[Resensi] The Amber Spyglass


Judul: The Amber Spyglass
Pengarang: Philip Pullman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 67.500,-
Jumlah hlm: 624

Will adalah si pembawa pisau. Sekarang, didampingi para malaikat, ia bertugas mengantarkan senjata yang dahsyat dan berbahaya itu kepada Lord Asriel---sesuai perintah ayahnya ketika menjelang ajal.

Tapi bagaimana ia bisa mencari Lord Asriel, ketika Lyra hilang? Padahal hanya dengan bantuan gadis itu ia dapat memahami berbagai intrik yang mengepungnya.

Dua kekuatan besar dari banyak dunia bersiap-siap perang, dan Will harus menemukan Lyra, sebab mereka dalam perjalanan menuju pertempuran, perjalanan tak terelakkan yang bahkan akan membawa mereka ke dunia kematian...




Buku terakhir dari trilogi His Dark Materials! Satu hal yang saya senang adalah kata “trilogi” yang dikatakan si pengarang bukan mengarah ke “trilogi bohongan” yang katanya ada tiga gak tahunya ada empat ato lebih kalo mau tuntas-tas-tas. (plg gak suka ama jenis itu) Dan—wow—harus saya akui The Amber Spyglass adalah pamungkas untuk trilogi ini!

Di buku ketiga ini rencana peperangan melawan Otoritas (benar sekali! Otoritas dengan “o” huruf kapital! Kalian tahu siapa maksudnya. :D) dijabarkan lebih lanjut. Karakter bernama Lord Asriel yang sejak buku pertama dan kedua kelihatan timbul tenggelam lebih diekspos lagi. Siapa yang menyangka dua orang yang di dua buku sebelumnya terkesan sebagai antagonis (Lord Asriel dan istrinya, Mrs Coulter) akhirnya berperan besar dalam perang tersebut. (tidak akan saya beberkan di sini) Satu-satunya hal yang membuat saya agak bertanya-tanya adalah kenapa daemon Mrs Coulter tidak pernah disebut namanya dan jarang diceritakan tengah berbicara dengan Mrs Coulter. Daemon milik Lord Asriel saja akhirnya diketahui bernama Stelmaria (nama yang bagus :D) dan lebih sering berbicara ketimbang “si monyet emas” milik Mrs Coulter. Jangan-jangan pengarangnya sudah kehabisan ide untuk nama?

Untuk karakteristik, sebenarnya masih terasa adanya banyak kejanggalan dalam buku terakhir trilogi ini. Kadang karakteristik berubah secara membingungkan, seperti misalnya sikap Lord Asriel terhadap putrinya, awalnya seperti menganggap anak itu tidak ada apa-apanya dan cenderung menyusahkan, kemudian berubah secara drastis menjadi membanggakan anak tersebut setelah suatu kejadian besar. (saya tahu hal tersebut mungkin terjadi, tapi semuanya tahu mengubah persepsi seseorang dengan sebuah kejadian adalah hal yang sukar, benar?) Sisanya, hampir sebagian besar karakter novel ini mengalami perubahan karakteristik setelah berbagai kejadian dan rata-rata terkesan alami.

Masih tentang karakter, entah merupakan kelemahan atau memang harus begitu, ada banyak karakter yang perannya besar namun hanya muncul dalam waktu singkat. Satu berperan besar dalam membangunkan pemeran utama dari tidur panjang akibat obat, satu berperan sebagai penyelamat kedua pemeran utama. Untuk karakter pertama, kemunculannya dan interaksi dengan karakter lain porsinya cukup banyak, tapi untuk karakter kedua... dia muncul di awal cerita, kemudian menghilang dan muncul lagi menjelang akhir buku sebelum akhirnya lenyap sama sekali (bukan manusia sih, jadi “lenyap” sebutnya bukan “mati”) . Hmm, apakah ini taktik pengarang untuk mengamankan pemeran utamanya?

