarung tangan, tato berbentuk lingkaran sihir rumit yang dilengkapi dengan huruf-huruf asing di kedua telapak tangan si kembar terlihat jelas.

Nate dan Chloe memeriksa tubuh yang terbaring di atas tempat tidur dalam diam. Nate memeriksa suhu tubuh sang “pasien” menggunakan punggung tangannya. Chloe memegang kaki si “pasien” dan merasakan suhunya. Nate membuka kelopak mata wanita itu, memperhatikan reaksi yang ditunjukkan pupil matanya. Chloe memijit jempol kaki wanita itu, mencari reaksi kesakitan atau sejenisnya. Nate mencondongkan tubuhnya melewati sisi tempat tidur, menempelkan telinga ke dada si wanita. Chloe menekan pergelangan tangan si wanita dengan dua jari. Lalu, bersama-sama, Nate dan Chloe menempatkan tangan masing-masing sekitar dua senti dari permukaan tubuh si wanita, sama-sama memulai dari kepala. Si kembar berjalan perlahan dari ujung tempat tidur ke ujung lainnya. Tangan mereka tetap berada beberapa senti dari tubuh si wanita, seperti detektor logam yang memindai di atas permukaan tanah.

“Hm.”

“Hm.”

Pintu kamar terbuka.


Rasa dingin merambati tengkuk Tom ketika ia melihat dua sosok yang telah berada di dalam kamar ibunya. Di sebelahnya, ayah Tom spontan bereaksi:

“Siapa kalian?”

Reaksi Nate dan Chloe sama sekali tidak membantu menjernihkan suasana. Keduanya menjauhi tempat tidur ibu Tom, mengangkat kedua tangan di udara seperti orang yang hendak menunjukkan bahwa ia tidak berniat jahat dan tidak membawa senjata, namun malah membuat ayah Tom melihat jelas borgol yang masih menggantung di tangan mereka. Ditambah lagi dengan tampang keduanya yang dalam kondisi tudung jaket tak dipakai seperti sekarang ini justru menambah kecurigaan.

“Apa yang kalian lakukan pada istriku?” cecar ayah Tom.

“Tidak ada, Sir.”

“Kami tak melakukan apapun, Master.”

“Heheheheh.”

“Heheheheh.”

“Tom!” Ayah Tom berpaling pada anak laki-lakinya. “Panggil keamanan!”

Tom membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu untuk meluruskan masalah, namun tak terpikirkan sedikitpun olehnya apa yang harus ia ucapkan.

“Cepat!”

Desakan ayahnya menang. Tom berbalik menuju pintu ruangan, mengulurkan tangan hendak meraih gagang pintu.

Suara hentakan terdengar dari balik punggung Tom. Tangan Tom meraih gagang pintu. Anak lelaki itu menyentaknya dan mendapati bahwa pintunya sama sekali tidak bisa dibuka. Ayahnya tidak menyadari hal tersebut dan mendorong pintu, berusaha membukakan pintu untuk anaknya. Daun pintunya tidak terkuak sedikitpun.

Ketakutan merambati punggung Tom.

“Heheheheh.”

“Heheheheh.”

Teringat pada kejadian di apotek, Tom langsung tahu bahwa pintu ruangan ini mustahil dibuka tanpa ijin si kembar. Ayahnya masih berusaha membuka pintu, menabrakkan bahunya ke pintu selain mendorong dan menarik. Setelah beberapa percobaan sia-sia, sang ayah akhirnya berhenti.

Si kembar tengah berjongkok dengan telapak tangan menempel di lantai. Seperti di game yang pernah dilihat Tom, diagram-diagram aneh bercahaya terbentuk di lantai dan dinding ruangan; ada yang berputar konstan, ada yang berdetak seperti gerigi jam. Sementara si jaket hijau tetap dalam posisi demikian, si jaket biru—Nate—berdiri, kembali mengangkat tangan.

“Sir—” Nate memutus kalimatnya secara tidak enak, meraih papan keterangan yang ada di kaki tempat tidur. “Sir Daryll? Eheheh. Maaf. Tidak berniat mencelakakan istri Anda. Heheheheh. Sumpah.”

“Siapa kalian?” tanya ayah Tom. Tom melihat tangan ayahnya menjangkau sarung pistol yang ada di balik jas, hanya untuk menjauhkannya kembali dengan ragu. Tangannya yang lain menarik Tom supaya berada di balik punggungnya.

