[NaCl] 7: Shelter - pt 3

Sebelumnya: Shelter - pt 2




Seiring dengan berjalannya waktu, Rico jadi semakin terbiasa dengan keberadaan Nate dan Chloe. Mereka masih mencegatnya di gang yang sama dua atau tiga kali sebelum akhirnya menunggu kedatangan Rico di dapur shelter dengan sabar.

“Bagaimana pencarian kalian?” tanya Rico. Ia memecahkan telur ke dalam mangkuk besar—masih butuh lima butir lagi.

“Nihil. Heheheheh.”

“Belum berhasil. Eheheh.”

Rico hampir menggaruk pipi dengan tangannya yang kotor terkena telur. “Kalian tidak seharusnya tertawa, kurasa ...”

“Heheheheh.”

“Heheheheh.”

“Bagaimana caranya kalian mencari ruang bawah tanah yang lepas itu?” Sekalipun ia menganggap cerita si kembar aneh dan tak masuk akal, Rico diam-diam penasaran. Setelah membaca novel fantasi di mana ada peron rahasia yang hanya dapat dimasuki melalui pilar yang telah disihir di stasiun, Rico sukar untuk tidak tertarik dengan hal-hal yang ... fantastis? Imajinatif? Mungkin orang lain akan menganggapnya kekanak-kanakan daripada imajinatif.

“Terakhir kami mencoba memakai pendulum,” jawab Chloe. “Sulit sekali rupanya memakai pendulum kalau tidak terhubung dengan Bumi.” Tawa pelan mengakhiri kalimatnya.

Rico belum sempat bertanya tentang “tidak terhubung dengan Bumi” saat Nate menambahkan.

“Sebelumnya kami memakai ranting kayu berbentuk 'Y'. Sama saja tidak bereaksi dengan benar.” Nate terkekeh, seolah-olah geli dengan perbuatannya sendiri. “Memang sulit kalau menggunakan cara-cara Manusia.”

“Sebentar,” potong Rico sebelum ada yang mulai berbicara lagi. “Apa maksudnya 'tidak terhubung dengan Bumi'? Dan kenapa kalian bilang 'cara-cara Manusia'?”

Pertanyaan terakhir itu sebenarnya dimaksudkan Rico sebagai candaan belaka, menyinggung bagaimana Nate mengucapkan “manusia” seakan-akan dia bukanlah manusia.

“Oh?”

“Kami belum bilang kalau kami bukan Manusia?”

Tangan Rico membeku sesaat sebelum telur terakhir yang harus dia pecahkan menyentuh tepian meja. Tiba-tiba saja punggungnya terasa dingin.

“Kalian ... apa?”

“Kami bukan Manusia.”

“Kami homunculus. Homunculi karena 'kami' adalah bentuk jamak.”

“Dari bahasa Latin. Secara harafiah, artinya 'manusia kecil'.”

“Makhluk buatan.”

“Manusia ciptaan manusia.”

“Kami diciptakan dari dalam kuali raksasa. Dikandung dan dikembangkan dalam rahim kuda.” Nate mengetuk panci yang berada di atas kompor.

“Mirip seperti memasak. Ayah membuat kami dengan bahan-bahan yang tepat.” Chloe memasukkan potongan-potongan sayur ke dalam air yang menggelegak dalam panci.

“Karbon, kalsium ...”

“... zink, sulfur, besi, ...”

“... hidrogen, dan oksigen.”

“Itu baru sebagian.”

“Heheheheheh.”

“Heheheheheh.”

Rico merasakan darah menghilang dari wajahnya.

“Hanya Manusia yang benar-benar terhubung dengan Bumi.” Chloe mengetukkan kakinya ke lantai. “Itu sebabnya Manusia memiliki potensi sihir secara alamiah. Karena mereka terhubung dengan Bumi yang menjadi sumber sihir itu sendiri.”

