Simple Notes: Startup!
Katanya menulis itu mudah, tapi pada kenyataannya, saat menghadapi kertas kosong atau menghadapi file baru word processor, kita baru menyadari bahwa menulis itu susah karena bingung harus mulai menulis apa. Terutama sekali hal ini terjadi pada mereka yang sudah lepas dari bangku SMP/SMA, yang sudah memandang segala sesuatunya dengan lebih serius, terutama jika mengenai tulisan.
Dosen mata kuliah Jurnalisme Sains dan Teknologi di universitas saya pernah berkata, "Jika Anda bingung bagaimana memulai sebuah tulisan, maka tuliskanlah kebingungan tersebut."
Saya setuju pada usulannya itu, sampai suatu ketika di kuliah yang sama, sang dosen membahas tugas-tugas yang dikumpulkan kepadanya minggu lalu dan mengomentari bahwa salah seorang mahasiswa mendahului tulisannya dengan kalimat kira-kira sebagai berikut:
Bapak dosen mengomentari bahwa seharusnya yang semacam itu tidak perlu dituliskan dalam kalimat pembukaan artikel, langsung saya balas dengan, "Itu kayaknya karena dulu bapak bilang, 'Kalau Anda bingung hendak menuliskan apa, maka tulislah tentang kebingungan tersebut.', Pak."
*Untung Pak Acep tidak marah waktu saya mengatakan hal tersebut. :P*
Dan sesuai dugaan, menelan bulat-bulat saran dari dosen pun bukan hal baik. Apa yang dimaksudkan oleh Pak Acep bukan setiap kali bingung hendak menulis, maka artikel-artikel pun diawali dengan pembukaan "Sebenarnya saya bingung mau menulis apa ..." (biasanya disambung dengan alasan kenapa tiba-tiba si penulis memutuskan untuk menulis apa yang akhirnya dituliskan) tapi lebih ke arah, "Anda bisa menjadikan apapun di sekitar Anda sebagai topik, termasuk kebingungan Anda hendak mulai menulis tentang apa". Bukan berarti setiap kali Anda bingung hendak menulis apa maka yang ditulis adalah bingung-bingungnya. :D :D
Di Simple Notes yang ini, saya akan mencoba merunut apa sih yang sebenarnya diperlukan untuk memulai sebuah tulisan selain motivasi untuk menulis?
Stepping stone 1: Apa yang hendak kamu tulis?
Bukan "apa" topik, tapi "apa" bentuk tulisannya. Fiksi atau fakta? Sastra atau jurnalistik? Prosa atau puisi? Berita atau feature? Pertama-tama hal itulah yang harus ditentukan. Setelah menentukan pilihan, mari berlanjut ke langkah selanjutnya.
Stepping stone 2: Mengertikah kamu bentuk tulisan yang kamu pilih biasanya berisi apa?
Berita isinya bagaimana, puisi kriteria dasarnya apa, dan seterusnya. Bahkan pemahaman mengenai fakta dan fiksi pun harus selalu diingat di taraf ini. Saya kurang setuju dengan seseorang yang membuat sebuah prosa dan mendaulat bahwa prosanya puitis, tapi pada kenyataannya prosa yang ia buat bukan puitis melainkan berisi kalimat-kalimat melompat-lompat yang membentuk sebuah paragraf yang tidak menyampaikan sesuatu yang jelas kepada pembacanya. Demikian pula dengan berita, jangan membuat berita yang dicemari dengan opini pribadi, itu namanya bukan berita. Tetaplah fokus dengan tulisan macam apa yang hendak Anda buat. Ingatlah ada batasan-batasan untuk kemelencengan dalam sebuah bentuk tulisan. Anda boleh melanggarnya, tapi langgarlah seelegan dan seminimal mungkin agar pembaca tidak bingung.
Stepping stone 3: Contoh dari mana yang kira-kira pas dengan (selera dan) kebutuhan saya ya?
