
Judul: Valharald: Kesatria Talismandala dan Pertempuran di Vincha
Pengarang: Adi Toha
Penerbit: DIVA Press
Harga: Rp 50.000,-
Jumlah hlm: 411
Sungguh, inilah sebuah dongeng cerdas yang penuh dengan hentakan!
Pada sebuah negeri (VarchLand) yang telah mengalami masa-masa damai selama beratus-ratus tahun, tiba-tiba terancam mengalami kehancuran oleh sebuah kekuatan kegelapan yang datang dari bangsa Vomorian.
Padahal, di masa-masa damai tersebut para kesatria VarchLand menyimpan seluruh peralatan perang dan senjata-senjata rahasianya di sebuah ruang rahasia dan menyegelnya dengan sebuah kunci yang juga sangat rahasia. Bahkan, di ruang rahasia tersebut juga tersimpan Mahkota Liafala yang merupakan mahkota tertinggi negeri VarchLand. Siapapun yang bisa memakainya, maka dialah yang pantas menjadi raja. Masing-masing kesatria memegang satu buah kunci yang sama berbentuk segitiga yang merupakan bagian dari kunci lainnya. Kunci-kunci tersebut diwariskan turun-temurun kepada orang-orang yang tepat untuk memilikinya.
Sebelum semua kunci berhasil disatukan, pasukan kegalapan bangsa Vomorian telah lebih dulu mendarat di Pantai Vincha dengan armada perangnya yang berjumlah sangat besar. Mereka mulai menebarkan teror dan kerusakan.
Nah, dari sinilah sebuah legenda tentang dua belas kesatria gagah berani dari negeri VarchLand yang disebut Kesatria Talismandala kembali menjadi harapan. Mampukah mereka menghadapi kekuatan kegelapan tersebut? Berhasilkah kekuatan Kesatria Talismandala menyelamatkan negeri Vincha dari kehancuran?
Selamat membaca novel Valharald yang sangat seru dan menarik ini!
Sebelum memulai pembahasan apapun mengenai novel ini, saya harus mengingatkan bahwa saya membaca novel pinjaman, bukan beli sendiri. Karena itulah, mohon dimaafkan apabila ada data buku yang kurang akurat. Untuk bagian kutipan dari dalam novel, kebetulan saya menulis resensi ini saat sang buku belum dikembalikan ke empunya jadi setidaknya saya benar-benar menyalin dan tidak ada kesalahan yang terlalu fatal kecuali jika saya sedang meleng, kesalahan ketik.
Saya pertama kali mendengar novel ini di salah satu forum pembicaraan di Goodreads dan setelah ada di tangan saya, baru saya sadar kalau sebenarnya saya sudah pernah melihat novel ini di toko buku yang kerap saya sambangi. Nah, kalau saya pernah melihat dan bisa sampai taraf tidak ingat pada judulnya, biasanya memang ada sesuatu yang “salah”—menurut saya—pada novel tersebut.
Heran deh, siapa yang pertama kali mempelopori kewajiban sosok manusia atau sesuatu yang menyerupai manusia harus memenuhi bagian kiri kover depan? Ini novel fiksi fantasi lokal kedua yang saya dapati menaruh sosok di bagian kiri kover depan, tapi saya merasa sebelum ini saya pernah melihat sebuah novel fiksi terjemahan yang meletakkan sosok di bagian sebelah kiri kover (saya tidak ingat). Entah berapa lama lagi trend sosok memenuhi sisi kiri kover depan ini akan berlangsung …
Terlepas dari keberadaan sosok berbaju zirah di separuh kover depan sebelah kiri, hal lain yang menarik perhatian dari sampul novel ini adalah sosok lain yang mengisi sisa tempat yang tidak dijajah si pria berbaju zirah. Ketiga sosok lain yang tidak berzirah adalah dua orang wanita dan seorang pria, nah, yang menarik perhatian adalah mereka sosok yang lebih berupa foto ketimbang ilustrasi tangan atau komputer. Saya pribadi sejujurnya kurang menyukai kover depan yang diisi dengan foto manusia begitu. Kenapa sih tidak menggunakan ilustrasi? Kalaupun tidak ada tenaga ilustrator, apakah ada yang salah apabila tidak ada sosok manusia sedikit pun di kover depan? Misalnya, hanya judul novel, nama pengarang, endorsement jika ada, lalu sedikit ilustrasi yang tidak usah sosok makhluk hidup. Contohnya seperti The Godfather atau 5 cm. Kedua novel itu minimalis sekali dalam hal kover, kalah jauh dengan, misalnya serial The Secrets of Immortal Nicholas Flamel, tapi minimalis sekalipun tetap membuat buku tersebut nampak mencolok saat disandingkan dengan tumpukan buku lainnya. People do judge the book by its cover, apalagi kalau buku di toko semuanya disegel. :D Berdasarkan pembahasan saya di atas, bisa ditebak bahwa saya akan ragu-ragu sekali mengambil Valharald dari rak buku karena masalah sampul depannya yang tidak sesuai selera. (Untung ada teman yang berbaik hati meminjamkan. :D :D)
Sinopsis, kira-kira cukup menggambarkan isi buku, menurut saya. Jika diperhatikan lebih lanjut, mungkin beberapa orang akan merasa ada yang aneh pada kalimat kedua sinopsis.
