[NaCl] 5: First Strike - pt 2
Sebelumnya: First Strike - pt1
Saltman menelan ludah. Bulu kuduknya meremang menyaksikan Nate memeriksa tubuh Chloe yang terbaring di atas meja otopsi. Jaket Chloe telah dilepas dan digantungkan di salah satu kaitan baju di tembok. Nate telah melepas borgolnya sendiri untuk mempermudah proses pemeriksaan dan borgol Chloe supaya tangan kembarannya itu dapat diposisikan di samping kiri-kanan tubuhnya. Seperti mayat pada umumnya.
“Otakmu hancur sebagian,” kata Nate. “Tentu saja mustahil kau masih bisa bergerak. Eheheheheh.”
“Kau … bicara dengan Chloe?” tanya Saltman ragu.
“Ya.” Nate mengetuk kepalanya. Tudung jaketnya diturunkan saat ia memulai pemeriksaan. “Dia cuma katatonik. Badannya cuma mati sementara.” Sosok berjaket biru itu mengetuk tengah-tengah rusuk Chloe. “Inti Besi-nya masih utuh, jadi dia masih hidup.” Nate terkekeh. “Dia berbicara di dalam kepalaku sekarang.”
“Kau juga kena tembak kan?” Saltman mengalihkan topik.
“Ya.” Nate menarik risleting jaketnya, lalu mengangkat kaos hitam tanpa lengan di baliknya. Ia menunjuk ke satu titik di daerah ulu hatinya. “Kena di sini. Heheheh. Memar sedikit, lihat?”
Saltman mengernyit tak nyaman melihat tubuh Nate. Tubuh Nate—dan juga Chloe—dipenuhi jahitan, bekas luka bakar, dan ada sebuah plat logam yang dipasang di dada mereka, di bagian yang seharusnya berisikan jantung di balik rusuknya. Jahitan-jahitan luka adalah hasil tambal sulam insiden-insiden yang mengoyak tubuh mereka. Bekas luka bakar kebanyakan berasal dari masa-masa awal keduanya menguji coba tangan mereka yang dapat berubah suhu menjadi dingin ekstrem dan panas ekstrem. Kedua jenis bekas luka itu sudah ada sekitar setengah abad lalu, saat keduanya belum berhasil membuat jaket yang selalu mereka kenakan saat ini; jaket yang tahan peluru dan senjata tajam, tahan api, dan berbagai properti sihir praktis lain yang Saltman ragu ia ketahui semuanya. Sedangkan untuk plat logam, Nate dan Chloe memutuskan untuk memasangnya sekitar satu setengah abad silam, dalam usaha keduanya melindungi Inti Besi yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Saltman pikir, plat besi itu sebenarnya tidak banyak berguna. Ledakan bom atom terbukti tidak menghancurkan Inti Besi. Si kembar mungkin hanya memasang plat besi untuk memberikan rasa aman tambahan.
“Untung dia tidak menembakku di wajah,” kata Nate seraya menutup kembali jaketnya.
“Kalau kalian berdua mendapat cedera sangat serius, tapi tubuh kalian masih utuh, apa yang harus kulakukan hanyalah membawa kalian ke sini, menggantikan kalian mengurus Guru, dan menunggu, kan?” gumam Saltman, mengulang instruksi yang pernah disampaikan padanya dulu sekali.
“Benar.” Nate tertawa pelan. “Selama tubuh kami masih ada, anggota tubuh yang lain bisa beregenerasi sendiri.”
“Termasuk otak?”
“Termasuk otak. Heheheheh. Tapi otak butuh waktu agak lama. Lebih cepat kalau bisa dapat transplantasi.”
“Bagaimana dengan otak Mark Hommund?” usul Saltman.
“Heheh, sudah dipakai untuk yang lain.”
“Mungkin kita tunggu saja kalau begitu.”
Nate mengangkat bahu. Ia melirik jam dinding dan memasang kembali borgol di tangannya.
“Aku pergi dulu ke tempat Sir Kane, hehehehe. Jaga toko dan Chloe, Saltman.”
“Baik.”
