[NaCl] 3: Mother - pt 2
Sebelumnya: Mother - pt 1
Saltman telah melihat berbagai jenis pengunjung mendatangi apoteknya, baik untuk urusan obat normal maupun obat “spesial”. Tua dan muda. Sehat dan sakit. Sembrono dan teratur.
Kadang-kadang ada pula tamu yang mengejutkan. Seperti sekarang ini.
Seorang anak lelaki, mungkin berusia sekitar sepuluh sampai dua belas tahun, mendorong pintu dan masuk ke dalam apotek. Rambutnya pirang kecokelatan dan wajahnya sedikit berbintik-bintik. Anak itu kelihatan gusar dan gugup sekaligus.
“Selamat sore,” sapa Saltman, menutup koran dan memberikan perhatian sepenuhnya pada si tamu.
“Ngg …”
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Anu … saya dengar saya bisa menemukan obat-obatan yang tidak biasa di sini …”
Saltman terkesiap.
“Maaf?” tanyanya. Bukan reaksi yang bagus mengingat Saltman sudah sempat terdiam sesaat tadi. “Obat … seperti apa yang kau maksud?”
Anak itu bergumam. Saltman tak dapat mendengar jawabannya.
“Maaf?”
“Obat yang dapat menyembuhkan segala penyakit dan membuat peminumnya abadi,” ulang anak itu dengan kecepatan bicara yang mengakibatkan setiap kata dalam kalimatnya seperti tersambung.
Saltman tahu bahwa dia bahkan tak perlu menjalankan protokol selanjutnya yang mengharuskannya meminta identitas asli dari klien. Anak ini masih terlalu muda.
“Tidak ada obat seperti itu, Nak,” jawab Saltman.
“Oh …”
Wajah anak itu terlihat memerah. Ia memasukkan kedua tanganya dalam saku, menundukkan kepala dan menggumamkan “terima kasih” lemah. Anak itu melangkah gontai menuju pintu keluar.
KRIIIIINGGGG.
Saltman menoleh ke arah datangnya suara. Si anak berhenti berjalan.
KRIIIIINGGGG.
Telepon hitam dengan model kuno yang berasal dari nyaris seabad silam berada di atas etalase. Tidak ada panel digital apapun di permukaannya. Alih-alih tombol angka yang bisa ditekan, telepon itu masih menggunakan piringan putar berlubang-lubang untuk memasukkan nomor telepon yang dituju.
Seingat Saltman tidak pernah ada telepon di atas sana.
KRIIIIING—
“Halo?”
“Saltman.”
“Saltman.”
Suara si kembar terdengar dari ujung lain sambungan.
“Bawa anak itu turun. Hehe.”
“Turun? Tapi dia tidak memenuhi syarat.”
“Heheheheheh, anak ini perkecualian.”
“Bawa dia turun Saltman.”
“Heheheheh.”
“Heheheheh.”
Telepon ditutup. Saltman meletakkan gagang telepon dan berjalan meninggalkan tempatnya di balik konter.
“Telepon itu tadi tidak ada di sana,” celetuk si anak tiba-tiba. Anak itu rupanya masih berada di dalam apotek.
“Tidak. Telepon itu ada di sana sejak tadi,” kata Saltman berbohong.
“Aku tidak melihatnya.”
“Memang mudah meluputkan sesuatu yang sekuno itu.” Saltman mengangkat bahu. “Nak, ada yang ingin menemuimu. Ikutlah denganku sebentar.”
“Aku harus pulang.”
Si anak mengulurkan tangan untuk membuka pintu apotek. Detik selanjutnya ia tersentak mundur sembari mengibas-ngibaskan tangannya.
“Pegangannya nyetrum …”
“Nak, ada yang ingin menemuimu.”
“Tidak. Terima kasih.”
Anak itu kembali mencoba membuka pintu. Pegangan dari logam menyetrumnya kembali. Ia mencoba memegang bagian lain pintu lalu mendorong. Pintu bergeming. Dia mencoba menarik pintu. Pintu juga bergeming.
“Maafkan aku karena berbohong, Nak,” kata Saltman lagi. “Mereka berkenan mendengarkan permintaanmu. Kau tadi mencari ‘obat-obatan yang tidak biasa’ kan?”
“Itu cuma bualan di internet kan? Tidak usah ikut-ikutan membohongiku.”
Saltman mendorong anak itu hingga menyingkir dari depan pintu. Dengan cekatan ia mengunci pintu dan membalikkan papan penanda yang tergantung.
“Hei! Biarkan aku keluar!”
“Cobalah.”
Anak itu kembali menyentuh pegangan pintu dan tersentak kaget karena sengatan. Ia menatap Saltman dengan marah dan berusaha menangkap si pria botak, berupaya mengambil kunci pintu darinya. Saltman menghindar dan berkelit darinya, selalu menyisakan sedikit jarak yang kian membuat si anak berang.
“Aku akan melaporkanmu pada polisi!”
Saltman diam saja tak menanggapi. Tanpa perlu dilaporkan pun tempat ini sudah berada dalam pengawasan polisi.
Anak itu menghentikan usahanya mendapatkan kunci dari Saltman. Ia beralih pada kaca etalase dan kursi di balik konter. Saltman diam saja ketika si anak berlari ke balik konter, mengangkat kursi berkaki tinggi yang biasa diduduki Saltman, dan mengayunkannya ke kaca etalase yang terpampang tanpa perlindungan di dekatnya.
Saltman memikirkan sebuah judul bagus yang bisa dipakainya untuk bahan penelitian kalau-kalau dia perlu kembali ke bangku universitas:
“Pengaruh Televisi dan Video Game Pada Agresivitas Anak-anak dan Korelasinya dengan Pengambilan Keputusan”
Kursi yang diayunkan ke kaca etalase terpental seperti menghantam karet.
Saltman merasa judul penelitiannya terlalu panjang. Mungkin dia bisa menyingkatnya jadi:
“Pengaruh Media Elektronik Pada Agresivitas dan Korelasinya Dengan Pengambilan Keputusan”
Anak itu mencoba menghajar kaca etalase untuk kedua kalinya, berakhir dengan efek membal yang sama.
Saltman merevisi lagi:
“Pengaruh Media Elektronik Pada Pengambilan Keputusan Menghadapi Kondisi Ekstrim”
Setelah percobaan ketiga, bahu si anak turun. Akhirnya dia menyadari ketidakberdayaannya. Saltman membukakan pintu yang satu lagi.
“Silakan ikuti saya,” kata Saltman seraya mengeluarkan senter kecil dari saku.
