[NaCl] 2: Genius - pt 2

Sebelumnya: Genius - pt 1


“Sosis.”

“Sosis.”

Mark beruntung ada tukang daging tak jauh dari Apotek Saltman. Ada indikasi kuat bahwa ayahnya tak akan mau mengantarnya kembali ke tempat ini lagi setelah pengalaman pertama mereka yang terasa ganjil. Jadi, segera setelah ujiannya hari ini berakhir, Mark, berbekal pengetahuannya akan rute angkutan umum yang termasuk minim, nekat kembali ke tempat ini demi mendapatkan obat yang sama dengan yang diminumnya dua hari silam.

Tidak ada papan permainan apapun hari ini di atas meja. Nate dan Chloe menaikkan kedua kaki masing-masing ke atas meja dan menyeimbangkan kursi sedemikian rupa hingga hanya berdiri di dua kaki belakang. Melihat kedatangan Mark, alih-alih mengembalikan kursi ke posisi semula, keduanya malah mendorongkan kaki hingga mereka jatuh terjengkang bersama tempat duduknya—Apa yang mereka lakukan? batin Mark—lalu berdiri dan berlari-lari kecil untuk mengambil kantong-kantong yang dibawa Mark.

“Lima kilo sosis,” kata Nate, “untuk lima butir obat yang kami berikan sampelnya padamu kemarin. Bagaimana? Heheheheh.”

“Cukup banyak,” ujar Mark, tak mengatakan bahwa dalam satu kali pakai, ia hanya mengkonsumsi setengah potongan kaplet dan itu sudah lebih dari cukup.

“Begitu? Eheheh.”

"Ya.”

Kedua sosok berjaket itu mengambil lebih banyak obat dari lemari tempat penyimpanan di belakang. Setibanya kembali di meja, Nate membuka wadah yang berisi banyak butiran obat sementara Chloe memindahkan lima kaplet ke dalam wadah plastik silinder transparan, lalu meletakkannya di atas meja, menyorongkannya ke arah Mark.

“Silakan,” kata keduanya bersamaan.

“Aku masih bisa membeli obat ini untuk lain kali kan?” tanya Mark seraya mengambil wadah dari atas meja.

“Tentu saja. Heheheh.”

“Memangnya kenapa tidak bisa? Eheh.”

“Lima kilo sosis babi untuk lima butir?”

“Ya.”

“Heheheheh.”

“Heheheheh.”

Mark menimang-nimang tempat obat di tangannya sesaat. Nate dan Chloe menunggu, seakan-akan mengetahui ada sesuatu dalam benak Mark.

“Aku akan kembali lagi kapan-kapan,” kata Mark.

“Master.”

“Sebentar.”

Langkah Mark terhenti.

“Apapun yang kau rencanakan dengan obat tersebut,” kata Chloe, “kami harap kau tetap menahan diri.”

“Ada alasan kenapa manusia hanya dapat menggunakan sepuluh persen dari otaknya.” Nate menambahkan.

“Heheheheh.”

“Heheheheh.”

“Obat ini memiliki efek samping? tanya Mark.

“Sir, apa gerangan di dunia ini yang tidak memiliki efek samping?” tanya Nate.

“Kau memberikan sesuatu, maka kau menerima sesuatu,” kata Chloe.

“Konsekuensi-konsekuensi. Tanggung jawab.”

“Dan biasanya konsekuensi yang buruk jika sesuatu terlalu berlebihan atau terlalu kekurangan.”

Nate dan Chloe memandang satu sama lainnya, menyepakati perkataan satu sama lainnya. Mereka mengarahkan kedua telunjuk masing-masing pada wadah yang berada di tangan Mark. Wajah keduanya berbayang-bayang.

“Apa yang ada di tanganmu adalah sebuah beban berat.”

“Tolong anggap serius ucapan kami. Ini sebuah peringatan.”

“Heheheheh.”

“Heheheheh.”

“Selamat tinggal.”

“Kami akan mengharapkan kedatanganmu selanjutnya.”

Mark mengangguk singkat, mengantongi wadah obat, dan berjalan menuju pintu keluar. Saat ia menapaki anak tangga pertama, lelaki berkacamata itu baru menyadari sesuatu:

Seringai Nate dan Chloe menghilang menjadi sebuah senyuman misterius ketika mereka menyampaikan peringatan padanya.

Tengkuk Mark tiba-tiba terasa dingin.

