[NaCl] 7: Shelter - pt 1


Enrique, atau biasanya dipanggil Rico, menghentikan langkahnya di tengah-tengah gang yang biasa dilaluinya setiap kali selesai berbelanja bahan-bahan untuk makan malam. Pemuda berkulit kecokelatan itu memandangi kedua sosok di hadapannya dengan tidak yakin.

Kedua anak yang tengah diperhatikan oleh Rico sepertinya masih berusia belasan tahun—usia sekolah, mungkin sekitar dua belas atau tiga belas tahun. Keduanya mengenakan jaket bertudung, yang perempuan mengenakan jaket berwarna hijau, sementara yang laki-laki mengenakan jaket berwarna biru. Anak-anak itu tidur dalam posisi duduk bersila, bersandar di tembok gang; yang perempuan menyandarkan kepala ke bahu yang laki-laki.

Mereka kelihatan seperti anak-anak pada umumnya. Rico sudah pernah melihat anak jalanan lain yang kondisinya lebih parah dari dua anak ini: yang matanya infeksi dan terancam buta, yang babak belur digebuki karena mencuri, dan lain sebagainya. Dua anak ini termasuk sangat normal untuk ukuran anak jalanan versi Rico. Kulit mereka agak pucat, ada lingkaran gelap samar di bawah mata, dan warna rambut mereka nampak aneh (Mungkin efek cahaya lampu dan bayangan, pikir Rico.), tapi selebihnya mereka terlihat ... normal.

"Hm."

Tepat pada saat Rico nyaris memutuskan bahwa kedua bocah yang tertidur itu hanyalah anak-anak biasa, ia menemukan apa yang mengganjal tentang keduanya. Si jaket biru, yang laki-laki, tidur dengan mulut sedikit terbuka dan kepala agak mendongak hingga Rico bisa melihat dengan jelas deretan gigi-gigi tajam di dalam mulut si anak laki-laki. Tidak ada gigi seri seperti manusia normal, semuanya terlihat seperti gigi taring manusia, dan itu bukan karena gigi si anak laki-laki patah atau pecah. Giginya memang seperti itu.

El diablo?

Merinding sendiri dengan pemikiran yang terlintas dalam benaknya, tangan Rico otomatis bergerak ke dadanya, menyentuh untaian kalung doa di balik kaosnya.

Si anak perempuan membuka mata. Matanya berwarna hijau dan nampak berkilat dalam keremangan gang, mengingatkan Rico pada mata kucing, hanya saja warna hijaunya lebih ... asam. Entah bagaimana tepatnya menjelaskan warna hijaunya, tapi Rico teringat pada sesuatu yang asam kalau melihat warna hijau seperti itu.

Si anak perempuan mengendus udara. "Daging," gumamnya kemudian. Ia terdengar seperti mengigau.

Salah satu bahan makan malam yang dibeli Rico adalah daging sapi.

"Mana?" Si anak laki-laki menyahut, masih setengah sadar.

Lalu kedua anak itu menyadari keberadaan Rico.

Dan Rico menyadari sepasang borgol di tangan kedua sosok berjaket itu.

Daftar kejanggalan dari anak-anak berjaket di hadapan Rico semakin bertambah.


Hari ini adalah hari ketiga semenjak Rico “memungut” dua bocah berjaket yang aneh itu. Atau lebih tepatnya lagi, Rico terpaksa membiarkan keduanya tinggal di rumah yang dijadikannya sebagai shelter untuk anak-anak jalanan. Nate—si jaket biru—dan Chloe—si jaket hijau—membujuk Rico untuk memberikan daging yang ada di kantong belanjanya. Sebagai gantinya, mereka berdua akan bekerja untuk Rico, minimal memasakkan makan malam.

Rico memperhatikan lekat-lekat kedua sosok berjaket yang tengah bekerja di dapur, berusaha sebisa mungkin tak mengalihkan perhatian dari mereka.

Nate dan Chloe adalah duo—mereka mengaku kalau mereka “kembar”—yang aneh. Mereka berbicara diselingi tawa-tawa rendah tidak pada tempatnya atau menampakkan seringai kepada lawan bicaranya, seperti orang teler. Anehnya, ucapan mereka rasional dan jelas sekali dilakukan secara sadar. Dengan dugaan yang berubah dari awalnya el diablo lalu menjadi dugaan bahwa si kembar adalah pecandu narkoba, Rico mengawasi mereka seketat yang bisa dilakukannya. Rico tidak ingin bocah-bocah aneh itu memasukkan sesuatu ke dalam makanan anak-anak.

Anak-anak ...

Mungkin sebagian orang menganggapnya aneh, tapi Rico sudah setahun terakhir ini menyisihkan sebagian gajinya untuk memberi makan anak-anak jalanan yang hidup di sekitar sini. Rumah yang dijadikannya sebagai shelter adalah warisan dari kakeknya yang bertahun-tahun tak terurus. Rico sendiri tidak punya saudara. Maksudnya, Rico bahkan tidak tahu apakah dia punya saudara. Dia diadopsi sejak bayi dan sampai sekarang Rico tidak pernah tahu siapa orang tuanya. Orang tua angkatnyatidak menentang sewaktu Rico mengutarakan rencananya menyediakan makanan gratis untuk anak-anak jalanan.

"Jangan coba-coba memasukkan barang-barang aneh ke dalam masakan," geram Rico entah untuk keberapa kalinya pada Nate dan Chloe. Meskipun anak-anak jalanan itu bukan saudara Rico, pemuda itu tetap bertanggung jawab memastikan makanan mereka bebas dari campuran tambahan terlarang.

"Heh, heh. Tidak akan."

