[NaCl] 4: Wild - pt 2

Sebelumnya: Wild - pt 1



Sindrom Kavanov adalah mimpi buruk bagi para Putra Purnama.

Pertama kali ditemukan sekitar lima ratus tahun silam, Sindrom Kavanov diduga timbul karena kelainan genetika. Gejala-gejala dari sindrom ini baru terlihat saat penderitanya berusia lima tahun—usia di mana para Putra Purnama mulai bisa berubah wujud menjadi bentuk hewan atau setengah-hewan.

Mirip seperti yang banyak diceritakan di film dan cerita fiksi, Putra Purnama memiliki dua “kesadaran” berbeda ketika dalam wujud manusia dan dalam wujud alternatifnya. “Kesadaran” wujud hewan atau setengah-hewan lebih agresif dan lebih banyak bergerak berdasarkan insting ketimbang logika, sementara “kesadaran” wujud manusia sama seperti pada manusia normal.

Pada Sindrom Kavanov, dua “kesadaran” yang krusial untuk proses alih-rupa ini tidak terpisah dengan benar. Salah satu dari “kesadaran” tersebut memberikan perlawanan, seperti reaksi alergi, pada “kesadaran” lainnya. Dalam kondisi demikian, kemampuan intelektual penderita sindrom menurun drastis, bahkan menjadikannya luar biasa agresif. Selain itu, proses alih-rupa mereka menjadi sedemikian terdistorsi hingga mereka mengalami deformasi fisik yang cukup parah; terjebak di antara dua wujud tanpa dapat memilih untuk menjadi salah satunya dengan sempurna.

Dulu, para Putra Purnama membunuh siapapun yang mengidap sindrom ini. Sekarang, seiring dengan berjalannya waktu, ada dua kubu yang berbeda dalam menyikapinya: kubu yang menganggap pembunuhan bukanlah solusinya dan mendirikan lembaga untuk mengayomi para penderita Sindrom Kavanov dan kubu yang menganggap sah pembunuhan atas seorang penderita sindrom. Kubu kedua kalah jumlah, tentu saja, dan meskipun menyatakan bahwa penderita Sindrom Kavanov tidak ada gunanya dibiarkan hidup, jarang sekali mereka benar-benar membunuh seorang pengidapnya.  Tindakan mereka sejauh ini hanyalah menelantarkan seorang pengidap di bawah naungan lembaga, mengoper tanggung jawab begitu saja.

Bagi Chris, lembaga tidak menyelesaikan masalah sama sekali.

Kenapa merawat sesuatu yang “rusak” dan tidak akan pernah bisa diperbaiki?

Kenapa membuang waktu dan tenaga untuk itu?

Chris telah menceritakan tentang si kembar pada istrinya. Tidak ada rahasia di antara Chris dan istrinya, termasuk bahwa Chris adalah seorang Putra Purnama, keberadaan makhluk-makhluk non-manusia seperti Putra Purnama dan Tudung Merah, dan—tentu saja—ilmu-ilmu yang sukar dipercaya seperti sihir dan alkimia. Istrinya juga telah diberitahu mengenai Sindrom Kavanov yang diderita anak mereka, termasuk keputusan yang diambil oleh Chris: mencoba menyembuhkan anak itu atau membunuhnya.

Butuh waktu sangat lama, pertengkaran yang berlarut-larut, dan banyak air mata hingga Chris dan istrinya mencapai kesepakatan soal itu.

Chris sedang membereskan kantong sampah di dapur ketika terdengar ketukan dari pintu dapur. Begitu dibuka, dua sosok berjaket terlihat berdiri di depan pintu, basah kuyup akibat hujan berangin di luar sana.

“Untung saja sedang hujan,” kata Nate. Chloe mengambil daun yang menempel di tudung Nate. “Malam dan hujan. Tidak banyak orang di luar.”

“Tapi dingin,” kata Chloe.

“Heheheheh.”

“Heheheheh.”