Homunculus tidak benar-benar terhubung dengan Bumi. Itu sebabnya kami kesulitan mendeteksi garis-garis ley dengan metode Manusia. Ayah menciptakan kami lebih sempurna daripada homunculus lain yang pernah ada.” Nate berkata dengan penuh kebanggaan. “Ayah membuat kami dapat melakukan sihir, terutama alkimia. Kami berbeda dengan homunculus biasa.”

Mendengar penjelasan itu sama sekali tidak membuat Rico lebih tenang. Jadi sebenarnya dugaan Rico saat bertemu si kembar pertama kalinya benar? Bahwa mereka berdua bukan manusia? Bahwa mereka berdua adalah ... sesuatu yang lain?

Sebelum kalimat sempat terbentuk dalam benak Rico, pemuda itu sudah lebih dulu menarik pisau terdekat yang dapat dijangkaunya, mengacungkannya ke arah Nate dan Chloe, sementara tangannya yang lain mencengkeram bajunya sendiri, memegangi kalung doa di balik kaosnya erat-erat. Ketakutan dan kengerian membuat lidah Rico kelu. Tengkuk dan punggungnya terasa dingin.

“Ah.”

Nate mematikan api kompor. Chloe meletakkan pisau dan talenan di atas meja.

“Ayah pernah bilang kalau kami bertemu Manusia, tidak sebaiknya kami menceritakan apa kami sebenarnya.”

“Harusnya kami tidak melupakan itu. Sayang sekali.”

Nate dan Chloe melangkah perlahan menuju pintu. Rico beringsut, menjaga jarak dari kedua sosok berjaket itu, tetap mengarahkan pisaunya pada mereka.

“Kau harus melanjutkan masakannya sampai selesai.”

“Terima kasih untuk dagingnya selama ini.”

Pintu dapur tertutup kembali.

Tangan Rico gemetaran hebat hingga ia menjatuhkan pisau yang digenggamnya sedari tadi.

Si kembar tidak menyeringai seperti biasanya saat mengatakan bahwa mereka paham tadi. Seringai mereka lenyap, menjadi senyuman samar yang ... Rico tidak yakin, dia tidak yakin—atau semakin ia memikirkannya dia tidak ingin meyakini kalau senyuman samar itu adalah senyuman sedih.

Bagaimana homunculus dapat merasakan perasaan sedih? Mereka makhluk yang dibuat dengan sihir, makhluk yang seharusnya tidak ada. Makhluk yang berasal dari iblis dan kuasa gelap.

Hari itu, Benny mencela makan malam yang disiapkan Rico.


Rico duduk di bangku paling belakang di rumah ibadah, menekuni butiran manik-manik di kalung doanya tanpa mengucapkan doa sepatah kata pun. Hujan merintik di luar. Aroma lilin dan dupa mengisi bagian dalam rumah ibadah.

Hari ini tepat seminggu setelah Rico bertemu si kembar terakhir kalinya. Perasaan bersalah menghantuinya selama itu. Nate dan Chloe mungkin bukan manusia, tapi pantaskah ia bersikap seperti itu? Apa kesalahan mereka padanya? Tidak ada.

“Oh? Nak Enrique?”

Rico mendongak, bertemu pandang dengan seorang pria jangkung berkacamata yang seluruh rambutnya telah memutih.

“Selamat malam,” sapa si pria tua yang masih mengenakan jubah upacara agung.

“Selamat malam, Bapa Robert.”

Si pria tua duduk di ujung bangku. “Biasanya jika kau kemari ada sesuatu yang mengusikmu.”

“Ya.”

“Mau menceritakannya padaku?”

Rico memang ingin melakukan itu, tapi ia berpikir kalau ia menceritakan apa adanya, Bapa Robert mungkin tidak mempercayainya—terutama bagian tentang hom-apa-itu dan sihir.

“Aku … sepertinya melukai perasaan seseorang,” kata Rico perlahan. “Butuh waktu untuk menyadarinya dan saat aku hendak meminta maaf, orang itu sudah pergi dan aku tak bisa menemukannya lagi.”

“Hm ...”

“Aku … sama sekali tak tahu bagaimana mengontak orang itu.”

“Berdoa?”