Saltman tak dapat menghilangkan perasaan bahwa Nate merencanakan sesuatu. Kalau bukan malam ini, mungkin besok. Atau lusa.
Lelaki botak itu tidak berani bertanya.
Bradley sering bertanya-tanya, mana yang lebih sulit antara diserahi tugas mengasuh anak-anak atau mengurus orang tua yang sudah berusia enam puluh tahunan dan pincang akibat stroke? Setiap kali pikiran itu muncul, Bradley langsung bersyukur dia tidak diserahi tugas mengurus orang tua yang sudah luar biasa pelupa atau sifatnya jadi buruk karena faktor usia.
Bradley menemukan sepucuk surat lagi begitu membuka pintu apartemennya. Rasa dingin langsung menyerang tulang punggungnya.
Aku sudah menghabisi dua makhluk aneh itu kan?
Sebagai tindakan berjaga-jaga, Bradley mengambil surat itu dengan penjepit apapun yang dapat ditemukannya—ia menggunakan sumpit dari sisa makanan cepat saji kemarin malam. Bradley tidak lupa menggumamkan segala jenis penangkal sihir yang terpikirkan olehnya kali ini. Lalu saat membaliknya, Bradley menemukan bahwa bagian depan amplop itu bertandakan logo sebuah merek dengan tulisan kecil “minyak wangi dan kosmetik”.
Bradley menghela napas lega. Di dalam amplop ia menemukan kartu yang menjelaskan bahwa sampel minyak wangi yang disertakan adalah bagian dari promosi perusahaan Nakata&Clinton, sebuah perusahaan kerjasama dua negara. Bagi para penerima sampel diharapkan berkenan meluangkan waktunya untuk mengisi angket yang ada di dalam amplop dan mengirimkannya tanpa perlu menggunakan perangko tambahan.
Ini cara promosi yang unik, menurut Bradley pribadi. Mengirimkan sampel kepada orang-orang tak dikenal dan meminta masukan melalui angket? Unik dan tidak biasa. Tapi setahu Bradley, ada negara yang sampai sekarang masih menyisipkan angket untuk kontrol kualitas di dalam produknya, terutama buku, jadi mungkin saja perusahaan ini mengadaptasinya.
Sampel minyak wangi yang disebut-sebut dikemas dalam kemasan tipis berwarna perak. Cara membukanya mengingatkan Bradley akan cara membuka plester. Tidak ada cairan apapun di dalamnya, tapi Bradley dapat membaui aromanya dengan jelas begitu ia mendekatkan kemasan tersebut ke hidungnya.
Di luar dugaan, Bradley menyukai aroma minyak wangi tersebut.
Aromanya khas seperti minyak wangi pria pada umumnya: maskulin, tegas, dan tidak merujuk pada wangi suatu bunga atau buah tertentu, sesuatu yang tidak alami. Hebatnya, aroma itu membuat Bradley merasa tenang dan rileks.
Tenang dan rileks.
Tenang.
Dan.
Rileks.
Bradley Hughes merasa tubuhnya ringan dan mengambang.
Yang sesungguhnya terjadi adalah ia ambruk ke lantai, masih diliputi perasaan tenang yang di luar nalar.
Sosok yang sedari tadi mengintai dari balkon menguak jendela dan masuk ke dalam apartemen tanpa suara, merapatkan kembali jendela di belakangnya.
Siapa namamu?
“Bradley Hughes.”
Umur?
“Dua puluh sembilan.”
Status?
“Lajang.”
Posisimu di Persekutuan Pembaharuan Era?
“Prajurit. Tingkat satu.”
Struktur Persekutuan Pembaharuan Era?
“Pemuja. Prajurit tingkat satu, tingkat dua. Kapten. Master. Grand Master.”
Anggota?
“Lima puluhan Pemuja. Sepuluh Prajurit. Empat Kapten. Dua Master. Satu Grand Master.”
Markas?
“Menara Great Shuttle. Lantai 14.”
Pertemuan rutin?
“Dua minggu sekali. Hanya Kapten, Master, dan Grand Master yang hadir.”
Sebutkan nama Kapten, Master, dan Grand Master.
“Tidak tahu.”