Pintu di belakangnya menutup, memblokir suara-suara berisik dari Nate dan Chloe yang membongkar sosis-sosis.

Jujur saja, Mark tidak menepati pembayaran dengan membawakan mereka “sosis babi terenak yang ia ketahui”. Mark belum pernah mencicipi sosis dari tukang daging itu.

Ia hanya tahu kalau ia membelikan mereka sosis babi.

Titik.


Nilai-nilai Mark meningkat pesat—kalau bukan sangat sempurna—setelah ia mendapatkan obat dari kedua orang misterius di Apotek Saltman itu. Mark mengatur sendiri dosis pemakaian berdasarkan pengalamannya selama mengkonsumsi obat tersebut; biasanya tidak pernah lebih dari sebutir saja sudah cukup.

Mark tidak sebodoh itu sampai mencelakai dirinya sendiri akibat overdosis obat.

Masalahnya …

“Mark, kau pergi ke tempat aneh itu lagi ya?”

Tuduhan tak disangka-sangka itu datang dari ayahnya. Mark membeku sesaat sebelum membalikkan badan. Seharusnya tidak ada yang mengetahui kunjungan-kunjungan Mark ke Apotek Saltman. Tidak teman-temannya di sekolah, maupun orang tuanya sendiri. Mark sudah berhati-hati.

“Kenapa Ayah bilang begitu?”

Pria paruh baya yang berdiri di ambang pintu kamar Mark itu mengangkat bahu singkat. “Aku hanya mengira kau akan kembali ke sana tanpa memberitahuku.”

“Tenang saja, Yah. Aku tidak kembali ke tempat itu.”

“Benarkah?”

“Benar.”

Diam-diam Mark dapat merasakan bulu kuduknya meremang.

Ayah Mark menatap anaknya lekat-lekat, lalu hanya berkata singkat seraya berlalu pergi, “Baguslah kalau begitu.”

Mark mulai berpikir bahwa mungkin ayahnya benar. Mungkin tidak sebaiknya ia kembali ke tempat aneh yang memberikannya obat yang seharusnya tidak ada di dunia ini.

Tapi jika ia berhenti menggunakan obat itu … Saingannya yang satu itu …

Tiba-tiba saja dua rencana brilian terbersit dalam benak Mark.

Yang pertama untuk sang rival.

Yang kedua untuk Nate dan Chloe.


Penggunaan obat yang diatur dengan ketat membuat Mark masih memiliki cukup banyak sisa kaplet obat. Lebih dari cukup sebenarnya. Dia menggerus tiga butir dan memasukkannya ke dalam kantong plastik kedap udara kecil.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa guru dan polisi akan bereaksi sigap jika mereka menemukan sekantong daun-daun kering yang dihancurkan (walaupun nyatanya bukan ganja) atau sepaket serbuk putih (walaupun nyatanya bukan heroin). Ada anak-anak yang cukup jahat untuk melakukan kejahilan-kejahilan pada temannya dengan memasukkan sepaket tepung di tas sang korban, tapi polisi yang sudah mengetahui ada hal seperti ini, biasanya melakukan tes singkat terlebih dahulu untuk memastikan zat apa yang ada di dalam paket.

Mark yakin obat-obatan Nate dan Chloe dapat membuat seseorang dijebloskan dalam penjara jika diketemukan.

Jika Mark terpaksa harus melepaskan ketergantungannya pada obat tersebut untuk mengalahkan rivalnya, maka hal terbaik yang dapat dilakukannya adalah menyingkirkan pesaingnya itu. Dengan cara apapun.

Tidak boleh ada dua orang jenius berdiri di atas panggung yang sama.

Titik.

Mark berhasil memasukkan paket kecil itu ke dalam tas pesaingnya di salah satu kesempatan, memanfaatkan kebiasaan Mark dan orang itu yang memang sering datang lebih awal ke kelas perkuliahan.

Satu hal yang Mark tidak pernah ketahui adalah bahwa lelaki yang dinyatakannya sebagai pesaing bukanlah orang yang sebersih anggapannya.


Seorang mahasiswa lain, yang tidak pernah Mark lihat, datang mendekati orang itu. Setelah terlihat mendiskusikan sesuatu yang nampak rahasia, mahasiswa asing itu merampas tas ransel rival Mark dengan kasar, sembari melemparkan lembaran-lembaran uang ke arah pemilik tas. Setelah mengaduk-aduk tas sesaat, mahasiswa asing itu keluar kembali. Mark awalnya mengira sang rival akan mengejar mahasiswa tersebut, tapi ternyata tidak.

