Simple Notes: Ketika Negara Api Menyerang ...

Setelah lama mengabaikan blog ini, akhirnya saya mulai lagi mengisinya. :P Ini contoh blogger buruk tak disiplin, mohon jangan ditiru oleh rekan-rekan sekalian yak. :P

Jadi kali ini saya mendapat ide setelah mengikuti--somehow saya yakin yang bersangkutan menolak sebutan ini, somehow--rangkaian kultwit dari teman saya, Luz Balthasaar, mengenai kritik dan kritikus. Plus, kira-kira sehari sebelumnya ada sebuah pembicaraan di kantor yang masih berkaitan juga dengan "bagaimana berpendapat/mengungkapkan pendapat/mengungkapkan suatu pernyataan".

Karena dua kejadian begitu rasanya seperti wahyu dan memang memberi ide untuk pembahasan lebih lanjut di media yang bisa memuat lebih banyak tulisan, akhirnya saya terpikirkan postingan ini:

Ketika Negara Api Menyerang, Ketika Kritikus/Komentator Bertingkah, Apa Yang Sebaiknya Dilakukan Penulis Yang Bersangkutan?

(Harusnya saya kasih judul postingan ini dengan "Don't Panic: The Non-official Writer/Author Guide to Responding Negative Review/Comment" ya?) *Aslinya: Don't Panic: The Official Hitchhiker's Guide to the Galaxy Companion




Jadi, pertama-tama kita membahas tentang kultit bertagar #KriTikus dulu.

Saya mengkompilasinya menjadi sebuah image panjang dengan editing berantakan (rada menceng kiri dan kanan kurang rapi, mungkin kelihatan). Dibacanya dari bawah ke atas ya. Bukan dari atas ke bawah.



Panjang? Iya, soalnya ditulisnya di Twitter yang jatahnya 140 karakter. Ini link imageshacknya: http://imageshack.us/photo/my-images/100/kritikus.jpg/

Edit: Linknya pake yang Dropbox saja https://dl.dropbox.com/u/28013545/KritiKus.jpg

Inti yang saya tangkap dari kultwit itu adalah tentang kritikus itu seharusnya seperti apa? Apakah harus galak tanpa ampun lalu bikin yang dikritik bunuh diri? Atau harus ngomongin yang baik-baik aja?

Terlepas dari Luz Balthasaar membahas mengenai menjadi kritikus yang ideal itu seharusnya seperti apa, kita tahu bahwa tidak semua orang berniat menjadi kritikus/reviewer yang baik mengikuti penjabaran Luz Balthasaar.

Seniat-niatnya seorang penulis menjadikan bukunya best-seller, diterima seluruh lapisan masyarakat, mendapat respons yang baik dari pembaca, dll, dst, tidak semua orang bisa dipuaskan oleh tulisannya. Selera orang berbeda-beda--kita tahu ada yang bisa dibilang sebagai "selera umum" baik untuk golongan tertentu maupun untuk mayoritas pembaca, tapi kita tidak membahas hal tersebut di sini, itu sesuatu yang bisa dibilang bukan bidang saya dan saya tidak punya bukti ilmiah untuk mendukung, saya cuma tahu.

Jadi saya ingin membahas bagaimana penulis sebaiknya merespons terhadap review atau komentar negatif.

Kemarin ini saya melihat ada Goodreads Author Guideline. Bisa dibilang ini peraturan main untuk para Author yang bergabung sebagai member Goodreads lah.

Saya terutama akan menyorot bagian sini:


Tolong dibedakan dengan yang ini, ya:


Kita sepakati dulu bahwa yang pertama adalah "Review Negatif" dan yang kedua adalah "Komen Ngetroll".

Apa yang sebaiknya dilakukan ketika mendapat Review Negatif? *tidak semua orang harus setuju dengan ini, ngomong-ngomong*


