[NaCl] 0: The Castle
Ini cerita iseng yang saya buat secara spontan, masih berkaitan dengan lomba bulanan yang diadakan di grup Kastil Fantasi di Goodreads (lombanya yang ini). Karena saya adalah moderator di grup tersebut, otomatis saya jadi juri, dan kalo udah jadi juri mana boleh ikutan entry cerita kan? :)) Tapi saya pengen iseng-iseng jadi saya memanfaatkan "Project NaCl" yang masih berupa konsep. Cerita di bawah ini hitung-hitung pemanasan juga kalau mau memulai "Project NaCl".
Selamat membaca. :P
Selamat membaca. :P
Kastil itu ada di
depan sana, menjulang di tengah-tengah kabut tebal. Dinding pertahanan, lengkap
dengan celah-celah untuk menembak, didirikan di sekeliling kastil. Di bagian
luar dinding, terlihat parit lebar berisi air. Aku melongok ke dalam parit dan
mendapati pantulan diriku di permukaan air yang gelap.
Ini menarik. Sungguh menarik.
Aku selalu bermimpi untuk datang ke sebuah kastil. Tempat-tempat kuno tak
pernah gagal menarik minatku.
Aku melangkah antusias ke pintu
gerbang kastil yang terbuka. Tak ada siapa-siapa. Aku menyusuri jalan setapak,
menuju pintu utama kastil. Seorang wanita anggun bergaun hijau nampak berdiri
di sisi pintu. Itu pasti bukan manusia, aku yakin. Wanita itu pasti seorang
bidadari. Pasti.
Wanita itu tersenyum manis
melihat kedatanganku. Dia membuka mulut, berbicara.
Lho?
Sial. Kenapa tidak ada suara
terucap dari bibirnya? Ini tidak benar.
Pandanganku menggelap. Tubuhku,
dimulai dari tulang ekor, tertarik dalam pusaran.
Awh, payah.
Aku kembali ke kastil. Si wanita
bergaun hijau menyambutku di tempat yang sama dengan sebelumnya.
“Selamat datang, Tuan.”
Akhirnya! Akhirnya aku mendengar
suaranya!
“Jika Tuan tidak keberatan, saya
akan mengantar tuan berkeliling kastil.”
Aku menjawab dengan gelagapan.
Terlalu antusias. Aku selalu begitu setiap kali tegang atau kelewat
bersemangat.
Sang wanita—euh, sang
bidadari—berjalan mendahuluiku. Aku mengikutinya dengan patuh, seperti anak
ayam mengikuti induknya. Kami berjalan melewati lusinan ruangan-ruangan di
dalam kastil, diterangi obor-obor di sepanjang koridor. Sang bidadari
mengantarku ke ruang singgasana, ruang makan, dapur, penjara bawah tanah,
perpustakaan, barak prajurit, istal, kamar-kamar, mulai dari kamar pelayan,
hingga kamar putri, pangeran, dan raja.
Nah.
Ke mana penghuni kastil ini? Ini
tidak benar.
Pandanganku menggelap. Tubuhku,
dimulai dari tulang ekor, tertarik dalam pusaran.
Payah sekali, ini masih belum
benar.
“Selamat datang, Tuan. Jika Tuan
tidak keberatan, saya akan mengantar tuan berkeliling kastil.”
“Y-ya. Ya! Tentu saja aku tidak
keberatan!”
Para penjaga berzirah lengkap
berdiri mematung di ruang singgasana, menjaga ruangan sekalipun sang raja tidak
ada di dalam sana. Ruang makan dan dapur riuh rendah oleh para pelayan yang
sibuk berjalan mempersiapkan jamuan. Makanan-makanan panas dipindahkan ke
pinggan lebar, kemudian dibawa ke ruang makan. Anggur-anggur dikeluarkan dari
tempat penyimpanan. Piring, garpu, pisau, dan cawan-cawan ditata di meja
panjang. Asap tipis beraroma harum menguar di udara.
Penjara bawah tanah gelap serta
suram. Tikus-tikus berlarian begitu kami mendekat. Tawanan-tawanan—kurus,
lusuh, namun tetap memandang dengan beringas pada siapapun yang melintas di
koridor—menggemerincingkan rantai belenggu masing-masing. Bau apak mendekam di
dalam sini. Kurasa penjaga yang mendapat tugas di sini seharusnya dibayar
lebih.
Sang bidadari yang mengantarku
berkeliling tertawa renyah mendengar komentar terakhirku mengenai penjaga
penjara.
“Anda harus mengatakan itu pada
Raja. Beliau mungkin akan mendengarkan masukan bagus tersebut. Sungguh,
komentar Anda tadi adalah ide yang luar biasa. Bagi para penjaga, mendapat
posisi di penjara adalah sesuatu yang lebih buruk daripada hukuman mati.”