Nama Kapten, Master, dan Grand Master?
“Tidak tahu.”
Katakan.
Sunyi.
Siapa nama mereka?
Tak ada jawaban.
Sudah waktunya ya? Heheheheheh.
Bradley Hughes membuka mata. Ia mendapati tubuhnya duduk di atas kursi, dengan posisi seolah-olah ia pingsan, lalu orang yang menemukannya memutuskan untuk mendudukkannya di kursi alih-alih membaringkannya di atas sofa atau tempat tidur. Langit-langit mulutnya terasa pahit. Lelaki itu menegakkan tubuhnya dan menelan ludah, berusaha menghilangkan rasa pahit di mulutnya. Kepalanya terasa berputar. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha meredakan peningnya sekaligus mengingat-ingat apakah ia memakan sesuatu yang aneh hingga mulutnya terasa pahit.
Bradley membuka mata lagi.
Di mana ini?
Ruangan—jika dapat dikatakan sebagai “ruangan”—tempat Bradley berada berupa dinding-dinding hitam bergumpal-gumpal yang basah dan berdenyut. Bradley dapat melihat urat-urat ungu, merah, dan biru di permukaan dinding, sesekali berpendar seterang lampu neon. Kadang-kadang wajah manusia menyeruak dari dinding, tertahan oleh lapisan hitam berlendir, membuka mulut seperti meratap tanpa suara. Kadang-kadang tangan-tangan berselimut lapisan hitam menggapai keluar dari dinding.
Bradley tak berani beranjak sedikit pun dari kursi yang didudukinya. Bernapas pendek-pendek, ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Saat mendongak, ia melihat bola mata semerah hati mentah menatapnya; itu sumber cahaya yang membuat Bradley bisa melihat tempatnya berada.
“Eheheheheheh. Kalau melihat tampangmu, pasti yang terlihat cukup mengesankan ya?”
Ketakutan dan kemarahan teraduk dalam perut Bradley saat ia melihat siapa yang bicara, sosok yang sebelumnya sama sekali tidak ada di depannya: si makhluk berjaket biru, Nate. Sepasang matanya yang berwarna seperti cairan beracun berpendar di bawah bayang-bayang tudung jaket. Seringai lebar berisi satu set gigi-gigi tajam menghiasi wajahnya sementara Nate tertawa rendah.
“Apa yang kau lakukan padaku?” Bradley berusaha mengingat-ingat apa saja yang dilakukannya sebelum ini. Amplop … sampel minyak wangi … angket dari Nakata&Clinton … Dia sudah merapal semua jenis penangkal sihir yang ia ketahui.
Tiba-tiba Bradley ingat ia sedang berhadapan dengan siapa.
Alkemis. Mereka memiliki keunggulan di ramuan dan obat-obatan. Bagaimana Bradley bisa melupakannya?
“Minyak wangi itu,” erang Bradley.
“Wanginya luar biasa, bukan?” ujar Nate. “Pernah ada yang menyarankan kami untuk mencari uang tambahan dengan berbisnis kosmetik dan minyak wangi. Eheheheheh.”
“Kaaaauuuuuuuuuu—!” Bradley berusaha bangkit. Ingin sekali rasanya ia menghancurkan wajah sosok di hadapannya. Tanpa sihir. Bradley akan memukulinya hingga hancur berdarah-darah.
Masalahnya, berdiri pun Bradley tidak bisa. Ia hanya dapat bergerak-gerak di kursinya seolah-olah bagian bawah tubuhnya lumpuh.
“Ini cuma halusinasi,” geram Bradley pada dirinya sendiri. “Halusinasi bodoh.”
“Oooh. Halusinasi itu mainan anak-anak, Sir Hughes,” ralat Nate. “Halusinasi adalah tentang pembelokan-pembelokan reseptor. Pembiasan panca indera. Heheheh. Apa yang kau lihat sekarang ini adalah sesuatu yang benar-benar ada.”
Salah satu tangan menyeruak dari lantai, menyentuh Bradley dan membuat lelaki itu menjerit kaget. Sentuhan itu terasa dingin, seperti mayat.
“Ini cuma halusinasi!”
