Laman

Minggu, 08 Agustus 2010

Simple Notes: Fiction Junction (Character Part 2: The Rules)

Bagian kedua (dan harusnya juga bagian terakhir) dari pembahasan mengenai karakter sebuah cerita. Kalau sebelumnya ada sedikit klasifikasi sederhana tipe-tipe berbagai karakter di game, anime, manga, novel, dan lainnya, maka kali ini yang akan dibahas adalah pembuatan karakter.



Sekedar pengingat, suatu tokoh fiksi jarang yang benar-benar baru gres mengingat sastra sudah berkembang dari jaman dahulu kala. Asosiasi paling dekat adalah nasi goreng. Dari masa ke masa nasi goreng pasti ya nasi digoreng, tapi varian-varian nasi goreng bermunculan, seperti nasi goreng ikan asin, nasi goreng mawut, dan seterusnya. Nasi goreng (karakter) mungkin basisnya sama, tapi komponen tambahannya (keju, ikan asin, mie goreng, dst) bisa berbeda dan cita rasa yang ditimbulkan kepada konsumen pun unik dan tidak seperti suatu penjiplakan bodoh (jiplak fotokopi, tanpa ada perubahan sama sekali).

Tidak mau nasi goreng? Sama halnya seperti membuat karakter, Anda dipersilakan membuat sesuatu (yang sepanjang pengetahuan Anda) baru gres. Hal seperti ini justru jauh lebih mengesankan dalam sebuah proses pembuatan karakter. Mulai dari nol. Ada harapan karakter Anda malah dijadikan panutan bagi karakter orang lain.

Oke. Berarti sudah beres dengan masalah basis karakter. Mari ambil contoh, kita akan membuat karakter macam Edward Cullen dari Twilight Saga. Kenapa saya ambil karakter itu? Karena karakter itu dibenci dan dicintai banyak orang. Yang benci adalah pecinta vampir bad-ass yg menghisap darah dan "jahat" sementara yang cinta adalah mereka yang suka dengan penggambaran vampir yang tampan, keren, baik hati, kuat, pokoknya pria idaman wanita banget kecuali sisi vampirnya (sebentar, ada juga orang-orang yang menganggap berpacaran dengan makhluk berbahaya itu sebagai kegiatan eksotis, saya rasa, jadi perkecualikan yang terakhir untuk beberapa kasus). Jika dalam cerita saya muncul seorang karakter vampir tampan yang tidak mau terkena cahaya matahari karena kulitnya bisa berkilau-kilau lengkap dengan karakteristik persis sama dengan Edward Cullen, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi: pertama, orang akan menganggap itu hanya cameo/plesetan Edward Cullen, kedua, rumah saya tiba-tiba hilang dibuldozer fans Edward Cullen yang tidak terima saya menjiplak karakter kesayangan mereka.

Cameo biasanya kentara pada nama dan sifat paling menonjol, tapi sisanya sang karakter tidak berperan terlalu banyak dalam cerita dan tidak ada karakteristik lebih mendetail yang terlihat dari karakter cameo tersebut. Saat seseorang menyadari entah dari nama atau karakteristik khas sang karakter cameo, si pembaca tidak akan merespons karakter tersebut sebagai karakter jiplakan, tapi sebagian besar akan langsung tahu karakter tersebut berdasarkan siapa.

Plagiat menunjukkan sebagian besar karakteristik khas karakter yang pernah ada di karya orang lain. Anda masih ingat kasus Buku Harian Naila yang pernah ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta? Cerita dan karakter di sana langsung dicap plagiat oleh konsumen luas (dan mereka yang nonton dorama 1 Litre of Tears) karena terlalu banyak hal yang sama dengan sumber aslinya, termasuk ceritanya padahal dikatakan (seperti terdapat di hampir setiap pembuka atau penutup sinetron) bahwa kesamaan tokoh dan cerita hanyalah ketidaksengajaan belaka.

Berikut ini adalah hukum-hukum fisika karakter yang perlu dicermati saat akan membuat karakter, baik original recipe maupun modification recipe:

1. Hukum Aksi Reaksi
Hukum Aksi Reaksi karakter berbicara mengenai respons karakter atas karakter lainnya. Daripada mencontohkan reaksi yang wajar, saya lebih memilih untuk mencontohkan reaksi yang tidak wajar, misalnya seperti seorang karakter yang biasa-biasa saja, tidak kaget apalagi sampai menolak saat diberi tahu bahwa dia terpilih untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran. Jika diceritakan bahwa karakter tersebut pengecut, tidak punya kemampuan, selalu menghindar dari masalah, dan seterusnya, maka hal tersebut tidak wajar, tapi bagaimana jika orang tersebut telah begitu mengidamkan peran penyelamat dunia dan sudah mempersiapkan diri untuk peran tersebut selama hidupnya? Aksi-reaksi karakter dapat dinilai wajar atau tidaknya secara relatif berdasarkan latar belakang dan sifat karakter tersebut, dan aksi-reaksi karakter adalah suatu hal wajib ada--menurut saya--dalam sebuah cerita untuk menjaga warna cerita dan para karakternya.