Raja?
Hm. Ini juga harus diperbaiki.
Pandanganku menggelap. Tubuhku,
dimulai dari tulang ekor, tertarik dalam pusaran.
Tadinya kukira dua orang itu
membohongiku. Ternyata tidak. Ini mulai menarik.
Aku duduk di singgasana.
Beberapa orang menteri berdiri di hadapanku, masing-masing menundukkan kepala,
tak berani mengangkat wajah untuk menatapku langsung. Penasihatku yang paling
kupercaya berdiri di sampingku.
“Naikkan gaji para penjaga yang
bertugas di penjara bawah tanah,” kataku. “Mereka berhak untuk itu. Tugas
mereka tidak lebih ringan daripada penjaga-penjaga di seluruh kastil ini.”
“Sungguh keputusan yang bijak,
Tuanku. Saya akan menghubungi bendahara untuk kenaikan gaji para pengawal.”
Aku tersenyum sumringah.
Ya, aku memang seorang raja yang
baik kan?
Kau tahu? Menjadi raja tidak
selamanya menyenangkan, sekeras apapun kau berusaha bersikap bijaksana dan
menyenangkan seluruh pihak.
Tak lama setelah aku memutuskan
memberi kelonggaran pada para tahanan, terjadi usaha pemberontakan.
Aku menemukan salah satu tuan
tanah di bawah wilayah kekuasaanku menindas warga desa tempatnya tinggal. Aku
menitahkan beberapa prajurit menangkapnya. Dan apa akibatnya? Aku terpaksa
mengirim beberapa anggota dewan ke tiang gantungan setelah mendapati mereka
bersekongkol merencanakan bagaimana menyingkirkanku.
Kupikir pendidikan untuk para
putri dan pangeran terlalu mengekang mereka, jadi kubiarkan mereka
bersenang-senang sedikit. Dasar anak-anak tidak tahu diri. Begitu diberi
kebebasan, mereka bergaul dengan orang-orang yang tidak pantas. Yang paling
parah, salah satu putri melarikan diri bersama seorang pemuda miskin dari kota.
Menjadi raja tidak semudah yang
kubayangkan. Mungkin aku terlalu lembek.
Situasinya semakin menjadi-jadi.
Ini sudah di luar kendaliku.
Hah! Kenapa aku khawatir? Aku
bisa meninggalkan tempat ini sewaktu-waktu kan?
Aku menanggalkan jubahku,
tongkat kebesaran, dan mahkotaku di singgasana, lalu melenggang keluar kastil.
Namun sebelum aku meninggalkan gerbang utama, sang gadis berpakaian serba hijau
yang menyambutku ketika aku pertama kali tiba di tempat ini mencegatku.
“Anda hendak ke mana, Yang
Mulia?”
“Aku ingin pulang.”
“Pulang? Tapi kastil inilah
rumah Anda.”
Benar juga. Kenapa aku jadi
linglung? Pasti karena terlalu stres memikirkan masalah-masalah yang terjadi
belakangan ini.
Aku berbalik kembali ke dalam
kastil, mengenakan jubah dan mahkota, serta kembali duduk di atas singgasana
sambil memegang tongkat kebesaran yang berhiaskan permata. Yah, setelah duduk
kembali di sini, rasanya tidak separah tadi. Mungkin memang aku hanya perlu
jalan-jalan sejenak.
“Algojo,” panggilku. “Laksanakan
hukuman mati bendahara kastil dua jam lagi. Pancung dia di alun-alun. Kumpulkan
seluruh penduduk dan umumkan pada mereka bahwa bendahara dihukum mati atas
kejahatan menggelapkan kas negara.”
Kurasa begitu lebih baik.
Sedikit lebih tegas.
Salah seorang menteri mencoba
memberiku anggur beracun.
Cih. Orang-orang brengsek tak
tahu terima kasih. Aku berhasil mengetahui dengan tepat siapa pelakunya dan
memerintahkan para pengawal menangkapnya.
“Sula dia dengan batang kayu
tumpul. Pastikan dia menderita sampai mati.”
Hei.
Ini tidak benar.
Kastil ini bukan rumahku.
Aku bukan raja.
Tempat ini bukan tempatku.
Lalu dari mana seharusnya aku
berasal?
Di mana aku tinggal?
Siapa aku? Siapa namaku?
Hei. Ini sama sekali tidak
benar.
Kukira aku bisa meninggalkan
kastil ini. Aku berusaha dan berhasil beberapa kali kan sebelum ini? Iya kan?
Lalu kenapa sekarang tidak bisa? Kenapa aku merasa bahwa aku memang raja di
kastil ini dan ditakdirkan untuk tetap di sini?
Oh, tidak …
Aku akan menjadi raja selamanya?