“Kurasa lebih baik aku meminta maaf langsung—“

“Ah, jangan salah, Nak. Berbeda dengan telepon atau surat, doa tidak pernah salah sambung.” Bapa Robert tersenyum tipis.

“Jadi … mungkin saja aku bisa bertemu dengan orang itu kembali dan meminta maaf langsung padanya?”

“Atau bisa saja orang itu telah memaafkanmu bahkan tanpa bertemu denganmu. Ada banyak kemungkinan, Nak. Kau mungkin tak akan pernah menduganya sama sekali. Keilahian bukan sesuatu yang bisa kita tebak atau kita rumuskan.”

Rico merenungkan jawaban itu selama beberapa saat. Mungkin ia bisa mencoba mencari Nate dan Chloe juga selain berdoa. Dia tidak pernah benar-benar mencarinya selama seminggu ini. Ada untungnya juga mereka mengenakan jaket yang warnanya mencolok dan mudah dicirikan. Barangkali ada orang yang melihat mereka beberapa hari terakhir ini.

Alarm di jam tangan Rico berbunyi. Pengingat bahwa ia harus pergi ke shelter.

“Maaf.” Rico mematikan alarm. “Saya harus pergi.” Ia beranjak sambil membawa kantong berisi bahan masakan malam ini. “Terima kasih banyak atas bantuannya, Bapa.”

Bapa Robert hanya mengangguk singkat dan tersenyum.

Di luar, hujan telah mereda. Suasananya lembap serta gelap. Rico melangkah cepat-cepat. Dia bakalan telat sampai ke shelter. Benny akan mengomel panjang lebar, tapi—kalau moodnya sedang bagus—anak itu mau membantu di dapur kalau Rico minta.

Gang yang hendak dilewati Rico gelap. Lampunya sepertinya mati dan belum diganti. Tanpa pikir panjang, Rico berjalan memasuki gang. Pikiran tentang anak-anak mengalahkan naluri alamiah manusia yang menjauhi tempat-tempat gelap.

Bayangan berkelebat dari percabangan gang.

Rico refleks balik menarik ketika merasakan kantong di tangannya ditarik. Ada dua sosok gelap di dekatnya.

“Hei!”

Tarik menarik. Geraman dan dorongan. Lalu …

Salah satu sosok menubruk Rico. Sesuatu yang dingin menembus perutnya.

Rico merasakan nyeri merebak dari perutnya. Genggamannya pada kantong belanja melonggar. Ia ambruk. Kedua sosok gelap menggeledah saku-saku Rico, kemudian pergi diiringi derap kaki yang menginjak genangan-genangan air di jalanan gang.

Apa … yang terjadi?

Rico merasakan kaosnya basah. Dia pasti jatuh ke sisa air hujan.

Apa

Kelopak mata Rico menutup perlahan.

yang


Rico.

Rico merasakan sekujur tubuhnya dingin.

Rico. Bangunlah.

Perut Rico terasa nyeri.

Rico.

Guncangan perlahan. Rico akhirnya membuka mata.

Dua titik hijau bercahaya menyambutnya.

“Rico. Jangan tidur. Tetap bangun.”

“Siapa …?” desis Rico kebingungan.

Sebentuk wajah membayang di depannya. Dua titik hijau yang dilihatnya tadi rupanya adalah sepasang mata. Rico rasanya tahu warna hijau itu … Rasanya dia pernah mendengar suaranya …

“Siapa?” Rico kembali bertanya dengan suara pelan.

Lampu senter menyoroti wajah yang dikenal Rico.

“Nate?”

“Nate, ya.” Tangan yang terbungkus sarung tangan menepuk perlahan wajah Rico. Cahaya lampu senter menjauh kembali, menyisakan mata Nate yang berkilauan dalam kegelapan. “Jangan tidur, Rico.”

Rico mengangkat kepalanya sedikit. Di sebelah Nate, Chloe menggigit senter dan tengah berkutat dengan botol kecil dan suntikan. Risleting jaketnya terbuka dan borgol menjuntai melingkari satu tangannya. Rico menyadari kalau borgol Nate juga telah terbuka dan satu tangannya menekan perut Rico, tepat di bagian yang luka.

