[Resensi] Musashi


Judul: Musashi
Pengarang: Eiji Yoshikawa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 155.000,-
Jumlah hlm: 1248

Miyamoto Musashi adalah anak desa yang bercita-cita menjadi samurai sejati. Di tahun 1600 yang penuh pergolakan itu, ia menceburkan diri ke dalam Pertempuran Sekigahara, tanpa menyadari betul apa yang diperbuatnya. Setelah pertempuran berakhir, ia mendapati dirinya terbaring kalah dan terluka di tengah ribuan mayat yang bergelimpangan.

Dalam perjalanan pulang, ia melakukan tindakan gegabah yang membuatnya menjadi buronan hingga seorang pendeta Zen berhasil menaklukkannya. Otsu, gadis cantik yang mengaguminya, membebaskan Musashi dari hukumannya, tapi Musashi kembali tertangkap. Selama tiga tahun ia mesti menjalani kehidupan mengasingkan diri, dan masa-masa itu dipergunakannya untuk menyelami karya-karya klasik Jepang dan Cina.

Setelah bebas kembali, ia menolak diberi jabatan sebagai samurai. Selama beberapa tahun berikutnya, ia mengejar cita-citanya dengan tekad penuh mengukuti Jalan Pedang, dan menjadi samurai sejati. Lambat laun ia mengerti bahwa mengikuti Jalan Pedang bukan sekedar mencari sasaran untuk mencoba kekuatannya. Ia terus mengasah kemampuan, belajar dari alam dan mendisiplinkan diri untuk menjadi manusia sejati. Ia menjadi pahlawan yang tidak mau menonjolkan diri bagi orang-orang yang hidupnya telah ia sentuh atau telah menyentuh dirinya. Ujian puncak baginya adalah ketika ia harus bertarung melawan Sasaki Kojiro, saingan terberatnya yang masih muda dan sangat tangguh. Mereka akan mengadu kemampuan, dan Musashi ingin membuktikan bahwa kekuatan dan keterampilan bukan satu-satunya yang bisa diandalkan untuk menentukan kemenangan.




Semenjak puas dengan Taiko karangan Eiji Yoshikawa, saya mulai melirik karyanya yang satu lagi ini, Musashi. Buku dengan tampilan fisik kira2 sama dengan Taiko ini (bahkan sebenarnya lebih tebal) butuh waktu lebih lama dari perkiraan hingga akhirnya terbeli di Pasar Buku Palasari, Bandung. Ini karena masalah dana sebenarnya...

Oke, langsung saja dimulai pembahasan isinya.

Pertama kali membuka buku, setengah sadar saya melihat siapa penerjemahnya. Murni setengah sadar lho. Lalu untuk pertama kalinya dalam membaca novel saya mendapati di sana tertulis “Tim Penerjemah Kompas”. Wow, “tim”??? Menarik, menarik, pikir saya.

Kemudian, ada semacam kata pengantar. Satu hal lagi yang tidak biasa dari sekian banyak novel yang bertengger di lemari saya. Penasaran, saya baca juga kata pengantarnya.

Dari kata pengantar itulah saya akhirnya tahu bahwa dulunya novel Musashi ini pernah dimuat sebagai cerita bersambung di harian Kompas. Jujur, agak ngeri membayangkan buku setebal ini dimuat di koran! Berapa lama yah sampe tamat? :D

Kemudian, ada informasi lain bahwa novel Musashi ini awalnya memiliki tebal 35000 halaman! Ini jelas fakta yang kelewat mengerikan! 35000 halaman! Lalu ada proses peringkasan hingga menjadi 1200+ halaman. (kerja keras pihak yg meringkas nih) Hal inilah yang membuat saya maklum apabila rentang waktu semua kejadian di dalam novel terasa cepat berlalu.

(masih mikir... 35000 halaman itu... apa karena pake tulisan Jepang yang pake kuas itu dan nulisnya gak bolak balik yah? Kalo iya sih masih agak wajar)

Satu hal yang baru saya sadari, ketiga novel Jepang saya (maksudnya, ditulis oleh pengarang Jepang) ternyata mengalami dua kali proses penerjemahan. Dari bahasa Jepang diterjemahkan menjadi bahasa Inggris, baru kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Sama halnya dengan novel Musashi ini. Ternyata novel yang sudah berbahasa Indonesia ini hasil terjemahan dari versi bahasa Inggris. Ya, tidak apa-apalah, yang penting ceritanya sama kan?

Secara garis besar, isi dari novel ini terfokus pada perjalanan hidup Musashi, sama seperti yang tersirat dari judulnya. Tapi, mengimbangi banyaknya porsi Miyamoto Musashi, tokoh2 lain yang berkaitan dengannya juga diceritakan. Dari banyaknya penceritaan yang dilakukan, pembaca dikenalkan lebih jauh pada sifat2 karakter lainnya dan juga perasaan serta keterkaitan mereka dengan sang tokoh utama. Nyaris tak terasa adanya pemeran figuran dalam novel ini karena pemberian porsi cerita yang cukup besar kepada tokoh2 lain selain sang protagonis.

Meskipun saya menyukai cara penulis mempertahankan karakter2nya agar tidak tenggelam oleh “aura” pemeran utama, ada resiko strategi menceritakan karakter2 lain scr mendalam ini dapat membuat pembaca jadi tidak fokus pada pemeran utama dan mgkn melupakan nama2 yang banyak terdapat di dlm novel ini (suatu hal yang tidak terjadi terlalu parah pada saya).

