[NaCl] 1: Insomnia - pt 2
Sebelumnya: Insomnia - pt 1
“Heheheheh.”
==fin==
“Pai daging.”
“Pai daging.”
Sambutan itulah yang diterima
Henry ketika dia diantar oleh Saltman ke ruang bawah tanah apotek untuk kedua
kalinya. Kali ini pemuda itu tidak datang dengan tangan kosong. Dia membawa
lima kardus makanan yang masing-masing berisikan pai daging yang masih hangat.
Demi membawanya, Henry sampai terpaksa meminta tolong salah seorang temannya
yang memiliki mobil untuk mengantarnya. Alasan yang diberikan agar temannya
tidak banyak tanya adalah salah satu kerabatnya yang tinggal di daerah sana
sedang sakit dan minta tolong padanya secara spesifik untuk membelikannya pai
daging.
Sosok berjaket Nate dan Chloe
langsung berlari menghampiri Henry. Keduanya mengambil kardus yang di
masing-masing tangan Henry dan kembali ke meja. Mereka menyapu papan catur dan
bidaknya begitu saja, menjatuhkan semuanya ke lantai dengan suara berklotakan
nyaring, kemudian meletakkan pai daging di atas meja.
“Itu …”
“Lima pai daging ini,” kata
Nate, “untuk dua belas kapsul obat yang kami berikan sampelnya kemarin.
Bagaimana? Eheheh.”
“Dua belas,” gumam Henry. “Itu
artinya total 24 jam.”
“Kami tak menyarankanmu kurang
tidur,” kata Chloe. “Sudah kami bilang kan? Heh, heh.”
“Bagaimana?”
Henry menimbang-nimbang sejenak,
menghitung-hitung antara uang yang harus dikeluarkannya untuk pai-pai daging
itu dan jumlah obat yang didapatkannya.
“Baiklah.”
Kedua sosok berjaket itu
bergerak ke arah rak-rak obat dengan gerakan yang seingat Henry sama persis
seperti ketika ia pertama kali datang ke tempat ini dulu. Saat kembali lagi ke
meja, Nate dan Chloe secara sistematis membuka bungkus plastik obat dan
memindahkan dua belas kapsul ke dalam wadah silinder plastik.
“Silakan.”
“Hehehe.”
Henry, kali ini tidak ragu-ragu
maupun merasa takut serta curiga seperti dulu, mengambil wadah berisi kapsul
tersebut dari atas meja. Seakan-akan takut terlihat oleh orang yang paling tak
diharapkan, pemuda itu langsung menyimpan obat-obat itu di saku jaketnya.
“Kalau aku membawakan kalian
sepuluh pai daging, itu artinya aku bisa mendapatkan dua kali lipat dari ini?”
tanya Henry memastikan.
“Yap.”
“Kuharap kalian memberikan bonus
untuk pembelian dalam jumlah banyak.”
Tiba-tiba, seringai permanen
yang biasa menghiasi wajah Nate dan Chloe memudar hingga hanya menjadi senyuman
misterius. Henry sampai harus menggosokkan telapak tangannya ke lengan lainnya
karena gugup melihat perubahan mendadak itu. Sorot cahaya lampu membuat wajah
Nate dan Chloe berbayang-bayang.
“Heheh, kau harus menganggap
serius ucapan kami.”
“Ya. Kami tidak pernah main-main.”
“Heheheheh.”
“Heheheheh.”
“Kami tidak pernah main-main,
bahkan dengan ucapan kami.” Kali ini Nate dan Chloe menegaskan kata-kata mereka
dengan mengatakannya bersama-sama.
“Selamat tinggal.”
“Kami akan mengharapkan
kedatanganmu selanjutnya.”
Henry mengernyit kebingungan.
Sambil menggosok tengkuknya yang merinding ngeri—dia tak memahami reaksi Nate
dan Chloe yang sangat tidak berkaitan dengan pembicaraan mereka sebelumnya; dua
orang itu sesinting penampilannya sepertinya—Henry berjalan kembali menuju
tangga keluar. Saltman telah menunggunya di samping pintu.
Sesaat sebelum pintu tertutup di
belakangnya, Henry dapat mendengar Nate dan Chloe membuka salah satu kardus pai
daging dan mulai makan dengan berisik.
Hidup Henry tidak pernah terasa
sesempurna ini.
