[Resensi] The Death to Come



Judul: The Death to Come
Pengarang: Tyas Palar
Penerbit: Penerbit Imania
Harga: Rp 40.000,-
Jumlah hlm: 354

Edward Twickenham, penyihir Glamorgan dengan bakat yang misterius.
Ivar Eidjford, penyihir Denmark yangbisa melihat kilasan masa depan.
Junda, penyihir Lithuania, pemilik cermin pencari orang yang sakti.
Tariq, sang alkemis bijaksana yang ahli memperbaiki barang sihir.

Dewan Penyihir telah menggariskan larangan untuk tidak mencampuri urusan manusia. Namun keempat kawan itu tidak bisa tinggal diam ketika Ivar melihat Kilasan Masa Depan mengenai nasib mengerikan yang akan menimpa umat manusia. Oleh karena tidak ada yang bisa mengartikan kilasan yang Ivar lihat, Edward bersama ketiga rekannya memutuskan untuk mencari penyihir terbesar dalam sejarah untuk membantu mereka: Merlin. Perjalanan mereka mencari Merlin tak hanya mengungkapkan rahasia masa depan, namun juga rahasia masa lalu yang menyedihkan.




Alih-alih melihat di toko buku dan tertarik dengan sampul atau sinopsisnya, pertama kali saya tahu buku ini justru dari salah seorang teman saya. Rasanya aneh saja untuk pertama kali tahu buku ini, saya tidak melihat dan tertarik sendiri tapi direkomendasikan oleh teman saya itu. Akhirnya, saya mendapat pinjaman buku ini setelah sebelumnya terlebih dahulu berakhir dipinjam orang lain sebelum saya. (Kasihan yang punya, kayaknya keberadaan buku ini di tangannya jauh lebih singkat daripada keberadaan di tangan para peminjam. :p)

Mari mulai membahas dari sampul depan. Dilihat dari jauh, sebenarnya sampul novel ini nampak menarik. Judulnya bisa terlihat dari jarak pandang agak jauh dan nuansa kelamnya dari jarak yang sama juga kentara. Tapi! Saat saya melihat lebih dekat, saya merasa ada copy paste Ringwraith dari Lord of The Ring versi film. Memang jubahnya berbeda warna dan saya kurang yakin dengan bentuk kudanya, tapi terasa sekali kalau ketiga sosok di ujung kanan bawah itu bukan gambar original dari pihak penerbit. Sosok yang ada di sebelah kiri, yang menguasai separuh kover, awalnya saya kira sebagai sesosok tengkorak hidup berjubah, tapi kemudian di review lain yang diposting di blog lain sang reviewer menyatakan bahwa sosok itu adalah sosok seorang kakek tua. Setelah membaca review tersebut, saya mengamati kembali dan baru menyadari kalau mungkin memang itu sebenarnya sosok kakek-kakek, bukan tengkorak hidup perlambang maut yang menjadi topik utama novel ini. (Sepertinya sedang menjadi trend tersendiri memenuhi sebagian kover dengan satu sosok saja, di bagian kiri kover, terutama. :D)

Sebelum berbicara mengenai cerita, saya agak kebingungan dengan ilustrasi di bagian dalam. Pada daftar isi, font yang digunakan terkesan bahwa novel ini adalah cerita anak, bertentangan dengan kover yang terkesan dark. Tambah lagi ada ilustrasi bintang “imut-imut” yang salah tempat, novel ini jadi terbanting-banting antara novel dark atau novel ringan yang cocok untuk konsumsi anak-anak yang belum boleh lihat video Peterporn. Untuk melengkapi epique phail, pihak penerbit sekalian menambahkan ilustrasi Merlin versi Disney, di daftar isi dan di setiap sisi judul bab. Gilaaaaakkk! Mereka kok nggak mikirin bahwa ilustrasi dalam novel pun menjadi penilaian tersendiri oleh para pembaca? Setidaknya untuk layout teks, saya berani menilai bahwa layoutnya bagus, lebih bagus dari novel fikfan lokal terakhir yang saya baca. :D

