Ini prolog proyek pribadi berjudul Signat 3 yang sekaligus akan digunakan untuk lomba Fantasy Fiesta 2010. Versi ini adalah versi mentah yang masih belum di-edit sama sekali, jumlah katanya juga masih belum memenuhi kriteria lomba. Kemungkinan besar akan terdapat versi berbeda untuk lomba dan untuk rilis. Tentu saja untuk judul saat dimasukkan ke lomba juga tidak mungkin dilabeli "prolog" seperti sekarang. :D Enjoy.
Roma, 19 Desember 2009
Dalam satu tahun, selalu ada masa-masa di mana malam terasa lebih gelap dan mencekam dari biasanya. Jam malam sudah lewat satu jam silam. Jalanan kota lengang, hanya beberapa mobil berlapis baja yang melintas. Berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, semua orang di seluruh penjuru dunia kini menaati peraturan jam malam yang diberlakukan berdasarkan waktu lokal masing-masing. Apa yang dulu ditutup-tutupi sebagai fenomena tak terjelaskan, disangkal sebagai mitos dan buah-buah paranoia manusia, telah membuktikan bahwa dirinya nyata saat malam menjelang, dengan cara yang keras: korban jiwa, seluruhnya adalah mereka yang menganggap peraturan jam malam adalah hal konyol dan seharusnya dibuktikan salah dengan cara dilanggar.
Sementara orang lain mengerjakan segala sesuatunya di rumah yang hangat, was-was namun mempercayakan nasib pada pihak berwenang, di salah satu markas militer dua orang non-Italia berjalan di koridor. Salah satunya, seorang gadis remaja berusia belasan tahun, berhenti berjalan dan melihat kota melalui jendela koridor.
“Ini sesepi di kota-kota lain di Indonesia,” komentar gadis itu. Tanpa bisa ditahan, bulu kuduknya meremang. Sukar membayangkan dirinya baru saja melalui tes kualifikasi untuk menjadi salah satu orang yang bekerja di luar sana di malam hari, tidak terlindung di balik tembok rumah yang telah dimanterai.
“Di Eropa pun ada monster. Tidak ada bedanya,” balas orang yang lain, seorang laki-laki berjubah hitam dengan rambut pirang kecokelatan. “Mereka yang bukan mage atau pemburu spesial, jadi apa boleh buat.”
“Aku senang aku berasal dari Indonesia, Carter,” lanjut si gadis berambut hitam. Dia menjauh dari jendela dan kembali berjalan mengikuti lelaki berjubah. “Malam hari di sana tidak sedingin di sini. Gila, kukira aku berada di neraka es saat pertama kali datang kemari.”
Carter menghela napas. “Aku sudah mengingatkanmu soal musim dingin di Eropa, Talisa.”
Talisa berjalan mengikuti Carter. Beberapa kali mereka berpapasan dengan tentara berseragam yang—selalu—melemparkan pandang waspada kepada mereka berdua, lalu kembali memandang ke depan setelah menerima anggukan singkat dari Carter. Tanpa Carter memimpin jalan dalam jubah mage-nya yang bertatah simbol besar berwarna emas, Talisa tidak yakin dapat mencapai ujung koridor terpendek bangunan ini. Salah satu tentara pasti sudah menahannya untuk diinterogasi di kantor penjaga. Yah, di mana normalnya seorang anak perempuan berjalan-jalan di dalam bangunan milik pihak militer di malam hari?
Mereka berdua tiba di sebuah lift yang dijaga ketat oleh empat orang tentara yang membawa persenjataan lengkap. Talisa mengernyit, seketika itu juga gugup melihat postur tubuh keempat tentara yang menjaga lift. Carter berbicara kepada salah satunya dalam bahasa Inggris, menunjukkan surat berstempel resmi dan kartu identitas, kemudian membiarkan badannya diperiksa lebih teliti. Bagian pemeriksaan badan itu yang membuat Talisa makin gugup. Tidak ada tentara perempuan di sini dan gadis itu tidak suka memikirkan dia harus menjalani pemeriksaan yang sama dengan Carter.
Dia beruntung para tentara itu tidak memeriksanya. Mereka membukakan pintu lift yang nampak berat dan mempersilakan keduanya masuk. Di dalam lift metalik itu, tak ada panel bertombol seperti lift biasa. Benda tersebut langsung meluncur turun tanpa perlu menekan tombol apapun.