Satu jam perkuliahan berlangsung dengan tenang.

Ketika Mark keluar dari kelas bersama dengan yang lainnya, barulah terjadi sesuatu.

“BAKER! BAAAAAKKKEEEERRRRRR!”

Itu nama belakang rival Mark. Semua yang berada di koridor saat itu langsung menoleh ke arah datangnya suara.

Mahasiswa yang tadi mendatangi Baker, berlari, setengah sempoyongan. Ia sempat terjatuh, namun dengan segera bangkit lagi sambil melolong dan berusaha berlari kembali.

Kengerian merayapi sekujur tubuh Mark.

Darah terlihat mengalir dari telinga, hidung, serta mata si mahasiswa, dan pasti di bagian tubuh lainnya yang memungkinkan darah keluar jika melihat jejak darah yang tertinggal di lantai koridor. Ia terlihat seperti seseorang yang teler sekaligus sekarat dan kesakitan. Nyaris seperti zombie namun hidup.

“BAKER—!” Mahasiswa itu akhirnya berhasil mencapai Baker. Kondisinya yang begitu mengerikan membuat semua orang menyingkir, memudahkannya mencapai Baker. “Apa … yang … kau … berikan … pada … ku …?”

“Apa maksudmu!” Baker mendorong bahu mahasiswa itu hingga melepaskan cengkeramannya. “Aku tidak mengenalmu!”

“Mataku … sakit … terlalu terang …” Mata si mahasiswa berputar liar di rongganya. “Suara-suara … keras … Bau-bau ... dingin—panas—“

BWOOSH.

Si mahasiswa menyala dalam kobaran api. Apinya berwarna biru alih-alih merah atau kuning.

Keributan menjalar di sepanjang koridor secepat api melalap tubuh si mahasiswa. Sebagian menjerit panik, sebagian meneriakkan “air” entah kepada siapa tanpa mendapatkan respons dengan segera. Semuanya terlalu takut mendekati si mahasiswa yang terbakar itu.

Mark menekap mulutnya dengan ngeri, bersandar di dinding koridor tanpa sanggup berbuat apa-apa. Keringat dingin membasahi punggungnya.

Apa yang terjadi? Ada apa ini? Kenapa—

Sebuah istilah muncul dalam benak Mark, menjawab pertanyaan.

Spontaneous human combustion.

Dan mungkin Mark-lah penyebabnya.


Seaneh dan setidak masuk akal apapun sebuah kasus, pihak kepolisian harus melakukan tindakan jika mereka mendapat laporan.

Mark mendapati dirinya menjawab pertanyaan yang diajukan seorang petugas terkait insiden di koridor universitas. Masih syok dengan segala yang terjadi, ia menjawab singkat dan gugup. Petugas yang menanyainya menganggap kegugupan itu sebagai sesuatu yang wajar setelah menyaksikan peristiwa mengerikan, tapi Mark tahu ia gugup bukan hanya karena itu.

Mark-lah penyebab semua insiden ini.

Baker, disinyalir sebagai orang terakhir yang ditemui korban, diperiksa lebih menyeluruh. Mark akhirnya paham bagaimana obat yang diniatkannya hanya untuk memfitnah Baker bisa sampai berpindah tangan: Baker sebenarnya memang seorang pengedar obat-obatan terlarang dan si mahasiswa yang tewas adalah salah satu pelanggannya. Si mahasiswa mendatangi Baker di luar jadwal dan tanpa adanya kesepakatan transaksi terlebih dahulu. Baker sebenarnya tidak membawa obat secuil pun pada saat itu, tapi Mark telah menyelipkan obat di dalam tasnya. Obat itulah yang ditemukan si mahasiswa yang sudah mulai kacau karena membutuhkan dosis obat hariannya. Dia mengambilnya tanpa pikir panjang, merasa sudah membayar Baker dengan cukup. Di lain pihak, Baker mengira dirinya lalai meninggalkan stok kecil dalam tasnya.

Rencana Mark untuk menyingkirkan pesaingnya dari panggung tercapai, meskipun segala sesuatunya berjalan di luar prediksinya.

Mark hanya punya satu rencana terakhir dengan obatnya.

Sanggupkah dia melakukannya?

Dia sekarang tahu bahwa dia berhadapan dengan sesuatu yang berada di luar nalar manusia, di luar pencapaian sains dan teknologi.