Baik, "kebutuhan" bisa dimengerti, tapi kenapa ada "selera" juga??? Meskipun terdengar tidak masuk akal dan agak bodoh (bego dan skizo? :D :D referensi terdapat di bagian komen link tersebut, bukan di postingan utama) saya selalu percaya bahwa hasil karya yang terbaik dari seseorang adalah hasil pengerjaan sepenuh hati, jiwa, dan raga. Penjelasannya? Sebenarnya simpel: jika Anda sakit (raga), jika Anda stres/mengalami gangguan mental (jiwa), atau jika Anda tidak/kurang menyukai sesuatu (hati), apa yang Anda pekerjakan akan terasa kurang.
Jika Anda perhatikan, cara penulisan berita di berbagai media massa (mulai dari harian Kompas hingga tabloid Lampu Hijau) berbeda-beda dan memiliki ciri khas tersendiri. Untuk jurnalistik, tergantung media mana yang akan Anda kirimi tulisan Anda, dapat disesuaikan karakteristik berita/artikel yang akan Anda tulis.
Anda suka sastra? Ada banyak penyair dengan segudang puisi mereka, ada banyak cerpenis, novelis, dan lainnya, masing-masing memiliki karakteristik tersendiri. Silakan dipilih (karya) siapa yang hendak Anda jadikan panutan.
Pembaca blog yang gak sabar: Kapan mulai menulisnya???
Oh, udah nggak sabar? Ya silakan atuh ditulis.
Pembaca blog yang gak sabar: Tapi saya masih bingung mau nulis apa!!!
Ya makanya selangkah demi selangkah! Kamu bego dan skizo yaa??? Patapon berperang pun selangkah demi selangkah, mengikuti ritme dengan baik dan benar, kamu maunya instan aja!
*ctar ctar!*
Stepping stone 4: Topik apa yang sebaiknya saya ambil?
Saya akan lebih memfokuskan ke tulisan jurnalistik untuk tahapan ini, karena saya merasa ada sangat banyak ide liar yang bisa dituangkan menjadi sebuah karya sastra, tapi untuk menulis fakta, kita dibatasi pada kenyataan yang terjadi di sekeliling kita.
Saya membagi model pencarian topik ini menjadi dua kategori paling umum:
1. Berdasarkan peristiwa terkini.
2. Berdasarkan bidang keahlian.
Peristiwa bisa apa saja, dengan skala sebesar apapun, mulai dari penemuan makam tua di pelosok negeri hingga skandal dunia hitam yang berhasil diungkap. Satu poin pentingnya adalah peristiwa tersebut harus menarik, setidaknya menulis merasa topik yang diambilnya akan dibaca. Seorang pembaca tidak akan menganggap bebek Pak Bondan bertelur sebagai sesuatu yang unik, tapi kalau bebek Pak Bondan menghasilkan telur berlapis emas, itu baru luar biasa. :D Akal-akalan utama sebuah artikel terletak di bagian judulnya. Anda bisa menempatkan judul "Bebek Pak Bondan Bertelur Emas" tapi isi di dalamnya sedikit berbohong (karena sebenarnya berisi tips dan trik menjadi kaya dengan berjualan telur bebek, tidak benar-benar berkisah tentang telur emas). Itu membohongi, tapi pembaca telah membaca tulisan Anda dan mereka mengkompensasi penipuan yang Anda lakukan melalui judul karena menganggap isi artikel tersebut bermanfaat.
Hal yang sama berlaku dengan tulisan berdasarkan bidang keahlian. Anda tahu mengenai struktur bangunan ini dan itu karena kuliah di jurusan Teknik Sipil. Masalah selanjutnya adalah bagaimana membuat tulisan yang sangat teknis dan tidak dipahami orang awam menjadi sesuatu yang layak dibaca?