Kemudian... satu hal yang menurut saya cukup fatal adalah terlalu rapatnya jalinan hubungan antar karakter. Akan saya jelaskan maksudnya.

Pertama, karakter2 yg demikian banyak sering berpapasan atau bertemu secara kebetulan di negeri Jepang yang ukurannya lebih besar daripada Pulau Jawa dan pada masa cerita itu terjadi, belum sepadat Jepang masa kini. Seberapa mungkin sih orang tanpa sengaja bertemu dalam perjalanan menuju suatu tempat yang berbeda, tapi kebetulan saja bersilang jalan?

Kedua, hubungan yg bersifat “si ini ternyata adalah anak si itu” dan variasi “si ini ternyata...” lainnya banyak beredar di antara karakter2nya. Kadang agak menyebalkan kan berpikir mengenai betapa kecilnya dunia ini? (betapa kecilnya Jepang ini kalo di novel ini :D)

Ketiga, perubahan karakter! Salah satu ciri khas sebuah novel menurut pelajaran bahasa Indonesia yang pernah saya dapat salah satunya adalah “adanya perubahan nasib tokoh”. Musashi menerapkannya, sangat menerapkannya, tapi dalam cara yg mendekati cara menyajikan Pop Mie. Nyaris instan. Saya tidak akan mengungkapkan terlalu detail di resensi ini karena tidak ingin men-spoiler apapun, jadi akan saya contohkan bbrp yg dpt diceritakan scr garis besar.

Misalnya,

- Teman lama Musashi. Dari yang awalnya teman, karena suatu kesalahpahaman dia jadi membenci Musashi. Sejak lama sifatnya memang luar biasa parah. Pemalas dan kurang usaha (menjengkelkan bukan? :D). Kemudian, sekian ratus halaman menjelang akhir buku, dia mengalami suatu kejadian yang mengubah hidupnya. Ia tertangkap basah, nyaris menghadapi hukuman mati, namun atas kebaikan seseorang hidupnya diselamatkan dan setelahnya, ia tiba-tiba diceritakan telah bertemu kembali dengan Musashi dan sama sekali tdk nampak menaruh dendam kesumat padanya. Ada entah berapa ratus halaman, yang menguraikan seluk beluk ia dapat berbaikan kembali dengan temannya, hilang. Lalu, sama cepatnya dengan ia berbaikan kembali dengan Musashi, karakter ini diceritakan berubah sikap menjadi orang yang lebih konsisten dan bertanggung jawab. Jika memperhatikan jalannya waktu, sikap pemalas dari karakter ini telah berlangsung selama sekitar enam tahun, lalu perubahannya terjadi dan berlangsung selama dua tahun. Memang bukan tidak mgkn terjadi, tapi saya kira agak langka.

- Ibu dari teman lama Musashi. Wanita tua ini demikian membenci Musashi krn menganggapnya telah merusak anaknya. Saya berani menjamin, siapapun yg membaca novel ini juga akan merasa bete sendiri mendapati bagaimana karakter yg satu ini bersikap. :D Lalu tiba2... Sama seperti yg terjadi pada anaknya, sekian ratus halaman menjelang akhir buku, ia bertobat! Padahal selama hidupnya dia adalah org yg saleh dan tiba2 di suatu titik menjelang akhir cerita itu ia memperoleh pencerahan yg mengubah seluruh sikapnya yang keras.

Saya, sekali lagi, menyalahkan peringkasan 35000 halaman menjadi 1200+ halaman utk hal ini! [>_<]

Cukup sekian dengan kekurangan, skrg saatnya beralih ke komentar netral dan bagus. :D

Menurut saya, poin bagus yang ditawarkan oleh novel ini adalah motivasi dan pembelajaran yang ditawarkan dalam ceritanya. Saya pribadi menangkap bbrp pesan tersirat semacam “perubahan itu mungkin”, “belajar dan berkembang seiring dgn waktu”, dan “memutuskan akan menjadi apa dalam kehidupan”. (saya tidak memaksakan pembaca lainnya menangkap pesan yang sama dari novel ini, ketiga pesan yg saya dapat itu murni hasil tafsiran pribadi)

Saya menolerir semua kelemahan2 yg telah dijabarkan di atas karena saya rasa novel ini lebih difokuskan utk menceritakan pencerahan2 dan pelajaran2 yg didapat oleh seorang Musashi dalam perjalanan hidupnya. Buku ini, jelas, tidak akan cocok bagi mereka yg plg malas mendapat “kuliah” mengenai bagaimana sebaiknya bersikap dlm hidup ini dari sebuah buku. :D Saya jelas tidak menyarankan untuk kalangan seperti itu, tapi bagi penikmat novel (standar biasa dan standar pecinta Paulo Coelho) bolehlah novel ini dijajal. :D

Satu hal yg lupa saya bahas. Sang pengarang novel, hidup lama setelah masa2 Musashi. Saya benar2 salut karena beliau sanggup menceritakan sebuah masa entah berapa ratus tahun silam dgn tingkat kebenaran yg cukup tinggi. Ini membuktikan pengarang menuliskan sesuatu dgn bekal pengetahuan yg memadai, sehingga karyanya tidak hanya berkesan “apa adanya”.

Skor: 9 / 10

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Simple Notes: Fiction Junction (Character Part 1: Classification)

[Resensi] Valharald