"Kenapa kau curiga sekali pada kami?"

"Memangnya kami semencurigakan itu?"

"Kami sudah bilang tidak akan ada obat apapun yang kami masukkan. Eheheh.”

"Penyedap rasa pun tidak."

"Heheheheh."

“Heheheheh.”

Nate dan Chloe bekerja dengan terampil. Mereka, seperti yang dua kali disaksikan Rico, biasanya mengeluarkan seluruh barang belanjaan di meja dapur, lalu setelah sepakat dengan pembagian tugas, keduanya mulai bekerja. Nate dan Chloe selalu melepaskan sarung tangan mereka, menyimpannya ke saku jaket masing-masing, tapi mereka tidak pernah melepaskan borgolnya. Hebatnya, borgol tersebut sepertinya tak menghalangi gerak Nate maupun Chloe.

(Tidak hanya soal borgol, Rico sebenarnya antara ngeri sekaligus takjub melihat kecepatan Nate dan Chloe memotong bahan-bahan masakan menjadi potongan kecil-kecil dan mengupas kentang rebus yang masih mengepulkan uap tanpa sedikit pun terlihat kepanasan.)

Kemarin, Nate dan Chloe melahap habis daging yang dibeli Rico—mentah-mentah—dan membuat Rico kebingungan karena tidak tahu bagaimana ia memasak sesuatu yang menggunakan daging sebagai salah satu bahan utamanya tanpa bahan utama itu sendiri. Nate dan Chloe mengakali kekurangan itu dengan membuat daging tiruan yang terbuat dari tepung dan air. Setelah Rico memarahi keduanya, mereka tidak menghabiskan daging lagi begitu belanjaan dibongkar. Nate dan Chloe hanya memakan seiris kecil sesaat sebelum memotong-motong daging. Itu pun setelah tawar menawar yang sengit serta alot dengan Rico.

“Kalian tahu masakan untuk hari ini?” tanya Rico, penasaran apakah si kembar tahu.

Chimichangas. Heheheheh.”

“Eheheheh, ada resepnya di tasmu tadi.”

Rico mengangkat alis. “Kalian sudah pernah makan chimichangas?”

“Belum.”

Nate mengambil sendok, memutarnya sedemikian rupa dengan jarinya, lalu menyorongkannya kepada Rico dengan gagang sendok mengarah ke si pemuda. Rico mengambil sendok itu.

“Boleh dicoba. Silakan.” Nate terkekeh pelan saat menyodorkan mangkuk berisi racikan bumbu.

Rico mengambil sedikit bumbu dan mencicipinya.

“Heheheheh. Persis seperti di apotek dulu.” Chloe menyisihkan potongan sayur ke dalam wadah plastik. “Biasanya kami juga membolehkan klien mencoba satu-dua butir obat sebelum transaksi yang sesungguhnya.”

“Obat?” selidik Rico curiga. Rasa bumbu yang dibuat Nate sempurna. “Obat apa?”

“Macam-macam. Obat untuk mempercepat penyembuhan luka, obat untuk mengatur mimpi, obat untuk memulihkan otot dan syaraf yang rusak, obat yang bisa membuat orang melihat dalam gelap.”

“Klien-klien terakhir kami meminta obat yang membuatnya bisa tidak tidur selama dua puluh jam—bisa lebih, tergantung dosis. Ada juga yang minta obat untuk mengoptimalkan performa otak seratus persen.”

“Heheheheh.”

“Heheheheh.”

“Sejenis ... doping?” tanya Rico kebingungan. Efek dari obat-obatan yang disebutkan Nate dan Chloe terlalu ... imajinatif dan tidak masuk akal. Kalau memang ada obat yang bisa membuat orang melihat dalam gelap, teknologi kacamata infra merah bisa bangkrut kan? Atau kalau ada obat untuk memulihkan syaraf, yang barangkali bisa menyembuhkan orang gila, rumah sakit jiwa tidak lagi dibutuhkan?

“Tidak sepenuhnya benar, tapi, ya, bisa saja disebut begitu.”

“Yang pasti kau tidak akan pernah menemukannya di apotek lain selain apotek kami.”

Keduanya tertawa pelan di ujung kalimat.

“Di mana memangnya apotek kalian?” tanya Rico lagi.

Nate menyalakan kompor, sementara Chloe membuka kantong tepung dengan pisau.

“Itulah yang sedang kami cari,” kata Nate seraya meletakkan penggorengan di atas nyala api. “Apotek kami diledakkan seseorang dan ruang bawah tanahnya lepas entah di mana sekarang.”

“Ayah ada di ruang bawah tanah,” sambung Chloe, menakar tepung di dalam mangkuk. “Makanya kami harus menemukannya. Kami harus menemukan Ayah.”

Rico tidak dapat membayangkan ruang bawah tanah bagaimana yang bisa “lepas”. Memangnya ruang bawah tanah itu sejenis mobil trailer yang bisa dihubungkan ke mobil lalu ditarik pindah tempat?

Mengabaikan perasaan bahwa cerita si kembar semakin sulit dipercaya, Rico mengomentari, “Kalian mencari ayah kalian tanpa persiapan sama sekali sepertinya.”

“Yah ...”

“Heheheheh.”

“Heheheheh.”

Mungkin, pikir Rico, aku terlalu curiga pada mereka. Mereka aneh, tapi tidak jahat. Terlalu baik untuk el diablo.

Kira-kira lima menit kemudian, Nate dan Chloe telah menyelesaikan sebagian besar pekerjaan mereka.

Dan mereka jago memasak. Rico menambahkan dalam hati.

==bersambung==

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Simple Notes: Fiction Junction (Character Part 1: Classification)

[Resensi] Valharald