Keduanya berhenti sejenak di ambang pintu. Chris merasa mendengar suara berdengung sekilas, lalu ketika si kembar melangkah masuk, jaket katun mereka kering tanpa tanda-tanda kehujanan sedikit pun. Bahkan sepatu mereka tak meninggalkan jejak air di lantai dapur.

Chris tiba-tiba merasa gugup. Ini pertama kalinya dia mengundang makhluk bukan manusia ke dalam rumahnya. Istrinya pernah bertemu dengan Putra Purnama lain di luar rumah, tapi belum pernah sekali-sekalinya ada yang datang ke rumah mereka.

Istri Chris muncul dari ruang tengah, menengok dapur karena mendengar suara pintu yang dibuka dan ditutup kembali.

“Stacy,” kata Chris. Ia berdeham sebelum melanjutkan; suaranya tiba-tiba saja tersangkut di tenggorokan. “Ini Nate,” Chris menunjuk si jaket biru, “dan Chloe.” Chris menunjuk si jaket hijau.

“Ah … selamat malam.” Dari tudung jaket, pandangan Stacy Kane langsung turun ke sepasang borgol di pergelangan tangan si kembar.

“Selamat malam, Ma’am,” kata si kembar berbarengan.

Chloe mendekati istri Chris, meraih pergelangan tangan wanita itu, menekankan jempolnya sedemikian rupa di bagian dalam pergelangan tangan istri Chris.

“Sebulan kurang tiga hari.” Chloe memiringkan kepala. “Jaga kesehatan Anda, Ma’am, untuk anak kedua ini.”

“Ah … iya.” Istri Chris mengangguk ragu. “Terima kasih.”

“Sama-sama.” Chloe melepaskan jarinya dari pergelangan tangan Stacy dan berjalan mundur kembali ke sebelah Nate. “Heheheheh.”

“Mau minum sesuatu?” tanya Stacy, mulai menunjukkan kegugupan dengan keberadaan si kembar.

“Tidak usah.”

“Terima kasih banyak atas tawarannya.”

“Uhm, baiklah.”

Saat istrinya telah kembali ke dalam rumah, Chris menatap si kembar bergantian. “Stacy … hamil?” tanyanya tak percaya.

“Kalau Chloe bilang begitu,” kata Nate. “Chloe lebih peka mendeteksi kehidupan daripada aku. Heh, heh.”

“Bagaimana caranya—?”

“Aku hanya tahu.” Chloe mengangkat bahu. “Entah.”

“Selamat untuk anak keduamu, Sir Kane.”

Si kembar tertawa pelan.

Chris mulai mengerti kenapa banyak yang menganggap pasangan kembar ini aneh dan sedikit menyeramkan bahkan untuk ukuran kaum non-manusia.

Sang detektif swasta membawa si kembar turun ke ruang bawah tanah, tempat di mana ia mengurung anaknya selama beberapa bulan terakhir.

Begitu lampu dinyalakan, suara geraman terdengar dari tengah-tengah ruangan.

“Oooh,” gumam si kembar berbarengan, menunjukkan minat.

Chris mengurung anaknya di dalam kandang anjing yang kokoh. Awalnya, dia hanya berniat mengurung anaknya di ruang bawah tanah, tapi kemudian ia melihat seluruh perkakas yang tersimpan di lemari di ruang bawah tanah. Khawatir anaknya akan melukai dirinya sendiri baik secara sengaja maupun tidak sengaja dan merasa kegaduhan yang ditimbulkan sangat mungkin membuat tetangganya berpikir bahwa telah terjadi kekerasan dalam rumah tangga—lalu membuat keadaan bertambah runyam dengan melaporkan kecurigaan mereka kepada polisi—Chris memasukkan anaknya ke dalam kandang anjing.

“Hati-hati,” gumam Chris cemas saat melihat Nate dan Chloe mengambil langkah-langkah lambat mengitari kandang dari arah berlawanan.

