[NaCl] 3: Mother - pt 1
Saltman melipat koran sore, lalu menyadari bahwa saat ini sudah jamnya apotek tutup. Pria botak itu menarik tali-tali tirai, hingga bilah-bilahnya menutup. Mengingat tingginya angka vandalisme di daerah pinggiran kota seperti ini, sebenarnya tirai saja tidak cukup melindungi kaca jendela lebar itu dari lemparan bata pemabuk atau perampok. Saltman hanya percaya bahwa si kembar telah melakukan sesuatu pada kaca jendela itu hingga tidak ada lemparan batu atau tembakan peluru mampu menembusnya.
Si kembar. Nate dan Chloe.
Saltman menghela napas panjang memikirkan kedua nama tersebut. Ia mematikan lampu setelah mengunci pintu rapat-rapat dan membalik tanda yang digantung di pintu hingga tulisan “TUTUP” menghadap ke luar. Kemudian lelaki botak itu membuka satu-satunya pintu di dalam sana. Alih-alih terkuak menampakkan serangkaian anak tangga menuju ruang bawah tanah, apa yang di balik pintu adalah ruangan besar yang dibagi sedemikian rupa dengan sekat-sekat hingga terlihat seperti terdiri atas beberapa ruangan; ruang tamu sekaligus ruang duduk dan ruang istirahat, dapur sekaligus ruang makan, dan kamar mandi sempit di bagian terujung.
Panci di atas kompor gas di dapur masih hangat ketika Saltman membuka tutupnya. Saltman menemukan kari kental berisi sayuran dan daging di dalam panci. Menoleh ke meja sempit di dapur, penanak nasi otomatis sudah tercolok dan sudah berisi nasi matang. Saltman menggumamkan terima kasih, lalu seotomatis robot yang diprogram, pergi mengambil piring dan gelas, menyajikan makan malam untuk dirinya sendiri.
Sudah berapa lama dia hidup seperti ini? Saltman mulai merasakan kemonotonan dalam hidupnya. Bukannya dia tidak bersyukur karena telah melihat begitu banyak hal selama masa hidupnya yang panjang, yang sebentar lagi memasuki usia seratusan tahun semenjak pertama kali ia meminum Ramuan Kehidupan. Hanya saja … banyak pertanyaan yang mengusiknya belakangan ini.
Mungkin sudah semestinya aku merasakan kejenuhan, kebosanan, bahkan kebingungan dan kebimbangan, pikir Saltman, menyantap makan malamnya pelan-pelan. Mungkin hidup abadi tidak cocok dengan jaman modern seperti sekarang ini.
Saltman mengangkat alis.
Kari buatan si kembar enak.
Meskipun status kepemilikan Apotek Saltman ada di bawah si kembar, Saltman adalah orang yang mengurus segala sesuatunya, mulai dari membersihkan apotek, membuka apotek, menjadi penjaganya, bahkan merelakan namanya dipakai untuk nama apotek ini. Ada banyak alasan untuk itu.
Saltman memanaskan kari sisa makan malamnya sebagai sarapan (dan sebenarnya untuk makan siang juga mengingat berapa banyak kari yang dibuatkan si kembar untuk Saltman). Ia menyantapnya dalam diam, lalu berganti pakaian, dan membuka apotek.
Apotek Saltman buka pukul sembilan pagi.
Dua orang petugas polisi yang mengetuk pintu depan apotek tak lama setelah Saltman membuka tirai-tirai. Kadang-kadang memang ada pengunjung yang datang sebelum apotek buka, tapi biasanya bukan polisi …
“Selamat pagi,” sapa sang petugas; seorang lelaki bertubuh tebal—Saltman tidak dapat menyebutnya “gemuk”, tidak terlalu cocok meskipun badan sang petugas tidak kurus—yang mengenakan jaket kulit imitasi.
“Selamat pagi,” balas Saltman. Dia menambahkan dengan kaku, “Ada yang bisa saya bantu?”
“Kami dari kepolisian,” kata si petugas, menunjukkan lencana sebagai bukti identitasnya; nyaris mengabaikan total kalimat Saltman setelah sapaan balik. “Jika Anda berkenan, kami ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepada Anda. Sebelum toko buka setidaknya.”
“Oh, ya, ya.” Saltman mundur beberapa langkah, memberi ruang untuk kedua petugas. “Masuklah.”
Saltman menutup pintu, tanpa membalik tanda “Buka”/”Tutup” yang tergantung di pintu. Seandainya saja dia boleh menolak, dia pasti tidak mengijinkan kedua polisi itu masuk. Tapi Saltman tidak punya pilihan jika berhadapan dengan aparat penegak hukum. Orang benar tidak punya banyak pilihan jika berhadapan dengan polisi, orang jahat yang punya banyak pilihan.