“Aku Natrium,” jawab Nate. “Panggil saja Nate.” Jelas dari gaya bicaranya Nate tidak menanggapi serius suasana tegang di dalam ruangan. “Ini Chlorine,” lanjutnya sambil menunjuk si jaket hijau yang masih berjongkok mempertahankan diagram-diagram bercahaya. “Panggil saja Chloe. Heheheheheh.”

“Aku tidak tanya nama kalian!” hardik ayah Tom kesal. “Apa yang kalian lakukan di sini!? Apa yang kalian lakukan pada istriku!?”

“Kami memeriksanya,” jawab Nate, “dengan seksama dan menyeluruh.”

“Heheheheh.”

“Heheheheh.”

Wajah ayah Tom sudah merah padam oleh amarah. Selarik otot timbul di pelipisnya. Tom belum pernah melihat ayahnya semurka itu.

“Kondisi istri Anda parah, Sir Daryll,” kata Nate lagi sebelum ayah Tom sempat melakukan sesuatu.

“Nate, klien tidak boleh dibiarkan berdiri.”

“Aha, benar.” Nate mengambil kursi yang ada di dekat ranjang pasien, membawa dan meletakkannya lebih dekat dengan Tom dan ayahnya. “Silakan duduk dulu. Heheheheheh.”

“Eheheheheh.”

Tentu saja ayah Tom tidak segera duduk. Melihatnya, Nate kembali mengangkat kedua tangannya. Tom mulai berpikir bahwa itulah satu-satunya pendekatan yang dipahami Nate untuk menenangkan lawan bicaranya.

“Tenagaku mulai habis,” kata Chloe tiba-tiba. “Gantian, gantian.”

“Oke.”

“Heheheheh.”

“Heheheheh.”

Nate menggantikan posisi Chloe mempertahankan diagram-diagram bercahaya. Tidak ada bedanya dengan Nate, Chloe pun langsung mengangkat tangan untuk menunjukkan bahwa dia tidak bermaksud jahat.

“Aturannya, kalau Anda tidak duduk, Master Daryll, tidak ada pembicaraan,” kata Chloe. “Heheheheh.”

Sesaat, cengkeraman di tangan Tom mengetat. Lalu ayahnya duduk.

“Istri Anda, Master Daryll Senior, atau ibu Anda, Master Daryll Junior, tidak dapat ditolong lagi.”

Tidak ada pemanis sedikitpun dalam pemberitahuan itu. Chloe mengatakannya tanpa rasa simpatik tersirat dalam kata-katanya.

“Siapa kalian sampai bisa-bisanya memvonis begitu?” tuntut ayah Tom. “Para dokter saja tidak tahu apa penyebab penyakit—“

Chloe memotong ucapan Jon Daryll dengan decakan keras meremehkan.

“Dokter kalian tidak tahu apa yang terjadi kan?” Chloe terkekeh. “Kami tahu.”

“A-apa?”

“Eheheheh, Chloe, buat mereka bersumpah tidak berusaha kabur atau memanggil petugas keamanan,” kata Nate. “Mulai capek pasang sihir nih.”

“Heheheheh. Oke.” Chloe memiringkan kepala ke satu sisi. “Begitulah. Kalau Anda sekalian penasaran, kami bisa menjawabnya.”

“Asalkan kalian tidak kabur atau memanggil petugas keamanan.”

“Ya. Heheheheh.”

“Eheheheheh.”

Bahu ayah Tom melorot. Anggota kepolisian itu mendelik penuh ancaman pada Nate dan Chloe sebelum akhirnya berjanji bahwa ia akan tetap diam, tidak berusaha kabur, maupun memanggil keamanan.

“Baiklah.” Saat Nate berdiri, Tom menyadari kalau diagram-diagram yang tercetak di lantai dan dinding ruangan menghilang.

Tom merinding ketika melihat si kembar tidak lagi menyeringai. Saat berbicara pun keduanya tak menyelingi kalimat-kalimatnya dengan suara terkekeh.

“Ibumu tidak akan mati, Nak,” kata Nate.

“Ibumu—istri Anda, Master Daryll Senior—sudah mati,” kata Chloe.

Tom dapat merasakan darah menghilang dari wajahnya.

“Apa—apa maksud kalian?” desis Jon Daryll.

“Pernah dengar tentang zombi?” tanya Nate.

Tom dan ayahnya mengangguk.

“Kapan pun kalian menemukan beliau,” Nate mengarahkan pandangan pada sosok di atas tempat tidur, “beliau sudah mati pada saat itu.”