Tugas-tugas kuliahnya selesai
tepat waktu dan karena dia mengerjakannya dengan kondisi bugar akibat
mengkonsumsi obat. Pekerjaan paruh waktunya berjalan lancar karena dia tidak
perlu khawatir pekerjaan itu akan mengganggu kesibukannya yang lain, lagi-lagi
karena dia mengkonsumsi obat. Dia tak pernah absen menghadiri latihan persiapan
turnamen nasional yang sudah semakin dekat, tentu saja karena dia mengkonsumsi
obat.
Obat itu mengubah hidupnya. Ke
arah yang lebih baik.
Henry berpikir untuk
meningkatkannya lebih baik lagi. Dia kembali mendatangi Apotek Saltman dengan
membawakan lima kotak pai daging beberapa kali lagi. Menghindari kecurigaan
dari teman-temannya maupun dari si kembar yang telah memberinya peringatan aneh
serta indikasi jelas bahwa mereka menolak pembayaran yang lebih banyak untuk
obat lebih banyak, Henry berkunjung ke Apotek Saltman dengan jeda waktu
tertentu, masing-masing berjarak sekitar satu setengah hingga dua minggu. Dia
mengatur penggunaan obatnya sedemikian rupa, hingga obat yang ada padanya
bertambah banyak setiap kali dia datang membeli obat dari Apotek Saltman.
Ujian akhir dan turnamen
nasional semakin dekat. Henry merasa dia tidak akan punya cukup waktu untuk
mempersiapkan diri menghadapi keduanya, jadi dia mulai menimbun obat misterius
yang membuat waktu tidurnya berkurang dua jam setiap meminum satu kapsul. Dia
mungkin butuh tidak tidur hingga berhari-hari.
Dia akan membutuhkan obat
tersebut.
Henry benar-benar tidak menyesal
telah berkunjung ke apotek misterius itu dan mempercayai urban legend yang
dibacanya di internet.
Suasana tempat berlangsungnya
turnamen nasional terisi oleh dengungan peserta. Mereka bergerombol di
sudut-sudut bersama anggota timnya atau dengan kenalan masing-masing, membentuk
lingkaran kecil, baik duduk di kursi yang ditarik dari depan komputer terdekat,
maupun duduk di lantai yang berlapis karpet. Sisanya, yang mendapat giliran
pertandingan pertama, sibuk di depan unit-unit komputer yang telah disediakan
untuk pertandingan; melakukan set-up, pemanasan cepat sekaligus mengetes
kecepatan komunikasi menggunakan headset.
Tim Henry termasuk yang mendapat
giliran pertama di hari ini. Ia dan timnya telah selesai mengeset ini dan itu
dan sekarang sedang memasuki sesi pemanasan cepat.
Kepala Henry terasa … kosong.
Ia menggelengkan kepala
kuat-kuat, berusaha mengembalikan konsentrasinya. Semalam ia tidak tidur karena
menyelesaikan makalah lain yang harus dikumpulkan besok (sebenarnya tiga malam
sebelumnya pun ia tidak tidur karena berbagai alasan: Henry mengganti pekerjaan
paruh-waktunya menjadi shift malam, latihan turnamen, tugas kuliah lainnya yang
deadlinenya sudah sangat dekat dan butuh waktu lama untuk dikerjakan) dan hari
ini dia sama sekali tak merasa mengantuk. Tapi sedari tadi konsentrasinya
sering hilang. Mungkin justru karena dia tegang makanya konsentrasinya jadi
timbul tenggelam dan kepalanya terasa kosong seperti tadi …
Lagi. Kepalanya kosong lagi.
Henry mengerjap dan menggeleng
lagi. Fokus, fokus. Dia harus fokus.
Gambar di layar monitor
berkelebatan. Kualitas grafis tiga dimensi yang luar biasa membuat segala
sesuatu yang ditampilkan nampak nyata. Henry mengetuk-ngetukkan jemarinya di
atas keyboard dengan cekatan. Suara temannya terdengar dari headset.
Jantung Henry berdebar keras.
Turnamen nasional ini membuatnya tegang. Kalau timnya menang, mereka akan
bertanding di tingkat dunia, melawan pemain dari berbagai belahan dunia. Ah,
tidak usah sampai semuluk itu. Nominal hadiah yang dijanjikan untuk juara dua
turnamen nasional saja sudah membuat Henry sangat, sangat, sangat antusias.
Dada Henry terasa sakit.
Ada yang salah.
Kenapa jantungnya berdebar … sekeras ini?
Konsentrasi Henry buyar lagi.