  1. Tarik napas dalam-dalam. Kalau Anda butuh terapi stres atau anger management ketika membaca review negatif, segera lakukan saja. Jangan membalas dengan keadaan emosional. Tarik napas dalam-dalam. Kepala dingin dibutuhkan di sini.
  2. Jangan--sekali lagi, JANGAN--sekali-sekali menyalahkan pembaca apalagi ngata-ngatain mereka otaknya gak nyampe. Saya sudah lihat kasus parah untuk yang satu ini. Parah. Paraaaahhh banget. Dan berakibat buruk pada si penulis.
  3. Ucapkan terima kasih jika Anda memang sanggup mengucapkannya. Untuk saya, saya suka menekankan terima kasih atas hal apa yang dilakukan sang reviewer. Saya akan mengatakan, "Terima kasih sudah membaca buku saya." Spesifik pada "membaca". Karena saya bisa berasumsi kalau mereka memberi review karena sudah membaca buku saya kan?
  4. Jika memang Anda menganggap apa yang Anda lakukan adalah suatu kesalahan, ya akui saja, jika Anda bersedia melakukannya. Usahakan jangan bertanya balik ketika Anda melihat sang reviewer adalah jenis orang yang "satu-arah". Kalau orangnya sensi, salah-salah Anda dianggap kepo ato rese. Bertanyalah jika orangnya memang kenalan Anda (dari forum atau dari mana gitu) atau jika sang reviewer menunjukkan tanda-tanda bersedia berdialog.
  5. Tidak perlu menjanjikan "buku selanjutnya akan lebih baik", jika buku Anda bersekuel, di depan umum. Orang akan mengingat janji Anda, dan ketika hal-hal buruk terjadi dan tak terelakkan sehingga buku kedua Anda nggak terbit-terbit ... perasaan pasti super nggak enak karena merasa ingkar janji.
  6. Review tertulis memberi kesempatan pada Anda untuk memikirkan baik-baik kata-kata macam apa yang akan Anda gunakan untuk membalas sang reviewer. Gunakan kesempatan ini dan berhati-hatilah. Ingat, gunakan kepala dingin. Tidak perlu langsung membalas pada detik Anda selesai membaca reviewnya.

Apa yang sebaiknya dilakukan ketika mendapat Komen Ngetroll?

  1. Tarik napas dalam-dalam. Kalau Anda butuh terapi stres atau anger management ketika membaca review negatif, segera lakukan saja. Jangan membalas dengan keadaan emosional. Tarik napas dalam-dalam. Kepala dingin dibutuhkan di sini.
  2. Jangan balas ngetroll. Jangan balas dengan kata-kata kasar penuh emosi yang malah bikin suasana kisruh. Apalagi kalo komen ngetrollnya ditaruh di social media, yang ada malah pencitraan Anda yang tercoreng karena membalas komen ngetroll dengan komen ngetroll pula.
  3. Bersikap asertif. Mendiamkan tanpa membalas atau membalas dengan kelewat menggebu-gebu bukan sesuatu yang disarankan untuk situasi seperti ini. Anda bisa mengatakan, "Oh, mungkin memang bukan seleranya." dan kemudian memberikan link ke buku lain dari genre yang sama, memberikan alternatif bacaan yang mungkin disukai oleh si tukang ngetroll itu. Mungkin niatnya benar-benar ngetroll, benar-benar cuma buat bikin marah, tapi tanggapan yang tepat dari Anda bisa memberikan keuntungan tersendiri. Pencitraan yang baik, misalnya. :D
  4. Tidak semua orang di social media adalah orang alay atau tidak pedulian. Ada orang yang memang cerdas dan mereka bisa membedakan sendiri perilaku ber-social-media yang benar dan salah. Jadi jangan khawatir perilaku komentator ngetroll bisa menimbulkan efek sekelas dunia kiamat bagi Anda.
  5. Biarkan orang yang mendukung Anda balas ngetroll si komentator ngetroll. :P Ini adalah suatu mekanisme di social media--dan mungkin juga di media lain karena emang bawaan manusia--di mana orang cenderung memihak pihak teraniaya ketika mereka melihat tidak ada alasan yang tepat untuk menganiaya orang tersebut. Internet bersifat anonim, orang menjadi lebih berani di balik keanoniman tersebut. Berani membuli-buli dan berani membela. Berani pro dan berani kontra. Cara terakhir ini adalah cara super aman yang terjadinya nyaris otomatis, tapi ketika ini terjadi, Anda justru harus turun tangan. Bukan turun tangan dengan membela para pembela Anda, tapi berusahalah meredakan suasana panas di antara kedua belah pihak (bukan dengan ujug-ujug nyelonong dan bilang, "Guys, please! Don't fight over me!" itu, sumpah, kok kesannya kepedean si penulisnya).

Kira-kira begitulah sekilas tentang Review Negatif dan Komen Ngetroll. :D Mudah-mudahan bermanfaat.

Hehe.

Komentar

Luz Balthasaar mengatakan…
Hoo~ ada kultwi... maksud saia, rant saia (yang merupakan efek samping kekesalan memuncak karena bikin summary tentang metode riset sosial) disini?

Saia setuju kalau dibilang nggak semua orang mau berusaha jadi kriTikus baik, entah dengan tips yang saia kasi atau cara lain. Toh nggak semua orang berani atau mau bertanggungjawab atas kata-katanya.

Nanti boleh saia link artikelnya ke posting blog yang ngerangkum rant saia di atas ya? Sekalian ijin pake imagenya...
Juno Kaha mengatakan…
Hoh, kalo mau imagenya, sekalian di-sync di tempat biasa aja deh kalo gitu.

Oke, bukan "kultwit" tapi "rantwit" gimana? :-?