Sosok di dalam kandang bertubuh seperti anak-anak usia lima tahun pada umumnya; masih kalah besar jika dibandingkan seekor golden retriever dewasa. Kulit wajahnya masih sepenuhnya manusia, namun kedua rahangnya mengalami deformasi menjadi moncong pendek tak sempurna. Bulu-bulu tumbuh di tengkuk dan sebagian tangan; hanya satu tangan yang bertransformasi sempurna menjadi cakar setengah-serigala. Betis dan jari-jari kaki sosok itu terjebak di tengah-tengah perubahan, sepenuhnya berubah menjadi kaki setengah-serigala, namun tanpa bulu serigala secuil pun, memperlihatkan kulit yang berwarna merah muda.

“Alia,” panggil Chris, berusaha mengalihkan perhatian sosok di dalam kandang padanya. “Alia. Lihat sini. Papa di sini.” Lelaki itu berjongkok di depan kandang. “Lihat sini.”

Alia mengeluarkan geraman lagi. Dari balik rambut panjangnya yang acak-acakan, dua sorot mata bergerak mengikuti pergerakan Nate. Kedua mata itu berbeda warna. Yang satu cokelat seperti mata Chris, yang satu lagi kuning sawo. Keduanya sama-sama memiliki pupil seperti seekor serigala.

Nate dan Chloe mencapai sisi lain kandang. Alia mendengus dan menyalak galak ke arah keduanya.

“Hei.” Chris memanggil si kembar. “Aku serius. Hati-hati.”

“Ya, Sir.”

Nate dan Chloe menurunkan tudung jaket lalu menarik keluar kalung dari balik jaket masing-masing. Dengan kunci yang tergantung di rantai kalung, mereka saling membukakan borgol yang lainnya. Usai dengan borgol, si kembar menarik turun risleting jaket masing-masing.

Di balik jaketnya, si kembar mengenakan kaos hitam tanpa lengan yang identik. Chris memicingkan mata dan melihat bahwa ada saku-saku serta sabuk-sabuk kecil yang menahan ampul-ampul, spidol, senter kecil, dan … sesuatu yang Chris kira batangan kayu manis.

Nate dan Chloe kembali ke sisi-sisi kandang. Alia mendesis dan memamerkan gigi-gigi taring dengan penuh ancaman.

“Siap?”

“Siap.”

Serempak, Nate dan Chloe melompat ke arah kandang. Mereka mengulurkan satu tangan melewati jeruji kandang, menahan kedua pergelangan tangan Alia. Nate menggunakan satu tangannya lagi untuk menahan bagian belakang kepala Alia, sementara Chloe menggunakan satu tangannya lagi untuk mencengkeram wajah Alia, menutupi matanya.

“Grrrrrr!”

Alia memberontak, tapi si kembar lebih kuat. Chris melihat kilatan menjalar dari tangan Nate dan Chloe yang memegangi kepala Alia.

“Oi,” ujar Chris cemas. “Apa yang kalian la—“

Tubuh Alia berhenti memberontak. Kepalanya terkulai lemas dan tubuhnya ambruk ke dasar kandang ketika si kembar melepaskannya.

“Apa yang kalian lakukan?” desak Chris, tiba-tiba saja merasakan kengerian menjalari punggungnya.

“Membiusnya, Sir,” jawab Nate.

“Supaya pekerjaan kami lebih mudah,” lanjut Chloe.

“Heheheheh.”

“Heheheheh.”

“Tapi kalian tidak menggunakan obat bius,” kata Chris lagi.

“Yaa, kami pakai sihir.”

“Daripada jarum suntiknya patah kan?”

“Boleh pinjam kunci kandangnya?”

Chris membukakan pintu kandang. Nate dan Chloe mengangkut keluar tubuh Alia dari dalam kandang, memperlakukannya dengan penuh kehati-hatian. Dari balik jaket, keduanya mengeluarkan wadah kulit berbentuk kotak, sekilas terlihat seperti sampul kulit tambahan untuk kitab suci. Saat risletingnya dibuka dan wadah tersebut diletakkan di atas lantai, barulah Chris dapat melihat suntikan beserta jarumnya, pinset, gunting dan pisau bedah, jarum-jarum dan benang untuk menjahit luka, plester, dan gulungan kain kasa. Komplit untuk standar keperluan operasi kecil dengan tidak mempertanyakan kehigienisannya.

