[NaCl] 7: Shelter - pt 2
Sebelumnya: Shelter - pt 1
Rico mengetahui nama beberapa anak yang sudah beberapa kali datang ke rumah ini: Key yang tinggal bersama ayahnya yang veteran perang di bawah jembatan, Lang si anak imigran gelap yang terpisah dari orang tuanya dan komunikasinya sangat tidak lancar karena kendala bahasa, Stan yang kabur dari panti asuhan, lalu Berkeley “Bark” yang satu mata dan separuh wajahnya rusak karena api.
Masih ada anak-anak lain yang namanya belum Rico hafal, sebagian besar adalah teman-teman Key yang tinggal di bawah jembatan. Mereka datang dan pergi sesukanya, kadang ada yang hanya sekali datang dan esoknya Key memberi tahu Rico bahwa anak itu pindah karena suatu hal. Anak-anak seperti mereka sangat mudah terkena masalah.
Rico terutama mengkhawatirkan satu orang. Anak paling tua yang paling rajin mampir ke shelter. Anak pertama yang dikenal Rico.
Namanya Benny. Umurnya dua belas tahun, terdaftar sebagai murid sekolah negeri yang ada di wilayah ini. Dia punya rumah—di sebuah flat di daerah Ventura—dan dia tinggal bersama ibunya yang kalau tidak sedang teler oleh obat dan minuman keras, pergi entah ke mana setelah mengunci pintu rumah hingga Benny tidak bisa masuk atau tidak bisa keluar rumah atau malah bertengkar dan memukuli Benny. Berbeda dengan anak-anak lain yang nampak kumal dengan pakaian tambal sulam mereka yang jarang dicuci, pakaian Benny terlihat lebih layak, meskipun lusuh. Benny selalu terlihat membawa-bawa skateboard.
Perkenalan pertama Rico dengan Benny tidak dapat dikatakan mulus.
Benny memiliki kecenderungan kasar. Kosakata makiannya setara dengan orang dewasa yang hobi menyumpah-nyumpah. Yang lebih merepotkan, Benny menolak dikasihani. Dia marah sekali waktu Rico—saat itu shelter ini belum ada dan Rico kebetulan tahu tentang Benny dari temannya yang juga suka bermain skateboard—membelikannya burger dan cola. Benny merampas kantong makanan itu dari tangan Rico, membuang isi gelas kertas ke tanaman di taman, dan melemparkan burgernya ke seekor anjing liar yang berkeliaran di sana. Rico jelas tersinggung dengan reaksi itu, tapi ia berhasil menahan diri.
Saat bertemu Benny untuk kedua kalinya, Rico mengabaikan hardikan galak dari Benny dan hanya menyebutkan alamat rumah yang kini menjadi shelter, mengatakan kalau Benny lapar dan sedang malas pulang, dia bisa mampir ke sana.
Benny akhirnya datang. Dia masih bersikap kasar dengan ucapannya mengenai masakan Rico (“Apaan sih ini? Minyaknya banyak sekali!” atau “Kulit ayam gorengmu kayak kertas ampelas.” dan masih banyak lagi), tapi perlahan-lahan ia terbuka pada Rico. Bahkan, Benny lah yang pertama kali membawa Key ke shelter.
Rico mengkhawatirkan Benny untuk banyak hal: sekolahnya, keluarganya, dan kemungkinan Benny terlibat dalam geng. Usia Benny sudah mencukupi untuk ikut serta dalam sebuah geng dan bukan tidak mungkin Benny memutuskan bahwa dengan tergabung di salah satunya, dia bisa hidup mandiri tanpa perlu takut pada siapapun.
“Ben?” tanya Rico, memandangi si anak yang masih mencoba-coba melakukan sebuah trik skateboard di halaman depan shelter sementara anak-anak lain telah masuk ke dalam.
“Apa?” sahut Benny ketus. “Dan jangan 'Ben', 'Ben', 'Ben' terus! Panggil yang lengkap 'Benny' memangnya susah ya?”
“Oke, oke. Benny?”