Perasaan Tom Daryll tidak enak.
Pria yang menjaga apotek membawanya memasuki sebuah ruang bawah tanah. Tom tidak punya pilihan lain. Setelah gagal membuka pintu maupun merebut kuncinya dari si penjaga apotek, Tom—ia benar-benar tak mengerti bagaimana ini bisa terjadi—tidak berhasil menghancurkan kaca jendela etalase.
Tidak ada yang beres di tempat ini, batin Tom. Ia mulai menyesali keputusannya untuk datang kemari karena termakan berita yang dilihatnya di internet. Harusnya dia tetap di rumah. Harusnya dia tahu bahwa internet penuh dengan orang-orang yang menganggap memberikan harapan palsu dengan cerita-cerita aneh yang direkayasa dan didukung bukti-bukti palsu adalah suatu kesenangan.
Lalu Tom teringat pada ibunya. Lalu pada ayahnya.
Tom mulai berdoa di dalam hati. Dia bukan anak paling religius yang pernah ada, tapi keluarganya telah membimbing Tom untuk percaya pada agamanya dan membuatnya percaya akan adanya keajaiban serta mukjizat.
Mungkin justru hal terakhir itu yang membawa Tom tiba ke situasi ini.
“Tamu.”
“Tamu.”
Ruang bawah tanah itu aneh. Luasnya mungkin sama seperti sebuah lapangan bola, dengan penerangan minim dan deretan rak-rak panjang. Udara di dalam sana cenderung dingin dan kering, dengan aroma debu samar-samar. Tom melihat dua orang berjaket warna mencolok tengah duduk menghadapi meja yang diletakkan cukup jauh terpisah dari deretan rak. Orang-orang itu kelihatannya hanya lebih tua beberapa tahun dari Tom. Bulu kuduk Tom meremang ketika keduanya menoleh ke arahnya.
Tom belum pernah melihat langsung orang-orang yang teler akibat narkoba atau minuman keras, tapi ayahnya yang seorang polisi sering menceritakan padanya tentang itu. Bayangan Tom akan seorang pecandu berat sangat mirip dengan kedua sosok berjaket itu: seringai aneh permanen yang membuat ekspresi mengerikan sekaligus hilang akal pada saat bersamaan, lalu bagian bawah mata yang gelap seperti kurang tidur parah.
“Selamat datang, Sir.”
“Selamat datang, Master.”
“Heheheheh.”
“Silakan duduk, heh heh.”
Tom menatap kursi ketiga di antara kedua orang aneh tersebut. Ia menoleh ke belakang, mendapati si lelaki botak telah mengundurkan diri dan berjaga di depan pintu keluar.
Merasa tak memiliki pilihan lain, Tom menarik kursi dan duduk. Tak berani menatap kangsung ke salah satu dari kedua sosok di sampingnya, Tom memusatkan perhatiannya pada permukaan meja. Anak itu mendapati ada banyak kertas di sana, masing-masing dengan coretan rumus-rumus, perhitungan, skema berpenanda, dan sebagainya.
Tom tak tahu dia harus menganggapnya lucu, aneh atau justru mengagumkan ketika melihat bahwa semua tulisan di atas kertas ditulis terbalik, jenis terbalik yang baru dapat terbaca jelas jika dilihat melalui cermin. Ini membuat Tom berpikir kembali: apakah kedua orang ini teler atau memang penampilan mereka seperti itu? Rasanya mustahil orang mabuk atau teler bisa menulis terbalik seperti itu.
“Kami punya peraturan sebenarnya.” Si jaket hijau angkat bicara. Tom menoleh takut-takut ke arahnya tanpa mendongakkan wajah. Si jaket hijau—yang dari suaranya adalah seorang perempuan—mencondongkan tubuhnya ke arah meja dan melihat Tom dari sudut yang lebih rendah. Disinari cahaya lampu yang membuat lebih banyak bayang-bayang di bawah tudung jaket, Tom melihat keberadaan deretan gigi-gigi yang kecil namun rapi dan semuanya terlihat seperti gigi taring manusia.
“Harusnya hanya orang-orang yang kami anggap sudah bisa bertanggung jawab yang kami ijinkan turun ke sini,” lanjut si jaket biru. “Umur biasanya. Minimal mereka sudah tujuh belas tahun.”
“Ada perkecualian hari ini.”
“Heheheheheh.”
“Heheheheheh.”
“Aku Natrium,” kata si jaket biru. “Panggil saja Nate.”
“Aku Chlorine,” kata si jaket hijau. “Panggil saja Chloe.”
“Hehehehe.”
“Hehehehe.”
“Kenapa kau kemari?” Nate memiringkan kepalanya sedikit. “Nak?”
Tom sadar betul kalau di awal Nate dan Chloe menyapanya dengan sebutan “Sir” dan “Master”, sekarang mereka mengubah panggilannya menjadi “Nak”.
“Ibuku …,” kata Tom akhirnya.
“Ya?”
“Eheheh.”
“Kudengar banyak yang mengatakan bahwa apotek ini memiliki obat-obatan yang tidak biasa. Yang bisa melakukan hal-hal … mustahil.”
“Tidak, tidak. Kau salah, Nak.” Chloe mulai merapikan kertas-kertas yang berserakan di atas meja, diikuti oleh Nate. Tom menelan ludah ketika melihat pergelangan tangan keduanya diborgol.
“Kanker misalnya,” sambung Nate. “Itu cuma mutasi tak terkendali. Kami sudah membuat obatnya sejak pertama kali penyakit itu didiagnosa. Obat itu hanya menghentikan proses mutasinya.”
“Ya, ya, ya. Sesederhana itu. Hehehehe.”
“Ehe heh heh.”
“Tidak ada yang mustahil.”
Tom menjilat bibirnya dengan gugup. “Ibuku …,” bisiknya. Ia harus mengerahkan segenap keyakinannya bahwa dia sudah tidak bisa mundur lagi sekarang. “Ibu sakit. Dia … dia akan meninggal dalam sebulan ini.”
Mata Tom terasa panas.
Bocah berusia dua belas tahun itu menyaksikan bagaimana kondisi ibunya menurun, seperti bunga layu dalam rekaman video yang dipercepat. Segala sesuatunya terasa begitu cepat. Tiba-tiba saja Tom mendapati dirinya dan ayahnya berbagi pekerjaan rumah tangga. Tiba-tiba saja Tom harus menemukan rumah yang kosong tak berpenghuni setiap pulang sekolah. Tiba-tiba saja Tom dan ayahnya harus berjuang memasak makan malam yang enak tidak enak harus mereka makan. Suasana makan malam yang biasanya hidup tiba-tiba saja menghilang, digantikan keheningan tak nyaman di antara Tom dan ayahnya, hanya diselingi pertanyaan tentang sekolah dari ayahnya dan pertanyaan tentang pekerjaan dari Tom. Kedua pertanyaan itu biasanya ditanyakan oleh sang ibu.