Pada sebuah negeri (VarchLand) yang telah mengalami masa-masa damai selama beratus-ratus tahun, tiba-tiba terancam mengalami kehancuran oleh sebuah kekuatan kegelapan yang datang dari bangsa Vomorian.
Kejanggalan tersebut disebabkan oleh kata “pada” dan “tiba-tiba”. Mari saya perlihatkan apabila kedua kata tersebut dilenyapkan.
Sebuah negeri (VarchLand) yang telah mengalami masa-masa damai selama beratus-ratus tahun, terancam mengalami kehancuran oleh sebuah kekuatan kegelapan yang datang dari bangsa Vomorian.
Kata “pada” merujuk pada tempat atau lokasi. Betul bahwa “negeri VarchLand” adalah sebuah tempat, tapi dalam konteks kalimat ini, ia berfungsi sebagai sebuah subjek, bukan keterangan tempat. Tambahan kata “pada” sebelum “negeri VarchLand” memberikan kesan bahwa rangkaian kata di depan merupakan suatu keterangan tempat, tapi pada kenyataannya diikuti oleh kata “mengalami” yang merupakan sebuah predikat dan kata kerja aktif dengan ciri didahului sebuah subjek.
Oke, cukup deh ngomong soal tata bahasa. Saya bukan pakarnya berbahasa Indonesia yang baik dan benar jadi rasanya tidak etis kalau saya mengomentari seorang pengarang yang novelnya sudah terbit padahal saya ikut merancang EYD, pengajar bahasa Indonesia, penulis buku tentang tata bahasa, dan menerbitkan buku sendiri belum pernah dilakoni sama sekali.
Mari menjabarkan isi novel ini ke dalam bentuk poin-poin yang lebih mudah dicerna saja. :D
Kelebihan:
- Aliran cerita yang enak untuk diikuti
Ada banyak flashback di dalam novel ini tapi saat flashback disisipkan di cerita “masa kini”, alirannya tidak terganggu sama sekali dan porsi setiap flashback saya rasa cukup pas.
- Tata bahasa yang baik
Meskipun hal ini sudah menjadi sebuah kewajiban bagi semua novel yg diterbitkan di seantero nusantara ini, saya masih menemukan ada saja novel yang “kecolongan” dalam hal paling mendasar, yakni tata bahasa. Valharald ini termasuk ke dalam novel yang tata bahasanya tergarap dengan baik (dan benar) dari segi teknis, mulai dari huruf kapital, penggunaan tanda baca, penggunaan kata baku dalam sebuah narasi (yang ini mungkin preferensi pribadi, tapi setahu saya ada aturan seperti itu dalam sebuah karya tulis), semuanya oke, kecuali beberapa salah ketik minor dalam hal huruf kapital. Woot, jangan salah, teknik penulisan mungkin kedengarannya terlalu formal dan tidak keren sama sekali, tapi bagi saya sebuah tata bahasa yang baik berpengaruh kepada kenikmatan membaca.
Kekurangan:
- Layout “ajaib”
Ada sebuah kotak-kotak kecil berisi kutipan kalimat yang terdapat di halaman tersebut. Tidak setiap halaman dihiasi kotak-kotak tersebut, tapi pada awalnya saya melihat, saya merasa sedikit terganggu karena perhatian saya jadi terfokus pada kotak-kotak yang mirip sekali seperti pada artikel di Intisari itu. Untungnya pada akhirnya saya berhasil mengabaikan kotak-kotak tersebut selama membaca sehingga keluhan saya hanya berhenti sampai di sini.