“Apa?” Benny mengangkat skateboard-nya.
“Mukamu kenapa?”
Mata dan pelipis kiri Benny lebam menghitam. Luka berdarah menghiasi sudut bibirnya. Guratan yang seperti bekas cakaran yang telah mengering terlihat di pipi kanan anak lelaki itu.
“Bukan urusanmu,” ujar Benny dingin. “Aku lapar. Hari ini makan apa?”
Rico menghela napas. “Chimichangas.”
“Apaan tuh? Kayak nama kadal atau serangga. Kalau menjijikkan dan tidak enak pokoknya aku tidak mau makan.”
“Nanti kau yang tentukan sendiri enak tidaknya. Ayo masuk,” ajak Rico. “Dan ikut denganku ke dapur. Bantu aku membawa makanannya ke ruang makan.”
“Oke, Nek.”
Di ruang makan, Key sedang bercerita dengan heboh pada Stan dan Bark tentang pabrik kembang api yang meledak, yang terjadinya di negara lain, dan yang diketahui Key dari salah satu berita koran entah kapan yang dibacanya saat membantu petugas daur ulang kertas menyortir koran-koran bekas.
“Halah, cuma begitu saja,” celetuk Benny. “Dua bulan lalu ada rumah meledak dan terbakar di samping flatku. Aku hampir kehilangan tempat tinggal gara-gara itu.”
“Bohong!” tukas Key cepat, tapi matanya melebar dengan ketakjuban. “Masa meledaknya sedekat itu? Masa rumah biasa bisa meledak?”
Benny mengangkat bahu. “Serius. Tempat itu meledak. Kalau tidak percaya, lihat saja sendiri ke daerah Ventura. Masih ada sisanya sampai sekarang.”
“Oh, aku tahu daerah itu ...” Bark bergumam.
Sementara Stan dan Key menginterogasi Bark lebih lanjut mengenai daerah yang disebut-sebut Benny, Rico menarik si anak yang lebih besar ke dapur.
“Heh. Kau memungut anak-anak baru?”
Rico baru ingat kalau selama ini tak satu pun dari anak-anak yang datang kemari pernah melihat Nate maupun Chloe. Anak-anak—seolah dapur adalah tempat berbahaya—tidak mendekati dapur yang pintunya tertutup. Terakhir kali, Nate dan Chloe pergi setelah menyelesaikan pekerjaan mereka dan mengambil jatah makanan milik mereka, hanya untuk kembali menemui Rico di tempat pertama mereka bertemu keesokan harinya.
“Tam—“
“Selamat da—“
Nate dan Chloe menggumamkan sesuatu pada yang lainnya setelah dua kali ucapan yang tidak selesai. Terlihat agak salah tingkah, Nate mulai menjilati ujung-ujung jarinya yang berlumuran cairan daging mentah, sedangkan Chloe membersihkan sisa-sisa di sekitar mulutnya. Tudung jaket keduanya diturunkan sehingga Rico bisa melihat sekilas perubahan ekspresi mereka dan rambut mereka yang berantakan. Rico tidak salah waktu mengatakan bahwa warna rambut si kembar terlihat aneh. Rambut mereka pirang dengan nuansa agak kehijauan di beberapa helai seolah-olah tersaput lumut atau seperti kucing sial yang susunan warna bulunya tidak karuan.
“Kebiasaan.”
“Heheheheh.”
“Heheheheh.”
Rico melirik ke arah Benny, mendapati anak itu nampak terganggu dengan pemandangan Nate dan Chloe yang menyantap daging sapi mentah, menggigit dan mengoyak dengan gigi-gigi tajam mereka.
“Itu ... daging mentah kan?” tanya Benny.
“Ya.”
“Benar.”
“Butuh satu untuk mengompres matamu? Heheheheheh.”
“Heheheheh.”
“Tidak boleh,” sela Rico. Ia menurunkan kotak obat dari salah satu lemari dapur. “Itu mitos. Lukanya bisa infeksi kena bakteri dari daging.”
“Heheheheh.”