Pertama, (calon) pembaca suka sesuatu yang unik, setidaknya di luar pemahaman umum yang selama ini mereka pegang. Dari sana, tulisan berupa inovasi bisa langsung mendapatkan tempat. Kedua, (calon) pembaca biasanya tertarik membaca artikel yang berkaitan dengan berita terkini (misalnya gempa bumi 19 SR menenggelamkan pulau XYZ). Jika memang bisa, kaitkan bidang Anda dengan masalah tersebut, tentunya dari sudut pandang bidang yang Anda kuasai. Ini memerlukan analisis ini dan itu, tapi percayalah, pembaca suka mendapatkan pengetahuan baru di balik suatu peristiwa, apalagi jika sudut pandangnya sangat ... tidak biasa, sebutlah begitu. :D
Masalah terbesarnya adalah bagaimana menuliskan sesuatu yang sangat teknis dan mungkin tidak terjangkau oleh pengetahuan kebanyakan masyarakat pembaca? Nah, itu adalah sesuatu yang saya belum temukan tips dan triknya selain saran untuk "merendahkan intelejensia" hingga setara dengan pemikiran pembaca pada umumnya. Saran itu sendiri belum diujicobakan dan saya merasa saran tersebut kurang memadai untuk diikuti. Mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Saya jauh lebih menganjurkan untuk mereka yang belum berhasil mendapatkan tips-trik untuk hal tersebut agar menulis yang tidak terlalu "wah" namun dikaitkan dengan peristiwa yang menjadi trend saat ini.
Stepping stone 5: Saya sudah mengikuti langkah-langkah di atas, tapi masih tetap bingung saat membuka word processor, bagaimana ini?
Inilah saatnya kita menyesal karena telah menganggap remeh pelajaran Bahasa Indonesia saat SD/SMP/SMA. Ingat ajaran mengenai kerangka karangan? Itu adalah hal yang saya dapati sangat membantu dalam menyusun dan mengontrol apa saja yang hendak saya masukkan ke dalam tulisan saya. Dengan kerangka karangan--tidak usah terpaku pada bentuk baku di buku teks, bisa dibuat berupa daftar saja--saya dapat mengecek kembali struktur tulisan, mengeliminasi yang tidak perlu, dan menambahkan yang dirasa perlu. Remeh, menyebalkan, dan merepotkan, tapi Ade Rai tidak akan jadi binaragawan kalau tidak menjalani latihan ini-itu plus diet ini-itu untuk membentuk ototnya. Makanya kan yang penting niat menulis yang datangnya dari hati, kan? :D :D
Additional stepping stone: Niatkanlah dirimu, bulatkanlah tekadmu, sepenuh hatilah.
Semoga berguna dan mencerahkan. Komentar dan masukan diterima. Nggak nolak juga sumbangan dana (apa hubungannya pula ini???). :D :D
Dosen mata kuliah Jurnalisme Sains dan Teknologi di universitas saya pernah berkata, "Jika Anda bingung bagaimana memulai sebuah tulisan, maka tuliskanlah kebingungan tersebut."
Saya setuju pada usulannya itu, sampai suatu ketika di kuliah yang sama, sang dosen membahas tugas-tugas yang dikumpulkan kepadanya minggu lalu dan mengomentari bahwa salah seorang mahasiswa mendahului tulisannya dengan kalimat kira-kira sebagai berikut:
Sebenarnya saya bingung harus menulis apa ...
Bapak dosen mengomentari bahwa seharusnya yang semacam itu tidak perlu dituliskan dalam kalimat pembukaan artikel, langsung saya balas dengan, "Itu kayaknya karena dulu bapak bilang, 'Kalau Anda bingung hendak menuliskan apa, maka tulislah tentang kebingungan tersebut.', Pak."
*Untung Pak Acep tidak marah waktu saya mengatakan hal tersebut. :P*
Dan sesuai dugaan, menelan bulat-bulat saran dari dosen pun bukan hal baik. Apa yang dimaksudkan oleh Pak Acep bukan setiap kali bingung hendak menulis, maka artikel-artikel pun diawali dengan pembukaan "Sebenarnya saya bingung mau menulis apa ..." (biasanya disambung dengan alasan kenapa tiba-tiba si penulis memutuskan untuk menulis apa yang akhirnya dituliskan) tapi lebih ke arah, "Anda bisa menjadikan apapun di sekitar Anda sebagai topik, termasuk kebingungan Anda hendak mulai menulis tentang apa". Bukan berarti setiap kali Anda bingung hendak menulis apa maka yang ditulis adalah bingung-bingungnya. :D :D
Di Simple Notes yang ini, saya akan mencoba merunut apa sih yang sebenarnya diperlukan untuk memulai sebuah tulisan selain motivasi untuk menulis?