Haruskah dia begitu keras kepala? Melaksanakan rencana kedua? Mendatangi kembali apotek itu?

Mungkin.

Karena Mark tak dapat menahan diri membayangkan pengetahuan macam apa yang bisa dikoreknya dari kedua orang di bawah tanah Apotek Saltman itu jika ia memanfaatkan obat yang dimilikinya.

Dan apa saja yang dapat diperolehnya dari pengetahuan tersebut.


“Selamat datang.”

“Selamat datang.”

Nate dan Chloe tengah bermain kartu ketika Mark datang. Keduanya menangkupkan kartu masing-masing di atas meja.

“Tidak bawa sosis.”

“Sayang sekali.”

“Heheheheh.”

“Heheheheh.”

“Maaf soal itu,” kata Mark. Ia mengeluarkan botol minum dari dalam tasnya, meminum isinya sedikit, lalu menelan sebutir kaplet. “Aku hanya datang untuk berterima kasih dan mengucapkan selamat tinggal.”

“Oh?”

“Obat kami?”

“Eheheheheh.”

“Eheheheheh.”

“Dan mengambil sedikit suvenir?” tanya Nate.

“Kau cerdas,” timpal Chloe. “Cerdas sekali.”

Keduanya mengambil kartu masing-masing, membukanya hingga membentuk seperti kipas, lalu mengarahkan bagian belakang kartu pada Mark.

“Beritahu aku, apa langkah Nate selanjutnya, “ kata Chloe.

“Beritahu aku, apa langkah Chloe selanjutnya,” kata Nate.

“Heheheheh.”

Benak Mark tiba-tiba dipenuhi kilasan-kilasan. Tulisan. Simbol-simbol. As. Jack. Sepuluh. Hati. Wajik. Dua. Empat. Sekop. Queen. As lagi. Sekop. Wajik. Tujuh.

Mark nyaris menjawab bahwa Chloe memiliki kartu sangat bagus di tangannya, tapi kemudian ia teringat tujuan kedatangannya dan kembali berkonsentrasi, menggali lebih dalam ke kedalaman pikiran Nate dan Chloe. Dia akan mulai dari … Nate.

Kepala Mark terisi lebih banyak kilasan. Sebagian besar berwarna sepia. Tulisan. Simbol-simbol. As. Jack. Sepuluh. Hati. Wajik. Rumus-rumus. Sekop lagi. As lagi. Tujuh. Rumus-rumus. Ledakan. Sosok-sosok. Hawa panas. Rumus-rumus lagi. Simbol-simbol. Sihir.

Sengatan rasa nyeri mulai berdenyut di dalam tengkorak Mark.

Alkimiasihirsainsteknologisimbolrumuspersamaanaskingsekopwajikduasatutigagaramradiumheliumnitrogenkarbonalkimiateknologitujuhdelapanledakansihirsihiralkimiaalkimiasainssainsgaramgaramrumusrumuswajikteoremahatihipotesisacarbawangkualisuhutitikdidihkingqueen.

Mark roboh. Kepalanya terasa berdenyut-denyut. Berputar. Ia mengerang tertahan, merasakan betapa dinginnya lantai ruang bawah tanah di kulitnya.

Apa-apaan ini—

Masih merasa penasaran serta tak memahami apa yang terjadi, Mark mengalihkan konsentrasinya pada Chloe. Dengan tangan gemetar, lelaki berkacamata itu mengusap aliran hangat yang terasa dari hidungnya, tak mengecek apa yang diusapnya. Ia memfokuskan perhatian pada si jaket hijau … Chloe …

**************************************************************************************************************************************************************************************************************************************************

Mark meraung lebih keras. Terpengaruh kekisruhan dalam benaknya, otot-otot tubuhnya terasa kejang. Sakit kepala hebat menyerangnya. Tidak butuh waktu lama hingga lelaki berkacamata itu memuntahkan isi perutnya. Sesuatu mengalir dari hidungnya, menetes. Darah.

Saat Mark kehabisan tenaga dan nyaris menjatuhkan dirinya ke kubangan muntahan, dua pasang tangan menahannya di kerah baju dan lengannya. Pandangan mata Mark tak fokus. Darah masih menetes dari hidungnya. Ia nyaris tak dapat mendengar apa-apa. Sakit kepalanya makin tak tertahankan. Memori dan pengetahuan yang bukan miliknya bercokol dalam otaknya, mengacaukan penginderaannya, mengisi pikirannya dengan begitu banyak gangguan. Terlalu banyak …

Mereka … bukan manusia …

Mark merasakan tubuhnya diangkat dan didudukkan di atas kursi. Pada detik ini, kepalanya terasa siap meledak. Otaknya tak lagi dapat mengkoordinasi gerakan otot tubuhnya.