“Ya, ya. Kami bercanda. Heheheheh.”
Nate dan Chloe melompat turun dari kursi masing-masing, menuju ke tempat cuci. Chloe membuka keran dan membiarkan Nate mencuci tangan terlebih dahulu. Rico sedang mengecek tanggal kadaluwarsa salah satu obat antiseptik di dalam kotak ketika Nate menyodorkan secarik serbet bersih yang telah dibasahi air kepada Benny.
“He?”
“Kompres.” Nate menunjuk mata Benny. “Dan jangan oleskan itu ke luka yang di dekat mulut.” Tangan Rico ditarik menjauh sebelum ujung kapas menyentuh sudut bibir Benny. “Gunakan untuk yang di pipi saja. Bersihkan luka yang di dekat mulut dengan air, dibilas saja cukup. Bagian dalam mulutmu mungkin luka, jadi berkumurlah dan sikat gigi.”
Baik Rico maupun Benny sama sekali tak sempat bereaksi pada ucapan panjang tersebut. Yang lebih mengherankan Rico, Nate bicara tanpa diselingi tawa terkekehnya yang biasa.
“Nate.”
Nate menoleh dan dengan sigap menangkap botol bening berisi cairan hijau kebiruan semi-transparan. Sambil berjalan ke arah bak cuci, Nate menenggak sedikit isi botol, dan berkumur. Chloe menghampiri meja di dekat Rico dan Benny, menaruh botol yang serupa hingga ke isi-isinya.
“Obat kumur. Dijamin tidak akan membuat mulutmu kering dan membunuh sebagian besar bakteri yang mungkin ada di mulut. Efektif mencegah sariawan.” Chloe menghentikan promosinya untuk merogoh ke bagian dalam jaketnya, mengeluarkan sehelai stiker yang dibukanya dengan susah payah lalu ditempelkannya ke badan botol. “Buatan sendiri. Memenuhi standar badan pengawas obat dan makanan internasional.”
“Heheheheh.”
“Heheheheh.”
Kedua sosok berjaket itu menaikkan tudung jaket masing-masing.
“Sampai ketemu besok.”
“Ta-ta.”
Pintu belakang yang tertutup memutus kekehan mereka.
Benny mengernyit. Anak lelaki itu menekankan serbet basah ke matanya yang memar, membiarkan Rico mengoleskan obat ke lecet di pipinya. “Sinting,” gerutunya.
“Aku juga berpikir begitu.” Rico menyetujui.
“Mereka cengar-cengir setiap saat.”
“Begitulah.”
“Dan kenapa sih mereka ketawa-ketawa? Memangnya ada yang lucu?”
“Kurasa tidak ada yang lucu.” Rico memastikan pekerjaannya sekali lagi, mencari-cari barangkali ada luka yang terlewatkan olehnya. “Mereka terkekeh-kekeh begitu setiap kali bicara. Kecuali waktu menjelaskan tentang obat dan perawatan luka tadi. Waktu bertemu pertama kali, kukira mereka el diablo.”
“El apa?”
“El diablo.” Rico merapikan kembali kotak obatnya. “Setan. Iblis.”
Benny tergelak kasar. “Kau percaya yang begituan ya?” Bocah itu menggeleng-geleng geli. “Mereka palingan junkie yang kebanyakan obat. Lihat saja bajunya. Cuma orang sinting yang pakai jaket dengan warna norak begitu. Bikin sakit mata saja.” Ia meraih botol berisi obat kumur dan membaca stiker label yang ditempelkan Chloe. Keningnya berkerut.
“Kenapa?” tanya Rico. “Kalau kau curiga itu obat apa, tidak usah dipakai. Nanti kubelikan obat kumur di apotek.”
“Ini ...” Benny mengulurkan botol pada Rico. “Ini alamatnya di sebelah flatku. Yang tadi kubilang ke Key kalau ada rumah meledak. Di sana. Blok dan nomor rumahnya yang itu.”
Rico mengambil botol yang diulurkan padanya.
