Senin, 07 Desember 2009

[Resensi] Xar&Vichattan: Takhta Cahaya



Judul: Xar&Vichattan: Takhta Cahaya
Pengarang: Bonmedo Tambunan
Penerbit: Penerbit Adhika Pustaka
Harga: Rp 49.500,-
Jumlah hlm: 312

Peperangan antara Kuil Xar dan Vichattan berhadapan dengan Kuil Kegelapan tidak terhindarkan. Pasukan Kegelapan mulai mendekati Desa Cimea. Sementara itu pasukan Xar dan Vichattan yang telah mengetahui gelagat itu mulai mengungsikan penduduk dan berjaga-jaga.

tapi perang kali ini tampaknya berlangsung tidak seimbang. xar dan Vichattan tidak lagi didukung kekuatan Cahaya yang telah hilang seiring hancurnya Kuil Cahaya tujuh tahun yang lalu. Satu-satunya cara untuk mengimbangi Kuil Kegelapan adalah dengan membangun kembali Kuil Cahaya.

Namun menegakkan kembali Kuil Cahaya tak semudah membalikkan telapak tangan. Hanya orang terpilih saja yang dapat membangkitkan Kuil Cahaya. Akhirnya Dalrin, Gerome, Kara, dan Antessa ditunjuk oleh roh Cahaya masa lalu sebagai ahli waris Kuil Cahaya. Penduduk Xar dan Vichattan tidak ada yang percaya mendengar berita itu. Mereka hanya empat orang anak kecil, tetapi diberi tugas yang sangat berat. Sekarang mereka mau tidak mau harus menjalankan tugas itu demi membangun kembali kekuatan Cahaya dan mengalahkan Kegelapan.




Seperti yang bisa ditebak oleh mereka yang lumayan sering membaca resensi saya, yap, buku ini juga dibeli pada saat Gramedia menggelar diskon di BSM (diskonnya 30%! b[>_<]d). Sejujurnya, dari kemarin kemarin memang saya penasaran dengan novel fantasi lokal ini karena kemasannya yang ciamik. Akhirnya karena merasa kapan lagi saya bisa mendapatkan novel terbitan non-GPU dan rekan-rekan yang didiskon sampai 30%, saya beli buku ini. :D

Agak sama dengan kasus novel fantasi lokal yang pernah saya bahas, Zauri, ada kemungkinan dalam pembahasan ini ada komentar yang muncul karena saya sudah terlebih dahulu membaca resensi orang lain mengenai novel ini. Mohon dimaafkan untuk kekhilafannya.

Seperti biasa, novel lokal harus dibahas mulai dari kover dan sinopsisnya. :D

Sinopsis, sejauh ini terasa baik-baik saja. Selain ditampilkan dengan tulisan yang mudah dibaca, sinopsis juga menjabarkan garis besar cerita secara seperlunya—meskipun setelah saya membaca isinya, ada urutan yang terasa terbalik—tanpa membocorkan hal penting dalam cerita.

Kover? Itu hal yang paling saya puja puji dari novel ini. Gilaaa, ini pertama kalinya saya sebegitu terpesonanya dengan kover novel fantasi lokal sampai-sampai beberapa jam sesudah membelinya, saya mengamati detail kovernya. [>_<] Ilustrator kovernya memang top dah! Apa yang digambarkan di depan cukup sesuai dengan gambaran makhluk serta karakter di bagian dalam novel. Satu hal yang terasa janggal adalah pada ilustrasi wanita berambut merah yang ada di punggung angsa raksasa (jika sesuai dengan cerita, nama karakter itu adalah Lahana). Bagian—sori—dada Lahana terlihat agak aneh dan menurut saya seseorang dengan jabatan seperti dirinya kemungkinan besar akan menggunakan baju yang lebih tertutup—kecuali ada konsep baru yang menyatakan bahwa dalam pertarungan baju yang minim akan memudahkan pergerakan, terlepas dari perlindungan terhadap serangan menjadi lebih minim. Oh, ya, sekedar info tambahan, saya telah melakukan kroscek tentang tim ilustrator novel ini, Imaginari Friends Studio, dan memastikan bahwa studio tersebut rupanya juga pernah membuat ilustrasi untuk majalah National Geographic edisi Juili 2009, pada artikel mengenai satwa purba nusantara. Mereka memang seorang pro di bidangnya, saya akui. :D

Memasuki halaman awal novel, saya menemukan berturut-turut: daftar isi, peta setting, kata pengantar dari pengarang. Tidak ada masalah dengan ketiganya. Petanya sendiri melingkupi wilayah yang cukup kecil, dibuat secara sederhana, tapi informatif. Kata pengantar sih ya gitulah ya, pendek kok, jadi bisa dibaca sendiri, dijamin nggak bakal ketiduran pas baca.