… bukan … manusia …

Bukan manusia …

Mereka …

… bukan …

Tubuh Mark oleng. Lidahnya mengucapkan pikiran sejatinya yang terakhir:

“Kalian … bukan manusia.”

Mark Hommund ambruk dari kursinya. Matanya terbuka. Dadanya masih naik turun oleh tarikan napas.

Tapi dia sudah tamat.

Titik.


“Apa yang terjadi?"

Saltman membawa alat pel, menuangkan cairan pembersih ke ember berisi air, dan mulai membersihkan sisa-sisa kekacauan di ruang bawah tanah. Nate dan Chloe telah mengambil satu kursi lain dan membaringkan tubuh klien terakhir mereka di atas tiga kursi yang dijajarkan. Sementara yang satu memeriksa tanda-tanda kehidupan dari nadi di leher, yang lainnya memeriksa reaksi pupil mata dari tubuh yang dibaringkan itu.

“Dia mencoba membaca pikiran kami,” kata Nate, jujur, tanpa basa-basi. “Dengan menggunakan obat yang kami jual padanya. Heh, heh.”

“Harus kuakui, dia memanfaatkan obatnya dengan luar biasa,” kata Chloe. “Ehehe.”

“Heheheheh.”

“Heheheheh.”

“Apa dia tewas?” tanya Saltman.

“Tidak.”

“Katatonik.”

Saltman menggeleng perlahan. “Anak malang.”

“Heheheh. Ya.”

“Apa yang sebaiknya kita lakukan dengan tubuhnya?” tanya Saltman lagi. “Kalian akan membiarkan keadaannya seperti itu?”

“Dia tidak akan bertahan hidup tanpa mesin penunjang kehidupan,” kata Chloe. “Eheheh.”

“Kami akan mengurusnya,” jawab Nate. “Tenang saja. Heheheheh.”

“Anak malang.”

“Mungkin tidak semalang itu. Ehehe.”

“Bagaimana mungkin tidak semalang itu?” tukas Saltman. Nada bicaranya tetap datar, tidak menunjukkan simpati.

Nate dan Chloe menyingkir sejenak dari tubuh tak bergerak di atas kursi. Keduanya membereskan kartu-kartu yang berserakan di atas meja.

“Dia telah mengetahui kebenaran, heheheheh.”

“Ya. Eheheheh. Semua kebenaran dan pengetahuan yang kami miliki.”

“Termasuk bahwa kami berdua bukan manusia.”

“Sayangnya kebenaran dan pengetahuan yang didapat selama dua ratus tahun tidak bisa diserap dalam dua detik.”

“Heheheheh.”

“Heheheheh.”

==fin==

Komentar

Manikmaya mengatakan…
Jadi penasaran untuk mengetahui siapa sebenarnya dua orang ini. Hehehehehe.

Btw ... kalau settingnya di luar negeri non-Asia istilahnya kan rute bus, bukan rute angkutan umum :3
NagaBenang mengatakan…
what will they do to Mark? O.o

ane lebih suka yang ini daripada yg Insomnia, lebih bikin penasaran :3
Juno Kaha mengatakan…
@Manik: Aah, makasih koreksinya. Maaf, mindset Indonesia mikirnya masih angkot. :P

@Pus Ivon: Kira2 diapain yaaaa~? Lebih bikin penasaran ini daripada Insomnia yah? Hohoho. Baguslah kalo begitu. :D

Terima kasih utk Manik dan Pus Ivon krn udah baca dan ninggalin komen, rawr!

Hehe.
Anonim mengatakan…
yang part 1 ceritanya lucu, tapi part 2 ini jadi dark gituh... =A=
Unknown mengatakan…
Whoa, twist-nya.... :o

Baru kali ini mampir. Ditunggu lanjutannya ya. :)
Juno Kaha mengatakan…
@Anonim: Hoo? Part pertama malah terasa lucu? Aslinya sih emg direncanakan bernuansa dark...

@aulia: Hehe, makasih udah baca dan komentar. :D :D :D

Hehe.

Postingan populer dari blog ini

Simple Notes: Fiction Junction (Character Part 1: Classification)

[Resensi] Valharald