“Ayah selalu bilang dia akan sembuh,” bisik Tom. Tetes-tetes air mata mulai bergulir dari sudut matanya. “Ayah bilang … dia akan baik-baik saja. Aku tahu itu bohong. Ibu tidak akan bertahan …”
Selanjutnya, isakan menahan Tom berkata-kata dengan jelas. Anak itu mengatupkan rahang, berusaha keras menahan tangisnya.
Sentuhan lembut mendarat di bahu Tom.
“Biarkan keluar,” kata Nate, menepuk perlahan bahu Tom. “Air matanya.”
“Menangis membuat manusia menghasilkan hormon yang bisa menenangkan,” kata Chloe.
Tom menangis, tapi dalam diam.
Beberapa saat kemudian, setelah tangisannya reda, Tom melanjutkan, “Aku … tidak ingin Ibu meninggal …”
“Kami paham, heheheheh.”
“Kami juga tidak ingin Ayah meninggal, ehehe.”
“Dapatkah kalian melakukan sesuatu?” tanya Tom. “Untuk ibuku?”
“Sakit apa dia?”
“Jabarkan kondisinya.”
“Minimal apa kata dokter.”
“Dokter … tidak dapat mendiagnosis apa persisnya penyakit Ibu.”
“Heh, dokter jaman sekarang,” ujar Nate.
“Heheheheh. Dokter jaman sekarang,” sambung Chloe menyetujui.
“Mereka, para dokter, cuma bilang kalau kondisi Ibu menurun drastis. Begitu saja.” Tom terlihat tidak nyaman dengan reaksi si kembar ketika ia mengatakan bahwa dokter tidak tahu apa yang terjadi pada ibunya. “Berat badan menurun, kondisi tubuh menurun. Tanpa sebab pasti. Salah satu dari mereka bahkan bilang kondisi ibu mirip karakter utama novel Steven Queen.”
“Steven Queen?”
“Novel?”
“Steven Queen penulis novel horor. Dia terkenal. Novelnya sudah banyak yang jadi film. Aku tahu yang dimaksud si dokter. Aku pernah nonton filmnya. Judulnya Slimmer.”
“Penyakit yang sangat aneh.”
“Kami mungkin harus melihatnya sendiri.”
“Heheheheh.”
“Heheheheh.”
“Akhir pekan kami akan berkunjung.”
“Beritahu kami nomor kamar tempat ibumu dirawat.”
Tom ragu-ragu.
Benarkah ini yang dia inginkan?
Apakah dia bisa mempercayai kedua orang misterius ini?
Perut Tom melilit oleh ketakutan dan keraguan. Dia tidak siap mengambil keputusan. Tidak sekarang. Tapi mungkin juga tidak nanti.
Tom harus memutuskan.
“Ada sesuatu yang aneh dengan semua ini.” Saltman berkata pada si kembar yang tengah sibuk mempersiapkan sesuatu. “Seperti … ada yang berusaha menjebak kita. Atau kalaupun bukan, seseorang merancang ini entah untuk tujuan apa.”
Saltman jarang turun ke ruang bawah tanah selepas apotek ditutup, apalagi sampai masuk ke dalam “ruangan khusus” tempat si kembar biasanya berada ketika malam tiba.
Ada satu ruangan lagi selain ruang yang dipergunakan si kembar sebagai laboratorium dan dapur. Saltman menyebutnya “ruangan khusus” sementara Nate dan Chloe menyebutnya “kamar Ayah”.
Hanya ada satu lampu di ruangan ini, menerangi sebagian besar ruangan, tapi tetap menyisakan sudut-sudut gelap serta berbayang-bayang. Tumpukan televisi dari berbagai jaman tersusun di salah satu sisi kamar: televisi hitam putih yang memiliki kenop pemutar untuk mengganti saluran, televisi tabung dengan layar cembung yang menyerupai perut seorang pria buncit jika dibandingkan dengan televisi tabung berlayar datar di sisinya, hingga yang paling mutakhir, LCD dan televisi plasma yang ketajaman gambarnya luar biasa. Masing-masing layar televisi menampilkan saluran yang berbeda dari berbagai belahan dunia, tanpa sedikit pun suara terdengar darinya.
Di bagian tengah ruangan, sosok seorang pria tua terbaring di atas ranjang logam rumah sakit. Lelaki itu nampak kelabu, ringkih, dan seandainya saja tidak ada gerakan naik turun perutnya ketika ia bernapas, siapapun akan mengira pria tersebut sudah meninggal dan sedang dalam proses termumifikasi. Tapi, tidak, pria itu masih hidup, atau setidaknya dipertahankan hidup dengan berbagai cara oleh si kembar.
Maksudnya benar-benar “dengan berbagai cara”.
Di kedua sisi ranjang terlihat berbagai alat penunjang kehidupan: monitor-monitor aktivitas tubuh, tabung oksigen, selusin atau bahkan lebih kantong infus yang digantung di tiang-tiang logam berkait atau cantelan kawat yang dipaku ke langit-langit. Sebuah lingkaran sihir besar dan rumit tergambar di lantai ruangan, dengan ranjang berada tepat di tengah-tengahnya. Ada sisa-sisa lelehan lilin di ujung-ujung lingkaran sihir yang digambar dengan kombinasi kapur, cat, dan spidol itu.
“Kami tahu, hehehe,” kata Nate yang berkutat dengan salah satu televisi kuno yang gambarnya bergaris-garis dan bergoyang. “Kami sudah tahu, heheheheh, sejak seminggu lalu. Eheheheheh.”
“Seminggu yang lalu itu kira-kira ketika Henry Griffith datang …,” gumam Saltman.
“Yang minta obat untuk tidak tidur,” kata Chloe yang meneliti setiap kantong infus dengan sangat berhati-hati. “Namanya Henry Griffith, eh?”
“Heheheheh.”
“Heheheheh.”
“Ada yang sepertinya mengarahkan orang-orang itu,” kata Nate, akhirnya berhasil membetulkan tampilan televisi. “Belakangan terlalu banyak pengunjung.”
“Padahal kita tidak memasang iklan,” imbuh Chloe. “Pertanyaannya, dari mana mereka tahu?”
“Internet,” jawab Saltman. Diam-diam ia sedikit kesal karena si kembar menerima dan mengadopsi perkembangan teknologi kedokteran dan farmasi, namun sangat kolot dan keras kepala jika terkait teknologi komputerisasi dan digital. Jika Saltman tidak mati-matian meyakinkan mereka untuk menggunakan mesin kasir “standar masa kini”, mesin kasir di apotek pasti masih menggunakan teknologi setengah abad lalu. Mungkin satu-satunya teknologi digital yang dipuja Nate dan Chloe hanyalah televisi, seperti yang terlihat di sisi lain ruangan saat ini. Itupun tak dapat sepenuhnya mereka nikmati karena mata mereka yang kelewat sensitif terhadap cahaya.
“Internet,” ulang Nate dan Chloe dengan nada meremehkan, nyaris seperti jijik.
“Kalian sebaiknya berhenti membenci komputer dan hal-hal yang berkaitan dengannya,” kata Saltman. “Aku pakai internet. Informasi yang tersebar di dalamnya jauh lebih banyak daripada televisi, radio atau koran. Kebanyakan orang yang mendengar tentang apotek ini juga mendapatkan sumbernya dari internet. Bukan dari koran atau televisi.” Saltman tiba-tiba menyadari sesuatu. Orang-orang yang lama berkubang di dunia maya biasanya tidak mudah termakan suatu berita, lebih-lebih dengan semua guyonan dan kebohongan tidak jelas yang beredar di internet. Harus ada sesuatu yang begitu meyakinkan hingga dapat menggerakkan orang-orang seperti si pengusaha, si penulis—Saltman lupa nama keduanya—Henry Griffith, dan Mark Hommund untuk datang dan mencari tempat ini.
Ada seseorang yang mengekspos keberadaan tempat ini sedemikian rupa.
Dan Saltman menyadari satu kekeliruan terbesarnya: ia membiarkan dua orang pengunjung datang bersamaan namun hanya membawa turun satu orang. Dia menyisakan saksi mata yang tak terkena pengaruh sihir penjaga rahasia yang diterapkan di ruang bawah tanah.
Itu salah. Salah sekali.
“Ada apa Saltman?”
Bulu kuduk Saltman meremang. Nate dan Chloe sudah berada sangat dekat dengannya, masing-masing berdiri dalam jarak kurang dari satu meter dari Saltman. Kedua sosok bertudung itu tidak lebih tinggi dari Saltman, tapi aura intimidatif menguar begitu kuat dari Nate maupun Chloe, memberikan tekanan batin yang membuat Saltman tiba-tiba merasa ingin muntah.
“Aku … Aku … sepertinya melakukan kekeliruan …” Saltman menunduk menatap lantai. Si kembar bergerak lebih mendekat, merendahkan badan hingga mereka masih dapat melihat wajah Saltman dengan sedikit mendongak. “Pertama kalinya Mark Hommund datang … Dia bersama-sama dengan ayahnya. Dan aku tidak mengajaknya turun ke bawah.”
“Ah.”
“Fatal.”
Ketakutan yang amat sangat menyiksa Saltman. Lebih-lebih ketika pria itu mendengar bagaimana nada suara si kembar berubah. Ia hampir menjerit ketika pergelangan tangannya masing-masing dicengkeram oleh Nate dan Chloe. Cengkeraman keduanya erat sekali seperti hendak mematahkan pergelangan tangan Saltman.
“Itu sebabnya ada yang aneh ketika kunjungan Mark Hommund.”
“Kami dapat merasakan keberadaan orang di atas sana.”
“Tapi kau harusnya tahu bahwa kami tidak dapat memastikan berapa orang yang ada di atas sana, kan?”
“Dan kau harusnya ingat sihir pemindai bukan keahlian kami.”
“Itu sebabnya kenapa masih terasa ada orang yang berada di atas ketika kunjungan Mark Hommund.”
“Itu sama sekali bukan bias pada sihir pemindai kami. Padahal kami kira itulah yang terjadi.”
Ketika seringai menghilang dari wajah Nate dan Chloe, hingga tahap tak menyisakan senyuman sedikit pun, dan ketika mereka tidak menyelingi kalimat mereka dengan tawa terkekeh, maka itu adalah tanda bahaya. Seperti yang terjadi sekarang ini.
“Maaf … maafkan aku …,” rengek Saltman.
“Kau murid kesayangan Ayah, Saltman. Kau adalah Murid Ayah Satu-satunya.”
“Tapi kami adalah Anak-anak Ayah.”
Mata hijau kekuningan si kembar berpendar dalam bayang-bayang tudung. Saltman melepaskan rengekan ketakutan melihat itu.
“Kami melindungi Ayah.”
“Kami memastikan Ayah tetap hidup.”
“Kami menjagamu tetap hidup karena Ayah menghendaki demikian.”
“Kami menjagamu tetap hidup karena kami membutuhkanmu.”
“Tapi jika Ayah menghendakinya, kami lebih dari senang hati mencabut nyawamu.”
“Kami lebih dari berhak melakukannya.”
“Karena kami Anak-anak Ayah.”
“Dan kau cuma Murid Ayah Satu-satunya.”
“Maafkan aku … Sungguh … aku tak akan melakukan kebodohan seperti itu lagi,” rengek Saltman.
Cengkeraman si kembar mengendur.
“Sebaiknya begitu.”
“Heheheheh.”
“Heheheheh.”
Saltman menunggu beberapa saat hingga si kembar kembali ke kegiatannya masing-masing, sesekali mengeluarkan tawa terkekeh pelan.
“Kalian tidak harus mendatangi ibu bocah itu.”
“Kami akan datang.”
“Kami harus datang.”
“Dan membahayakan diri kalian sendiri?”
“Ayah bilang,” kata Nate, “kita harus membantu orang yang berada dalam kesulitan.”
“Ayah bilang,” kata Chloe, “kita tidak boleh melanggar janji yang telah diucapkan.”
“Heheheh.”
“Heheheh.”
“Dan kami ingin tahu seorang ibu itu seperti apa,” sambung Nate.
“Kami kan tidak punya,” lanjut Chloe, mengangguk setuju.
“Heheheh.”
“Heheheh.”
==bersambung==
Saltman telah melihat berbagai jenis pengunjung mendatangi apoteknya, baik untuk urusan obat normal maupun obat “spesial”. Tua dan muda. Sehat dan sakit. Sembrono dan teratur.
Kadang-kadang ada pula tamu yang mengejutkan. Seperti sekarang ini.