“Kami sedang mencari seorang anak yang dilaporkan hilang oleh orang tuanya.” Si petugas mengeluarkan selembar foto dari dalam map plastik yang dibawanya. “Mark Hommund, 21 tahun, mahasiswa Universitas Tydbough.”
Tengkuk Saltman terasa dingin.
“Laporan yang kami dapat dari orang tuanya adalah anak ini terakhir kali mendatangi tempat ini hari Senin lalu. Ayahnya menguntit anak itu diam-diam dan melihatnya sendiri masuk kemari.”
Saltman mengulurkan tangan, meminta foto dari si petugas supaya dapat melihat sosok dalam foto lebih jelas.
“Hmm …”
Itu memang Mark Hommund. Klien terakhir si kembar. Saltman tak tahu apa yang si kembar lakukan pada tubuh pemuda malang itu setelah dinyatakan katatonik.
“Ya, dia memang ke sini,” kata Saltman akhirnya.
“Obat apa yang dia beli?”
“Obat sakit kepala.” Saltman berjalan ke balik konter, menuju mesin kasir. Rasa dingin dari tengkuknya telah merayap hingga sikunya. Tersembunyi dari pandangan kedua petugas, Saltman menyentuhkan ujung jari tangan kanannya ke sebuah stiker bergambarkan lingkaran sihir kecil namun kompleks dengan berbagai simbol di sisi mesin kasir. “Maaf, jam berapa katanya dia terakhir terlihat?”
Menggunakan sedikit sihir yang diajarkan padanya, Saltman mulai mengaktifkan kekuatan lingkaran sihir di mesin kasir.
“Kira-kira jam setengah tujuh malam.”
“Baiklah …”
Tentu saja, transaksi yang dilakukan oleh Mark tidak pernah tercatat di mesin kasir. Saltman menggunakan sihirnya untuk mengutak-atik data dalam mesin kasir dan mencetak rekaman transaksi palsu yang tak pernah ada.
Kedua petugas nampak cukup puas dengan rekaman transaksi yang diperlihatkan Saltman kepada keduanya, tapi, tentu saja, polisi tidak mudah diberi pancingan untuk membuat asumsi-asumsi yang dapat menyesatkan mereka.
“Ayah anak ini mengatakan bahwa dia tidak pernah keluar dari dalam apotek.”
“Benarkah? Seingat saya dia keluar lewat pintu depan juga. Apa mungkin karena anak itu mengenakan baju yang membuatnya kelihatan seperti berandalan sekitar makanya ayahnya sampai salah mengenali?”
“Dia melakukannya?”
“Dia mengenakan jaket katun yang bertudung seusai transaksi. Jenis yang banyak dipakai anak-anak sekarang.”
“Hoo, baiklah.”
Saltman memperhatikan bahwa sementara si petugas berbadan agak gemuk mengajukan pertanyaan, rekannya diam saja dan fokus pada pekerjaan mencatat. Melihat pucatnya si rekan, Saltman sedikit berharap bahwa dia sebenarnya adalah salah satu dari Kaum Tudung Merah. Sayangnya, Saltman tidak ingat ia pernah mendengar Kaum Tudung Merah mengutus salah satu anggotanya untuk membaur bersama manusia dengan menempatkannya bekerja di salah satu institusi pemerintah.
“Ruang di sana itu, apa?”
“Oh …”
Pintu yang ditunjuk oleh sang petugas adalah pintu menuju ruang bawah tanah.
“Bagian dalam rumah, Sir. Saya tinggal di sana.”
“Boleh saya lihat?”
“Silakan. Maaf berantakan.”
Sekali lagi, alih-alih terbuka menuju ruang bawah tanah, pintu itu membawa mereka ke tempat tinggal Saltman.
Kedua polisi itu pergi tak lama kemudian.
Saltman cukup yakin akan ada petugas lain yang dikirim untuk memeriksa atau minimal mengawasi apotek ini.
“Ya?”
“Ada apa Saltman?”
“Eheheheheheh.”
“Heheheheheheh.”
Ruang bawah tanah tempat deretan lemari-lemari obat berada bercabang menuju dua ruang lain yang lebih kecil. Salah satu dari ruangan tersebut adalah tempat yang difungsikan si kembar sebagai tempat percobaan, meracik obat, sekaligus dapur. Di sanalah Saltman menemukan Nate dan Chloe, alih-alih duduk bermain kartu atau permainan lainnya di meja yang biasa.
“Ada masalah,” kata Saltman melapor.