“Eheheheh.” Nate mengabaikan Bradley dan melanjutkan penjelasannya. “Film bioskop tiga dimensi. Itu dia. Eheh. Apa yang kau lihat biasanya adalah film yang buram. Tidak jelas. Sekarang ini kau sedang mengenakan kacamatanya. Segala sesuatunya menyatu. Dua, tiga, empat, atau lima penglihatan menjadi satu. Semuanya nyata, tapi biasanya tidak terlihat. Heheheheh. Cuma masalah dimensi. Ruang planar. Normalnya panca indera manusia hanya fokus pada satu ruang planar. ‘Minyak wangi’ tadi membantumu untuk lebih fokus melihat dan merasakan beberapa ruang planar sekaligus. Luar biasa, kan? Heheheheh.”
Bradley tak punya tenaga untuk mengumpat. Di antara kengerian dan ketidakberdayaan, ia mengajukan pertanyaan terakhir:
“Kenapa aku tetap melihatmu?”
“Pertanyaan bagus!” Nate menepukkan kedua tangannya. “Karena aku menduplikasi bayangan diriku yang sama persis hingga tiga dimensi. Saling bertumpuk dan jadi jelas.” Sosok berjaket itu kembali terkekeh. Bradley melihat garis-garis timbul di tubuh Nate. “Sekarang, aku pamit dulu.”
“TUNGGU!”
Sosok Nate bergaris-garis lalu bergoyang seperti siaran televisi yang terganggu, dan akhirnya lenyap.
“Oh, ya.” Suara Nate bergaung. “Chloe titip salam juga.”
Saltman mendongak ketika kegelapan ruangan terusik oleh cahaya dari luar ketika pintu dibuka dan ditutup kembali. Selama beberapa saat ia dapat melihat sepasang pendar berwarna hijau keruh bergerak dalam kegelapan sebelum lampu menyala.
Nate terkekeh saat melihat Saltman. “Dramatis. Menunggu dalam kegelapan,” katanya.
“Aku sedang berusaha tidur.” Saltman tidak berbohong. Ia selalu mematikan lampu ketika tidur, tapi berusaha tidur di ruangan yang tidak biasanya bersama tubuh Chloe yang terbaring “tak bernyawa” di dekatnya membuat gugup. “Kau dari mana?”
“Mengunjungi Sir Hughes, heheh.”
Saltman mengernyit tak paham. “Untuk apa? Dia pasti menganggap kalian sudah mati.”
Nate menarik salah satu kursi lipat yang disusun Saltman untuk dijadikan tempat tidur dan duduk. “Aku menghipnotisnya untuk menjawab beberapa pertanyaan penting dan memberinya … kenang-kenangan.” Nate mengakhiri pemberitahuannya dengan tawa pelan menyeramkan. “Aku tahu ke mana harus mencari jika ada necromancer lain berkunjung untuk permintaan serupa.”
Saltman menghela napas.
“Kenapa?”
“Aku selalu mengira kalian adalah jenis yang menjauhi masalah dan senang berada di dalam bayang-bayang. Tidak terekspos.” Saltman cepat-cepat menambahkan. “Tapi sejujurnya aku bukannya tidak setuju kau mengantisipasi kedatangan ‘tamu’ lainnya.”
“Heheheheheh.”
“Tapi, jujur saja, perasaanku tidak enak …”
Nate tertawa.
“Perasaanmu selalu tidak enak, Saltman. Se-la-lu.”
Saltman menelan ludah. Bulu kuduknya meremang menyaksikan Nate memeriksa tubuh Chloe yang terbaring di atas meja otopsi. Jaket Chloe telah dilepas dan digantungkan di salah satu kaitan baju di tembok. Nate telah melepas borgolnya sendiri untuk mempermudah proses pemeriksaan dan borgol Chloe supaya tangan kembarannya itu dapat diposisikan di samping kiri-kanan tubuhnya. Seperti mayat pada umumnya.
“Otakmu hancur sebagian,” kata Nate. “Tentu saja mustahil kau masih bisa bergerak. Eheheheheh.”
“Kau … bicara dengan Chloe?” tanya Saltman ragu.