Kelopak mata Rico terasa sangat berat. Ia mulai menggigil. Tusukan jarum suntik di dekat lukanya tidak berhasil mengalihkan rasa dingin yang melanda sekujur tubuhnya.

“Mereka … mengambil barang-barangku?” gumam Rico.

“Orang-orang yang menusukmu? Ya,” jawab Nate. Kalimatnya terucap jelas tanpa selingan tawa terkekeh yang biasanya.

Napas Rico terdengar kasar bahkan di telinganya sendiri.

“Aku … minta maaf,” lanjut Rico.

“Untuk apa?”

“Karena telah mengusir kalian.” Rico merasa mulutnya kering. “Karena telah mengacungkan pisau pada kalian.”

Mata Nate yang bercahaya mengerjap.

“Oh ...”

“Maafkan aku. Aku … benar-benar minta maaf.”

“Tidak apa-apa,” jawab Nate. “Salah kami juga karena kami tidak mengerti larangan Ayah.”

“Kalian belum menemukan Ayah kalian?”

“Belum.”

“Rico,” tukas Chloe. “Jangan tidur tapi jangan banyak bicara juga.”

Saat itu, Rico menyadari waktunya hanya tinggal sebentar lagi. Dia tidak menuruti kata-kata Chloe dan lanjut berbicara.

“Bisakah … aku menitipkan anak-anak pada kalian berdua?”

Tidak ada jawaban dari Nate maupun Chloe.

“Aku …,” Rico memaksakan diri bicara, “Aku … hanya tidak ingin mereka terlibat masalah … Aku tak ingin mereka … berakhir menjadi orang yang salah …” Rico tak dapat menahan dirinya untuk tidak terisak. “Itu satu-satunya yang bisa kulakukan … Memberi sedikit kebaikan. Karena tidak pernah menerima kebaikan hanya akan membuat seseorang berada di jalan yang salah.”

Rico merasakan dua telapak tangan ditangkupkan di sekitar wajahnya. Rasanya hangat dan bernyawa. Kelopak mata Rico menutup tanpa dapat ditahan lagi.

“Maafkan aku … ya?”

“Ya.”

Kesadaran Rico memudar. Kegelapan berpusar. Suara-suara menjauh. Dingin di sekujur tubuhnya tak lagi terasa menggigit.

Enrique “Rico” Sandroval. Lahir 6 Juli 1985. Meninggal 19 Mei 2012.


Bapa Robert membuka pintu kediamannya, menanggapi ketukan yang memanggilnya dari rutinitas doa malamnya.

Dua sosok berjaket berdiri di depan pintu. Sebelum Bapa Robert sempat memahami apa yang aneh, keduanya menyingkir, memperlihatkan tubuh seorang pemuda yang belum satu jam silam ditemui oleh Bapa Robert di dalam tempat ibadah.

“Kami tidak berhasil menolongnya,” kata si sosok berjaket biru.

Mendengar itu serta melihat noda gelap di kaos yang dikenakan si pemuda, Bapa Robert tahu kalau Enrique sudah tidak bernyawa. Pria tua itu berlutut dan memeluk jasad pemuda itu, terpukul dengan bagaimana kematian datang begitu tiba-tiba.

“Bisakah Anda mendoakan dan menyemayamkannya dengan layak?” tanya si sosok berjaket hijau.

“Tentu,” jawab Bapa Robert. Air mata meninggalkan bekas di wajahnya. “Tentu.”

“Terima kasih,” kata kedua sosok berjaket itu bersamaan.

Saat Bapa Robert mendongak untuk melihat dua orang yang mengantarkan jasad Enrique, keduanya telah lenyap.

Selama sisa hidupnya, Bapa Robert percaya bahwa kedua sosok berjaket yang membawa jasad Enrique adalah sepasang malaikat sekalipun mereka tidak terlihat seperti itu.

==fin==

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi] Valharald

Simple Notes: Fiction Junction (Character Part 1: Classification)

Simple Notes: Ketika Negara Api Menyerang ...