- Salah ketik yang fatal
Kenapa fatal? Karena yang salah diketik adalah nama! Saya kutipkan beberapa kalimat yang saya ingat dan berhasil saya temukan kembali.
”Itu dia. Ingolf!” seru Ingemar kegirangan.
“Hah? Ingolf? Kau yakin?” tanya Ingemar ragu. “Semudah inikah menemukannya?”
Ganti kata “Ingemar” di kalimat kedua dengan “Einar”. (Saat dialog tersebut terjadi, Ingemar tengah bersama-sama dengan Einar.)
”Owain, kita akan segera bertemu dengan adikmu di Vincha. Ayah berharap ia baik-baik saja. Ayah yakin jika tidak ada sesuatu hal yang menghambatnya dalam perjalanan, ia telah sampai di Vincha,” kata Azkhara.
“Aku harap juga demikian, Ayah,” balas Gwyneira.
Gwyneira adalah adik yang dimaksud oleh Azkhara (boro-boro ada di jarak sepuluh meter dari mereka saat dialog di atas terjadi). Harusnya “Gwyneira” di sana diganti dengan “Owain”.
- Logika yang terasa kurang pas.
Salah satunya adalah mengenai kepergian para Kesatria Talismandala ke medan perang. Ada dua pertanyaan besar yang timbul saat saya mencapai akhir buku ini:
1. Kesiapan mereka menghadapi sebuah peperangan.
Perang berbeda dengan sebuah pertarungan biasa. Sebuah pertarungan biasanya tidak melibatkan terlalu banyak lawan—kira-kira seimbang dalam hal jumlah antara si penyerang dan yang diserang, sedangkan dalam sebuah peperangan ada sangat banyak jumlah musuh yang datang menghampiri. Pengalaman dalam sebuah pertarungan—entah melawan beruang entah melawan makhluk asing yang makan orang, tapi dalam jumlah lebih sedikit daripada sebuah pasukan perang—seharusnya tidak dianggap sama dengan pengalaman berperang. Tidak diceritakan apakah kalung yang menjadi penanda para Kesatria itu memiliki kekuatan mistis entah apa untuk melindungi penggunanya atau bagaimana sehingga mereka yang tidak memiliki pengalaman menggunakan senjata dan bertarung pun diterjunkan ke dalam peperangan (sekedar informasi, dari dua belas Kesatria, ada satu yang sama sekali tidak dibekali pengetahuan bertarung yang memadai).
2. Apa jadinya bila salah satu Kesatria tewas dalam peperangan?
Kedua belas Kesatria Talismandala diceritakan terjun semua ke dalam peperangan, bahkan ikut berperang langsung, bukan mengomandani. Ada dua orang (wanita) di antara mereka yang memang perannya sebagian besar adalah sebagai tenaga medis, tapi sisanya diterjunkan ke medan perang. Siapa sih yang punya ide menurunkan mereka ke peperangan? Orang itu pasti tidak berpikir apa yang akan terjadi seandainya salah satu Kesatria terbunuh. Repot jadinya kalau salah satu, salah dua, atau bahkan salah enam dari mereka gugur karena terinjak Orcus atau Ogre atau malah tidak sengaja kena bola api Pelindung Draach. Harus ada pengganti mereka yang gugur dalam pertarungan agar “kunci” yang menjadi topik utama sepanjang buku ini tetap berada di tangan yang pantas dan dapat digunakan untuk mengakses ruang rahasia tempat tersimpannya senjata mutakhir untuk melawan musuh mereka. Kenapa kedua belas orang itu tidak diutus saja untuk membuka dan mengambil senjata untuk melawan musuh-musuh mereka? Toh cukup dengan mengutus mereka pergi begitu saja akan ada masalah tersendiri karena musuh (asumsikan mereka punya mata-mata) pasti tidak akan membiarkan mereka tiba di tempat penyimpanan senjata mutakhir itu begitu saja.