2. Hukum Kesetimbangan
Hukum Kesetimbangan karakter berbicara mengenai komposisi sifat yang seimbang antara baik dan tidak baik. Ini adalah variabel dengan parameter yang paling luas. Kenapa ada hukum seperti ini di sini? Karena kita semua tahu bahwa tidak ada manusia yang benar-benar jahat atau benar-benar baik. Benar bahwa ada cerita yang menceritakan kebaikan (murni) melawan kejahatan (murni), tapi itu cerita untuk pembaca yang masih sangat muda. Bahkan dalam cerpen untuk konsumsi anak-anak pun saya mendapati bahwa penggerak masalah dalam cerita paling baik justru sifat jelek si pemeran utama (diasumsikan bahwa pemeran utama cerita anak kebanyakan juga anak-anak dengan segala sifat rewel, manja, dan sifat-sifat buruk khas anak-anak lainnya) yang menunjukkan keberagaman sifat karakter. Bayangkan betapa membosankan (dan tidak realistis) sebuah dunia cerita yang diisi karakter "hitam" dan "putih", there wasn't even grey (mengutip sedikit lirik lagu berjudul Technicolour oleh Paloma Faith).

3. Hukum Kekekalan Massa
Hukum Kekekalan Massa karakter tidak berbicara mengenai karakter yang tetap kurus langsing hingga akhir cerita, tapi berbicara mengenai konsistensi sifat sang karakter dari awal hingga akhir cerita. Apakah konsistensi yang dimaksud di sini adalah apabila sang karakter adalah seorang bodoh bebal maka hingga akhir dia akan tetap bodoh bebal? Belum tentu. Jika sebuah kejadian yang sangat besar di dalam cerita berhasil membuat si karakter bodoh bebal itu berniat untuk mengatasi kebodohannya dengan semangat '45 dan tekad membara, apakah salah jika pada suatu titik sang bodoh bebal menjadi nyaris setara dengan karakter lain yang lebih pintar? Karakteristik tokoh dapat berubah apabila ada kejadian dalam cerita yang cukup kuat untuk mengubah kepribadiannya. Tapi apabila tidak ada angin tidak ada hujan apalagi petir dan boro-boro ada kejadian luar biasa tiba-tiba seorang jenderal ekstra-jahat dalam cerita yang manipulatif, licik, dan haus kekuasaan tiba-tiba di menjelang akhir cerita bertobat setobat-tobatnya (bukan, ini bukan skenario sinetron hidayah) dan malah membantu pemeran utama untuk bersama-sama memerangi musuh lain, itu--saya katakan dengan lantang--adalah sebuah FAIL. FAIL. EPIC FAIL. EPIQUE PHAIL. Massa karakteristik sang jenderal dalam contoh sama sekali tidak kekal. Ada "massa" yang hilang entah ke mana, bahkan jadi zat kimia berbentuk gas pun tidak.

Semoga berguna dan mencerahkan. Segala masukan diterima dengan sukarela. :D :D

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Hukum Murphy
"Anything can go wrong, will go wrong."
==> setiap karakter sebaik dan sejahat apapun pasti terjebak masalah dan konflik.


Hukum Ekonomi
....
Seperti apapun karakternya, semoga bisa diterima pasar dan bukunya laku keras kaya tante JK. YAY!


Hukum Relativitas
BZZZZT! Sedang dipikirkan.


Btw, menurutku ide artikel ini bagus but somehow agak sulit dimengerti nih. Jadi komennya juga ikutan geje deh. Hehe.

Heinz.

Mantoel Toeink mengatakan...

Murphy's Law tu bunyinya seinget gw "If something can go wrong, it will."

Haha, terlalu sains yah makanya agak susah dipahami? :D :D Tadinya bermaksud merangkum dengan teori yg gak terlalu byk ditemukan di pasaran. Krn kebetulan ingetnya sains, ya udah dicaplok aja pake.

Hehe.

Anonim mengatakan...

Hehe.

Tentang si Murphy, aku copas langsung dari mbah wiki. Tapi jujurnya aku lupa total apa sangkutnya aturan ini dan di mana aku dengernya. Udah pikun.

Gaya sains-nya itu emang menarik. Tapi penyampaiannya ya emang rumit buat otak tuaku.

Heinz

Mantoel Toeink mengatakan...

Muphy's Law itu gw pertama kali denger pas pelajaran operating system di kampus. :D :D

Hehe.