Si kembar berjaket biru dan hijau itu bekerja secara sistematis. Nate mengambil sampel—darah, sedikit guntingan bulu, air liur, potongan kuku. Chloe memeriksa kondisi tubuh—mata, tarikan napas, denyut jantung. Chris sengaja mendekat supaya dapat mengawasi keduanya, memastikan tak satupun dari mereka melakukan hal-hal aneh pada putrinya.

Lalu, saat Nate menyimpan salah satu kantong kedap udara berisi sampel potongan kuku, kedua mata Alia terbuka.

“Ups.”

“GRRRAAA!!!”

“Alia!”

Alia melonjak berdiri dalam satu gerakan cepat. Taringnya menghunjam langsung ke leher Nate. Chris bersumpah ia mendengar suara daging robek dengan sangat jelas ketika itu. Sebelum anaknya memutuskan leher Nate, Chris melingkarkan lengan di sekeliling leher Alia, mencengkeramkan jarinya dalam-dalam ke rahang bawah anak itu, berupaya menahan gigitannya. Harusnya dia tidak perlu melakukan itu karena sesaat setelah membenamkan gigi-giginya, ekspresi Alia berubah seakan-akan ia menyadari sesuatu yang aneh. Entah apa.

Chloe menangkupkan telapak tangannya di wajah Alia, menutupi kedua matanya seperti tadi. Chris merasakan ada gelombang tak kasat mata di udara. Alia menggerung protes, lalu tubuhnya kembali terkulai lemas.

“Itu jeleknya anestesi sihir,” kata Chloe. Ia menjauhkan tangannya. “Efeknya tidak jelas kapan berakhirnya. Eheheheh.”

“Kalian yang harusnya tahu kan kapan efeknya berakhir,” gerutu Chris. Dengan tangan, ia membuka rahang anaknya agar melepaskan leher Nate.

“Kami pribadi lebih suka menggunakan obat untuk anestesi.” Chloe mendekati Nate yang terkapar tak bergerak di lantai. “Kami bukan penyihir. Kami ini alkemis. Heheheheheh. Sihir bukan keahlian utama kami. Obat-obatan, itu keahlian utama kami. Tapi kalau pakai jarum suntik bahaya untuk anakmu.”

Chris melirik sekilas ke tubuh Nate. Sama sekali tidak ada gerakan. Mulai dilanda kepanikan karena ada mayat di ruang bawah tanahnya, Chris tak bertanya pada Chloe apakah mereka sudah selesai memeriksa Alia atau belum dan memasukkan kembali anaknya ke dalam kurungan.

Gawat, batin Chris. Alia membunuh seseorang. Kalau sesama Putra Purnama mengetahui ini, mereka pasti lebih ingin Alia diamankan atau … lebih buruk lagi. Apa yang harus kulakukan? Bukan manusia pun, Alia sudah membunuh—

Chloe mengaduh dan menggerutu tak jelas ketika kaki Nate menghajar dagunya.

Hah?

Chris melongo tak percaya.

“’O’o’k. ‘U’nya ‘hsin ‘hum ha’aaa.” Nate berusaha menendang Chloe lagi. Suara berdeguk tak jelas keluar dari mulutnya, bersama-sama dengan cairan bening kemerahan (Darah? Chris bertanya-tanya, baru sadar bahwa “darah” Nate yang menggenang di lantai tidak merah pekat seperti darah manusia.)

“Wah, pita suaranya robek.” Chloe terkekeh, menghindari tendangan lain dari Nate. “Sini, kubenarkan dulu.”

Nate kembali berdeguk tak jelas. Saat Chloe berlutut di sampingnya, ia menampar sisi kepala Chloe kuat-kuat. Chloe membalasnya dengan membenturkan keningnya keras-keras ke kening Nate. Deguk protes sekali dari Nate dan setelahnya ia berbaring diam.