Dari dua pertanyaan di atas, saya menyimpulkan sendiri bahwa si pengarang terlalu bernafsu menampilkan sebuah peperangan besar yang sangat menentukan di dalam ceritanya. Pola ini mengingatkan saya pada peperangan yang terjadi di Lord of The Ring. Bedanya, jika di LoTR Frodo harus menghancurkan The One Ring untuk mengalahkan Sauron, di Valharald ini kedua belas kunci harus disatukan untuk membuka tempat penyimpanan senjata mutakhir yang pernah digunakan untuk melawan musuh yang sama. Bedanya lagi, Frodo—ditemani Sam—tetap melanjutkan perjalanan untuk menghancurkan cincin sementara urusan perang melawan pasukan Mordor diserahkan kepada Aragorn dkk, di Valharald ini para karakter yang berperan sebagai “Frodo” malah ikut berperang.
*Kasih briefing ke Vomorian*
Oke, Vomorian, lain kali kalian ketemu orang-orang yang namanya Cuchulainn, Fionn, Urias, Gavin, Tighearnan, Gwyneira, Eira, Owain, Einar, Valharald, Ingemar, Ingolf, kalian langsung bunuh mereka dan ambil kalungnya lalu bawa jauh-jauh dari mereka. Mendingan mulai dari Eira dulu karena dia paling lemah, tapi target utamanya Einar atau Fionn karena bau-baunya dia ini bakal sah jadi penguasa VarchLand.
(Malah memihak Vomorian.)
- Karakter yang datar
Bukan datar tanpa emosi, tapi lebih karena mereka sepertinya memiliki sifat yang kira-kira sama. Bahkan Cuchulainn yang diceritakan sebagai “orang liar” yang tinggal di hutan sendirian selama bertahun-tahun pun bisa beradaptasi saat bertemu dengan manusia lainnya (dia hanya tidak bisa beradaptasi dengan menunggang kuda, tapinya). Mereka semua adalah orang-orang berbudi baik yang sepertinya tidak bisa merasa marah pada seorang “pengacau” (ini sebutan dari saya) yang hobinya ninggalin anak asuhnya sebatang kara atau bersikap (sok) misterius kepada mereka. Karakter yang saya suka hanya si kembar Ingemar-Ingolf karena salah satu dari mereka masih sempat ditunjukkan bisa merasa marah. Einar hanya sekilas ditunjukkan besar kepala dan sangat bengal di masa mudanya, tapi sisanya dia adalah seorang raja muda yang baik. Karakter yang potensial saya sukai lagi adalah Gavin, mengingat bagaimana dia telah bertemu dengan seorang “pengacau” (ini juga sebutan yang saya gunakan agar tidak spoiler) lainnya. Sayangnya Gavin sudah dilibas oleh Einar dan Fionn dalam hal porsi cerita.
Out of topic: *uhuk* Meng-handle dua belas orang sekaligus memang susah yah? *uhuk* *lirik draft DNMS* Makanya nggak sekaligus lagi sekarang. *uhuk* Jadinya lebih oke, IMHO. *uhuk uhuk dan sudah saatnya kita kembali ke topik pembicaraan utama setelah promosi draft belum jadi yang nggak tahu malu ini*
Tambahan lagi. Mereka mungkin berusia dua puluhan tahun, tapi saya tetap merasa janggal saat mereka sepertinya tidak merasakan apa-apa saat telah membunuh seseorang. Orang yang mereka bunuh bisa dibilang memang jahat, tapi benarkah kita bisa membunuh orang jahat begitu saja?
- Ketidakkonsistenan karakteristik
Ini terutama terjadi pada karakter bernama Valharald. Diceritakan bahwa Valharald ini adalah penasihat kerajaan yang bijak. Lucunya setelah sekian lama disuguhi kunjungan dan pertemuannya dengan orang-orang terpilih dan orang-orang penting, di bab delapan, bab milik Gavin, beliau yang merupakan karakter paling uzur di antara kedua belas Kesatria, berubah menjadi maling buah plum yang digebukin preman pasar. Jawabannya kepada Gavin yang menolongnya pun tidak bisa dibilang baik atau bijak (dia bisa digebukin preman pasar karena mencuri saja sudah tidak terdengar bijak). Kalau itu bukan Valharald, tapi musuh yang menyamar, kenapa dia menyuruh Gavin ke tempat berkumpulnya Kesatria lainnya dan tidak berniat mencuri kunci atau membunuh Gavin saat itu juga agar kuncinya tidak terkumpul? Dengan pemikiran demikian, saya yakin bahwa orang tua yang ditemui Gavin adalah Valharald. Kalau itu bukan Valharald, maka pertanyaan saya tadi masuk ke dalam kelemahan mengenai tindakan yang tidak logis.