Stepping stone 1: Apa yang hendak kamu tulis?
Bukan "apa" topik, tapi "apa" bentuk tulisannya. Fiksi atau fakta? Sastra atau jurnalistik? Prosa atau puisi? Berita atau feature? Pertama-tama hal itulah yang harus ditentukan. Setelah menentukan pilihan, mari berlanjut ke langkah selanjutnya.
Stepping stone 2: Mengertikah kamu bentuk tulisan yang kamu pilih biasanya berisi apa?
Berita isinya bagaimana, puisi kriteria dasarnya apa, dan seterusnya. Bahkan pemahaman mengenai fakta dan fiksi pun harus selalu diingat di taraf ini. Saya kurang setuju dengan seseorang yang membuat sebuah prosa dan mendaulat bahwa prosanya puitis, tapi pada kenyataannya prosa yang ia buat bukan puitis melainkan berisi kalimat-kalimat melompat-lompat yang membentuk sebuah paragraf yang tidak menyampaikan sesuatu yang jelas kepada pembacanya. Demikian pula dengan berita, jangan membuat berita yang dicemari dengan opini pribadi, itu namanya bukan berita. Tetaplah fokus dengan tulisan macam apa yang hendak Anda buat. Ingatlah ada batasan-batasan untuk kemelencengan dalam sebuah bentuk tulisan. Anda boleh melanggarnya, tapi langgarlah seelegan dan seminimal mungkin agar pembaca tidak bingung.
Stepping stone 3: Contoh dari mana yang kira-kira pas dengan (selera dan) kebutuhan saya ya?
Baik, "kebutuhan" bisa dimengerti, tapi kenapa ada "selera" juga??? Meskipun terdengar tidak masuk akal dan agak bodoh (bego dan skizo? :D :D referensi terdapat di bagian komen link tersebut, bukan di postingan utama) saya selalu percaya bahwa hasil karya yang terbaik dari seseorang adalah hasil pengerjaan sepenuh hati, jiwa, dan raga. Penjelasannya? Sebenarnya simpel: jika Anda sakit (raga), jika Anda stres/mengalami gangguan mental (jiwa), atau jika Anda tidak/kurang menyukai sesuatu (hati), apa yang Anda pekerjakan akan terasa kurang.
Jika Anda perhatikan, cara penulisan berita di berbagai media massa (mulai dari harian Kompas hingga tabloid Lampu Hijau) berbeda-beda dan memiliki ciri khas tersendiri. Untuk jurnalistik, tergantung media mana yang akan Anda kirimi tulisan Anda, dapat disesuaikan karakteristik berita/artikel yang akan Anda tulis.
Anda suka sastra? Ada banyak penyair dengan segudang puisi mereka, ada banyak cerpenis, novelis, dan lainnya, masing-masing memiliki karakteristik tersendiri. Silakan dipilih (karya) siapa yang hendak Anda jadikan panutan.
Pembaca blog yang gak sabar: Kapan mulai menulisnya???
Oh, udah nggak sabar? Ya silakan atuh ditulis.
Pembaca blog yang gak sabar: Tapi saya masih bingung mau nulis apa!!!
Ya makanya selangkah demi selangkah! Kamu bego dan skizo yaa??? Patapon berperang pun selangkah demi selangkah, mengikuti ritme dengan baik dan benar, kamu maunya instan aja!
*ctar ctar!*Stepping stone 4: Topik apa yang sebaiknya saya ambil?
Saya akan lebih memfokuskan ke tulisan jurnalistik untuk tahapan ini, karena saya merasa ada sangat banyak ide liar yang bisa dituangkan menjadi sebuah karya sastra, tapi untuk menulis fakta, kita dibatasi pada kenyataan yang terjadi di sekeliling kita.