“Mereka tidak memeriksaku,” gumam Talisa.
“Tidak satupun di antara mereka wanita, wajar saja mereka tidak menyentuhmu. Mereka tidak mau dianggap melakukan pelecehan.” Carter menarik napas panjang. “Mereka akan membunuh kita berdua di tempat kalau kau membuat kekacauan,” ujar Carter. “Itu aturan untuk mage yang bertugas sebagai mentor pemburu sepertiku. Kau adalah tanggung jawabku. Kau berbuat kesalahan, hukumannya untuk kita berdua.”
Tenang saja, kata Talisa dalam hati. Aku tidak akan membuatmu terlibat masalah.
“Kita kemari untuk menjemput Ushio-san kan?” gumam Talisa. “Ada urusan apa mage diundang kemari?”
“Sesuatu yang berkaitan dengan monster.”
Ushio-san—seorang mage dari Jepang atau di tempat asalnya dia menyebut diri onmyouji—datang dari Indonesia bersama Talisa dan Carter. Dia diputuskan ikut pergi di detik-detik terakhir, menurut yang Talisa dengar. Tadinya dia mengira Ushio-san hanya ditugasi sebagai pengawas ekstra, tapi setibanya di bandara, laki-laki Jepang itu langsung dijemput pihak militer sementara Talisa bersama Carter pergi ke tempat lain di sudut lain kota untuk menjalani ujian kualifikasi pemburu. Lebih mengherankan lagi, Carter—dan Talisa yang sepaket dengan Carter di hampir setiap kesempatan—diijinkan datang ke tempat militer untuk bergabung dengan apapun yang tengah dikerjakan Ushio-san.
Pintu lift terbuka, menampakkan sebuah koridor berlapis logam dengan deretan pintu di kedua sisinya. Ada sesuatu dalam atmosfer ruangan ini yang membuat Carter dan juga Talisa tidak segera melangkahkan kaki ke luar lift. Seandainya Carter tidak berinisiatif keluar dari lift, keduanya akan tetap diam di sana hingga lift tertutup kembali.
“Menurutmu di balik pintu ini ada zombi?” bisik Talisa. “Atau mereka memotong-motong mayat? Mayat alien atau monster atau malah manusia …?”
“Kau kebanyakan nonton film,” tukas Carter. Ia tidak dapat memberikan penyangkalan lain sementara bulu kuduknya sendiri mulai meremang. Lorong berlapis logam ini mengisyaratkan dirinya sebagai tempat rahasia tempat berlangsungnya segala jenis aktivitas yang diajukan Talisa. Satu-satunya cara untuk mengetahui kebenarannya hanyalah dengan masuk ke salah satu ruangan karena tidak ada jendela untuk mengintip, namun firasat Carter menyatakan kalau sebaiknya ia jauh-jauh dari pintu nomor berapapun.
“Aku tidak suka tempat ini, tapi aku tidak tahu kenapa.”
“Tidak ada kesempatan untuk melarikan diri,” kata Carter pelan. Ia sudah mulai berjalan lagi. Suara langkahnya bergema sepelan apapun ia berusaha meletakkan kaki. “Kurasa itu yang membuat kita ngeri.” Dia tersenyum samar dan menoleh pada anak asuhnya.
Talisa meringis. “Kita jemput saja Ushio-san dan kita kembali ke tempat kita menginap. Mudah-mudahan urusannya sudah selesai.” Gadis itu melirik nomor besar berwarna merah menyala di setiap pintu logam. “Dia ada di ruangan mana?”
“Katanya,” Carter berhenti di hadapan salah satu pintu dengan dua angka tertera, “nomor tiga belas.”
Tepat pada saat Carter menekan tombol interkom di sisi pintu, Talisa merasakan sesuatu dalam benaknya. Merasakan, bukan memikirkan atau membayangkan. Orang-orang yang menangani kesehatannya secara khusus menyatakan bahwa hal semacam itu selalu terjadi pada orang-orang seperti Thar—mereka yang mengalami insiden dengan monster seperti yang dialami gadis itu tiga tahun silam. Mereka “beresonansi” dengan keberadaan monster terdekat.
Ada monster di balik pintu ini.
Talisa menelan ludah. Sementara Carter berbicara pada seseorang yang menjawab via interkom dari dalam ruangan, Talisa mengendurkan kancing sarung pistolnya. Dia tidak sepenuhnya salah mengenai tempat ini, sepertinya.