- Plot biasa
Betul. Biasa. Betul sekali. Nobody that becomes somebody to saves everybody. Betul sekali. Dan dilengkapi dengan peperangan. Hmmmmmm. Plot semacam ini mungkin sudah ada dari sejak tahun 70-an di game-game dan sudah lebih tua lagi untuk ukuran sebuah karya sastra. Saya sendiri sebenarnya tidak bisa menebak mengapa seorang pengarang memilih plot seperti ini padahal jika dilihat dari biografinya beliau ini sudah pernah menghasilkan kumpulan cerpen anak yang ceritanya lebih bervariatif. Sungguh sebuah misteri. Hmm.
- Siapa sebenarnya target pembacanya?
Poin plus, menurut salah satu reviewer di Goodreads, novel ini adalah kata-kata mutiara yang lumayan sering diungkapkan para karakternya. Kata-kata mutiara itu, sayangnya, lewat begitu saja bagi saya. Anggapan saya sejauh ini bukan karena kata-kata mutiaranya basi (positive thinking) tapi karena saya sudah pernah mendengar kata-kata serupa di media lain dan di umur kepala dua ini saya sudah tidak terlalu idealis lagi dalam berpikir. Kata-kata mutiara dan moral of the story biasanya sangat pas untuk sebuah cerita anak-anak, makanya saya sempat berpikir bahwa Valharald ini jangan-jangan sebuah novel yang ditujukan untuk anak-anak dan bisa menjadi konsumsi segala usia (karena ini bukan bir atau vodka atau susu bayi, jadi kakek-kakek mau baca paling efek sampingnya hanya bosan bukan yang terkait ginjal, hati, atau lambung). Tapi! Saat saya melihat kembali kovernya, saya kurang yakin anak-anak akan tertarik untuk mengambil buku ini dari rak buku. Ditambah lagi, ternyata di dalam cerita ada hal-hal yang saya rasa kurang cocok untuk anak SD (anak hasil hamil di luar nikah dan ortu sang ibu tidak merestui anaknya menikah dengan orang yang telah menghamili dan beberapa jenis kasus Termehek-mehek TransTV lain, meskipun tidak sebanyak itu jumlahnya). Mohon maaf apabila ternyata pendapat terakhir tentang hal yang pantas dan tidak pantas bagi anak-anak itu salah. Saya kurang mengerti standar mengenai apa yang pantas dan tidak pantas bagi anak-anak sekarang ini.
Skor: 5/10
20 komentar:
Nah kali ini komen perdanaku harusnya bisa muncul. Hehe.
Ikutan bahagia deh.
Sejak awal pas tau ada 12 karakter, jujur aku langsung melotot. Dan mataku langsung lebih melotot lagi ampe nyaris melompat keluar pas tau bahwa keduabelasnya diasuh sama rata. Kubilang ini sindrom X-Man dan jelas cukup mengganggu buatku ampe tarik-ulur pas ngambil buku ini dari rak Gramedia (so far yang ulur selalu menang). Tapi mungkin mirip-mirip ama Shui Hu Zhuan kali ya?
Ehm, tentang kalimat dalam bubble di tiap halaman itu, sepertinya ini emang style-nya diva press (di Troy juga begitu). Bisa jadi ini poin menjual kalo emang banyak tebaran kata-kata bagus atau menggugah emosi. Tapi kupikir, tergantung bentuk lay out-nya juga sih. Dan kombinasi lay out-nya Diva Press, jujur adalah poin minus buatku sehingga "si ulur" menang lagi.
Heinz.
Yep, bener2 ada 12 karakter dan 12 itu muncul sekaligus di buku yg sama. Bisa dibilang porsi mereka emang cukup sama rata, IMHO. Sayangnya, krn porsi mereka sama rata, porsi cerita perang di Vincha jadi dikit banget padahal kyknya justru hrsnya yg rame dan byk porsinya di sana.
*ambil penggaris dan mengukur tebalnya Valharald*
Oke, Valharald ini tebal totalnya kira2 2 cm ...