Tulisan paling besar di stiker membentuk sebuah nama tempat:
APOTEK SALTMAN
Benny menjejakkan kaki, mendorong. Skateboard-nya kembali meluncur di sepanjang trotoar. Mumpung jalanan sepi, ia mencoba melakukan kickflip; percobaan pertama gagal, percobaan kedua berhasil.
Daerah Ventura tempat Benny tinggal bukan areal pemukiman terbaik yang ada di kota ini. Beberapa orang bahkan menyebut daerah ini sebagai “tempat tinggal para pecundang”. Kebanyakan penduduk daerah Ventura adalah orang-orang berpenghasilan menengah ke bawah, atau para imigran, atau—di daerah yang bahkan dihindari oleh dua jenis orang yang baru saja disebutkan—orang-orang bermasalah.
Benny membenci fakta ini, tapi ibunya termasuk jenis orang ketiga.
Skateboard Benny membawanya semakin dekat ke flat yang ditinggalinya bersama ibunya. Benny tidak ingin pulang. Matanya yang lebam masih terasa berdenyut.
Tapi kalau tidak pulang, dia mau ke mana?
Benny melompat dari skateboard dan mengepit papan beroda itu. Ia menuju ke tanah kosong di sebelah flat. Benny hanya tahu bahwa bangunan berlantai satu yang ada di sebelah flatnya adalah sebuah apotek dan ia tidak peduli detail lainnya selain nama apotek yang aneh. Setelah kebakaran hebat yang menghancurkan apotek tersebut, pihak pengelola daerah memutuskan untuk menghancurkan kerangka sisa bangunan supaya tidak mencelakakan siapapun. Hanya itu yang Benny tahu. Baru sekarang ini dia bertanya-tanya kenapa tidak ada bangunan baru didirikan di atas tanah kosong tersebut? Kenapa bahkan tidak ada gelandangan yang mampir dan mendirikan kemah-kemah seperti yang biasanya mereka lakukan di lahan kosong mana pun yang mereka temukan?
Kalau Apotek Saltman sudah musnah terbakar, kenapa mereka punya stikernya?
==bersambung==
Rico mengetahui nama beberapa anak yang sudah beberapa kali datang ke rumah ini: Key yang tinggal bersama ayahnya yang veteran perang di bawah jembatan, Lang si anak imigran gelap yang terpisah dari orang tuanya dan komunikasinya sangat tidak lancar karena kendala bahasa, Stan yang kabur dari panti asuhan, lalu Berkeley “Bark” yang satu mata dan separuh wajahnya rusak karena api.
Masih ada anak-anak lain yang namanya belum Rico hafal, sebagian besar adalah teman-teman Key yang tinggal di bawah jembatan. Mereka datang dan pergi sesukanya, kadang ada yang hanya sekali datang dan esoknya Key memberi tahu Rico bahwa anak itu pindah karena suatu hal. Anak-anak seperti mereka sangat mudah terkena masalah.
Rico terutama mengkhawatirkan satu orang. Anak paling tua yang paling rajin mampir ke shelter. Anak pertama yang dikenal Rico.
Namanya Benny. Umurnya dua belas tahun, terdaftar sebagai murid sekolah negeri yang ada di wilayah ini. Dia punya rumah—di sebuah flat di daerah Ventura—dan dia tinggal bersama ibunya yang kalau tidak sedang teler oleh obat dan minuman keras, pergi entah ke mana setelah mengunci pintu rumah hingga Benny tidak bisa masuk atau tidak bisa keluar rumah atau malah bertengkar dan memukuli Benny. Berbeda dengan anak-anak lain yang nampak kumal dengan pakaian tambal sulam mereka yang jarang dicuci, pakaian Benny terlihat lebih layak, meskipun lusuh. Benny selalu terlihat membawa-bawa skateboard.
Perkenalan pertama Rico dengan Benny tidak dapat dikatakan mulus.