“Kalian …” Chris, terlepas dari pengalamannya mengenal banyak makhluk bukan manusia, merasa wajahnya memucat. “Apa sebenarnya kalian ini?”

“Kami?” Chloe meraih wadah kulitnya. Ia mengeluarkan jarum dan benang. “Kami alkemis.”

“Makhluk apa kalian ini?”

Chloe menoleh ke arah Chris. Seringai lebar yang merindingkan bulu kuduk menghiasi wajahnya.

“Coba tebak.”


Detektif swasta memiliki cara kerja dan spesialisasi yang berbeda-beda, tergantung dari banyak faktor, termasuk di dalamnya karakteristik sang detektif itu sendiri.  Chris mengenal beberapa detektif swasta yang seratus persen manusia tulen tapi cara kerjanya jauh lebih berantakan dan lebih kasar daripada dirinya. Salah satu detektif yang Chris kenal malah tidak tahu kapan harus berhenti mengendus petunjuk kasusnya dari satu tempat. Tidak ada yang mengetahui di mana kenalan Chris yang satu itu berada setelah dia mencoba menggali petunjuk dari informan mafia lokal. Sangat disayangkan karena sebenarnya lelaki baik itu adalah teman yang baik dan bisa diandalkan.

Chris memulai penyelidikannya dengan menyortir semua yang berhasil didapatkannya dari Saltman maupun si kembar: tentang para “klien” mereka, tentang kecurigaan bahwa seseorang menyebarkan informasi mengenai mereka di dunia maya, tentang kasus terakhir si kembar yang berkaitan dengan necromancy.

Chris menyandarkan diri ke kursi kerjanya. Tangannya bergerak melingkari kata kunci “klien” di dalam daftar yang baru saja dituliskannya di sehelai kertas.

Baiklah. Apa yang sama dari para klien ini?

Klien pertama yang berhasil ditemukan oleh Chris adalah si penulis, Alan Weaver. Ia membongkar koran-koran lama dan menemukan beritanya terpencil di pojok halaman tengah koran. Harusnya Chris bisa lebih mudah menemukannya kalau dia bertanya langsung pada kenalannya di kepolisian, tapi mencari info di kepolisian berada di urutan terbawah dalam prioritas Chris. Informasi dari kepolisian terpercaya, tapi mereka akan selalu balik bertanya untuk apa informasi tersebut dan mereka akan menjadi penghalang pertama jika mereka merasa si peminta informasi sedang berusaha ikut campur dalam suatu kasus.

Chris mendatangi flat tempat tinggal Alan Weaver, bertanya pada pengurus dan tetangga di samping kiri-kanan Alan: orang seperti apa Alan Weaver, apa mereka tahu kegiatan sehari-hari Alan, siapa orang yang mereka lihat sering ditemui Alan.

“Orang yang sulit, kau tahu?” kata si pengurus flat, menjawab pertanyaan pertama. “Jenis orang yang tertutup dan agak tidak ramah. Yah, hanya keluar rumah untuk berbelanja, cuma menyapa dengan mengangguk sekilas, kau tahu?”

“Aah, tipe seperti itu ya,” kata Chris menanggapi. “Setiap hari seperti itu? Hanya mengurung diri dan keluar sesekali untuk berbelanja? Ada penghuni lain yang dekat dengannya?”

“Hmm … rasanya tidak ada yang benar-benar dekat. Tapi aku pernah tanya dia mau kemana dan dia bilang dia mau ke pertemuan rutin sesuatu … Oh, Komunitas Penulis Amatir dan Profesional. Yang suka berkumpul di Gedung Barleigh, di kafe bawahnya itu, kau tahu?”

“Oh, ya. Saya tahu.”

Informasi berharga. Chris mencatatnya.

“Dia tidak terlalu ramah,” kata tetangga yang tinggal di sebelah kiri Alan, menjawab pertanyaan pertama. Orang inilah yang menghubungi polisi, yang kemudian menemukan Alan Weaver di dalam kamarnya. “Saya cuma bertemu sesekali dengannya. Sekedar selamat pagi, selamat siang, begitulah.” Sang tetangga—seorang pria berperut buncit yang sepertinya selalu kepanasan—mengangkat bahu.