Pintu logam menggeser terbuka.
Ruangan di balik pintu berlapis logam seperti lorong yang ada di luar. Suhunya jauh lebih dingin dari ruangan normal dan lampu-lampu sorot berjajar di langit-langit di dua sisi, menyorot langsung ke tengah-tengah ruangan. Teriakan kasar seorang laki-laki mengisi ruangan seluas lapangan bola itu, disusul geram kesakitan tertahan.
“Tuanku yang sangat saya hormati.” Carter mengeraskan suaranya sedemikian rupa, mengalahkan teriakan marah laki-laki berseragam militer di tengah ruangan. “Saya kira Mr Ushio dipanggil kemari untuk urusan monster, bukan menginterogasi manusia.”
Laki-laki yang tadi berteriak adalah seseorang bertampang tegas (dan galak, menurut Talisa) dengan kepala plontos. Salah satu daun telinganya rusak parah, tapi selebihnya tidak ada bekas luka yang signifikan di wajahnya. Tingginya jauh melebihi Carter—Talisa menebak 180 senti atau lebih—dan lengannya yang berotot menunjukkan kemampuannya mematahkan leher Carter dalam satu sentakan. Talisa mungkin bisa mengatasi orang ini, tapi daripada keyakinannya mengalahkan orang ini, dia jauh lebih merasa yakin kalau ia tak ingin berurusan dengannya. Tidak, tidak, sebaiknya memang hindari berurusan dengan tentara. Yang manapun apalagi yang di kepalan tangannya terdapat percikan darah.
Saat bergeser ke samping Carter yang tengah berbicara dengan si lelaki tinggi besar, Talisa tahu apa yang membuat Carter nekat berseru menghentikan pekerjaan si lelaki tinggi besar dan kenapa Ushio-san yang berdiri cukup jauh terlihat gugup dan berulang kali membetulkan kacamatanya.
Dari awal ada yang salah dengan kata “menginterogasi” yang dilontarkan Carter dan absennya sosok monster mengerikan—yang setengah diharapkan Talisa. Sosok yang disebut “monster” meringkuk di lantai, bernapas berat serta terengah-engah. Talisa melihatnya dengan mata kepala sendiri bagaimana kepala, kaki, serta tangan “monster” itu sama sekali tak ada bedanya dengan manusia. “Monster” itu bahkan mengenakan kaus hitam dan celana jins panjang seperti layaknya manusia.
“Jangan mendekati benda itu, Nona!” Si lelaki tinggi besar memperingatkan Talisa dengan suara menggelegar.
Tapi itu manusia bukan benda. Talisa memprotes dalam hati dan melangkah mundur.
“Dan, sampah sialan, jangan coba-coba mendekati tamuku!”
Talisa menekap mulut untuk menahan teriakan saat menyaksikan si lelaki tinggi besar mendaratkan tendangan telak ke perut “monster” itu. Suara tersedak terdengar dari mulut si “monster”.
“Sir.” Carter menyentuh pundak si lelaki tinggi besar, mendapatkan perhatian penuh dari pria tersebut. “Dengan penuh hormat, Sir, bisakah Anda menahan diri untuk tidak memukulinya lebih lanjut?”
“Dia bahkan tidak ada separuhnya manusia kalau Anda sudah melihatnya sendiri,” jawab si lelaki tinggi besar.
“Saya tahu. Ya, maafkan kelancangan saya. Kami tidak bermaksud ikut campur urusan Anda, tapi bisakah kami bicara baik-baik dengannya? Maksud saya, tentu saja, jika dia memang bisa berbicara.”
“Dia bisa bicara. Menyumpah serapah dalam bahasa Jepang.” Talisa tahu sekarang apa peran Ushio-san di tempat ini: penerjemah. “Tapi dia tak menjawab pertanyaan kami sejak tadi.”
“Kami akan mencoba bicara dengannya,” kata Carter, berusaha meyakinkan si lelaki tinggi besar. “Hanya mencoba, Sir.”
Si lelaki tinggi besar menatap Carter lamat-lamat, memikirkan kelayakan sang mage untuk menginterogasi tawanan. Merasa tidak ada ruginya ia membiarkan mage itu mencoba bertanya, laki-laki itu akhirnya mengangkat bahu dan berjalan menjauhi sang tawanan.
“Tanyakan padanya siapa dan di mana ibunya sekarang,” bisik si lelaki tinggi besar di telinga Carter. “Kantor pusat pembasmi monster membutuhkan keterangan lengkap mengenai hal itu untuk mencegah lebih banyak makhluk sepertinya di dunia ini.”
“Siap, Pak.”
Si lelaki tinggi besar berjalan mendekati pintu, memutuskan untuk mengawasi dari sana bersama kedua rekannya yang bertugas menjaga pintu.
Talisa meringis tertahan saat mendapati Carter tanpa rasa takut mendekati sosok yang terkapar di hadapan mereka. Mage itu menyentuh bahunya dengan lembut, mendapatkan reaksi tersentak kaget dari sosok tersebut. Setelah merasa sosok itu tak akan menyerang, Carter berkata kepadanya.
“Kau bisa duduk?”
Ushio-san menerjemahkannya tanpa diminta.
Mereka tak perlu menunggu lama untuk jawabannya. Sang “monster”, dengan tangan terborgol di balik punggung, dengan mudah membuat dirinya duduk bersila di hadapan mereka semua. Untuk pertama kalinya dalam sesi interogasi ini wajahnya terlihat jelas.
Makhluk itu mengenakan berangus logam di sekitar mulutnya, mencegahnya menggigit siapapun. Pelipisnya tergores dan salah satu matanya lebam. Saat menatap wajahnya, Talisa menyadari kalau warna mata sosok di hadapannya berwarna ungu cerah. Di samping itu, separuh wajah, leher, lengan, serta kakinya nampak dihiasi tato berbentuk lidah-lidah api hitam yang bercabang-cabang, membuatnya terlihat seperti anak-anak punk yang sering nongkrong di beberapa sudut kota menjelang malam. Rambut hitamnya dipotong pendek dengan menyisakan selarik “buntut” di tengah-tengah. Sisanya, tidak ada keanehan yang dapat ditemukan Talisa hingga dapat menyatakan bahwa sosok itu adalah “monster”.
“Aku dengar apa yang dibisikkan si Kolonel.” Tanpa disangka-sangka, orang bertato itu bicara. Dalam bahasa Inggris yang dipahami oleh ketiga orang di depannya. “Kalian akan menanyakan di mana ibuku, eh? Percuma kalian berbisik kalau berada dalam jarak lima meter dariku.”
Carter mengernyit. “Sebenarnya kau ini apa?”
“Aku pemburu Iblis terbaik di dunia. Kata Ayah, sebenarnya.”
“Kau punya nama?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Talisa.
“Nama?” Sosok itu berpikir sejenak. “Kode namaku Lemur, prototip pertama Project Hunter. Ayah memberiku nama Juuna Kuramoto.” Ia kembali memberi jeda beberapa detik. “Kau bisa memanggilku dengan panggilan yang mana saja. Tapi aku tetap tidak akan menjawab pertanyaanmu.”
“Kenapa?” tanya Carter.
Juuna menggeram, melontarkan tatapan tajam pada sang mage. “Kalian membunuh ayahku. Untuk apa? Kau bisa menjawabnya?”
“Dia melawan saat tentara menggrebek laboratorium kalian,” jawab Carter.
“Begitu?”
“Ya. Seandainya dia menyerah baik-baik, dia pasti tidak terbunuh.”
Juuna kembali terdiam. Kali ini ia menundukkan kepala dalam-dalam. Talisa sempat melihat mata ungunya meredup penuh kesedihan.
“Carter,” bisik Talisa, “apa itu Project Hunter?”
Carter menggaruk dagu. “Aku dengar dari temanku saat berada di kantor. Katanya pihak militer Jepang baru-baru ini menyerbu sebuah laboratorium tersembunyi di pinggiran kota. Kudengar kepala laboratorium itu mengadakan penelitian ilegal selama dua puluh tahun terakhir. Dari tempat itu mereka mendapatkan sejumlah data penelitian dan beberapa oknum yang mensponsori proyek tersebut.” Carter mengalihkan pandangan pada Juuna. “Dia termasuk di antara objek percobaan mereka. Percobaan menciptakan petarung terhebat, pemburu Iblis terbaik, apapun mereka menyebutnya.”
“Mutan?”
“Bukan.” Carter mengawasi gerak-gerik makhluk di hadapannya dengan gusar. “Manusia setengah monster. Dilahirkan dari rahim manusia biasa, tapi dia memiliki kemampuan alami layaknya monster. Kekuatannya melebihi Mutan biasa.”
Jrak!
Talisa mengerjap, otomatis memaksakan matanya agar beradaptasi dengan kegelapan total. Ia tak perlu berusaha melihat dalam gelap terlalu lama karena lampu darurat berwarna kekuningan menyala di sudut-sudut ruangan.
“Mati lampu di saat seperti ini …”
Orang-orang yang berada dalam ruangan terdiam, seakan-akan menunggu hal buruk terjadi. Sang Kolonel mengucapkan sesuatu pada rekannya dalam bahasa Italia, sama sekali tak dipahami oleh Talisa. Suhu ruangan yang dingin perlahan-lahan menghangat.
Insting Talisa menangkap keberadaan monster lain. Tepat di ruangan sebelah. Dia tidak merasakan kehadiran makhluk itu dari awal, jadi kenapa …
“Kukira ada kargo lain yang datang kemari bersamaku.” Juuna bergumam.
“Carter,” desis Talisa. “Di ruang sebelah.“
Kedua mage sontak mengarahkan tangan kepada Juuna ketika gadis setengah monter itu melonjak berdiri. Sebuah lambang di telapak tangan Carter dan Ushio-san berpendar dalam kegelapan. Juuna mengabaikan ancaman di dekatnya, menggumamkan sesuatu yang tak terdengar jelas.
“Aku tak bisa menggunakan sihir yang lebih kuat daripada sihir untuk melumpuhkan,” ujar Carter. Kening pria itu berkerut, nampak serius sekaligus panik.
“Tempat ini dibuat untuk menekan aktivitas sihir seminimal mungkin, Mage Carter.” Ushio-san menjawab. “Agar Iblis yang ditahan tidak dapat menggunakan sihir.”
Suara logam yang dihantam mengalihkan perhatian mereka. Talisa menebak, monster yang ia rasakan telah membobol pintu ruangan tempatnya dikurung. Kolonel dan kedua tentara lain menyiagakan senjata api masing-masing.
“Itu Golem, kukira.” Juuna menatap waspada ke arah pintu. Mata violetnya nampak berkilau dalam kegelapan. “Tubuhnya dilapisi batu. Kalian butuh tank untuk menembus tubuhnya.” Ia memiringkan kepala. “Atau pemburu Iblis sungguhan.”
“Kau hanya mencoba menakut-nakuti kami, setengah monster,” sahut Kolonel ketus.
Juuna memandang sang Kolonel. “Oke. Silakan dibuktikan sendiri.” Dia mengalihkan perhatian kepada Talisa. “Kau berbau Iblis juga.”
“Apa maksudmu?!” hardik Talisa, tersinggung dikatai seperti itu. “Aku bukan monster!”
“Mutan.” Juuna mengangguk, menyetujui ralatnya sendiri. “Itu sebabnya bau manusiamu jauh lebih mencolok.”
Talisa menarik keluar pistolnya, tapi tak menodongkannya pada Juuna. “Kau memilih manusia untuk makan malammu?”
“Aku alergi daging manusia. Tidak, intinya bukan itu. Kau pemburu Iblis kan?”
“Memangnya kenapa?”
“Kukira pemburu Iblis bekerja bertiga. Dengan satu mage dan satu Mutan lain.”
“Talisa baru saja resmi menjadi pemburu monster,” sela Carter. Ia menoleh cemas ke arah pintu yang berdentam kencang akibat pukulan dari luar. Pintu logam itu mulai melesak ke dalam. “Dia belum memiliki partner ker—“
“Kalau begitu biarkan aku yang menjadi partnermu.”
“A-apa?”
“Aku serius,” sambung Juuna. “Saat ini juga,” dia melirik pintu yang sudah dalam kondisi mencemaskan, “kita membutuhkan satu tim pemburu Iblis yang lengkap.”
Satu hantaman terakhir mengirim pintu besi melayang ke ujung ruangan. Rentetan tembakan meledak di sekitar pintu, diarahkan ke sosok gempal yang berdiri di ambang pintu. Makhluk itu menyeret langkahnya, masuk ke dalam siraman cahaya dan menampakkan tonjolan-tonjolan kaku di sekujur tubuhnya. Peluru yang ditembakkan melesak ke dalam sisik batunya dan ia tetap merayap lamban mendekati salah satu tentara. Si Kolonel meneriakkan sesuatu kepada keduanya.
Talisa meraih lengan Juuna, membalikkan badan gadis setengah monster itu untuk melihat borgol yang mengekang pergelangan tangannya.
“Talisa! Jangan!”
“Ini akan sedikit sakit,” kata Talisa. Ia menyentuh belenggu yang lebih mirip pasung mini dari logam itu, mengira-ngira bagian tengahnya, kemudian menghantam bagian tengahnya sekuat tenaga. Borgol itu patah menjadi dua bagian, membebaskan tangan Juuna yang langsung meraih berangus di wajahnya, berusaha melepaskan benda itu.
“Terima kasih banyak.”
“Apa yang kau lakukan?!”
Mengabaikan protes Carter, Talisa berlari ke depan Golem. Makhluk itu telah memojokkan si tentara yang kehabisan peluru di sudut ruangan. Tangannya yang berbonggol-bonggol terangkat tinggi, siap melumat sosok di hadapannya. Ketakutan setengah mati hingga kehilangan tenaga pada kedua kakinya, si tentara merosot terduduk.
Talisa berdiri di antara Golem dan si tentara, tepat pada saat monster raksasa di hadapannya menjatuhkan tangan. Talisa mengangkat tangan kanan setinggi mungkin, persis di jalur pukulan. Ia mengertakkan gigi ketika sisi tangan Golem mendarat di telapak tangan kanannya, tertahan tanpa banyak kesulitan.
“Cool.” Talisa hanya menangkap sosok yang mengatakan itu sebagai kelebatan bayangan lewat di samping dan di belakangnya. Rupanya itu Juuna, yang memanfaatkan tangan Golem yang terjulur rendah sebagai landasan mendaki. Ia melompat ke kepala Golem tanpa keraguan, menghunjamkan sesuatu yang membuat si monster batu menggerung serak dan mengangkat tangannya. Juuna melompat turun dari bahu Golem, seolah-olah tak menyadari bahwa tinggi bahu Golem dengan lantai mencapai lima meter.
“Kulitnya masih dingin. Kau juga merasakannya kan?” Juuna bertanya di sela-sela gerungan Golem. “Itu karena selama ini dia dibekukan. Kriogenik. Aku,” sisik-sisik hitam menjalar di sekeliling lehernya, “akan membakarnya. Seharusnya kulitnya retak.”
Talisa teringat pada es batu yang dimasukkan ke dalam teh panas. Es batu itu retak karena perubahan suhu. Ide Juuna memanfaatkan konsep itu dan kalau kulit Golem ini retak …
Si makhluk batu menggeram serak, kembali mengangkat tangannya untuk melumat lawannya. Meskipun destruktif, gerakannya sangat lambat, sampai-sampai Talisa yakin makhluk ini dapat dikalahkan dengan mudah hanya bermodal tank baja. Masalahnya mereka ada beberapa meter di bawah tanah dan tidak ada tank yang disimpan untuk berjaga-jaga di tempat ini. Saat melihat salah satu mata Golem, Talisa baru mengerti kenapa makhluk itu jadi bergerak lebih liar. Rupanya Juuna menusuk matanya dengan pisau militer yang entah kapan diambilnya dari salah satu tentara di sini.
Detik berikutnya, Talisa menganggap si batu yang lamban itu hanya setara kecoa baginya dan Juuna. Mereka bisa mengalahkannya dengan mudah.
Mengabaikan tangan Golem yang terangkat tinggi, Juuna mendekati makhluk itu. Talisa mengira Juuna akan memanfaatkan tangan monster itu untuk mendaki naik ke kepala dan menyerang mata yang tersisa. Dugaannya salah. Juuna tidak menunggu. Ia menyerang dengan semburan api jingga yang akan membuat malu penyembur api manapun karena besarnya jilatan api dan kenyataan bahwa gadis itu tidak menggunakan minyak dan sumber api sama sekali. Suara berderak terdengar dari dada Golem.
Talisa menunggu Juuna menghentikan semburan apinya dan menerjang maju. Dia mengayunkan tinjunya sekuat tenaga, mendaratkannya ke garis retakan di dada Golem. Satu kali, dua kali, hingga ia mendengar bunyi batu pecah. Tubuh raksasa yang menjulang di hadapannya limbung dan jatuh terjengkang akibat pukulan Talisa. Perban yang membalut tangan kanannya terkoyak, menampakkan tangan manusia berlapis perak.
Tidak memberi kesempatan bagi Golem untuk bangkit dan melawan kembali, Talisa mengacungkan pistol yang ada di tangan kirinya sedari tadi, menembak tiga kali ke dada Golem yang tak terlindungi.
Talisa menunggu. Napasnya terengah-engah. Moncong pistolnya masih diarahkan ke dada lawannya yang terbuka, siap menembak kapanpun makhluk itu menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Semakin lama ia menunggu lawannya bangkit, semakin gemetaran tangannya yang memegang pistol.
“Dia sudah tamat,” kata Juuna. Dia mengitari tubuh raksasa yang terbujur tak bergerak di lantai ruangan, memeriksa kepalanya.
“Kukira Golem dikalahkan dengan mengambil kertas di mulutnya.” Talisa menemukan suaranya kembali. Ia menurunkan pistolnya, ragu-ragu. “Tidak seperti itu?”
“Dia dinamai Golem karena tubuhnya berlapis batu.” Juuna mengangkat bahu. “Begitu saja kok.”
Talisa menghela napas penuh kelegaan. Setelah segala sesuatunya berlalu, ia baru menyadari kalau lututnya lemas. Gadis itu menjauhi buruan perdananya dan duduk berlutut, tak tahu bagaimana seharusnya bersikap.
“Cool.” Juuna berkata sekali lagi. Saat gadis setengah monster itu menyeringai, Talisa dapat melihat gigi-giginya yang runcing. “Sepertinya kita bisa jadi tim yang baik, ya?” Dia menghampiri Talisa dan mengulurkan tangan, menawarkan diri membantu berdiri.
Talisa berusaha tersenyum (yang menjadikannya seperti agak meringis) dan menyambut uluran tangan itu. Entah apa kata yang lainnya setelah melihat semua yang terjadi.
Untuk Talisa, dia tidak keberatan menjadikan Juuna partnernya. Dia tidak se-“setengah monster” yang dikatakan Kolonel. Ya, tidak seburuk itu memang.
5 komentar:
Pertamax
kaskuser banget gax?
memang kan kalau novelis nafassnya panjang.
sama kasusku waktu praktek bahasa Indonesia pas lulus SMA.
disuruh bikin cerpen tapi 12 halaman Polio
:wakwakwakL:
seperti biasa kak juun membuatku terpana kak. tapi pada saat aku baca bahwa ini buat fantasy fiesta.
O_o ini prolognya aja udah cerpen kak.
hehehe...
ivan / 8lackz
wedew keren.. ^^
sdikit saran aja, harusnya dari pertama talisa and carter melihat juuna diinterogasi diberi deskripsi singkat kalau dia perempuan. soalnya saya kira dia cowo punk ^^;; trus tau2 di bawah kok disebut2 gadis setengah monster O_o sampe bingung yg direfer tu talisa apa juuna ;)
anyway, cool idea :)
oya, was-was kudunya digabung jadi waswas :D
@8lackz: Ah, emang cuma prolognya doang yg dimaksudkan sebagai cerpen yg akan dikirim. Gak nambah lagi lah. Ini aja udah 3170 kata.
@juni: Hm, iya. Ada jg yg bilang kalo dia salah kaprah soal jenis kelaminnya si Juuna. Oh, ya makasih juga buat koreksi katanya. :D :D
Hehe.
Wah seru banget Juun. Ini cerita Signat yang pernah dipost di Pulpen? Ceritanya diganti ya?
Jadi dikirim buat Fantasy Fiesta ga? Pengen baca versi yang lebih pendeknya. Tapi Juun pasti bingung gimana mendekinnya, soalnya prolog ini udah padat informasi banget. Kalau ada yang dihilangin, kayaknya bakalan mengurangi keseruan ceritanya deh.
@yican: Biarpun judulnya Signat, gw kasih tambahan label berupa angka "3" di judulnya, see? :D :D Signat ini emang serial yg mau gw buat ala Breath of Fire, karakter utama ciri khas dan namanya sama tapi cerita dan settingnya beda dari yg sblmnya.
Dan yg ini memang beda dari yg pernah dipost di pulpen. :D :D
Sayangnya, krn pas kuposting link entry blog yg ini ke forum GR, si Dani lsg nyeletuk kalo ceritanya mirip banget ama entry cerita yg mau dia ikutsertain ke FF2010, alhasil gw mundur gak jadi masukin.
Yg gw masukin buat FF2010 jadinya yg judulnya Anak Lelaki dan Si Pengubah Wujud. Itu coming soon extended version di blog ini. :D :D
Hehe.
Poskan Komentar