Mari beralih ke mode pembahasan secara menyeluruh. :D (saya lebih suka menggunakan cara demikian karena saya memang meminimalisir bocoran cerita)

Cerita, secara garis besar … mohon maaf karena harus mengatakan ini, game RPG lawas sekitar dua puluh tahun lalu, mungkin. Inti ceritanya dapat dijabarkan dengan: jahat versus baik, cahaya versus kegelapan, tidak lebih tidak kurang. Tidak lebih tidak kurang. Itulah yang membuat saya kurang berkenan dengan jalan cerita novel ini. Terakhir kali saya menemukan plot cerita seperti ini adalah di game Dissidia (PSP) di mana game tersebut memang merupakan suatu game fighting yang menjual karakter-karakter (semua karakter utama antagonis dan protagonis Final Fantasy dari 1-10 ada di sana) dan gameplay yang unik, bukan menjual cerita seperti pada game-game RPG. Tidak ada larangan untuk menggunakan suatu ide yang sudah ada berpuluh-puluh tahun silam, tapi sejauh ini para pembuat cerita—novelis, pembuat cerita game, anime, manga, komik, film, dan lainnya—telah melakukan inovasi pada cerita dengan tema yang serupa sehingga penggunaan ide cerita klasik tanpa adanya variasi akan terlihat seperti pesawat Fokker lawan pesawat Sukhoi. Sama-sama pesawat tapi yang satu kalah inovasi, memble lah jadinya. 

Tapi, terlepas dari tema cerita yang ketinggalan jaman, saya merasa ada nuansa campursari—ini bukan maksudnya menghina, lho—dalam komposisi yang membentuk novel ini. Ada campuran antara gameWarcraft III: Reign of Chaos/The Frozen Throne (dari deskripsi pasukan kegelapan), novel His Dark Materials (dari segi karakter berusia muda), Deltora Quest (dari misi mencari sesuatu untuk mengalahkan lawan), dan, yang paling terasa, The Chronicles of Narnia (dari perjalanan yang mereka lakukan). Hm, ketimbang memikirkan kemungkinan bahwa pengarang memang mencomot konsep dari judul yang saya sebutkan, saya lebih berpikir positif dan menerima nuansa yang ada dalam novel ini sebagai pengalaman baru.

Sekarang! Saatnya menjabarkan hal-hal yang saya temukan secara lebih spesifik! Baik dan buruk! Here I come.

Positif:

- Teknis
Tidak ada kekurangan yang signifikan dalam teknis menulis. Kalaupun ada, sejauh yang saya ingat, hanya terbatas pada penggunaan tanda baca yang berjumlah lebih dari satu, seperti “!!!” atau “!!?”.

- Konsep sihir
Original. :D Acungan jempol untuk konsep sihir yang ditata dengan rapi, tidak sekedar rapal mantera, ayunkan tongkat, cahaya berkelabat, dan “BLAAARRR!”, tapi pengarang juga melengkapi konsep sihirnya hingga perbedaan pengaplikasian hingga keterbatasan penggunaan sihir. Jika dibandingkan dengan sihir dalam Harry Potter (saya memilih judul yang paling “sihir” di antara yang lain) yang jarang didetailkan prosesnya dan tidak ada yang namanya kehabisan energi, konsep ini terasa jauh lebih manusiawi. :D

- Glosari
Salah satu cara terampuh dalam menangani penjelasan yang tidak berhasil dimampatkan ke dalam cerita. Saya tidak pernah menolak ada glosari, lumayan membantu di saat perlu mengecek konsep dan istilah.

Negatif:

- Karakteristik
Hampir setiap karakter dalam novel ini dapat diungkapkan dengan satu hingga beberapa kata sifat singkat, tapi tidak lebih dari sepuluh sifat. Hasilnya? Saya sampai berpikir yang membedakan para karakternya adalah cara mereka berkata-kata dan penampilan fisik.

Selain itu, penampilan para karakter pun sejak awal seakan-akan dialiansi sehingga pihak baik atau pendukung protagonis selalu berpakaian cerah dan secara fisik bersih, dalam artian tidak ada cacat fisik yang signifikan (apalagi mental) sementara pihak jahat atau pendukung antagonis selalu berpakaian serba hitam dan secara fisik lebih kena sifat tegaan dari pengarang, alias ada yang punya banyak bekas luka, ada yang jalannya pincang, dan seterusnya.

Kenapa karakter baik tidak boleh cacat mental atau fisik …? Ini namanya diskriminasi karakter! *ilustrasi protes para karakter antagonis dan pendukungnya*

Respons karakter satu sama lainnya pun terkesan datar. Kalaupun ada sesuatu yang terbilang lucu, itu hanyalah terjadi antara Gerome-Kara. Lucunya juga datar sih sebenarnya menurut standar saya. Mau bukti???

Antessa dan Dalrin tersenyum geli melihat tingkah laku kedua sahabat mereka itu.


Berapa kalipun Gerome-Kara tonjok-tonjokan (Kara menonjok Gerome, tidak berlaku sebaliknya :D) teman mereka responsnya senyum aja, sampe pengarangnya juga kayaknya capek sendiri dan akhirnya meng-copas pernyataan mengenai respons Antessa-Dalrin.