“Ya.” Nate mengetuk kepalanya. Tudung jaketnya diturunkan saat ia memulai pemeriksaan. “Dia cuma katatonik. Badannya cuma mati sementara.” Sosok berjaket biru itu mengetuk tengah-tengah rusuk Chloe. “Inti Besi-nya masih utuh, jadi dia masih hidup.” Nate terkekeh. “Dia berbicara di dalam kepalaku sekarang.”
“Kau juga kena tembak kan?” Saltman mengalihkan topik.
“Ya.” Nate menarik risleting jaketnya, lalu mengangkat kaos hitam tanpa lengan di baliknya. Ia menunjuk ke satu titik di daerah ulu hatinya. “Kena di sini. Heheheh. Memar sedikit, lihat?”
Saltman mengernyit tak nyaman melihat tubuh Nate. Tubuh Nate—dan juga Chloe—dipenuhi jahitan, bekas luka bakar, dan ada sebuah plat logam yang dipasang di dada mereka, di bagian yang seharusnya berisikan jantung di balik rusuknya. Jahitan-jahitan luka adalah hasil tambal sulam insiden-insiden yang mengoyak tubuh mereka. Bekas luka bakar kebanyakan berasal dari masa-masa awal keduanya menguji coba tangan mereka yang dapat berubah suhu menjadi dingin ekstrem dan panas ekstrem. Kedua jenis bekas luka itu sudah ada sekitar setengah abad lalu, saat keduanya belum berhasil membuat jaket yang selalu mereka kenakan saat ini; jaket yang tahan peluru dan senjata tajam, tahan api, dan berbagai properti sihir praktis lain yang Saltman ragu ia ketahui semuanya. Sedangkan untuk plat logam, Nate dan Chloe memutuskan untuk memasangnya sekitar satu setengah abad silam, dalam usaha keduanya melindungi Inti Besi yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Saltman pikir, plat besi itu sebenarnya tidak banyak berguna. Ledakan bom atom terbukti tidak menghancurkan Inti Besi. Si kembar mungkin hanya memasang plat besi untuk memberikan rasa aman tambahan.
“Untung dia tidak menembakku di wajah,” kata Nate seraya menutup kembali jaketnya.
“Kalau kalian berdua mendapat cedera sangat serius, tapi tubuh kalian masih utuh, apa yang harus kulakukan hanyalah membawa kalian ke sini, menggantikan kalian mengurus Guru, dan menunggu, kan?” gumam Saltman, mengulang instruksi yang pernah disampaikan padanya dulu sekali.
“Benar.” Nate tertawa pelan. “Selama tubuh kami masih ada, anggota tubuh yang lain bisa beregenerasi sendiri.”
“Termasuk otak?”
“Termasuk otak. Heheheheh. Tapi otak butuh waktu agak lama. Lebih cepat kalau bisa dapat transplantasi.”
“Bagaimana dengan otak Mark Hommund?” usul Saltman.
“Heheh, sudah dipakai untuk yang lain.”
“Mungkin kita tunggu saja kalau begitu.”
Nate mengangkat bahu. Ia melirik jam dinding dan memasang kembali borgol di tangannya.
“Aku pergi dulu ke tempat Sir Kane, hehehehe. Jaga toko dan Chloe, Saltman.”
“Baik.”
Saltman tak dapat menghilangkan perasaan bahwa Nate merencanakan sesuatu. Kalau bukan malam ini, mungkin besok. Atau lusa.
Lelaki botak itu tidak berani bertanya.
Bradley sering bertanya-tanya, mana yang lebih sulit antara diserahi tugas mengasuh anak-anak atau mengurus orang tua yang sudah berusia enam puluh tahunan dan pincang akibat stroke? Setiap kali pikiran itu muncul, Bradley langsung bersyukur dia tidak diserahi tugas mengurus orang tua yang sudah luar biasa pelupa atau sifatnya jadi buruk karena faktor usia.
Bradley menemukan sepucuk surat lagi begitu membuka pintu apartemennya. Rasa dingin langsung menyerang tulang punggungnya.
Aku sudah menghabisi dua makhluk aneh itu kan?