“Tapi dia bernapas—“

“Ya.” Kali ini Chloe yang menjawab. “Beliau bernapas, tapi itu karena sihir dari seseorang yang menghidupkannya kembali. Zombi tidak selalu berarti mayat yang bisa bergerak saja, tapi juga termasuk seseorang yang telah mati namun fungsi tubuhnya dipaksa untuk ‘hidup’.”

“Jadi …” Tom tergagap. “Jadi Ibu …”

Nate dan Chloe menggeleng.

“Tidak bisakah kalian menyelamatkannya?” desak Tom.

Gelengan lagi.

Tom merasa hatinya patah.

“Tapi kalian bilang tidak ada yang mustahil!” raung Tom. Ia menghambur ke arah Nate, mencengkeram jaketnya dan mengguncangnya keras-keras. “Kalian bilang tidak ada yang mustahil!”

“Tom!”

“Kalian bilang kalian tahu caranya menyembuhkan kanker! Kalian bilang tidak ada yang mustahil!”

Sepasang lengan kokoh melingkari bahu Tom, memeluknya, dan menariknya menjauh dari Nate. Ayahnya. Tom tak dapat menahan air matanya lagi saat menyadari bahwa ayahnya juga menangis.

“Kalian bilang …” Kalimat Tom tenggelam dalam isakan.

“Kami tidak bilang kami bisa menghidupkan orang mati,” bisik Nate. “Ingat? Kami bicara tentang menyembuhkan penyakit. Bukan menghidupkan orang mati.”

Rasa sakit di rusuk Tom tak tertahankan. Berani-beraninya … berani-beraninya dua orang di hadapannya ini memberinya harapan palsu …

“Siapa yang melakukan semua ini?” tanya ayah Tom.

“Seorang necromancer, pastinya,” kata Chloe.

“Kenapa dia melakukan ini?”

“Tidak tahu.”

“Jadi satu-satunya jalan keluar adalah dengan membiarkan istriku mati?” tanya ayah Tom.

“Ya.”

“Ya.”

“Kalau memang itu yang terbaik untuknya …”

Nate dan Chloe saling berpandangan, lalu merogoh ke balik saku jaket masing-masing dan mengeluarkan spidol. Tanpa meminta persetujuan lagi pada Tom atau ayahnya, kedua sosok berjaket itu menggambar sebuah lingkaran mengitari tempat tidur ibu Tom, menarik garis membentuk pola-pola, dan menuliskan simbol-simbol aneh.

“Jangan.” Tom tidak ingin berpisah dengan ibunya sekarang. Tidak, tidak. Dia belum siap. “Jangan …”

Pelukan ayah Tom kian erat. Pria yang lebih dewasa itu berbisik pada anaknya:

“Relakan, Tom … Relakan dia …”

“Tidak,” rengek Tom. “Tidak bisa. Mereka akan mengambil Ibu—“

“Mereka akan membebaskannya.”

“Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak.”

Nate dan Chloe melangkah mundur. Mereka telah menyelesaikan sebuah gambar raksasa di lantai ruangan, sesuatu yang Tom pikir disebut sebagai “lingkaran sihir” jika sihir itu memang ada.

Sihir itu memang ada.

Lingkaran dan simbol-simbol yang digambar Nate dan Chloe berpendar dalam cahaya kehijauan.

“Rohnya masih ada di sini,” kata Chloe.

“Bicaralah. Waktu kalian tiga menit,” kata Nate.

Sosok di atas tempat tidur seperti berbayang-bayang. Bayang-bayang itu mewujud lebih nyata, akhirnya mengaburkan sosok fisik yang asli, menampakkan seorang wanita yang terlihat jauh lebih sehat dan lebih cantik daripada yang terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Wanita itu membuka matanya.

“Jon? Tom?”


Jon Daryll menatap tak percaya pada pemandangan di depan matanya saat ini.

Istrinya. Itu istrinya kan yang tersenyum padanya?

Tom lebih tidak ragu-ragu. Begitu tangan Jon yang memeluknya longgar, anak itu langsung menghambur ke arah ibunya. Tom berusaha memeluk sosok ibunya yang semi transparan, berujung dengan ia menubruk teralis besi di tepian tempat tidur.

“Aduh, Tom,” kata sosok semi transparan itu. “Kau tidak bisa menyentuhku sekarang.” Sosok itu tersenyum sedih. “Aku juga tidak bisa.”

