[Resensi] Taiko

Bagaimana jika seekor burung tak mau berkicau?
Nobunaga menjawab, "Bunuh saja."
Hideyoshi menjawab, "Buat burung itu ingin berkicau."
Ieyasu menjawab, "Tunggu."
Judul: Taiko
Pengarang: Eiji Yoshikawa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 130.000,-
Jumlah halaman: 1152
Dalam pergolakan menjelang dekade abad keenam belas, Kekaisaran Jepang menggeliat dalam kekacaubalauan ketika keshogunan tercerai berai dan panglima-panglima perang musuh berusaha merebut kemenangan. Benteng-benteng dirusak, desa-desa dijarah, ladang-ladang dibakar.
Di tengah-tengah penghancuran ini, muncul tiga orang yang bercita-cita mempersatukan bangsa. Nobunaga yang ekstrem, penuh karisma, namun brutal; Ieyasu yang tenang, berhati-hati, bijaksana, berani di medan perang, dan dewasa. Namun kunci dari tiga serangkai ini adalah Hideyoshi, si kurus berwajah monyet yang secara tak terduga menjadi juru selamat bagi negeri porak poranda ini. Ia lahir sebagai anak petani, menghadapi dunia tanpa bekal apa pun, namun kecerdasannya berhasil mengubah pelayan-pelayan yang ragu-ragu menjadi setia, saingan menjadi teman, dan musuh menjadi sekutu. Pengertiannya yang mendalam terhadap sifat dasar manusia telah membuka kunci pintu-pintu gerbang benteng, membuka pikiran orang-orang, dan memikat hati para wanita. Dari seorang pembawa sandal, ia akhirnya menjadi Taiko, penguasa mutlak Kekaisaran Jepang.
Saya sebenarnya tidak terlalu fanatik pada cerita peperangan. Kelihatannya sih ini karena pengaruh logika Sam Kok = cerita perang = rumit, tapi entah kenapa begitu melihat Taiko di toko buku, membaca sinopsisnya (kira-kira empat tahun lalu) saya langsung tertarik untuk membelinya, meskipun tebalnya melebihi tebal satu buku Harry Potter dan setelah dibaca, tulisannya lebih kecil dan lebih rapat.
Pertama kali baca, kesan tulisannya langsung terasa. Simpel, jelas, tidak terlalu mendetail dalam hal deskripsi, tapi sangat enak dibaca dan diikuti. (Setelah saya membaca beberapa novel Jepang lain, kemungkinan itulah ciri khas novel-novel dari sana: terasa tenang)
Ceritanya sendiri berkisar di antara pengkhianatan, adu strategi, dan penuh kekerasan perang, tapi taraf kekerasannya sendiri tidak mencapai tahap semacam manga Koroshiya Ichi (kenapa juga novel dibandingkan dengan manga???). Kekerasan di sini terlihat, tapi dalam taraf wajar dan bahkan cenderung agak tersamar karena fokus utama cerita berada di antara petinggi perang yang kebanyakan tidak ikut turun berperang karena mereka mengutamakan strategi.
Bagian paling menarik di dalam novel adalah saat Hideyoshi (saat itu namanya Kinoshita, Hideyoshi sempat berubah nama sebanyak tiga kali menurut novel ini) berhasil membangun sebuah benteng dalam waktu tiga hari! Caranya menghadapi dan meyakinkan para pekerja yang dihasut oleh seseorang untuk bekerja malas-malasan, benar-benar jitu dan luar biasa. Dan sepanjang sisa novel ini, masih ada lagi berbagai taktik yang dilakukan Hideyoshi saat menghadapi masalah.
Skor: 8,5 / 10
Komentar
*kabur*