Kalau bicara soal cerita, rasanya agak sedikit aneh saja saat saya membaca sinopsis dan tidak ada big bad guy alias karakter antagonis yang harus dikalahkan oleh para pemeran utama cerita ini. Bisa dibilang, ini sedikit berbeda dengan kebanyakan tipe cerita fiksi fantasi yang umum ditemui, tapi ada bagusnya juga variasi seperti ini. :D Si pengarang sudah mendapat angin berupa “cerita tidak klise atau biasa saja”. Setelah saya membaca lengkap isi buku ini—bukan random page read lagi seperti yang biasa saya lakukan—memang cerita novel yang satu ini tidak sekedar mengalahkan kejahatan dan seterusnya, tapi lebih ke arah perjalanan untuk mencapai suatu tujuan (yang bukan mengalahkan big bad guy). Masalahnya jenis-jenis cerita seperti inilah yang jatuhnya datar tanpa ada konflik yang cukup seru dan menegangkan. Si pemeran utama melakukan perjalanan, cerita kejadian-kejadian dalam perjalanan, baik halangan, rintangan, dan lainnya, kemudian tercapainya tujuan, lalu sudah, selesai. Ceritanya datar, tidak ada klimaks yang benar-benar terasa (jika saya simpulkan berdasarkan pengalaman membaca buku lain bergaya serupa, klimaks cerita terjadi pada saat berbagai pengungkapan mengejutkan dibeberkan kepada pembaca), tapi ada penyelesaian cerita. Setidaknya, meskipun di kover depan sudah tertulis dengan sangat jelas bahwa buku ini adalah buku pertama dari sebuah trilogi, saya tidak mendapati ending yang memaksa saya untuk membeli buku kedua untuk tahu kelanjutan cerita yang belum selesai. Saat nantinya buku kedua terbit, saya akan jauh lebih tergoda untuk membelinya dengan alasan “kali ini ceritanya tentang apa?” bukan untuk melanjutkan cerita buku pertama yang terputus. Ini poin bagus untuk sebuah cerita fiksi fantasi yang menggunakan plot tidak biasa tapi terjatuh ke dalam kedataran kisah sebuah perjalanan.

Lanjut ke kekurangan dan kelebihan, pembahasannya akan sedikit berubah menjadi poin-poin seperti resensi saya biasanya.

Kelebihan:
- Penulisan yang rapi
Termasuk di dalamnya susunan kalimat, pemilihan kata, penggunaan tanda baca dan seterusnya. Standar buku lokal harusnya selalu menyertakan hal seperti ini dalam editing. :p (kadang-kadang ada yang tidak menyertakan)
- Tema yang tidak biasa
Kalau saya boleh bilang, ini buku fiksi fantasi pertama yang saya baca dan temanya bukan melawan suatu kekuatan jahat dan teman-teman sejenisnya, tapi lebih ke arah perjalanan untuk mencapai suatu tujuan.
- Setting fresh
Kebanyakan fiksi fantasi lokal menggunakan setting dunia lain, tapi untuk yang satu ini, setting yang digunakan adalah di Eropa. Butuh riset yang cukup mendalam supaya para pengamat buku yang teliti tidak mencela suatu novel yang mengambil setting dunia nyata entah di jaman apa karena ketidakkonsistenan dengan kondisi dunia nyata di masa dan tempat yang serupa.
Psst, ada slentingan yang mengatakan bahwa para pengarang fiksi fantasi biasanya “melarikan diri” dengan membuat sebuah setting yang sama sekali baru agar tidak diprotes para pengamat teliti tersebut, selain itu ada pula yang bilang kalau membuat dunia baru menjadikan sebuah cerita fantasi lebih mudah digarap. Itu benar, tapi bukan berarti membuat setting sendiri artinya menjadikan sebuah cerita lebih mudah dibuat daripada menggunakan setting dunia nyata. Para pengamat buku masih sangat menjunjung tinggi logika dan konsistensi, karena itulah setting tidak nyata pun bisa jadi masalah. Mereka memang cerewet, para pengamat buku itu (dan saya ngomong seolah-olah saya bukan termasuk ke tukang bikin resensi yang ngasal dan bawel).
- Referensi yang baik
Saya tidak mengecek ulang referensi yang dituliskan di dalam buku ini, tapi percaya begitu saja. Ini bukan perbuatan bagus bagi seorang penulis resensi, tapi saya merasa bahwa referensi yang dicantumkan di dalam sana sesuai dengan kebutuhan. :D