Benny memiliki kecenderungan kasar. Kosakata makiannya setara dengan orang dewasa yang hobi menyumpah-nyumpah. Yang lebih merepotkan, Benny menolak dikasihani. Dia marah sekali waktu Rico—saat itu shelter ini belum ada dan Rico kebetulan tahu tentang Benny dari temannya yang juga suka bermain skateboard—membelikannya burger dan cola. Benny merampas kantong makanan itu dari tangan Rico, membuang isi gelas kertas ke tanaman di taman, dan melemparkan burgernya ke seekor anjing liar yang berkeliaran di sana. Rico jelas tersinggung dengan reaksi itu, tapi ia berhasil menahan diri.
Saat bertemu Benny untuk kedua kalinya, Rico mengabaikan hardikan galak dari Benny dan hanya menyebutkan alamat rumah yang kini menjadi shelter, mengatakan kalau Benny lapar dan sedang malas pulang, dia bisa mampir ke sana.
Benny akhirnya datang. Dia masih bersikap kasar dengan ucapannya mengenai masakan Rico (“Apaan sih ini? Minyaknya banyak sekali!” atau “Kulit ayam gorengmu kayak kertas ampelas.” dan masih banyak lagi), tapi perlahan-lahan ia terbuka pada Rico. Bahkan, Benny lah yang pertama kali membawa Key ke shelter.
Rico mengkhawatirkan Benny untuk banyak hal: sekolahnya, keluarganya, dan kemungkinan Benny terlibat dalam geng. Usia Benny sudah mencukupi untuk ikut serta dalam sebuah geng dan bukan tidak mungkin Benny memutuskan bahwa dengan tergabung di salah satunya, dia bisa hidup mandiri tanpa perlu takut pada siapapun.
“Ben?” tanya Rico, memandangi si anak yang masih mencoba-coba melakukan sebuah trik skateboard di halaman depan shelter sementara anak-anak lain telah masuk ke dalam.
“Apa?” sahut Benny ketus. “Dan jangan 'Ben', 'Ben', 'Ben' terus! Panggil yang lengkap 'Benny' memangnya susah ya?”
“Oke, oke. Benny?”
“Apa?” Benny mengangkat skateboard-nya.
“Mukamu kenapa?”
Mata dan pelipis kiri Benny lebam menghitam. Luka berdarah menghiasi sudut bibirnya. Guratan yang seperti bekas cakaran yang telah mengering terlihat di pipi kanan anak lelaki itu.
“Bukan urusanmu,” ujar Benny dingin. “Aku lapar. Hari ini makan apa?”
Rico menghela napas. “Chimichangas.”
“Apaan tuh? Kayak nama kadal atau serangga. Kalau menjijikkan dan tidak enak pokoknya aku tidak mau makan.”
“Nanti kau yang tentukan sendiri enak tidaknya. Ayo masuk,” ajak Rico. “Dan ikut denganku ke dapur. Bantu aku membawa makanannya ke ruang makan.”
“Oke, Nek.”
Di ruang makan, Key sedang bercerita dengan heboh pada Stan dan Bark tentang pabrik kembang api yang meledak, yang terjadinya di negara lain, dan yang diketahui Key dari salah satu berita koran entah kapan yang dibacanya saat membantu petugas daur ulang kertas menyortir koran-koran bekas.
“Halah, cuma begitu saja,” celetuk Benny. “Dua bulan lalu ada rumah meledak dan terbakar di samping flatku. Aku hampir kehilangan tempat tinggal gara-gara itu.”
“Bohong!” tukas Key cepat, tapi matanya melebar dengan ketakjuban. “Masa meledaknya sedekat itu? Masa rumah biasa bisa meledak?”
Benny mengangkat bahu. “Serius. Tempat itu meledak. Kalau tidak percaya, lihat saja sendiri ke daerah Ventura. Masih ada sisanya sampai sekarang.”
“Oh, aku tahu daerah itu ...” Bark bergumam.
Sementara Stan dan Key menginterogasi Bark lebih lanjut mengenai daerah yang disebut-sebut Benny, Rico menarik si anak yang lebih besar ke dapur.
“Heh. Kau memungut anak-anak baru?”