Cerita tentang karakternya 1,5 cm, kira2, sisanya tentang perang di Vincha. Kau bisa menebak sendiri itu komposisinya gimana. :P
Kalimat dlm bubble udah pernah diterapkan di tempat laen tho. I see, I see. Kirain perdana di Valharald ini.
Huwaaah, senang sekali akhirnya ada komen di blog ini biarpun gw masih blm bisa bkn postingannya lbh enak dibaca dgn motong2 postingannya. Aku ntar coba2 lg ngutak ngatik kodingan buat mangkas panjang posting di halaman utama. Kyknya blogku ini sepi komen krn mau ninggalin komennya susah kali yah?
Hehe.
Tapi yang ni blog-nya udah bagus, juun. Model ngasih komennya sama kaya fikfanindo. (Berhubung statusku anonim)
Heinz
Di kompie gue, huruf-hurufnya kerapetan. Apakah pakai style bold?
FA Pur
sippp!!! resensi valharald top abiezz...
buat valharald mania : Rasain lu!!!
wkwkwkwkwk
@Om, Di netbookku normal2 aja sih.
__
@Juun, jadi sama-sama make dari Deluxe Templates, hahaha ^^
Memang situ templatenya toubh2 abis. Untung nemu yah ^^
__
Mengenai repiu Valharald ini, setuju sama sebagian besarnya. Soal salah ketik itu benernya ga segitu parah sih. Paling cuma hitung jari.
Dan soal cerita karakter ala X-Men, why not? It could work, kalau ada variasi dalam penceritaannya, ga melulu harus si karakter duduk dan ngomong panjang lebar soal kisah hidupnya/hidup orang lain.
@Heinz: Emang gw set biar jd model komen macam di fikfanindo. :P Soalnya kemarin ini aku baru nyadar kalo model komennya sama kyk di blognya Signora Luz, itu sering banget gw mau komen sembari udah login akun Blogspot/Google gw, namanya sama sekali gak muncul di dropdown. Malah kosong sama sekali tu dropdown. :P Dan di tempat Mas Pur gw gak pernah mengalami masalah serupa, jadilah gw ganti metode.
@Mas Pur: Di bagian entry-kah yg keliatan tulisannya rapat2? Gw sbnrnya gak ngubah CSS sama sekali, cuma nambahanin code buat Read More.
@Bone: Memang salah ketiknya dikit sih, tapi typo-nya tu jenis yg salah nama, bukan kurang huruf kapital ato kurang satu-dua huruf. Agak fatal, IMHO kalo sampe senama2nya yg salah ketik. Gw sampe mengira penulisnya ini dikejar deadline nerbitin buku, entah taruhan apa dia ama temennya ... :P
Dan terlepas dari gw kurang ngerti ama "sindrom X-Men" (apaan sih ini maksudnya ...?) cerita masa lalu karakternya pas, IMHO. Ada yg mengenang pas di tengah ngobrol2, ada yg ditaruh di awal bab dan sesudah cerita flashback itu beres diceritain baru masuk ke cerita "masa kini", ada juga yg diselipkan di narasi. Cukup variatif, IMHO, dan mulus eksekusinya.
@Anonim: Gw bikin resensi bukan dgn maksud menjelek2kan Valharald lhoo. Overall, Valharald ini blm sampe rekor skor 3/10 yg gw kasih ke salah satu teenlit/sci-fi lokal. (Novel teenlit/sci-fi itu blm gw pajang di sini krn filenya kehapus tempo hari, tp udah pernah gw post di VGI jd bisa copas)
Yak, gw lupa poin positif satu lagi buat novel ini: tata bahasanya rapi. Ntar gw tambahin deh (tapi bukan hari ini, mgkn besok).
Hehe.
Haha, X-Men sindrom itu sebutan khususku untuk cerita-cerita yang punya hero-nya bejibun. Tapi semua heronya itu sama jago dan punya porsi sebanding pula.
Jujur kalo dari semuanya gada yang terlalu menonjol, aku sih cenderung jadi bingung. Karena misal jika aku suka tokoh A, maka mungkin aku harus nunggu sekitar sekian bab lagi agar siklus dimulai lagi di A. Bukunya pun seharusnya cenderung jadi tebel.
Faktor too many heroes ini juga salah satu yang mengakibatkan pemasukan film X-Men series ga sebagus Spiderman yang tipikal 'one man action'.