Sebagai tindakan berjaga-jaga, Bradley mengambil surat itu dengan penjepit apapun yang dapat ditemukannya—ia menggunakan sumpit dari sisa makanan cepat saji kemarin malam. Bradley tidak lupa menggumamkan segala jenis penangkal sihir yang terpikirkan olehnya kali ini. Lalu saat membaliknya, Bradley menemukan bahwa bagian depan amplop itu bertandakan logo sebuah merek dengan tulisan kecil “minyak wangi dan kosmetik”.
Bradley menghela napas lega. Di dalam amplop ia menemukan kartu yang menjelaskan bahwa sampel minyak wangi yang disertakan adalah bagian dari promosi perusahaan Nakata&Clinton, sebuah perusahaan kerjasama dua negara. Bagi para penerima sampel diharapkan berkenan meluangkan waktunya untuk mengisi angket yang ada di dalam amplop dan mengirimkannya tanpa perlu menggunakan perangko tambahan.
Ini cara promosi yang unik, menurut Bradley pribadi. Mengirimkan sampel kepada orang-orang tak dikenal dan meminta masukan melalui angket? Unik dan tidak biasa. Tapi setahu Bradley, ada negara yang sampai sekarang masih menyisipkan angket untuk kontrol kualitas di dalam produknya, terutama buku, jadi mungkin saja perusahaan ini mengadaptasinya.
Sampel minyak wangi yang disebut-sebut dikemas dalam kemasan tipis berwarna perak. Cara membukanya mengingatkan Bradley akan cara membuka plester. Tidak ada cairan apapun di dalamnya, tapi Bradley dapat membaui aromanya dengan jelas begitu ia mendekatkan kemasan tersebut ke hidungnya.
Di luar dugaan, Bradley menyukai aroma minyak wangi tersebut.
Aromanya khas seperti minyak wangi pria pada umumnya: maskulin, tegas, dan tidak merujuk pada wangi suatu bunga atau buah tertentu, sesuatu yang tidak alami. Hebatnya, aroma itu membuat Bradley merasa tenang dan rileks.
Tenang dan rileks.
Tenang.
Dan.
Rileks.
Bradley Hughes merasa tubuhnya ringan dan mengambang.
Yang sesungguhnya terjadi adalah ia ambruk ke lantai, masih diliputi perasaan tenang yang di luar nalar.
Sosok yang sedari tadi mengintai dari balkon menguak jendela dan masuk ke dalam apartemen tanpa suara, merapatkan kembali jendela di belakangnya.
Siapa namamu?
“Bradley Hughes.”
Umur?
“Dua puluh sembilan.”
Status?
“Lajang.”
Posisimu di Persekutuan Pembaharuan Era?
“Prajurit. Tingkat satu.”
Struktur Persekutuan Pembaharuan Era?
“Pemuja. Prajurit tingkat satu, tingkat dua. Kapten. Master. Grand Master.”
Anggota?
“Lima puluhan Pemuja. Sepuluh Prajurit. Empat Kapten. Dua Master. Satu Grand Master.”
Markas?
“Menara Great Shuttle. Lantai 14.”
Pertemuan rutin?
“Dua minggu sekali. Hanya Kapten, Master, dan Grand Master yang hadir.”
Sebutkan nama Kapten, Master, dan Grand Master.
“Tidak tahu.”
Nama Kapten, Master, dan Grand Master?
“Tidak tahu.”
Katakan.
Sunyi.
Siapa nama mereka?
Tak ada jawaban.
Sudah waktunya ya? Heheheheheh.
Bradley Hughes membuka mata. Ia mendapati tubuhnya duduk di atas kursi, dengan posisi seolah-olah ia pingsan, lalu orang yang menemukannya memutuskan untuk mendudukkannya di kursi alih-alih membaringkannya di atas sofa atau tempat tidur. Langit-langit mulutnya terasa pahit. Lelaki itu menegakkan tubuhnya dan menelan ludah, berusaha menghilangkan rasa pahit di mulutnya. Kepalanya terasa berputar. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha meredakan peningnya sekaligus mengingat-ingat apakah ia memakan sesuatu yang aneh hingga mulutnya terasa pahit.