Rico baru ingat kalau selama ini tak satu pun dari anak-anak yang datang kemari pernah melihat Nate maupun Chloe. Anak-anak—seolah dapur adalah tempat berbahaya—tidak mendekati dapur yang pintunya tertutup. Terakhir kali, Nate dan Chloe pergi setelah menyelesaikan pekerjaan mereka dan mengambil jatah makanan milik mereka, hanya untuk kembali menemui Rico di tempat pertama mereka bertemu keesokan harinya.
“Tam—“
“Selamat da—“
Nate dan Chloe menggumamkan sesuatu pada yang lainnya setelah dua kali ucapan yang tidak selesai. Terlihat agak salah tingkah, Nate mulai menjilati ujung-ujung jarinya yang berlumuran cairan daging mentah, sedangkan Chloe membersihkan sisa-sisa di sekitar mulutnya. Tudung jaket keduanya diturunkan sehingga Rico bisa melihat sekilas perubahan ekspresi mereka dan rambut mereka yang berantakan. Rico tidak salah waktu mengatakan bahwa warna rambut si kembar terlihat aneh. Rambut mereka pirang dengan nuansa agak kehijauan di beberapa helai seolah-olah tersaput lumut atau seperti kucing sial yang susunan warna bulunya tidak karuan.
“Kebiasaan.”
“Heheheheh.”
“Heheheheh.”
Rico melirik ke arah Benny, mendapati anak itu nampak terganggu dengan pemandangan Nate dan Chloe yang menyantap daging sapi mentah, menggigit dan mengoyak dengan gigi-gigi tajam mereka.
“Itu ... daging mentah kan?” tanya Benny.
“Ya.”
“Benar.”
“Butuh satu untuk mengompres matamu? Heheheheheh.”
“Heheheheh.”
“Tidak boleh,” sela Rico. Ia menurunkan kotak obat dari salah satu lemari dapur. “Itu mitos. Lukanya bisa infeksi kena bakteri dari daging.”
“Heheheheh.”
“Ya, ya. Kami bercanda. Heheheheh.”
Nate dan Chloe melompat turun dari kursi masing-masing, menuju ke tempat cuci. Chloe membuka keran dan membiarkan Nate mencuci tangan terlebih dahulu. Rico sedang mengecek tanggal kadaluwarsa salah satu obat antiseptik di dalam kotak ketika Nate menyodorkan secarik serbet bersih yang telah dibasahi air kepada Benny.
“He?”
“Kompres.” Nate menunjuk mata Benny. “Dan jangan oleskan itu ke luka yang di dekat mulut.” Tangan Rico ditarik menjauh sebelum ujung kapas menyentuh sudut bibir Benny. “Gunakan untuk yang di pipi saja. Bersihkan luka yang di dekat mulut dengan air, dibilas saja cukup. Bagian dalam mulutmu mungkin luka, jadi berkumurlah dan sikat gigi.”
Baik Rico maupun Benny sama sekali tak sempat bereaksi pada ucapan panjang tersebut. Yang lebih mengherankan Rico, Nate bicara tanpa diselingi tawa terkekehnya yang biasa.
“Nate.”
Nate menoleh dan dengan sigap menangkap botol bening berisi cairan hijau kebiruan semi-transparan. Sambil berjalan ke arah bak cuci, Nate menenggak sedikit isi botol, dan berkumur. Chloe menghampiri meja di dekat Rico dan Benny, menaruh botol yang serupa hingga ke isi-isinya.
“Obat kumur. Dijamin tidak akan membuat mulutmu kering dan membunuh sebagian besar bakteri yang mungkin ada di mulut. Efektif mencegah sariawan.” Chloe menghentikan promosinya untuk merogoh ke bagian dalam jaketnya, mengeluarkan sehelai stiker yang dibukanya dengan susah payah lalu ditempelkannya ke badan botol. “Buatan sendiri. Memenuhi standar badan pengawas obat dan makanan internasional.”
“Heheheheh.”
“Heheheheh.”
Kedua sosok berjaket itu menaikkan tudung jaket masing-masing.