Aku akan tinggal di kastil ini selamanya?
Sialan. Dengan semakin banyak
orang yang menginginkan kematianku, aku tak bisa diam saja. Aku akan menghabisi
mereka semua.
Aku raja. Dan aku akan berlaku
seperti seorang raja sungguhan.
Tapi … kukira aku bisa keluar
dari kastil ini. Kukira di sini bukan tempatku …
Tapi aku tidak bisa kemana-mana.
Aku akan tetap menjadi penguasa
kastil ini. Entah sampai kapan.
“Orang ini sudah tidak dapat
ditolong lagi.”
Dua orang polisi, yang datang
karena ditelepon oleh salah satu penghuni flat ini, datang mengunjungi kamar
yang dilaporkan “bermasalah” oleh para tetangganya. Mereka mengetuk, menggedor
pintu, namun tak ada jawaban. Mendengar erangan lirih dari dalam kamar,
akhirnya kedua polisi itu berinisiatif mendobrak pintu dan memaksa masuk.
Bisa dibilang tidak ada temuan
mengejutkan di dalam kamar itu. Mereka menemukan si penghuni kamar, seorang
pria kurus berkacamata, bergelung di kaki tempat tidurnya. Laki-laki itu menatap
kosong ke dinding kamarnya. Air liur menetes dari sudut mulutnya yang tak
tertutup. Sesekali ia menyeringai kemudian mengoceh dengan bahasa aneh yang
bahkan bukan bahasa dari dunia ini maupun bahasa alien dari film serial
televisi.
Polisi, yang sudah terbiasa
menemukan pengguna narkoba kelojotan sekarat dengan mulut berbusa di kamar
kecil flat kumuh, jelas tidak kaget mendapati temuan ini. Orang ini masih
hidup, meskipun tidak dalam kondisi bisa diajak bicara. Yang agak aneh adalah
kedua polisi itu tak melihat adanya minuman keras atau sisa obat-obatan di
dalam kamar itu. Dengan buku, kertas-kertas, komputer, dan printer, kamar itu
sama sekali tidak cocok dengan kondisi penghuninya. Hal paling mencurigakan di
sana hanyalah sebungkus obat kapsul tanpa merek yang isinya telah habis sama
sekali.
Si polisi yang lebih suka
membaca daripada rekannya menemukan sebuah buku di atas meja kerja. Dari sana
dia memastikan kalau penghuni kamar yang sudah tak tertolong itu adalah seorang
penulis ternama yang belakangan ini reputasi meredup karena karya-karyanya
tidak lagi merajai pasar.
Atau dulunya dia seorang penulis,
sampai dia menghancurkan dirinya sendiri.
“Nate,” sosok berjaket hoodie
hijau cerah menggeser bidak caturnya dengan tangan yang terborgol, “tempat
seperti apa yang ingin kau datangi?”
Lawan mainnya, sosok berjaket
hoodie biru cerah, menggeser bidak caturnya dengan tangan yang terborgol.
“Tempat yang tenang. Yang polisinya tidak menyusahkan. Bagaimana denganmu,
Chloe?”
“Sama.”
Keduanya terkekeh, membuat
seringai yang senantiasa menghiasi wajah mereka lebih lebar.
“Orang yang terakhir itu,”
cahaya lampu ruang bawah tanah menyinari wajah Chloe, memperjelas tato
garis-garis menyerupai barcode di kedua tulang pipinya, “bilang dia butuh obat
untuk imajinasinya.”
“Ya,” Nate mencondongkan tubuh
hingga cahaya lampu ruang bawah tanah menyinari wajahnya, memperlihatkan tato
kotak-kotak yang melintang di tulang hidungnya, “dia kelihatan stres.”
“Dia butuh liburan.”
“Betul.”
“Heheheheheh.”
“Heheheheheh.”
“Liburan panjang yang
menyenangkan.”
“Kira-kira ke mana dia pergi
yah?”
“Kita sudah memberitahunya
supaya tidak berlibur lama-lama kan?”
“Sudah. Kita mengucapkannya
dengan jelas.”
“Heheheheheheh.”
“Heheheheheheh.”
Cahaya lampu ruang bawah tanah menyorot bidak-bidak
catur yang tersusun di atas papan. Nate dan Chloe meletakkan bidak putih dan
bidak hitam seenaknya. Hanya benteng yang menempati posisi benar di sudut-sudut
papan.
Komentar
skizooo
lha, sewaktu ditulis "tulang ekor", gue kirain itu seekor panda-man, tapi keknya bukan ya? :3
oya, NaCl = Nate - Chloe?
Hehe.
Hehe.
Menurut pendapatku pribadi, chapter ini benar-benar menunjukkan kemisteriusan Nate dan Chloe..