Mengurangi kecurigaan dari polisi—yang kemungkinan besar masih mengintai apotek—Saltman sengaja turun ke ruang bawah tanah ketika jam makan siang. Ia berpura-pura keluar meninggalkan apotek, pergi membeli makanan (yang pada akhirnya dia berikan kepada Nate dan Chloe) dari restoran cepat saji terdekat lalu kembali ke apotek tanpa membalik tanda “Tutup”, meninggalkan sebuah ilusi sihir yang menggambarkan dirinya tengah menyantap makan siang dengan damai di balik konter padahal sebenarnya ia turun ke ruang bawah tanah.
“Tadi pagi ada polisi mendatangi apotek dan bertanya tentang Mark Hommund,” kata Saltman. Ia meletakkan bungkus kertas berisi burger di daerah yang lebih terlihat dapur ketimbang meja bedah atau meja percobaan. “Dan saat aku mengecek tadi, ada polisi yang ditugaskan mengawasi apotek.”
Chloe memegangi sesuatu yang terlihat seperti jarum besar dengan pegangan plastik. Ia menyentuhkan ujung jarum ke lampu kecil di tangan satunya. Lampu itu menyala sangat terang. Melihat itu, Nate menyodorkan lampu yang lebih besar, bertukar dengan lampu yang dibawa Chloe. Lampu yang lebih besar itu juga menyala ketika disentuhkan dengan ujung jarum.
Saltman melirik ke arah terjuntainya kabel.
Ada tubuh seseorang, ditutupi kain putih, di atas tempat tidur berangka besi tak jauh dari tempat Nate dan Chloe berdiri. Rasanya sekarang Saltman dapat mengira-ngira di mana Mark Hommund yang dicari-cari oleh kepolisian.
“Kalian menggunakannya untuk percobaan?” desis Saltman.
“Hanya mengetes sesuatu. Heheheheheh.”
“Ya, sedikit percobaan. Heheheh.”
Saltman mendekati tempat tidur dan menyingkap kain putih sedikit, melihat bagian tubuh lain tanpa mengusik kegiatan si kembar. Tubuh yang nyaris tanpa pakaian itu masih hidup. Perutnya masih naik turun oleh tarikan dan hembusan napas.
Tapi mungkin secara klinis, tubuh di atas sana tidak dapat dikatakan benar-benar hidup.
“Otak manusia menghasilkan listrik.” Nate terkekeh. “Cukup untuk mengirimkan sinyal-sinyal pada seluruh bagian tubuh. Mengatur pergerakannya. Heheheheheh.”
Tanpa disadari Saltman, Chloe telah mendekatinya dan menyentuhkan ujung jarum ke kulit lengan Saltman yang tak tertutup lengan baju. Lelaki botak itu berjengit kaget dan otomatis menjauh ketika merasakan sengatan listrik.
“Spesimen yang menggunakan obat peningkat kemampuan otak ini memiliki lebih banyak muatan listrik di otaknya.” Chloe menyeringai lebar ketika menyentuhkan ujung jarum kembali pada lampu yang masih dipegangnya. Lampu tersebut menyala dengan terangnya. “Sedikit pengaturan, dan listriknya bisa dialirkan.”
“Heheheheheh.”
“Heheheheheh.”
“Muatan listrik berlebih?” tanya Saltman.
“Ya.”
“Makanya dia korslet.”
Tawa Nate dan Chloe selanjutnya tidak jelas apakah mereka menertawakan lelucon kasar yang baru dilontarkan atau merupakan tawa-tawa standar mereka yang selalu tidak pada tempatnya.
“Kembalilah ke atas, Saltman.”
“Harus ada yang berjaga di atas.”
“Tapi,” protes Saltman, “polisi-polisi itu—“
“Cepat atau lambat mereka akan berusaha masuk.”
“Kami butuh waktu untuk membuat bahan distraksi.”
“Kembalilah ke atas, Saltman,” kata keduanya berbarengan.
Saltman menelan ludah. “Kalian akan … mematikan Mark Hommund?”
“Bukan mematikan. Heheheheh.”
“Kami sudah memastikan apa yang ingin kami ketahui, jadi akan kami kembalikan nanti. Hehehe.”
“Kalau tubuh Mark ditemukan, polisi akan benar-benar menggrebek tempat ini,” tukas Saltman.
“Sama saja.”
“Cepat atau lambat mereka akan kemari.”
“Heheheheheh.”
“Heheheheheh.”
Saltman menggigit bibir. Si kembar mungkin sinting, tapi mereka tidak bodoh dan ucapan mereka bisa dipercaya meskipun kadang terdengar seperti racauan orang mabuk.