Bradley membuka mata lagi.
Di mana ini?
Ruangan—jika dapat dikatakan sebagai “ruangan”—tempat Bradley berada berupa dinding-dinding hitam bergumpal-gumpal yang basah dan berdenyut. Bradley dapat melihat urat-urat ungu, merah, dan biru di permukaan dinding, sesekali berpendar seterang lampu neon. Kadang-kadang wajah manusia menyeruak dari dinding, tertahan oleh lapisan hitam berlendir, membuka mulut seperti meratap tanpa suara. Kadang-kadang tangan-tangan berselimut lapisan hitam menggapai keluar dari dinding.
Bradley tak berani beranjak sedikit pun dari kursi yang didudukinya. Bernapas pendek-pendek, ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Saat mendongak, ia melihat bola mata semerah hati mentah menatapnya; itu sumber cahaya yang membuat Bradley bisa melihat tempatnya berada.
“Eheheheheheh. Kalau melihat tampangmu, pasti yang terlihat cukup mengesankan ya?”
Ketakutan dan kemarahan teraduk dalam perut Bradley saat ia melihat siapa yang bicara, sosok yang sebelumnya sama sekali tidak ada di depannya: si makhluk berjaket biru, Nate. Sepasang matanya yang berwarna seperti cairan beracun berpendar di bawah bayang-bayang tudung jaket. Seringai lebar berisi satu set gigi-gigi tajam menghiasi wajahnya sementara Nate tertawa rendah.
“Apa yang kau lakukan padaku?” Bradley berusaha mengingat-ingat apa saja yang dilakukannya sebelum ini. Amplop … sampel minyak wangi … angket dari Nakata&Clinton … Dia sudah merapal semua jenis penangkal sihir yang ia ketahui.
Tiba-tiba Bradley ingat ia sedang berhadapan dengan siapa.
Alkemis. Mereka memiliki keunggulan di ramuan dan obat-obatan. Bagaimana Bradley bisa melupakannya?
“Minyak wangi itu,” erang Bradley.
“Wanginya luar biasa, bukan?” ujar Nate. “Pernah ada yang menyarankan kami untuk mencari uang tambahan dengan berbisnis kosmetik dan minyak wangi. Eheheheheh.”
“Kaaaauuuuuuuuuu—!” Bradley berusaha bangkit. Ingin sekali rasanya ia menghancurkan wajah sosok di hadapannya. Tanpa sihir. Bradley akan memukulinya hingga hancur berdarah-darah.
Masalahnya, berdiri pun Bradley tidak bisa. Ia hanya dapat bergerak-gerak di kursinya seolah-olah bagian bawah tubuhnya lumpuh.
“Ini cuma halusinasi,” geram Bradley pada dirinya sendiri. “Halusinasi bodoh.”
“Oooh. Halusinasi itu mainan anak-anak, Sir Hughes,” ralat Nate. “Halusinasi adalah tentang pembelokan-pembelokan reseptor. Pembiasan panca indera. Heheheh. Apa yang kau lihat sekarang ini adalah sesuatu yang benar-benar ada.”
Salah satu tangan menyeruak dari lantai, menyentuh Bradley dan membuat lelaki itu menjerit kaget. Sentuhan itu terasa dingin, seperti mayat.
“Ini cuma halusinasi!”
“Eheheheh.” Nate mengabaikan Bradley dan melanjutkan penjelasannya. “Film bioskop tiga dimensi. Itu dia. Eheh. Apa yang kau lihat biasanya adalah film yang buram. Tidak jelas. Sekarang ini kau sedang mengenakan kacamatanya. Segala sesuatunya menyatu. Dua, tiga, empat, atau lima penglihatan menjadi satu. Semuanya nyata, tapi biasanya tidak terlihat. Heheheheh. Cuma masalah dimensi. Ruang planar. Normalnya panca indera manusia hanya fokus pada satu ruang planar. ‘Minyak wangi’ tadi membantumu untuk lebih fokus melihat dan merasakan beberapa ruang planar sekaligus. Luar biasa, kan? Heheheheh.”