“Sampai ketemu besok.”
“Ta-ta.”
Pintu belakang yang tertutup memutus kekehan mereka.
Benny mengernyit. Anak lelaki itu menekankan serbet basah ke matanya yang memar, membiarkan Rico mengoleskan obat ke lecet di pipinya. “Sinting,” gerutunya.
“Aku juga berpikir begitu.” Rico menyetujui.
“Mereka cengar-cengir setiap saat.”
“Begitulah.”
“Dan kenapa sih mereka ketawa-ketawa? Memangnya ada yang lucu?”
“Kurasa tidak ada yang lucu.” Rico memastikan pekerjaannya sekali lagi, mencari-cari barangkali ada luka yang terlewatkan olehnya. “Mereka terkekeh-kekeh begitu setiap kali bicara. Kecuali waktu menjelaskan tentang obat dan perawatan luka tadi. Waktu bertemu pertama kali, kukira mereka el diablo.”
“El apa?”
“El diablo.” Rico merapikan kembali kotak obatnya. “Setan. Iblis.”
Benny tergelak kasar. “Kau percaya yang begituan ya?” Bocah itu menggeleng-geleng geli. “Mereka palingan junkie yang kebanyakan obat. Lihat saja bajunya. Cuma orang sinting yang pakai jaket dengan warna norak begitu. Bikin sakit mata saja.” Ia meraih botol berisi obat kumur dan membaca stiker label yang ditempelkan Chloe. Keningnya berkerut.
“Kenapa?” tanya Rico. “Kalau kau curiga itu obat apa, tidak usah dipakai. Nanti kubelikan obat kumur di apotek.”
“Ini ...” Benny mengulurkan botol pada Rico. “Ini alamatnya di sebelah flatku. Yang tadi kubilang ke Key kalau ada rumah meledak. Di sana. Blok dan nomor rumahnya yang itu.”
Rico mengambil botol yang diulurkan padanya.
Tulisan paling besar di stiker membentuk sebuah nama tempat:
APOTEK SALTMAN
Benny menjejakkan kaki, mendorong. Skateboard-nya kembali meluncur di sepanjang trotoar. Mumpung jalanan sepi, ia mencoba melakukan kickflip; percobaan pertama gagal, percobaan kedua berhasil.
Daerah Ventura tempat Benny tinggal bukan areal pemukiman terbaik yang ada di kota ini. Beberapa orang bahkan menyebut daerah ini sebagai “tempat tinggal para pecundang”. Kebanyakan penduduk daerah Ventura adalah orang-orang berpenghasilan menengah ke bawah, atau para imigran, atau—di daerah yang bahkan dihindari oleh dua jenis orang yang baru saja disebutkan—orang-orang bermasalah.
Benny membenci fakta ini, tapi ibunya termasuk jenis orang ketiga.
Skateboard Benny membawanya semakin dekat ke flat yang ditinggalinya bersama ibunya. Benny tidak ingin pulang. Matanya yang lebam masih terasa berdenyut.
Tapi kalau tidak pulang, dia mau ke mana?
Benny melompat dari skateboard dan mengepit papan beroda itu. Ia menuju ke tanah kosong di sebelah flat. Benny hanya tahu bahwa bangunan berlantai satu yang ada di sebelah flatnya adalah sebuah apotek dan ia tidak peduli detail lainnya selain nama apotek yang aneh. Setelah kebakaran hebat yang menghancurkan apotek tersebut, pihak pengelola daerah memutuskan untuk menghancurkan kerangka sisa bangunan supaya tidak mencelakakan siapapun. Hanya itu yang Benny tahu. Baru sekarang ini dia bertanya-tanya kenapa tidak ada bangunan baru didirikan di atas tanah kosong tersebut? Kenapa bahkan tidak ada gelandangan yang mampir dan mendirikan kemah-kemah seperti yang biasanya mereka lakukan di lahan kosong mana pun yang mereka temukan?
Kalau Apotek Saltman sudah musnah terbakar, kenapa mereka punya stikernya?
==bersambung==
Komentar