Karakternya dalam game tertembak hingga tewas. Salah satu temannya
menghardiknya karena melakukan tindakan bodoh itu.
Kepala Henry kosong. Dadanya
tiba-tiba sakit. Jantungnya berdebar terlalu
keras.
Lalu tanpa dapat ditahan lagi,
otot-otot yang menyangga Henry agar tetap duduk melemas. Pemuda itu ambruk dari
kursinya, mendarat di atas karpet.
“Henry? Oi? Kau kenapa, Bung?”
“’Henry Griffith, dua puluh
tahun, peserta Turnamen Nasional Gamewarz meninggal dunia pagi ini, pukul
sepuluh lewat lima belas menit waktu setempat.’.”
Saltman membacakan sebuah
artikel dari koran sore. Pria botak itu berdiri di dekat ujung tangga ruang
bawah tanah. Nate dan Chloe memandangi Saltman lekat-lekat, sama sekali tak
memainkan papan permainan yang telah mereka susun di atas meja. Keduanya menyeringai
seperti biasa, dengan cahaya lampu membentuk bayang-bayang di sekitar mata
mereka.
“’Korban tewas secara mendadak
di aula utama Hathway Square, tempat diadakannya Turnamen Nasional Gamewarz.
Petugas medis yang disiagakan di lokasi kejadian berupaya memberikan
pertolongan pertama, tapi gagal. Jasad korban selanjutnya dibawa ke rumah sakit
terdekat, namun petugas rumah sakit yang menanganinya menyatakan korban telah
meninggal dunia. Hasil pemeriksaan sementara menyatakan korban meninggal akibat
gagal jantung. Diduga kuat korban yang juga mahasiswa mengkonsumsi minuman
penambah energi secara berlebihan yang mengakibatkan keracunan kafein.
Penyelidikan lebih lanjut akan dilakukan oleh pihak kepolisian atas permintaan
orang tua korban.’.”
Saltman mengakhiri pembacaan
artikelnya dan menutup koran kembali. Si kembar berpaling kembali ke papan
permainan mereka, menentukan giliran dengan suit—keduanya telah menyusun
komposisi lainnya selain sekedar gunting, kertas, batu, membuat kompleksitas
yang tidak perlu di antara mereka.
“Klien terakhir kita tewas.”
“Ya.”
“Ya.”
Saltman mengangkat bahu. “Kalian
tidak peduli?”
“Bukan tidak peduli. Kami sudah
memperingatkannya. Heh, heh.”
“Ya, kami memperingatkannya
jelas-jelas, hehe.”
“Baiklah,” kata Saltman. Pria botak
itu menuju tangga. “Aku kembali ke atas sekarang.”
“Selamat malam, Saltman,” ujar
Nate.
“Jangan tidur terlalu malam,”
kata Chloe.
Saltman mengangguk singkat,
menyadari bagaimana si kembar memberikan penekanan pada kalimat masing-masing.
“Terima kasih.”
Pintu tertutup.
“Heheheheh.”
==fin==
Komentar
Tapi, ya, karena mengadaptasi pola yang udah ada, gw harus mengusahakan jangan sampe polanya sama plek berulang kali.
Hehe.
1. Dua paragraf itu, menurutku, terlalu bertele untuk penjelasan setting. Coba dipersingkat dengan mempergunakan kata yg lebih tegas. Atau yaa... diselingi sedikit cerita.
2. Saia punya kesan, walaupun disebutnya sebagai urban legend, Toko Saltman ini kurang berasa misteriusnya. Apalagi ternyata udah banyak orang yg ngunjungin toko, sampe ada yg post tampak depan tokonya segala! Mana kayanya reaksi Henry waktu pertama kali melihat toko, bukan seperti orang yang kaget gimana nemu urban legend. Kalau saia jadi Henry, saia pasti bakal ga cuma bengong di depan toko. Saia bakalan kucek2 mata, cubit pipi panda eh pipi sendiri, bengong dengan mulut mangap sampe ileran, yah gitu lah kira2.
err.. segitu dulu deh.
Hayo semangat >:)
@Manik: Yakin isinya kafein? :D :D :D
@Anggra: Kayaknya belakangan ini paragraf kepanjangan emang jadi penyakit gw. :| Akan kuingat untuk lanjutan2nya, rawr.
Dan soal kurang misterius ... yaa, itu murni kesalahan gw karena impulsif bikin ceritanya gak pake diedit sih. :P Maaf2.
Btw, terima kasih buat semuanya yang udah baca dan komentar. :D :D
Hehe.