Kalau kubandingkan dengan LOTR misalnya, yang punya 9 hero. Tapi dari 9 itu kan dibagi lagi jadi 3 misi. Dan dari 3 misi itu, toh cuma ada 3 karakter yang bisa dibilang paling menonjol yaitu Aragon, Frodo, dan Gandalf. Dan memang cuma tiga orang itu pula yang diceritakan punya riwayat hidup menarik. Kalo misalnya 9 hero LOTR itu semua punya riwayat hidup menarik, kupikir film-nya gak akan cukup cuma trilogi. That's my opinion.
Heinz.
@Heinz: Oohh, I see, I see.
Berarti elu akan gw masukkan ke dalam daftar proofreader buat DNMS. Awal mulanya gw baca Valharald ini kan krn ngebaca soal "12 Kesatria Talismandala". Angka dua belasnya itu membuat gw mikir kegeeran, "WHAT?! Dua belas?! Salah satu cerita gw jg pake 12 karakter utama (tapi yg plg utama bisa dibilang cuma 2)! Jangan2 udah keduluan nih konsep gw!"
Dan begitulah awal mula gw nyari2 Valharald sesudah ada yg ngomongin di Goodreads.
Dan gw bisa berlega hati krn 12 karakter gw gak gw jejalkan ke dalam satu buku sekaligus tapi udah gw pencar2 ke cerita yg berbeda dan malah msg2 berkembang detail karakteristiknya. :D
Hehe.
Ya, tapi sah-sah aja sih mau ngembangin 12 karakter sama rata sama rasa juga. Lha, wong, kreatifitas nulis jangan dibatasi.
Cuma jangan kebablasan ampe lupa batasan ketebalan buku apalagi kalo diniatin mau terbit. Kupikir 400 halaman sih jelas-jelas bakalan kurang buat tongkrongan 12 orang.
Seperti yang kubilang contohnya Water Margin. Karakternya banyak banget dan masing-masing punya riwayat hidup. Dan jadilah di atas 1000 halaman. Hehe.
Juun, apakah Musashi dan Taiko begitu juga?
Heinz.
Juun, terima kasih banyak kasih atas reviewnya.
Saya tidak akan melakukan pembelaan karena saya bisa memaklumi, masing-masing memiliki pembacaan dan penafsiran tersendiri atas sebuah karya.
Juun, anggap saja, dengan ini saya memiliki hutang review-an jika Dunamis-mu sudah kelar. Saya sangat berharap akan membaca sebuah karya yang lebih bagus dan lebih menggetarkan dari pada Valharald yang masih banyak kelemahan dan kekurangannya ini.
Saya berandai-andai akan membaca sebuah karya yang lebih tebal daripada Valharald, karena logikanya, jika dengan jumlah karakter yang sama (12) dengan 411 halaman saja masih kurang tergarap sempurna, maka pastinya dengan lebih tebal akan lebih tergarap dengan lebih baik.
*Saya masih berharap akan ada review yang lebih komprehensif dan memuaskan
@Jalaindra: Kalo diliat dari cara ngomongnya ... ini tuhan-t-kecilnya Valharald aka sang pencipta cerita dan para karakternya.
Ahaha, maaf kalo review saya ini kyknya kok banyakan menyorot yg jeleknya aja. Sepertinya ini sirik yg tidak disadari dlm hati ... (Duh, gak enak, jangan dong, sirik kan tanda tak mampu ...)
Betewe, sbnrnya masalah porsi karakter, saya masih berharap banyak pada kelanjutan dari Valharald ini. Ini novel bentuk sekian -logi kan ...? Soalnya, saya, sebagai org yg udah pernah main2 dgn 12 karakter sekaligus (jaman SD lbh bodoh lagi pake 24 karakter) dan halah 200 halaman Words A4, spasi 1, font Booksman Old Style 12, karakter saya jadi dangkal bahkan ada yg agak parah level eksitensinya dalam cerita. :P Sbnrnya saya berharap (sekaligus nggak berharap krn masalah keuangan dlm mengikuti novel n-logi) Valharald ini ada kelanjutannya sih. :D :D Sayang juga, Mas, kalo 12 org itu begitu saja hilang hanya dalam satu buku gara2 masalah halaman yg jumlahnya 400an.
Hehe.