Bradley tak punya tenaga untuk mengumpat. Di antara kengerian dan ketidakberdayaan, ia mengajukan pertanyaan terakhir:
“Kenapa aku tetap melihatmu?”
“Pertanyaan bagus!” Nate menepukkan kedua tangannya. “Karena aku menduplikasi bayangan diriku yang sama persis hingga tiga dimensi. Saling bertumpuk dan jadi jelas.” Sosok berjaket itu kembali terkekeh. Bradley melihat garis-garis timbul di tubuh Nate. “Sekarang, aku pamit dulu.”
“TUNGGU!”
Sosok Nate bergaris-garis lalu bergoyang seperti siaran televisi yang terganggu, dan akhirnya lenyap.
“Oh, ya.” Suara Nate bergaung. “Chloe titip salam juga.”
Saltman mendongak ketika kegelapan ruangan terusik oleh cahaya dari luar ketika pintu dibuka dan ditutup kembali. Selama beberapa saat ia dapat melihat sepasang pendar berwarna hijau keruh bergerak dalam kegelapan sebelum lampu menyala.
Nate terkekeh saat melihat Saltman. “Dramatis. Menunggu dalam kegelapan,” katanya.
“Aku sedang berusaha tidur.” Saltman tidak berbohong. Ia selalu mematikan lampu ketika tidur, tapi berusaha tidur di ruangan yang tidak biasanya bersama tubuh Chloe yang terbaring “tak bernyawa” di dekatnya membuat gugup. “Kau dari mana?”
“Mengunjungi Sir Hughes, heheh.”
Saltman mengernyit tak paham. “Untuk apa? Dia pasti menganggap kalian sudah mati.”
Nate menarik salah satu kursi lipat yang disusun Saltman untuk dijadikan tempat tidur dan duduk. “Aku menghipnotisnya untuk menjawab beberapa pertanyaan penting dan memberinya … kenang-kenangan.” Nate mengakhiri pemberitahuannya dengan tawa pelan menyeramkan. “Aku tahu ke mana harus mencari jika ada necromancer lain berkunjung untuk permintaan serupa.”
Saltman menghela napas.
“Kenapa?”
“Aku selalu mengira kalian adalah jenis yang menjauhi masalah dan senang berada di dalam bayang-bayang. Tidak terekspos.” Saltman cepat-cepat menambahkan. “Tapi sejujurnya aku bukannya tidak setuju kau mengantisipasi kedatangan ‘tamu’ lainnya.”
“Heheheheheh.”
“Tapi, jujur saja, perasaanku tidak enak …”
Nate tertawa.
“Perasaanmu selalu tidak enak, Saltman. Se-la-lu.”
==fin==
Permohonan Maaf dari Pembuat Cerita
Melalui selipan kecil ini saya hendak meminta maaf sebesar-besarnya atas ketidakkonsistenan update seri NaCl ini. Saya sebetulnya ingin sekali mengutarakan alasan tentang sedang ada pekerjaan yang membutuhkan prioritas lebih tinggi, tapi rasanya itu menyalahi komitmen untuk lebih disiplin menulis yang telah saya canangkan.
Jadi, singkat kata saja, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas banyaknya update cerita yang terlambat.
Komentar
emm, beberapa saran sebelum ane lupa: gimana klo si Hughes dibikin kecanduan sama obat halusinasi yang Nate bikin? kan asik tuh, dia jadi terpaksa musti ngeliat dunia nightmare itu terus. :)) (oke, lebih tepatnya kasihan daripada asik, but still ...) terus untuk "alasan" si om Hughes ini rela "begitu saja" mencoba wewangian itu, mungkin bisa dibikin si Hughes ini hobinya pake minyak wangi gt?
terus kekny ada satu lagi ... tpi nanti ak kabari lagi klo udah ingat, hahah XD keep on writing~
Hmmm, saran yang menarik, bikin kecanduan itu. Dan, yeah, kau benar, reaksinya Hughes lsg nyoba nyium wewangian itu terlalu off buat orang yang gak hobi pake parfum yah.
Makasih udah baca dan komentar, Pus, rawr~
Hehe.