Saya membagi model pencarian topik ini menjadi dua kategori paling umum:
1. Berdasarkan peristiwa terkini.
2. Berdasarkan bidang keahlian.
Peristiwa bisa apa saja, dengan skala sebesar apapun, mulai dari penemuan makam tua di pelosok negeri hingga skandal dunia hitam yang berhasil diungkap. Satu poin pentingnya adalah peristiwa tersebut harus menarik, setidaknya menulis merasa topik yang diambilnya akan dibaca. Seorang pembaca tidak akan menganggap bebek Pak Bondan bertelur sebagai sesuatu yang unik, tapi kalau bebek Pak Bondan menghasilkan telur berlapis emas, itu baru luar biasa. :D Akal-akalan utama sebuah artikel terletak di bagian judulnya. Anda bisa menempatkan judul "Bebek Pak Bondan Bertelur Emas" tapi isi di dalamnya sedikit berbohong (karena sebenarnya berisi tips dan trik menjadi kaya dengan berjualan telur bebek, tidak benar-benar berkisah tentang telur emas). Itu membohongi, tapi pembaca telah membaca tulisan Anda dan mereka mengkompensasi penipuan yang Anda lakukan melalui judul karena menganggap isi artikel tersebut bermanfaat.
Hal yang sama berlaku dengan tulisan berdasarkan bidang keahlian. Anda tahu mengenai struktur bangunan ini dan itu karena kuliah di jurusan Teknik Sipil. Masalah selanjutnya adalah bagaimana membuat tulisan yang sangat teknis dan tidak dipahami orang awam menjadi sesuatu yang layak dibaca?
Pertama, (calon) pembaca suka sesuatu yang unik, setidaknya di luar pemahaman umum yang selama ini mereka pegang. Dari sana, tulisan berupa inovasi bisa langsung mendapatkan tempat. Kedua, (calon) pembaca biasanya tertarik membaca artikel yang berkaitan dengan berita terkini (misalnya gempa bumi 19 SR menenggelamkan pulau XYZ). Jika memang bisa, kaitkan bidang Anda dengan masalah tersebut, tentunya dari sudut pandang bidang yang Anda kuasai. Ini memerlukan analisis ini dan itu, tapi percayalah, pembaca suka mendapatkan pengetahuan baru di balik suatu peristiwa, apalagi jika sudut pandangnya sangat ... tidak biasa, sebutlah begitu. :D
Masalah terbesarnya adalah bagaimana menuliskan sesuatu yang sangat teknis dan mungkin tidak terjangkau oleh pengetahuan kebanyakan masyarakat pembaca? Nah, itu adalah sesuatu yang saya belum temukan tips dan triknya selain saran untuk "merendahkan intelejensia" hingga setara dengan pemikiran pembaca pada umumnya. Saran itu sendiri belum diujicobakan dan saya merasa saran tersebut kurang memadai untuk diikuti. Mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Saya jauh lebih menganjurkan untuk mereka yang belum berhasil mendapatkan tips-trik untuk hal tersebut agar menulis yang tidak terlalu "wah" namun dikaitkan dengan peristiwa yang menjadi trend saat ini.
Stepping stone 5: Saya sudah mengikuti langkah-langkah di atas, tapi masih tetap bingung saat membuka word processor, bagaimana ini?
Inilah saatnya kita menyesal karena telah menganggap remeh pelajaran Bahasa Indonesia saat SD/SMP/SMA. Ingat ajaran mengenai kerangka karangan? Itu adalah hal yang saya dapati sangat membantu dalam menyusun dan mengontrol apa saja yang hendak saya masukkan ke dalam tulisan saya. Dengan kerangka karangan--tidak usah terpaku pada bentuk baku di buku teks, bisa dibuat berupa daftar saja--saya dapat mengecek kembali struktur tulisan, mengeliminasi yang tidak perlu, dan menambahkan yang dirasa perlu. Remeh, menyebalkan, dan merepotkan, tapi Ade Rai tidak akan jadi binaragawan kalau tidak menjalani latihan ini-itu plus diet ini-itu untuk membentuk ototnya. Makanya kan yang penting niat menulis yang datangnya dari hati, kan? :D :D
Additional stepping stone: Niatkanlah dirimu, bulatkanlah tekadmu, sepenuh hatilah.
Semoga berguna dan mencerahkan. Komentar dan masukan diterima. Nggak nolak juga sumbangan dana (apa hubungannya pula ini???). :D :D
Komentar
Hehe.