“Pernah lihat siapa yang datang ke tempat Mr Weaver?”

“Kau tahu aku bukan tipe tukang ngintip, kan, Bung? Aku bukan tukang ikut campur. Tetanggaku boleh bertemu siapa saja dan aku tidak peduli. Mungkin tetangga sebelah sana lebih tahu. Nyonya tua itu hampir tuli tapi dia seperti ibu-ibu pada umumnya; tukang gosip.”

Chris menambahkan catatan kecil di notesnya: “jarang bersosialisasi dengan tetangganya”.

“Pria yang tidak menyenangkan, Mr Weaver itu!” kata tetangga yang tinggal di sebelah kanan Alan. Wanita berusia enam puluhan tahun itu berbicara dengan sangat keras dan Chris tidak bisa membuat pertanyaannya terdengar kalau dia tidak menaikkan volum suaranya—ini mengkonfirmasi keterangan dari tetangga sebelah kiri yang menyatakan wanita tua ini agak tuli. “Setiap kali melihatku dia langsung kabur!”

Aku juga ingin kabur kalau bisa sih …, batin Chris, mulai berharap ia membawa sumbat telinga. Suara nenek ini keras sekali …

“Dia tidak punya teman yah?” tanya Chris.

“Pasti tidak punya! Siapa yang mau berteman dengan orang seperti itu? Dan apa Anda tahu? Dia meninggal gara-gara overdosis obat-obatan! Benar-benar orang jahat, dia itu!”

Terlalu banyak pendapat pribadi, catat Chris.

“Dia overdosis?”

“Ya. Polisi mendobrak masuk ke dalam kamarnya dan menemukan dia sudah jadi mayat.” Wanita tua itu bergidik. “Bayangkan! Overdosis! Obat-obatan! Hiii!”

Kemungkinan besar obat si kembar, catat Chris lagi. Mungkin belum meninggal saat ditemukan, tapi disangka sudah meninggal oleh si nenek ini.

Selanjutnya, Chris pergi ke tempat yang dibicarakan si pemilik flat, kafe tempat pertemuan bulanan Komunitas Penulis Amatir dan Profesional, Kafe Del Torre. Ia perlu persiapan sehari mencari tahu tentang komunitas apa itu dan mendapatkan sedikit gambaran tentang sikap seperti apa yang harus ia bawa untuk dapat membaur di antara anggota komunitas tersebut.

Kebanyakan anggota komunitas rupanya mengenal Alan Weaver. Setelah basa-basi singkat—yang semuanya sebisa mungkin tidak menyentuh topik tentang sastra atau tulisan, yang sebenarnya tak dipahami Chris—sang detektif swasta mulai melontarkan pertanyaan tentang Alan. Kebanyakan hanya memberikan gambaran bahwa Alan adalah orang yang pendiam serta baik (dan Chris mulai menganggap karakteristik pendiam serta baik adalah sesuatu yang kelewat klise), tapi ada dua-tiga orang yang memberikan keterangan menarik mengenai Alan.

“Dia kecanduan internet.”

“Oh?” ucap Chris, menunjukkan minat.

“Yep,” sambung anggota lain yang duduk di dekat orang pertama yang menyebut-nyebut “kecanduan internet” itu. “Mr Weaver melakukan sebagian besar risetnya menggunakan internet.”

“Tapi kukira itu karena dia bilang dia berencana membuat cerita yang berkaitan dengan urban legend.”

“Oh, ya?”

“Dia pernah tanya kan tentang situs-situs dan forum-forum yang membahas berbagai urban legend?”

“Benar juga.”

“Kukira Mr Weaver penulis genre roman?” tanya Chris.

“Well, tiga buku terakhirnya penjualannya kurang bagus kan? Terakhir dia bilang mau mencoba genre yang lebih populer sekarang ini: roman paranormal. Itu sebabnya dia meriset tentang berbagai urban legend.”