Seorang anak lelaki, mungkin berusia sekitar sepuluh sampai dua belas tahun, mendorong pintu dan masuk ke dalam apotek. Rambutnya pirang kecokelatan dan wajahnya sedikit berbintik-bintik. Anak itu kelihatan gusar dan gugup sekaligus.
“Selamat sore,” sapa Saltman, menutup koran dan memberikan perhatian sepenuhnya pada si tamu.
“Ngg …”
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Anu … saya dengar saya bisa menemukan obat-obatan yang tidak biasa di sini …”
Saltman terkesiap.
“Maaf?” tanyanya. Bukan reaksi yang bagus mengingat Saltman sudah sempat terdiam sesaat tadi. “Obat … seperti apa yang kau maksud?”
Anak itu bergumam. Saltman tak dapat mendengar jawabannya.
“Maaf?”
“Obat yang dapat menyembuhkan segala penyakit dan membuat peminumnya abadi,” ulang anak itu dengan kecepatan bicara yang mengakibatkan setiap kata dalam kalimatnya seperti tersambung.
Saltman tahu bahwa dia bahkan tak perlu menjalankan protokol selanjutnya yang mengharuskannya meminta identitas asli dari klien. Anak ini masih terlalu muda.
“Tidak ada obat seperti itu, Nak,” jawab Saltman.
“Oh …”
Wajah anak itu terlihat memerah. Ia memasukkan kedua tanganya dalam saku, menundukkan kepala dan menggumamkan “terima kasih” lemah. Anak itu melangkah gontai menuju pintu keluar.
KRIIIIINGGGG.
Saltman menoleh ke arah datangnya suara. Si anak berhenti berjalan.
KRIIIIINGGGG.
Telepon hitam dengan model kuno yang berasal dari nyaris seabad silam berada di atas etalase. Tidak ada panel digital apapun di permukaannya. Alih-alih tombol angka yang bisa ditekan, telepon itu masih menggunakan piringan putar berlubang-lubang untuk memasukkan nomor telepon yang dituju.
Seingat Saltman tidak pernah ada telepon di atas sana.
KRIIIIING—
“Halo?”
“Saltman.”
“Saltman.”
Suara si kembar terdengar dari ujung lain sambungan.
“Bawa anak itu turun. Hehe.”
“Turun? Tapi dia tidak memenuhi syarat.”
“Heheheheheh, anak ini perkecualian.”
“Bawa dia turun Saltman.”
“Heheheheh.”
“Heheheheh.”
Telepon ditutup. Saltman meletakkan gagang telepon dan berjalan meninggalkan tempatnya di balik konter.
“Telepon itu tadi tidak ada di sana,” celetuk si anak tiba-tiba. Anak itu rupanya masih berada di dalam apotek.
“Tidak. Telepon itu ada di sana sejak tadi,” kata Saltman berbohong.
“Aku tidak melihatnya.”
“Memang mudah meluputkan sesuatu yang sekuno itu.” Saltman mengangkat bahu. “Nak, ada yang ingin menemuimu. Ikutlah denganku sebentar.”
“Aku harus pulang.”
Si anak mengulurkan tangan untuk membuka pintu apotek. Detik selanjutnya ia tersentak mundur sembari mengibas-ngibaskan tangannya.
“Pegangannya nyetrum …”
“Nak, ada yang ingin menemuimu.”
“Tidak. Terima kasih.”
Anak itu kembali mencoba membuka pintu. Pegangan dari logam menyetrumnya kembali. Ia mencoba memegang bagian lain pintu lalu mendorong. Pintu bergeming. Dia mencoba menarik pintu. Pintu juga bergeming.
“Maafkan aku karena berbohong, Nak,” kata Saltman lagi. “Mereka berkenan mendengarkan permintaanmu. Kau tadi mencari ‘obat-obatan yang tidak biasa’ kan?”
“Itu cuma bualan di internet kan? Tidak usah ikut-ikutan membohongiku.”
Saltman mendorong anak itu hingga menyingkir dari depan pintu. Dengan cekatan ia mengunci pintu dan membalikkan papan penanda yang tergantung.
“Hei! Biarkan aku keluar!”
“Cobalah.”
Anak itu kembali menyentuh pegangan pintu dan tersentak kaget karena sengatan. Ia menatap Saltman dengan marah dan berusaha menangkap si pria botak, berupaya mengambil kunci pintu darinya. Saltman menghindar dan berkelit darinya, selalu menyisakan sedikit jarak yang kian membuat si anak berang.
“Aku akan melaporkanmu pada polisi!”
Saltman diam saja tak menanggapi. Tanpa perlu dilaporkan pun tempat ini sudah berada dalam pengawasan polisi.
Anak itu menghentikan usahanya mendapatkan kunci dari Saltman. Ia beralih pada kaca etalase dan kursi di balik konter. Saltman diam saja ketika si anak berlari ke balik konter, mengangkat kursi berkaki tinggi yang biasa diduduki Saltman, dan mengayunkannya ke kaca etalase yang terpampang tanpa perlindungan di dekatnya.
Saltman memikirkan sebuah judul bagus yang bisa dipakainya untuk bahan penelitian kalau-kalau dia perlu kembali ke bangku universitas:
“Pengaruh Televisi dan Video Game Pada Agresivitas Anak-anak dan Korelasinya dengan Pengambilan Keputusan”
Kursi yang diayunkan ke kaca etalase terpental seperti menghantam karet.
Saltman merasa judul penelitiannya terlalu panjang. Mungkin dia bisa menyingkatnya jadi:
“Pengaruh Media Elektronik Pada Agresivitas dan Korelasinya Dengan Pengambilan Keputusan”
Anak itu mencoba menghajar kaca etalase untuk kedua kalinya, berakhir dengan efek membal yang sama.
Saltman merevisi lagi:
“Pengaruh Media Elektronik Pada Pengambilan Keputusan Menghadapi Kondisi Ekstrim”
Setelah percobaan ketiga, bahu si anak turun. Akhirnya dia menyadari ketidakberdayaannya. Saltman membukakan pintu yang satu lagi.
“Silakan ikuti saya,” kata Saltman seraya mengeluarkan senter kecil dari saku.
Perasaan Tom Daryll tidak enak.
Pria yang menjaga apotek membawanya memasuki sebuah ruang bawah tanah. Tom tidak punya pilihan lain. Setelah gagal membuka pintu maupun merebut kuncinya dari si penjaga apotek, Tom—ia benar-benar tak mengerti bagaimana ini bisa terjadi—tidak berhasil menghancurkan kaca jendela etalase.