Hehe.
Luz Balthasaar mengatakan…
"Rantwit"... hmm... Sporkie banget. Oink :@)
Juno Kaha mengatakan…
Akan saya resmikan penggunakan kata "rantwit" jika demikian. :)) Sebagai tandingan dari "kultwit".

Hehe.
Anggra mengatakan…
image twitnya ga bisa dibuka via tab.... :v ~*

Kalau negara api menyerang, cukup ucapkan terima kasih sahaja. #eh
Juno Kaha mengatakan…
@Anggra: Apa sebaiknya gw pasang yang versi lebih dikit2, yah? Yang panjang ada di tempat yang biasa juga sih, Bu Dokter.

Hehe.
Anonim mengatakan…
Gambar tweetnya nggak bisa dizoom >.<
Juno Kaha mengatakan…
@1001: Ah, sori. Sampe linknya pun gak bisa di-zoom kah?

Kalo sampe di linknya jg gak bisa dizoom. Ntar gw kasih yang pecahan 3 bagian aja deh.

Emang itu kalo udah dikompilasi jadinya super panjang banget sih. Mungkin diresize sendiri ama image hostingnya jadinya pecah2 parah dan gak bisa dizoom sampe keliatan tulisannya.

Hehe.
Juno Kaha mengatakan…
Ahh, iya, iya. Jadi terlalu kecil dan gak ada tulisan yang bisa kebaca.

Ntar ku-upload ulang link yang beberapa bagian terpisah aja deh.

Hehe.
OctaNH mengatakan…
Iya, gambar kultwit-nya gak bisa di-zoom. Tapi aku ngikutin sih pas Luz ngetwit itu. Cumannya udah inget-inget-lupa. T.T

Aaaaah, kritik. Gak tau mau ngomong apa tentang itu. Soalnya saya sendiri kalo mau ngomong ama orang ditimbang-timbang dulu kira-kira dia bakalan marah apa gak.

Keingetan juga kasus FF2011 yang ada peserta yang karyanya dia minta buat ditarik karena gak tahan kritik. Nah, entuh yang saya takutin. Emang sih kita juga ngomongin seharusnya dia gak begini-begitu. Cuman kan kita juga punya pilihan buat gak ngebikin orang jadi pengen bundir. Apalagi kalau sekiranya kita tahu dia gak tahan dikritik....

Serba-salah.... O.O
Juno Kaha mengatakan…
@OctaNH: Auh. Maaf2. Besok deh saya upload ulang gambarnya yang tiga segmen terpisah. Yang versi puanjang ini sbnrnya kemarin saya kasih public link Dropbox-nya, tapi di grup FB LCDP. :v

Kembali soal kritik.

Ahh, iya, saya juga inget yang kasus FF2011 itu.

Menurut saya sih--dengan tidak menyeluruh seperti yang telah diungkapkan di rantwit Signora Luz--menyampaikan komentar/kritik itu prinsipnya seperti guru.

Guru yang mana yang akan Anda pilih:

A. Guru judes menyebalkan dan gak kasih ilmu berguna apa2 ke murid.

B. Guru judes menyebalkan tapi kasih ilmu berguna ke murid.

C. Guru super baik tapi gak kasih ilmu berguna apa2 ke murid.

D. Guru super baik dan kasih ilmu berguna ke murid.

Saya rasa sih normalnya orang pilih D.

Kecuali rada ... kelainan. Rada masokis gitu, kali pilih A ato B.

Tapi normalnya sih saya rasa D deh pilihannya.

Jadi dengan memposisikan diri sebagai "guru" ketika memberikan komentar, kita selalu punya pilihan untuk menjadi "guru" terhadap orang lain seperti yang "guru" ideal kita inginkan untuk diri kita sendiri.

Lebih simpel lagi, inget karma aja deh. Kalo gak mau dijahatin, jangan ngejahatin orang lain. (Dan kalo memutuskan utk rela dijahatin lantas ngejahatin orang lain, terserah kalo karmanya kenanya di vektor lain; adilnya karma itu tidak selamanya ada di vektor yang sama)

Hehe.
NagaBenang mengatakan…
hahahah, klo "guru" gw yg sekarang bisa dibilang masuk ke kategori B. menyebalkan -sangat, in times-, tapi benar2 memberi "ilmu".

thanks for sharing this :3 dan apakah ini bisa dibilang sebagai collab antara Panda dan Sporkie? :3

-Pus-
Juno Kaha mengatakan…
@Pus Ivon: Haha, nggak deh, blm bisa disebut kolaborasi kalo gini.

...

ASTAGAH!

Saya lupa reupload gambarnya. GROA.

Ya udah, dikasih link sementara dulu aja di sini.

Hehe.

Postingan populer dari blog ini

Simple Notes: Fiction Junction (Character Part 1: Classification)

[Resensi] Valharald