“Baiklah,” gumam Saltman. “Panggil aku jika membutuhkan bantuanku.”
“Pasti.”
“Tentu.”
“Eheheheheheheheh.”
“Eheheheheheheheh.”
“Itu untuk kalian, ngomong-ngomong,” kata Saltman sebelum keluar, menunjuk ke kantong kertas di atas meja. “Burger beberapa potong saja.”
Sebelum Saltman menutup pintu, si kembar sudah menyerbu kantong kertas.
Jon Daryll sengaja memarkir mobilnya di blok lain dan berjalan kaki menuju tempat yang harus diawasi olehnya.
Lucu juga. Biasanya Jon mendapat tugas untuk mengawasi tempat-tempat yang memang mencurigakan atau berpotensi menyembunyikan sesuatu: hotel, apartemen, kasino, gudang-gudang di pelabuhan, bar, dan beberapa tempat lainnya. Sebuah apotek tidak terdapat dalam daftar tersebut dan, kalaupun ada, berada di urutan bawah.
Jon pendiam dan secara alamiah mudah membaur dengan lingkungan sekitar hingga sulit dideteksi keberadaannya, sempurna untuk tugas memata-matai aktivitas di suatu tempat.
Tidak ada hal mencurigakan selama pengamatan Jon hari ini hingga akhir gilirannya. Jon pergi untuk makan siang yang sangat terlambat bersama rekan kerjanya yang mengambil posisi pengawasan berbeda dengannya. Keduanya membahas lokasi yang mereka amati hari ini.
“Apotek itu sepi,” kata sang rekan. “Sampai-sampai kalau ada semut masuk ke sana pun kita akan mengetahuinya saking sepinya.”
“Kemungkinan besar karena hari ini memang tidak ada pengunjung,” kata Jon.
“Dan apotek itu, jujur saja, terlihat sangat salah tempat,” lanjut rekan Jon. “Dia berada di daerah pinggiran kota tempat kita sering dipanggil karena urusan vandalisme dan perkelahian. Bukan daerah bisnis yang bagus selain untuk minuman keras dan narkotika.”
Jon mengacungkan jari ke arah rekannya di bagian kata “narkotika”. “Kasus ini kemungkinan besar berkaitan dengan narkotika atau malpraktik. Meskipun sangat naif kita berasumsi demikian hanya karena disuruh mengawasi sebuah apotek. Ada tiga orang tewas dalam tiga bulan terakhir ini yang menurut saksi mata pernah mengunjungi apotek ini. Ketiganya mati secara tidak wajar. Otopsi menunjukkan kalau mereka mengkonsumsi sejenis obat yang tak diketahui bahan bakunya. Lalu ada satu orang menghilang. Malpraktik? Atau narkotika?”
“Salah satunya.”
Jon mendengus mendengar jawaban itu.
“Sebenarnya waktu kubilang apotek itu salah tempat, maksudku sama sekali bukan ke arah sana,” lanjut si rekan, jujur. Rekan Jon yang satu ini baru enam bulan bekerja bersama Jon yang lebih senior. Sikap naif dan polosnya kadang membuatnya terkesan bodoh. “Apotek itu kelihatan berbeda dari bangunan-bangunan sekitarnya.”
Jon mencondongkan tubuh ke depan, meletakkan siku di atas meja dan menyentuhkan ujung-ujung jemarinya, siap mendengarkan. Menyadari gestur Jon yang sudah menjadi kebiasaan, si rekan kerja meneruskan.
“Kacanya bening. Bukan jenis kaca buram. Dari seberang jalan saja bisa terlihat jelas aktivitas di dalamnya. Lalu tidak ada gerai logam untuk melindungi kaca tersebut, padahal sudah hampir pasti kan di daerah seperti ini kaca begitu seperti meminta untuk dilempar bata oleh anak-anak brengsek atau pemabuk.
“Lalu bata yang menyusun bangunannya juga seperti baru didirikan bulan lalu …”
“Besok,” kata Jon, “berkelilinglah sedikit dan tanyai orang-orang di sekitar sana mengenai apotek itu. Tanyakan kapan apotek itu didirikan.”
“Kapan didirikannya?” ulang si rekan.
“Ya.”
“Baiklah.”
Perasaan Jon tidak enak.
Komentar
.. untungnya bukan :v
*langsung gedor2 YM tetangga yg berprofesi sbg dokter*
@Pus-Neko: ... Siyal, harusnya gw cukup kreatif untuk mengarahkan orang berpikir ke arah sana yah buat sedikit twist. :-?
Btw, terima kasih komentarnya, rawr. :D
Hehe.