Tidak ada yang beres di tempat ini, batin Tom. Ia mulai menyesali keputusannya untuk datang kemari karena termakan berita yang dilihatnya di internet. Harusnya dia tetap di rumah. Harusnya dia tahu bahwa internet penuh dengan orang-orang yang menganggap memberikan harapan palsu dengan cerita-cerita aneh yang direkayasa dan didukung bukti-bukti palsu adalah suatu kesenangan.
Lalu Tom teringat pada ibunya. Lalu pada ayahnya.
Tom mulai berdoa di dalam hati. Dia bukan anak paling religius yang pernah ada, tapi keluarganya telah membimbing Tom untuk percaya pada agamanya dan membuatnya percaya akan adanya keajaiban serta mukjizat.
Mungkin justru hal terakhir itu yang membawa Tom tiba ke situasi ini.
“Tamu.”
“Tamu.”
Ruang bawah tanah itu aneh. Luasnya mungkin sama seperti sebuah lapangan bola, dengan penerangan minim dan deretan rak-rak panjang. Udara di dalam sana cenderung dingin dan kering, dengan aroma debu samar-samar. Tom melihat dua orang berjaket warna mencolok tengah duduk menghadapi meja yang diletakkan cukup jauh terpisah dari deretan rak. Orang-orang itu kelihatannya hanya lebih tua beberapa tahun dari Tom. Bulu kuduk Tom meremang ketika keduanya menoleh ke arahnya.
Tom belum pernah melihat langsung orang-orang yang teler akibat narkoba atau minuman keras, tapi ayahnya yang seorang polisi sering menceritakan padanya tentang itu. Bayangan Tom akan seorang pecandu berat sangat mirip dengan kedua sosok berjaket itu: seringai aneh permanen yang membuat ekspresi mengerikan sekaligus hilang akal pada saat bersamaan, lalu bagian bawah mata yang gelap seperti kurang tidur parah.
“Selamat datang, Sir.”
“Selamat datang, Master.”
“Heheheheh.”
“Silakan duduk, heh heh.”
Tom menatap kursi ketiga di antara kedua orang aneh tersebut. Ia menoleh ke belakang, mendapati si lelaki botak telah mengundurkan diri dan berjaga di depan pintu keluar.
Merasa tak memiliki pilihan lain, Tom menarik kursi dan duduk. Tak berani menatap kangsung ke salah satu dari kedua sosok di sampingnya, Tom memusatkan perhatiannya pada permukaan meja. Anak itu mendapati ada banyak kertas di sana, masing-masing dengan coretan rumus-rumus, perhitungan, skema berpenanda, dan sebagainya.
Tom tak tahu dia harus menganggapnya lucu, aneh atau justru mengagumkan ketika melihat bahwa semua tulisan di atas kertas ditulis terbalik, jenis terbalik yang baru dapat terbaca jelas jika dilihat melalui cermin. Ini membuat Tom berpikir kembali: apakah kedua orang ini teler atau memang penampilan mereka seperti itu? Rasanya mustahil orang mabuk atau teler bisa menulis terbalik seperti itu.
“Kami punya peraturan sebenarnya.” Si jaket hijau angkat bicara. Tom menoleh takut-takut ke arahnya tanpa mendongakkan wajah. Si jaket hijau—yang dari suaranya adalah seorang perempuan—mencondongkan tubuhnya ke arah meja dan melihat Tom dari sudut yang lebih rendah. Disinari cahaya lampu yang membuat lebih banyak bayang-bayang di bawah tudung jaket, Tom melihat keberadaan deretan gigi-gigi yang kecil namun rapi dan semuanya terlihat seperti gigi taring manusia.
“Harusnya hanya orang-orang yang kami anggap sudah bisa bertanggung jawab yang kami ijinkan turun ke sini,” lanjut si jaket biru. “Umur biasanya. Minimal mereka sudah tujuh belas tahun.”
“Ada perkecualian hari ini.”
“Heheheheheh.”
“Heheheheheh.”
“Aku Natrium,” kata si jaket biru. “Panggil saja Nate.”
“Aku Chlorine,” kata si jaket hijau. “Panggil saja Chloe.”
“Hehehehe.”
“Hehehehe.”
“Kenapa kau kemari?” Nate memiringkan kepalanya sedikit. “Nak?”
Tom sadar betul kalau di awal Nate dan Chloe menyapanya dengan sebutan “Sir” dan “Master”, sekarang mereka mengubah panggilannya menjadi “Nak”.
“Ibuku …,” kata Tom akhirnya.
“Ya?”
“Eheheh.”
“Kudengar banyak yang mengatakan bahwa apotek ini memiliki obat-obatan yang tidak biasa. Yang bisa melakukan hal-hal … mustahil.”
“Tidak, tidak. Kau salah, Nak.” Chloe mulai merapikan kertas-kertas yang berserakan di atas meja, diikuti oleh Nate. Tom menelan ludah ketika melihat pergelangan tangan keduanya diborgol.
“Kanker misalnya,” sambung Nate. “Itu cuma mutasi tak terkendali. Kami sudah membuat obatnya sejak pertama kali penyakit itu didiagnosa. Obat itu hanya menghentikan proses mutasinya.”
“Ya, ya, ya. Sesederhana itu. Hehehehe.”
“Ehe heh heh.”
“Tidak ada yang mustahil.”
Tom menjilat bibirnya dengan gugup. “Ibuku …,” bisiknya. Ia harus mengerahkan segenap keyakinannya bahwa dia sudah tidak bisa mundur lagi sekarang. “Ibu sakit. Dia … dia akan meninggal dalam sebulan ini.”
Mata Tom terasa panas.
Bocah berusia dua belas tahun itu menyaksikan bagaimana kondisi ibunya menurun, seperti bunga layu dalam rekaman video yang dipercepat. Segala sesuatunya terasa begitu cepat. Tiba-tiba saja Tom mendapati dirinya dan ayahnya berbagi pekerjaan rumah tangga. Tiba-tiba saja Tom harus menemukan rumah yang kosong tak berpenghuni setiap pulang sekolah. Tiba-tiba saja Tom dan ayahnya harus berjuang memasak makan malam yang enak tidak enak harus mereka makan. Suasana makan malam yang biasanya hidup tiba-tiba saja menghilang, digantikan keheningan tak nyaman di antara Tom dan ayahnya, hanya diselingi pertanyaan tentang sekolah dari ayahnya dan pertanyaan tentang pekerjaan dari Tom. Kedua pertanyaan itu biasanya ditanyakan oleh sang ibu.