“Tapi, Mr Weaver itu sudah tahu dirinya kecanduan internet dan jadi tidak produktif karenanya, dia malah tetap meriset dari internet … Susah juga …”

“Sebenarnya … saya juga mengambil spesialisasi di genre fantasi urban,” kata Chris. “Boleh tahu situs-situs dan forum-forum yang kalian rekomendasikan pada Mr Weaver?”


Mencari petunjuk seputar Henry Griffith jauh lebih mudah ketimbang Alan Weaver. Yang Chris lakukan adalah mengecek latar belakang Henry, mendapati bahwa dia tergabung dalam sebuah tim pemain game multiplayer, lalu mengecek teman-teman setimnya itu. Dari beberapa nama yang berhasil didapatkan, Chris menemui mereka satu persatu. Kepada rekan-rekan satu tim Henry itu, Chris mengaku sebagai petugas kepolisian yang sedang menyelidiki peredaran narkoba jenis baru.

“Wah, Bung, mana mungkin Henry pakai narkoba, Bung?” ujar salah satu anggota tim yang ditanyai Chris. “Kami semua sebelum bertanding disuruh tes urin untuk melihat apakah ada yang memakai narkoba atau habis minum minuman beralkohol. Jadi mustahil, Bung, kalau Henry pakai.”

“Wow,” celetuk Chris seraya membuat catatan, “peraturan di turnamen game juga seketat itu ternyata sekarang.”

“Tahun lalu ada kasus soalnya, Bung. Ada yang tiba-tiba mengamuk waktu turnamen. Mabuk parah ternyata.”

“Hmm, saya tetap harus bertanya detail, maaf, karena narkoba yang sedang saya selidiki ini adalah jenis baru yang dapat lolos dari tes urin.”

“Oh, wow. Tidak terdeteksi? Makin hebat saja obat jaman sekarang,” komentar si anggota tim, bersiul.

“Lebih ke arah belum ditemukan reagen untuk tesnya,” tukas Chris. “Jangan coba-coba pakai.”

“Ya ampun, Bung. Paranoid sekali, Bung.”

“Ngomong-ngomong, apa kalian saling bertemu di sebuah forum atau sejenisnya?”

“Oh, ya, Bung. Kami ketemu di forum game-nya.”

Chris mencatat alamat forum yang disebutkan.

“Tempat lain?”

“Terutama sih di forum itu, sisanya email, telepon, SMS, Frenbook.”

“Oke. Terima kasih banyak atas kerjasamanya.”

“Tidak masalah, Bung.”

Chris masih menanyai beberapa anggota tim lainnya, tapi semua jawaban yang didapatkannya sama.

Persis seperti Alan Weaver yah? pikir Chris. Kali ini dari forum.


Ketika Chris mengunjungi orang tua Mark Hommund untuk meminta keterangan, sang ayah bereaksi keras begitu mendengar kata “obat-obatan terlarang”; Chris menggunakan cerita yang sama dengan yang digunakannya untuk menanyai teman-teman Henry Griffith: bahwa ia tengah mencari petunjuk peredaran narkotika jenis baru.

“Anak saya tidak mungkin pakai narkoba!” Mr Hommund melotot pada Chris. “Dia anak baik-baik! Anak pintar berprestasi! Mana mungkin dia pakai yang begituan!?”

“Tunggu, tunggu,” ujar Chris cepat-cepat. “Saya juga tidak menuduh anak Anda sebagai pemakai. Kemarin ini saya mendengar ada mahasiswa yang ditangkap karena membawa obat-obatan terlarang. Saya mengira kasus hilangnya anak Anda mungkin secara tidak langsung berkaitan dengan kasus tersebut. Mahasiswa yang ditangkap itu satu kelas dengan anak Anda.”

Dalam hati Chris bersyukur dia memberi perhatian lebih pada kasus mahasiswa yang terbakar tiba-tiba di kampusnya dan setelahnya ada mahasiswa yang ditangkap karena terbukti membawa obat-obatan terlarang dalam tasnya; kejadiannya di kampus Mark dan beberapa hari sebelum Mark menghilang.