Itu benar-benar Vero. Istri Jon. Ibu Tom.

“Vero …” Jon akhirnya berhasil menyebutkan namanya.

“Jon.” Vero berpaling padanya. “Maafkan aku. Aku membuat kalian semua khawatir kan?”

“Kau selalu membuatku khawatir.”

Vero menyeringai. “Iya yah. Maaf ya.”

Masih gagal mencerna apa yang sebenarnya terjadi, Jon bingung hendak mengatakan atau berbuat apa. Sementara Jon tercenung, sosok Vero sibuk menenangkan dan menghibur Tom.

“Vero?”

“Hm?”

“Maaf kalau selama ini aku terlalu sibuk.”

“Tugas polisi kan?”

“Harusnya aku lebih banyak meluangkan waktu.”

“Jangan disesali, Jon.” Vero tersenyum. Senyum yang dari dulu hingga sekarang selalu meluluhkan hati Jon. “Aku senang bersuamikan seorang penegak hukum.”

“Aku menyayangimu.”

“Aku juga menyayangimu, Jon.”

Jon memaksakan senyum. “Aku mencintaimu.”

“Aku juga. Selalu, Jon, selalu.”

“Tiga menit,” potong si jaket biru.

“Waktunya habis,” sambung si jaket hijau.

Sosok Vero berpaling pada Nate dan Chloe yang telah bergeser ke kaki tempat tidur.

“Aku tak tahu apa yang kalian lakukan, tapi terima kasih,” kata Vero. “Terima kasih karena mengijinkan kami berbicara untuk terakhir kalinya.”

Dan tiba-tiba saja ketika diberitahu bahwa waktunya sudah habis, Jon memikirkan banyak hal untuk diucapkan pada Vero. Sepertinya selalu terjadi seperti itu. Ketika waktunya sudah habis, baru terpikirkan berapa banyak yang terlupakan atau hendak disampaikan.

“Aku akan menjaga Tom baik-baik!” kata Jon akhirnya, memilih apa yang paling ingin diucapkan dari begitu banyak hal. “Kau tidak perlu khawatir! Aku akan belajar memasak! Aku tidak akan keseringan lembur! Aku tidak akan mengajarinya merokok atau minum minuman keras!” Jon sampai kehabisan napas demi mengatakan semua itu. “Kami akan baik-baik saja, jadi kau tidak perlu khawatir!”

Vero tersenyum lebar mendengarnya. Sosoknya memudar hingga akhirnya lenyap sama sekali. Bersamaan dengan menghilangnya sosok Vero, lingkaran dan simbol-simbol aneh yang digambar si jaket biru dan si jaket hijau di lantai tidak lagi bercahaya. Ketika Jon melihat ke bawah, ia bahkan tidak menemukan tanda-tanda spidol di lantai.

Tubuh fisik Vero berhenti bernapas.

PIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIP.

Si jaket biru meraih pergelangan tangan Vero, memeriksa denyut nadinya dan mengangguk.

“Dia sudah beristirahat.”

PIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIP.

Si jaket hijau meraih tombol bel di sisi tempat tidur dan menekannya.

“Dia sudah beristirahat.”

PIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIP.

Nate dan Chloe menarik kembali tudung jaket masing-masing menutupi kepala, mengenakan sarung tangan, dan memasang borgol.

“Bisa minta tolong?” tanya Nate setelah menggeser jendela  hingga terbuka. Seringai ganjil telah kembali ke wajahnya. “Heheheh.”

“Ya?”

“Tolong tutup dan kunci jendelanya.”

“Heheheheh.”

Nate melompat keluar melalui jendela, diikuti oleh Chloe.

Jon spontan berlari ke arah jendela.

Sinting! Kenapa mereka melompat keluar begitu!? Ini lantai tujuh kan!?

Saat Jon melongok keluar, ia masih sempat menangkap dua sosok yang berlari melintasi halaman dalam rumah sakit sebelum akhirnya melompati dinding pagar rumah sakit.

Sesaat, hati Jon dihinggapi kengerian.

Makhluk apa mereka itu?

Jon mengunci jendela tepat ketika seorang perawat memasuki kamar.

Makhluk apapun mereka, pikir Jon. Mereka membebaskan Vero.

PIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIP.

==fin==

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi] Valharald

Simple Notes: Fiction Junction (Character Part 1: Classification)

Simple Notes: Ketika Negara Api Menyerang ...