Satu hal yang sedikit berbeda dengan plot “nobody that become somebody to save everybody” yang biasanya berkaitan dengan “takdir” dan “ramalan”, The Amber Spyglass menerapkan resep yang sedikit berbeda. Kedua pemeran utama (Lyra dan Will, lupa sebut dari tadi) seolah-olah digerakkan oleh kebutuhan dan keputusan pribadi mereka dan tanpa mereka sadari sepenuhnya, mereka telah melakukan perubahan besar yang berpengaruh. Lyra, terutama, telah mengetahui ramalan mengenai dirinya, namun ia tidak sepenuhnya mengerti dan di sepanjang cerita berbuat “egois” sesuka hatinya, seperti mencari temannya yang telah tewas hingga ke dunia tempat orang mati. Will tidak jauh berbeda. Ia (memaksa) mencari Lyra yang diculik di buku sebelumnya dan kemudian begitu saja menyertai Lyra pergi ke dunia tempat orang mati berada. Saat berada di sana, mengetahui situasi dan keadaan di sana, mereka membuat keputusan lain lagi (dengan sedikit konsultasi dengan alat bernama alethiometer milik Lyra) dan setelahnya mereka mencari daemon masing-masing yang terpisahkan saat memasuki dunia orang mati. Di sepanjang cerita, mereka mungkin hanya tahu mengenai perang dari karakter lain yang menyertai mereka tanpa pernah sedikit pun berinisiatif untuk terlibat. (masuk akal, anak seumuran mereka mana mungkin berinisiatif terlibat perang?) Ini resep yang berbeda dari plot dengan karakter utama “berkesadaran wajib militer”. :D

Satu hal paling luar biasa dalam cerita ini adalah inti utama cerita. Banyak beredar omongan bahwa trilogi ini menjerumuskan orang pada atheisme. Saya tidak akan menyangkalnya, tapi jika mengesampingkan hal itu sebentar saja, harusnya pembaca yang baik dapat menemukan sisi lain selain sekedar “kampanye atheisme” (yang kalau tidak salah juga disangkal oleh pengarangnya sendiri). Saat baru membaca setengah buku ini, saya sempat memikirkan sebuah pertanyaan “apa yang akan dilakukan orang seandainya apa yang selama ini ia percayai sebagai sesuatu yang benar dan mutlak ternyata tidak benar?”. Itu pertanyaan yang cukup menarik. :D (hei! Bukan berarti saya sudah jadi atheis karena terpengaruh buku ini!!! NO!) Dan menurut pendapat saya, wejangan dalam buku ini bukanlah “lawan apa yang salah”, tapi lebih cenderung ke “jalani kehidupanmu sepenuhnya” (ada versi bhs Inggrisnya yg lbh keren, tapi gw lupa dan daripada salah lebih baik tidak mencoba mem-bahasainggris-kannya :D). Setiap orang punya kehidupan, dalam kehidupan itu, lakukan sesuatu, buatlah keputusan, dan jangan menyesal saat kehidupan berakhir. Saya menangkap pesan tersebut dalam buku ini (selain masalah atheis yang diributkan orang...) dan menurut saya itu pesan yang disisipkan dengan bagus oleh sang pengarang dalam karyanya ini.

Satu hal yang agak membuat saya mengernyitkan kening saat membaca buku ini adalah kisah cinta Lyra-Will. Memang dipadatkan di akhir buku, tapi kadarnya... kadarnya setara dengan kisah cinta di novel Twilight yang disebar di sepanjang cerita. Saya jenis orang yang tidak menolerir porsi kisah cinta sebanyak itu, mungkin berbeda untuk pembaca yang lain. Tapi harus saya akui, kisah cinta yang disisipkan di saat-saat akhir buku ini cukup romantis. :D

Skor: 8 / 10

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Simple Notes: Fiction Junction (Character Part 1: Classification)

[Resensi] Valharald