“Bukannya saya menuduh, sungguh,” ulang Chris. “Saya justru sedang mencari petunjuk lain yang bisa mengarahkan kami ke pengedar utamanya.”

Mr Hommund melontarkan tatapan menyelidik pada Chris. Raut kemarahan membayang di wajah lelaki tua itu.

“Saya dan anak saya … berkunjung ke sebuah apotek aneh yang diberitahukan oleh teman saya,” kata Mr Hommund akhirnya. “Mark mendapatkan sesuatu dari apotek itu. Tak lama kemudian, dia mulai bersikap aneh. Seperti menyembunyikan sesuatu. Saya sama sekali tak tahu apa yang ia sembunyikan. Kemudian dia … menghilang.”

“Hmm. Apotek aneh?” ulang Chris. Ia sengaja bersikap seolah-olah tak pernah mengenal apotek yang dimaksud Mr Hommund.

“Ya. Letaknya di daerah Ventura. Saya melaporkan apotek mencurigakan itu pada polisi, tapi mereka tidak menanggapi serius laporanku.” Mr Hommund menghantamkan tinju ke lututnya. “Lihat saja … kalau ternyata benar ada penjahat menggunakan apotek itu sebagai kedok, polisi baru kocar-kacir. Padahal aku sudah memberi laporan.”

“Maaf,” potong Chris. “Siapa yang memberi tahu Anda tentang apotek aneh itu?”

“Ah, dia … Teman lama saya.” Mr Hommund terdiam sejenak. “Maksudmu ada kemungkinan dia terlibat?”

“Yaa, saya tidak bisa mengajukan asumsi dan tebakan sebelum ada bukti,” ujar Chris. “Bisa beritahu saya di mana teman Anda tinggal?”

Mr Hommund memberitahukan alamat lengkap dan nomor telepon temannya itu tanpa pikir panjang.


Teman lama Mr Hommund bernama Maximillian Cross—selalu minta dipanggil “Max” oleh siapapun, entah orang yang lebih tua maupun lebih muda. Pria paruh baya itu pernah terserang stroke dan kedua kakinya tidak pernah pulih, memaksanya untuk terus menggunakan kursi roda selama sisa hidupnya.

Kondisi Max sempat membuat Chris curiga bahwa mungkin ia sudah sangat dekat dengan pelaku yang dicarinya.

“Aku … tidak berani bertemu dengan Greg lagi setelah anaknya hilang,” kata Max. Kata-kata yang diucapkan lelaki tersebut tidak selalu jelas; lidahnya tidak seluwes dulu saat ia masih sehat. “Harusnya aku tidak memberitahunya soal apotek itu …”

“Anda sepertinya sangat tertarik dengan apotek itu, kata Mr Hommund,” pancing Chris.

“Ah, yaaa …” Max menepuk lututnya. “Bagus juga kalau kakiku bisa bergerak lagi … kan?”

“Sangat bagus.” Chris mengangguk. “Saya harusnya tidak bilang begini, tapi Anda sebaiknya berhati-hati pada tawaran-tawaran di TV atau internet. Banyak penipu. Kepolisian sudah gatal setengah mati berusaha menangkap mereka, tapi mereka melarikan diri dan bersembunyi selihai mereka mempromosikan barang palsu mereka.”

“Hmmh hm.”

“Ngomong-ngomong, boleh tahu dari mana Anda mendapatkan informasi mengenai apotek aneh itu?”

“Aku menemukannya di internet …” Max masih menepuk-nepuk lututnya perlahan. “Sejak sulit berjalan … Aku banyak pakai komputer … Perawat yang biasa kemari banyak mengajariku … Dia juga yang menunjukkan website itu …”

“Hm? Perawat?”

“Tiap minggu datang … Mengurus rumah tangga dan menemaniku …”

Chris menggaruk dagunya.

==bersambung==

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Simple Notes: Fiction Junction (Character Part 1: Classification)

[Resensi] Valharald