“Ayah selalu bilang dia akan sembuh,” bisik Tom. Tetes-tetes air mata mulai bergulir dari sudut matanya. “Ayah bilang … dia akan baik-baik saja. Aku tahu itu bohong. Ibu tidak akan bertahan …”
Selanjutnya, isakan menahan Tom berkata-kata dengan jelas. Anak itu mengatupkan rahang, berusaha keras menahan tangisnya.
Sentuhan lembut mendarat di bahu Tom.
“Biarkan keluar,” kata Nate, menepuk perlahan bahu Tom. “Air matanya.”
“Menangis membuat manusia menghasilkan hormon yang bisa menenangkan,” kata Chloe.
Tom menangis, tapi dalam diam.
Beberapa saat kemudian, setelah tangisannya reda, Tom melanjutkan, “Aku … tidak ingin Ibu meninggal …”
“Kami paham, heheheheh.”
“Kami juga tidak ingin Ayah meninggal, ehehe.”
“Dapatkah kalian melakukan sesuatu?” tanya Tom. “Untuk ibuku?”
“Sakit apa dia?”
“Jabarkan kondisinya.”
“Minimal apa kata dokter.”
“Dokter … tidak dapat mendiagnosis apa persisnya penyakit Ibu.”
“Heh, dokter jaman sekarang,” ujar Nate.
“Heheheheh. Dokter jaman sekarang,” sambung Chloe menyetujui.
“Mereka, para dokter, cuma bilang kalau kondisi Ibu menurun drastis. Begitu saja.” Tom terlihat tidak nyaman dengan reaksi si kembar ketika ia mengatakan bahwa dokter tidak tahu apa yang terjadi pada ibunya. “Berat badan menurun, kondisi tubuh menurun. Tanpa sebab pasti. Salah satu dari mereka bahkan bilang kondisi ibu mirip karakter utama novel Steven Queen.”
“Steven Queen?”
“Novel?”
“Steven Queen penulis novel horor. Dia terkenal. Novelnya sudah banyak yang jadi film. Aku tahu yang dimaksud si dokter. Aku pernah nonton filmnya. Judulnya Slimmer.”
“Penyakit yang sangat aneh.”
“Kami mungkin harus melihatnya sendiri.”
“Heheheheh.”
“Heheheheh.”
“Akhir pekan kami akan berkunjung.”
“Beritahu kami nomor kamar tempat ibumu dirawat.”
Tom ragu-ragu.
Benarkah ini yang dia inginkan?
Apakah dia bisa mempercayai kedua orang misterius ini?
Perut Tom melilit oleh ketakutan dan keraguan. Dia tidak siap mengambil keputusan. Tidak sekarang. Tapi mungkin juga tidak nanti.
Tom harus memutuskan.
“Ada sesuatu yang aneh dengan semua ini.” Saltman berkata pada si kembar yang tengah sibuk mempersiapkan sesuatu. “Seperti … ada yang berusaha menjebak kita. Atau kalaupun bukan, seseorang merancang ini entah untuk tujuan apa.”
Saltman jarang turun ke ruang bawah tanah selepas apotek ditutup, apalagi sampai masuk ke dalam “ruangan khusus” tempat si kembar biasanya berada ketika malam tiba.
Ada satu ruangan lagi selain ruang yang dipergunakan si kembar sebagai laboratorium dan dapur. Saltman menyebutnya “ruangan khusus” sementara Nate dan Chloe menyebutnya “kamar Ayah”.
Hanya ada satu lampu di ruangan ini, menerangi sebagian besar ruangan, tapi tetap menyisakan sudut-sudut gelap serta berbayang-bayang. Tumpukan televisi dari berbagai jaman tersusun di salah satu sisi kamar: televisi hitam putih yang memiliki kenop pemutar untuk mengganti saluran, televisi tabung dengan layar cembung yang menyerupai perut seorang pria buncit jika dibandingkan dengan televisi tabung berlayar datar di sisinya, hingga yang paling mutakhir, LCD dan televisi plasma yang ketajaman gambarnya luar biasa. Masing-masing layar televisi menampilkan saluran yang berbeda dari berbagai belahan dunia, tanpa sedikit pun suara terdengar darinya.
Di bagian tengah ruangan, sosok seorang pria tua terbaring di atas ranjang logam rumah sakit. Lelaki itu nampak kelabu, ringkih, dan seandainya saja tidak ada gerakan naik turun perutnya ketika ia bernapas, siapapun akan mengira pria tersebut sudah meninggal dan sedang dalam proses termumifikasi. Tapi, tidak, pria itu masih hidup, atau setidaknya dipertahankan hidup dengan berbagai cara oleh si kembar.
Maksudnya benar-benar “dengan berbagai cara”.
Di kedua sisi ranjang terlihat berbagai alat penunjang kehidupan: monitor-monitor aktivitas tubuh, tabung oksigen, selusin atau bahkan lebih kantong infus yang digantung di tiang-tiang logam berkait atau cantelan kawat yang dipaku ke langit-langit. Sebuah lingkaran sihir besar dan rumit tergambar di lantai ruangan, dengan ranjang berada tepat di tengah-tengahnya. Ada sisa-sisa lelehan lilin di ujung-ujung lingkaran sihir yang digambar dengan kombinasi kapur, cat, dan spidol itu.
“Kami tahu, hehehe,” kata Nate yang berkutat dengan salah satu televisi kuno yang gambarnya bergaris-garis dan bergoyang. “Kami sudah tahu, heheheheh, sejak seminggu lalu. Eheheheheh.”
“Seminggu yang lalu itu kira-kira ketika Henry Griffith datang …,” gumam Saltman.
“Yang minta obat untuk tidak tidur,” kata Chloe yang meneliti setiap kantong infus dengan sangat berhati-hati. “Namanya Henry Griffith, eh?”
“Heheheheh.”
“Heheheheh.”
“Ada yang sepertinya mengarahkan orang-orang itu,” kata Nate, akhirnya berhasil membetulkan tampilan televisi. “Belakangan terlalu banyak pengunjung.”
“Padahal kita tidak memasang iklan,” imbuh Chloe. “Pertanyaannya, dari mana mereka tahu?”
“Internet,” jawab Saltman. Diam-diam ia sedikit kesal karena si kembar menerima dan mengadopsi perkembangan teknologi kedokteran dan farmasi, namun sangat kolot dan keras kepala jika terkait teknologi komputerisasi dan digital. Jika Saltman tidak mati-matian meyakinkan mereka untuk menggunakan mesin kasir “standar masa kini”, mesin kasir di apotek pasti masih menggunakan teknologi setengah abad lalu. Mungkin satu-satunya teknologi digital yang dipuja Nate dan Chloe hanyalah televisi, seperti yang terlihat di sisi lain ruangan saat ini. Itupun tak dapat sepenuhnya mereka nikmati karena mata mereka yang kelewat sensitif terhadap cahaya.
“Internet,” ulang Nate dan Chloe dengan nada meremehkan, nyaris seperti jijik.
“Kalian sebaiknya berhenti membenci komputer dan hal-hal yang berkaitan dengannya,” kata Saltman. “Aku pakai internet. Informasi yang tersebar di dalamnya jauh lebih banyak daripada televisi, radio atau koran. Kebanyakan orang yang mendengar tentang apotek ini juga mendapatkan sumbernya dari internet. Bukan dari koran atau televisi.” Saltman tiba-tiba menyadari sesuatu. Orang-orang yang lama berkubang di dunia maya biasanya tidak mudah termakan suatu berita, lebih-lebih dengan semua guyonan dan kebohongan tidak jelas yang beredar di internet. Harus ada sesuatu yang begitu meyakinkan hingga dapat menggerakkan orang-orang seperti si pengusaha, si penulis—Saltman lupa nama keduanya—Henry Griffith, dan Mark Hommund untuk datang dan mencari tempat ini.
Ada seseorang yang mengekspos keberadaan tempat ini sedemikian rupa.
Dan Saltman menyadari satu kekeliruan terbesarnya: ia membiarkan dua orang pengunjung datang bersamaan namun hanya membawa turun satu orang. Dia menyisakan saksi mata yang tak terkena pengaruh sihir penjaga rahasia yang diterapkan di ruang bawah tanah.
Itu salah. Salah sekali.
“Ada apa Saltman?”
Bulu kuduk Saltman meremang. Nate dan Chloe sudah berada sangat dekat dengannya, masing-masing berdiri dalam jarak kurang dari satu meter dari Saltman. Kedua sosok bertudung itu tidak lebih tinggi dari Saltman, tapi aura intimidatif menguar begitu kuat dari Nate maupun Chloe, memberikan tekanan batin yang membuat Saltman tiba-tiba merasa ingin muntah.
“Aku … Aku … sepertinya melakukan kekeliruan …” Saltman menunduk menatap lantai. Si kembar bergerak lebih mendekat, merendahkan badan hingga mereka masih dapat melihat wajah Saltman dengan sedikit mendongak. “Pertama kalinya Mark Hommund datang … Dia bersama-sama dengan ayahnya. Dan aku tidak mengajaknya turun ke bawah.”
“Ah.”
“Fatal.”
Ketakutan yang amat sangat menyiksa Saltman. Lebih-lebih ketika pria itu mendengar bagaimana nada suara si kembar berubah. Ia hampir menjerit ketika pergelangan tangannya masing-masing dicengkeram oleh Nate dan Chloe. Cengkeraman keduanya erat sekali seperti hendak mematahkan pergelangan tangan Saltman.
“Itu sebabnya ada yang aneh ketika kunjungan Mark Hommund.”
“Kami dapat merasakan keberadaan orang di atas sana.”
“Tapi kau harusnya tahu bahwa kami tidak dapat memastikan berapa orang yang ada di atas sana, kan?”
“Dan kau harusnya ingat sihir pemindai bukan keahlian kami.”
“Itu sebabnya kenapa masih terasa ada orang yang berada di atas ketika kunjungan Mark Hommund.”
“Itu sama sekali bukan bias pada sihir pemindai kami. Padahal kami kira itulah yang terjadi.”
Ketika seringai menghilang dari wajah Nate dan Chloe, hingga tahap tak menyisakan senyuman sedikit pun, dan ketika mereka tidak menyelingi kalimat mereka dengan tawa terkekeh, maka itu adalah tanda bahaya. Seperti yang terjadi sekarang ini.
“Maaf … maafkan aku …,” rengek Saltman.
“Kau murid kesayangan Ayah, Saltman. Kau adalah Murid Ayah Satu-satunya.”
“Tapi kami adalah Anak-anak Ayah.”
Mata hijau kekuningan si kembar berpendar dalam bayang-bayang tudung. Saltman melepaskan rengekan ketakutan melihat itu.
“Kami melindungi Ayah.”
“Kami memastikan Ayah tetap hidup.”
“Kami menjagamu tetap hidup karena Ayah menghendaki demikian.”
“Kami menjagamu tetap hidup karena kami membutuhkanmu.”
“Tapi jika Ayah menghendakinya, kami lebih dari senang hati mencabut nyawamu.”
“Kami lebih dari berhak melakukannya.”
“Karena kami Anak-anak Ayah.”
“Dan kau cuma Murid Ayah Satu-satunya.”
“Maafkan aku … Sungguh … aku tak akan melakukan kebodohan seperti itu lagi,” rengek Saltman.
Cengkeraman si kembar mengendur.
“Sebaiknya begitu.”
“Heheheheh.”
“Heheheheh.”
Saltman menunggu beberapa saat hingga si kembar kembali ke kegiatannya masing-masing, sesekali mengeluarkan tawa terkekeh pelan.
“Kalian tidak harus mendatangi ibu bocah itu.”
“Kami akan datang.”
“Kami harus datang.”
“Dan membahayakan diri kalian sendiri?”
“Ayah bilang,” kata Nate, “kita harus membantu orang yang berada dalam kesulitan.”
“Ayah bilang,” kata Chloe, “kita tidak boleh melanggar janji yang telah diucapkan.”
“Heheheh.”
“Heheheh.”
“Dan kami ingin tahu seorang ibu itu seperti apa,” sambung Nate.
“Kami kan tidak punya,” lanjut Chloe, mengangguk setuju.
“Heheheh.”
“Heheheh.”
Saltman tiba-tiba menyadari sesuatu: “Waktu Tom datang, si anak kecil yang terakhir. Kalian meneleponku. Bagaimana kalian tahu bahwa yang datang adalah seorang anak-anak waktu itu?”
“Sihir pemindaian kami buruk, tapi anak-anak memiliki aura kuat.” Nate mengetuk-ngetukkan jari ke atas salah satu televisi. “Gangguan distorsi yang ditimbulkan anak-anak sangat berisik. Eheheheh. Seperti radio atau televisi rusak.”
“Itu sebabnya kami langsung menyimak pembicaraan kalian, hehe.”
“Oh … begitu.”
Saltman merasa ini adalah suatu pola, mengingat bukan pertama kalinya si kembar menunjukkan ketertarikan pada anak-anak atau pada relasi keluarga. Dia punya hipotesa sendiri, tapi itu bisa menunggu untuk lain waktu.
==bersambung==
Komentar