@adi
Sebenernya berhubung ini bakal jadi trilogi, bisa juga split riwayat hero di beda buku. Kalo trilogi mungkin idealnya 4 riwayat hero per buku. Toh ini bisa jadi teaser juga.
Tapi mohon saya digetok karena kesotoyan saya. Toh bukunya dah terlanjur terbit. Wkwkwk.
Dan mohon digetok lagi karena saya selalu mempermasalahkan jumlah karakter. Ga tau kenapa. Padahal mo beli juga ga jadi-jadi. Tapi ya begitulah.
Heinz.
@Heinz: Dan gw lupa jawab, Musashi ama Taiko itu fokus karakternya bergiliran dan ada yg tetep dpt porsi spotlight agak banyak di buku tertentu (Taiko ama Musashi kan sbnrnya bbrp buku dikompilasi jadi versi tuebel itu), biasanya yg cuma lewat doang itu gak penting dan akan mati kalo bukan cuma selewat doang diceritainnya. :P
Yaah, dua judul itu kan emang tuebel abis, Heinz. Wajar juga kalo karakternya banyak.
Hehe.
Yap, sudah di-update sedikit resensinya.
Hehe.
@ juun & Heinz
tenang saja, kawan. Kelanjutan dari Valharald sudah 200 sekian halaman A4 spasi 1,5. Dan ada penambahan beberapa karakter lagi tentunya, selain pendalaman dari karakter-karakter yang telah ada.
Kalau mau membaca lagi, di Valharald sebenarnya ada beberapa karakter lain selain ke 12 ksatria yang memiliki porsi cerita kurang lebih sama dengan para ksatrianya. Nah, karakter-karakter inilah yang akan saya kembangkan di kelanjutan Valharald, dengan cerita yang berbeda tentunya.
ok. ditunggu saja.
Wah, mulai banyak yang mengikuti jejak Om Pur dengan jadi repiuer buku-buku fikfan Indonesia. Repiunya lancar dan enak buat diikutin, jadi nggak usah khawatir.
Jadi Valharald itu nama penasihat kerajaan ya? Karena judul utamanya Valharald, jadi kuasumsikan bahwa sebenarnya tokoh utamanya ya si Valharald ini, bukan ke-12 ksatrianya. Mudah-mudahan aku nggak sotoy ya, biar Mas Adi sendiri yang ngejawab deh.
Sekuelnya udah di halaman 200-an ya? Mudah-mudahan bisa cepat selesai dan bisa cepat terbit, biar nggak kena mitos sekuel fifkan lokal, cuma berupa penampakan yang sering diomongin tapi ga pernah ada wujudnya.
@yican: Malah aku sblm buka bukunya mengira Valhrald itu nama tempat.
Dan--haha--memang ini resensi2 gw sdkt byk terinspirasi dari Mas Pur sih. Dulu cuma ditaruh di forum, tapi akhirnya kutaruh di blog sekalian biar org non-forum jg bisa baca. Gak gitu inget apa aku mulai bkn resensi ini sesudah kenal Pulpen ato gimana, jd gw gak blg pure krn gak mau kalah saingan ama Mas Pur.
Yep, gw jg menantikan rilis sekuel yg riil. :D Tanpa bermaksud menyinggung perasaan, gw pribadi lbh senang sebuah cerita yg gak bagus2 amat tuntas di sekuel ke sekian sesuai janjinya ketimbang ceritanya wah, bkn penasaran, janjinya sekuel, tapi gak terbit2 dan membuat pembaca bernyanyi "mau dibawa ke mana~"
Hehe.
Wow, bener2 seorang reviewer sejati. Ampe masalah salah ketik aja bisa kelihatan. pasti pake elmu mata dewa! kebetulan, gue juga penulis nih om. penulis propesional yang disebut2 sebagai the next jk rowling. gue udah pernah bikin cerita yang nggak jauh beda dengan vala... vald... var..., ng judulnya apaan sih? yah pokoknya itu.
bahkan lebih seru. lebih menegangkan.
Judulnya aja keren Brownies Reloaded. Sebuah cerita tentang pengkhianatan, pencarian jati diri, dan perjuangan membela kebenaran dan keadilan. Sebuah cerita yang akan membuatmu gemetar...
@Roedavan: Ternyata dirimu juga meresensi Valharald. :D :D Pantesan ngeklop aja tahu2 bisa muncul di sini.
Hehe.
Poskan Komentar