Kekurangan:
- Ilustrasi dan font daftar isi
Sudah dibahas di atas, silakan dilihat lagi jika lupa. :D
- Cerita yang datar
Tidak ada konflik yang greget, tidak ada klimaks yang terasa sebagai “klimaks cerita”. Ini salah satu kelemahan sebuah novel bertema “perjalanan” (saya tidak tahu istilah yang tepat, jadi tolong diralat jika ada yang tahu apa sebenarnya genre cerita yang saya maksud)
- Sinopsis yang sedikit kurang klop
Dalam sinopsis tersirat bahwa keempat orang yang disebut-sebut, para karakter utama, adalah empat sekawan dan ada indikasi bahwa mereka telah bersama-sama sejak awal. Saat saya mulai membaca, ternyata tidak demikian di ceritanya. Ini mungkin cuma kesalahan kecil saja dalam hal penulisan sinopsis.
- Footnote referensi
Diletakkan di setiap akhir bab. Rapi, betul, tapi saya jadi bolak balik halaman untuk kroscek antara referensi dan di mana letak “objek” yang diberi keterangan itu dalam cerita. Kemungkinan besar footnote ini diletakkan di akhir setiap bab karena beberapa referensi cukup panjang untuk dijejalkan di bawah halaman yang sama di mana kata tersebut muncul. Kalau, benar, seharusnya poin ini dimasukkan ke dalam kelebihan karena saya tahu betapa mengganggunya footnote yang panjang di bagian bawah halaman.

Satu hal terakhir sebelum saya menutup resensi kali ini, sebenarnya saya bertanya-tanya mengenai pernyataan Ivar di bab paling terakhir. Diperingatkan bagi Anda sekalian yang telah membaca sampai sini, apa yang saya pertanyakan ini mungkin adalah sebuah spoiler yang tidak ingin Anda dengar.




>





SPOILER (ANDA SUDAH DIPERINGATKAN!)
”Ke Lithuania dulu, mengunjungi makam Junda …” <- dikatakan oleh Ivar Apa yang sebenarnya terjadi pada Junda??? Dia beneran mati atau ini salah ketik nama yang sangat amat fatal sekali???SPOILER











Skor: 7/10

Komentar

Anonim mengatakan…
Ehm, tentang spoiler....
Kupikir itu ga salah ketik.
Si J bukannya dead kena mampus? Lagian waktunya udah lewat lama 'kan?
Tapi jujur, aku sedih kalo memang begitu. Tapi apa boleh buat. Mungkin bakal dibuatkan penggantinya.

Heinz.
Juno Kaha mengatakan…
Hmm, apa iya dia kena wabah juga matinya ...? Emang rentang waktunya agak lama, tapi kaget aja sih kok tahu2 ngomongin berkunjung ke makam dia, padahal pas si Ivar ama Edward ketemu lg stlh sekian lama, topik mereka awal2 bukan ttg teman mereka yg meninggal.

Ato sblm pertemuan kembali yg diceritakan itu Edward-Ivar saling kontak berbagi kabar ato udah pernah ketemu sblmnya yah? Byk kemungkinan sih sbnrnya.

Hehe.
Anonim mengatakan…
Soal mati itu, aku nangkep kesan itu dari percakapan Merlin yang akhir-akhir kalo ga salah yang bilang kalo desanya ga akan sama lagi setelah wabah itu.

Tapi ga terlalu nyimak juga sih. Udah BT duluan gara-gara endingnya gitu doang.

Yah, tunggu buku keduanya aja....

Heinz
Juno Kaha mengatakan…
Gw kirain wabahnya berhasil diantisipasi ama beliau makanya gw kira dia baik2 saja. Gak tahunya ...

Hehe.

Postingan populer dari blog ini

Simple Notes: Fiction Junction (Character Part 1: Classification)

[Resensi] Valharald