Ada apa ini dengan karakteristik??? Padahal kelemahan plot sebenarnya bisa diangkat hanya dengan karakter-karakter yang solid, tapi pengarang sepertinya kurang pol dan berani dalam meramu karakteristik tokoh-tokohnya. Sangat disayangkan.

- Dialog
Pola paling umum dialog dalam novel ini adalah:

”*Nama yang diajak bicara*, *apa yang hendak ditanyakan/diberitahukan/diperingatkan dan lainnya*”


” *Apa yang hendak ditanyakan/diberitahukan/diperingatkan dan lainnya*, *nama yang diajak bicara/panggilan teman/sobat/sahabat dan sejenisnya”


Pola di atas sangat banyak ditemukan dalam dialog, membuat saya sempat jengah membacanya dan bertanya-tanya apakah pengarang memang memasukkan unsur dialog seperti ini sebagai ciri khas orang dunia sana dalam berbicara, suatu ketidaksengajaan atau hal ini memang untuk kepentingan penyusunan kalimat yang artistik or whatever it called?

- Deus ex Machina
Deus ex Machina sebenarnya wajar untuk dilakukan, hanya saja ada batasan berupa konsistensi dan logika untuk menerapkannya sehingga Deus ex Machina yang terjadi akan diterima sebagai suatu “keberuntungan berpihak pada para karakter” bukan sebagai “ini pengarangnya ikut-ikutan aja, dasar geje”.

a. Black Hole
Di awal hingga pertengahan cerita, diceritakan bahwa penyihir dari pihak Kuil Kegelapan mampu mengeluarkan bola hitam yang efeknya menghisap serangan sihir lawannya bahkan perapal sihirnya seperti black hole. Mengerikan memang, saya baru saja terpikir kalau para penyihir itu baik, mereka akan menyelesaikan permasalahan sampah, minimal di Indonesia yang gunungan sampahnya hobi longsor.

Tiba-tiba, menjelang akhir cerita, bola hitam ini jadi kurang mantap lagi, padahal statusnya Kuil Cahaya yang menyokong keampuhan ilmu para pengikut Xar&Vichattan bangkit juga belum. Saya merasa efek bola hitam ini sengaja dibuat melempem oleh pengarang demi menyelamatkan para karakternya—yang sebenarnya nggak utama-utama amat sih, mati agak konyol harusnya dibiarin aja, toh namanya juga lagi perang dahsyat.

b. Teleport?
Menjelang akhir cerita, ada suatu prosesi yang harus dijalani oleh keempat karakter utama, di mana kondisi mereka menjadi, sebutlah, tidak bisa melakukan apapun untuk membela diri mereka dari berbagai upaya menggagalkan prosesi. Di saat-saat itu, terjadi sesuatu yang menegangkan: salah satu oknum Kuil Kegelapan berhasil melepaskan serangan yang mengarah cukup akurat kepada mereka berempat dan serangan tersebut terlambat disadari oleh dua makhluk non-manusia yang tengah bertarung melawan naga berkepala dua (Nama naganya Nolacerta dan dia edan-edanan! Bodinya segede gunung dan katanya dia memperbesar diri lagi berkali-kali lipat! Pantesan aja jin yang dipanggil Sangkuriang bikin perahu yang dibalik aja bisa jadi gunung. Para jin gaulnya sama makhluk macem Nolacerta yang gedenya amit-amit sih! [>o<]). Ketika usaha pertolongan dari dua makhluk non-manusia dan seorang manusia nampaknya akan gagal karena masalah kecepatan dan sisa kekuatan, tiba-tiba …

Ayahnya Dalrin yang menahan serangan itu (dan tidak terhisap seperti khas serangan bola hitam yang dijabarkan sebelumnya, lihat poin a. di atas mengenai serangan black hole, kecuali ada beberapa tipe bola hitam yang saya tidak ketahui).

*krik?*

Saat membaca bagian itu, saya berseru dalam hati, “TADI DIA NGGAK ADA DI SANAAAAAA!!! Cepet amat dia tahu-tahu udah ada di atas aja!”

- Kesalahan minor lainnya
Ada beberapa, saya paling memperhatikan masalah sebutan (apakah “biarawan” juga dapat digunakan untuk menyebut Ka-Xar dan Es-Xar?), masalah ukuran (Shiba tidak akan kelihatan kalau Nolacerta memang sebesar gunung, mungkin Nolacerta lebih kecilan dikit? Rumah mungkin?), dan penggunaan bahasa Inggris yang terasa kurang pas.

Overall, saya menganggap novel ini termasuk ke dalam jajaran “lumayan”, agak disayangkan karena jatuhnya hanya di level itu bukan “bagus” karena kekurangan yang—menurut saya—cukup signifikan serta fatal di karakteristik dan plot.

Skor: 6/10

Tidak ada komentar: