[NaCl] 6: Explosion - pt 1





Saltman sedang bersiap-siap menutup apotek untuk hari ini ketika matanya menangkap sosok yang menyeberangi jalan, menuju ke arah apotek.

Entah kenapa Saltman tidak menyukai siapa pun yang datang itu.

Pura-pura tidak melihat, Saltman menarik tali yang menutup bilah-bilah tirai. Saat hendak mengunci pintu, pintu itu terbuka lebih dulu dan sosok yang tadi dilihat Saltman di seberang jalan masuk ke dalam.

“Maaf,” kata Saltman. “Kami sudah tutup.”

Dengan penerangan serta jarak lebih memadai, Saltman dapat melihat sosok tersebut dengan lebih jelas. Si pengunjung adalah seorang pria, mengenakan mantel panjang berwarna hijau gelap, dan topi bowler berwarna seragam dengan mantelnya. Topi itu membuat Saltman sulit melihat tampang si pengunjung dengan jelas, tapi kesimpulan sementara Saltman tentang wajah si pengunjung adalah dia nampak tidak sehat. Kulitnya berwarna agak kelabu dalam penglihatan Saltman.

“Anda … baik-baik saja?” tanya Saltman berhati-hati. Barangkali dia harus mengurungkan niatnya untuk menutup apotek. Mungkin orang ini benar-benar sakit dan butuh obat secepatnya.

Si pengunjung menoleh ke arah Saltman.

Mata yang menatap Saltman adalah sepasang mata orang mati. Kosong tanpa tanda-tanda kehidupan, tersaput kabut kusam.

Detik itu juga seluruh alarm tanda bahaya di tubuh Saltman menjerit. Lelaki botak itu langsung berlari ke pintu yang menuju kamarnya/ruang bawah tanah.

BUUUUUUUMMMMMMMMMMMMMMMMMM!!!


Chris Kane mengawasi Nate dan Chloe yang berada di kamar anaknya. Kedua sosok berjaket itu mampir ke rumahnya untuk pemeriksaan harian Alia. Perkembangan anak pertama Chris itu bagus, begitu kata Nate dan Chloe. Itu jelas sekali, Chris pun dapat melihatnya sendiri. Penggantian darahnya berhasil dan kurang lebih sehari setelah proses penggantian darah, Alia tidak lagi agresif. Dua hari kemudian anak itu mulai kembali mendapat pemahaman komunikasi verbalnya. Setelah memastikan Alia tidak mencoba menyerang siapapun yang mendekatinya, Chris memindahkan anaknya itu ke kamarnya senidiri di lantai dua. Si kembar datang secara berkala tanpa diminta, memantau perkembangan Alia.

Sekarang, hanya tinggal kaki Alia yang masih belum kembali ke bentuknya semula. Chris jelas senang dengan pemulihan ini, meskipun ia masih sukar mempercayai kenyataan bahwa anaknya akrab dengan Nate dan Chloe yang statusnya adalah "makhluk tidak jelas". Biasanya anak-anak—tidak perlu keturunan Putra Purnama—peka pada makhluk-makhluk non-manusia dan minimal gelisah jika berada di dekat salah satunya.

"Anak manis, anak manis." Chloe menepuk-nepuk pelan kepala Alia. Di sebelahnya, Nate menyimpan sampel darah yang diambilnya dari Alia. Alia tidak menangis sama sekali setiap kali darahnya diambil atau disuntik, mengurangi satu kesukaran Chris dalam membesarkan anak.

"Kau suka makan daging?" tanya Nate. Alia mengangguk. "Tapi kau juga harus rajin makan sayur supaya cepat besar. Heheheheh."

Itu ... sindiran buatku? batin Chris. Mereka kan tahu Putra Purnama punya pola makan karnivora.

"Gigimu bagus," puji Chloe setelah mengintip gusi dan gigi-gigi Alia. (Chris bertanya-tanya dalam hati kenapa kepala Chloe diperban menutupi sebagian wajahnya.) "Dan kuat," Chloe menambahkan. "Harus dirawat baik-baik. Hehehehe."

"Sudah ya."

"Kami pulang dulu."

"Ehehehehehehe."

"Hehehe."

Si kembar mengulurkan tangan untuk mengacak-acak sayang rambut pendek Alia sebelum meninggalkan kamar.

"Ta-ta," kata Alia, melambaikan tangan ke arah Nate dan Chloe.

"Ta-ta juga," balas Nate, melambai dengan canggung karena tertahan borgol.

Chloe menutup pintu.

"Hehehehehehe."

"Hehehehehehe."

"Kalian berdua kuantar pulang saja sekalian," kata Chris. "Aku mau keluar beli kopi."

"Baiklah, eheheh."

"Heh, heh, terima kasih banyak."

Chris menuruni tangga dengan langkah-langkah ringan, menyambar kunci mobil yang ada di gantungan kunci-kunci dekat tangga. Suara gedebuk dari Chloe yang jatuh terjungkal setelah mencoba meluncur di susuran tangga, membuat istri Chris menengok ke luar dari ruang tengah. Ada televisi di ruang tengah, tapi Stacy—istri Chris—jarang menyalakannya jika sudah lewat jam siaran berita. Sebaliknya, Chris lebih suka membaca koran untuk mendapatkan berita dan menyalakan televisi untuk menonton acara hiburan yang sedang tayang. Chris terutama sekali suka pada salah satu serial televisi tentang makhluk-makhluk supernatural. Ia menikmati saat-saat mencela apapun yang melenceng dari fakta-fakta makhluk non-manusia yang disuguhkan tayangan itu.

"Aku pergi sebentar," kata Chris kepada istrinya, menunjukkan kunci mobil. "Kopiku habis. Mau titip sesuatu?"

"Kalau ada roti tawar, beli saja satu pak."

"Oke."

Chris sudah melangkah ke arah pintu menuju garasi, tapi ia berbalik lagi ke arah istrinya dan mendaratkan ciuman singkat di pipi istrinya.

"Hati-hati di jalan."

Chris mengacungkan jempol sebagai jawabannya. Nate dan Chloe telah menunggunya di garasi.

"Manual? Atau otomatis?" tanya Nate.

"Manual," jawab Chris dalam gerutuan sebal. "Aku pernah pakai pintu otomatis dan klienku membatalkan pekerjaan gara-gara aku telat. Mobilku tidak bisa keluar karena pintunya macet. Sesuatu terjepit di roda giginya atau apalah."

Chris membuka gembok yang mengamankan rolling door, lalu masuk ke dalam mobil setelah mendapati Nate dan Chloe berbaik hati mendorong rolling door hingga terbuka. (Lho? Mereka kuat juga, apalagi untuk ukuran tangan diborgol begitu, batin Chris.)

"Mobil bagus, Sir Kane," komentar Nate saat melompat masuk ke kursi belakang. Ia dan Chloe telah menutup kembali pintu garasi tanpa disuruh. "Heheheheheh."

"Kalian cuma basa-basi atau betulan memuji sih?"

"Heheheheh."

"Heheheheh."

Chris menghela napas. Tidak ada yang bisa diharapkan lagi dari si kembar jika keduanya memberikan jawaban ambigu seperti itu.

Sepanjang perjalanan, Chris menyetel musik dengan volume pelan. Mobil Chris adalah mobil produksi sepuluh tahunan lalu, jenis mobil yang radionya masih menggunakan pemutar kaset. Koleksi kaset Chris sedikit, sebagian berasal dari toko barang bekas, karena kaset pita seperti itu sudah tidak diproduksi lagi, digantikan oleh CD, bahkan USB stick yang bisa memuat ribuan lagu yang belum tentu terputar semua jika disetel sepanjang perjalanan lintas benua.

"Dari kemarin aku bertanya-tanya," kata Chris. Ia melirik ke arah si kembar melalui kaca spion. Dua pasang mata hijau keruh nampak berkilau dalam bayang-bayang. "Kalau aku boleh bertanya pada kalian, lebih tepatnya."

"Silakan."

"Heh heh."

"Selama ini kalian dapat makanan cuma dari klien yang datang saja? Maksudku, penghasilan dari apotek yang di atas," Chris memberikan penekanan pada apotek mana yang dia maksud,"cukup untuk Saltman dan kalian berdua?"

Terdengar tawa rendah sebelum jawaban.

"Kaum Tudung Merah adalah langganan kami. Heheheh. Klien paling setia."

"Paling berhutang budi pada kami. Mungkin. Heheheh."

"Mereka menyediakan bahan yang kami minta. Kami membuatkan mereka darah buatan."

"Sebagai gantinya, mereka membayar kami dengan uang."

"Dan jasa kurir barang cuma-cuma."

"Ya, ya, itu juga. Plus, jasa pindahan rumah."

"Heheheheh."

"Heheheheh."

"Aah, begitu rupanya." Chris mengangguk paham. "Selama ini aku hanya tahu bahwa kalian cukup dekat dengan Kaum Tudung Merah, tapi aku sama sekali tak menyangka kalau kalianlah penyetok utama darah untuk mereka."

"Begitulah. Eheheh."

"Ada beberapa alkemis yang juga membuat perjanjian dengan Kaum Tudung Merah di daerah lain. Mereka mengolahkan darah buatan, Kaum Tudung Merah membayar mereka."

Darah buatan adalah solusi terbaik untuk Kaum Tudung Merah yang hidupnya sangat bergantung pada darah. Di kalangan manusia—termasuk di film serial supernatural yang diikuti Chris—Kaum Tudung Merah lebih dikenal dengan sebutan "vampir". Nama "Tudung Merah" yang digunakan oleh kalangan makhluk non-manusia berasal dari sebuah dongeng terkenal yang sebenarnya bukan sekedar dongeng.

Chris berpikir mengenai makanan apa yang disukai si kembar. Daging? Kalau tidak salah mereka pernah bilang kalau mereka senang daging; daging matang, setengah matang, dan daging segar belum diolah. Mungkin lain kali Chris akan membelikan mereka ayam goreng paket jumbo. Nate dan Chloe sudah berbaik hati datang ke rumahnya untuk mengecek keadaan Alia setiap hari.

Mobil Chris berbelok. Tinggal lurus terus, lalu di belokan ketiga, belok kanan dan—

BUUUUUUUMMMMMMMMMMMMMMMMMM!!!

Telinga Chris berdenging. Bunyi keras itu mungkin jauh dari tempatnya berada, tapi bagi Chris yang pendengarannya berkali-kali lipat manusia biasa, bunyi itu nyaris membuatnya tuli.

"Apa itu?" gerung Chris, bingung serta terkejut. Ia otomatis mengerem ketika ledakan terdengar.

"Rumah kita ..."

"Saltman ..."

"Ayah," desis Nate dan Chloe berbarengan.

Kedua sosok berjaket itu membuka pintu belakang di sisi masing-masing dan turun dari mobil. Chris mematikan mesin mobilnya, bergegas menyusul Nate dan Chloe sebelum keduanya terlalu jauh. Si Putra Purnama menyambar bagian belakang jaket keduanya agar berhenti.

"OI! Tunggu! Jangan ke sana!"

Baru setelah menarik Nate dan Chloe mendekat, Chris menyadari seringai telah lenyap sama sekali dari wajah mereka. Sebagai gantinya, keduanya terlihat amat sangat ketakutan.

"Ayah." Nate bergumam seperti mesin rusak. Kedua tangannya menjambaki rambut berantakannya di balik tudung jaket."Ayah. Ayah. Ayah. Ayah. Ayah."

"Ayah di sana ..." Chloe merepet. Dia menggigiti ujung-ujung jarinya dengan kalut."Ayah di sana ... Ayah di sana ... Ayah di sana ..."

Chris mencengkeram tengkuk si kembar dan memaksa keduanya menatap matanya.

"Aku yang akan mengecek ke sana," kata Chris dengan suara sejelas mungkin."Tetap tinggal di mobil. Jangan menampakkan diri. Polisi akan datang. Aku yang akan memeriksa. Kalian tinggal di mobil. Paham?"

Nate dan Chloe memberikan anggukan singkat. Chris membuka pintu belakang mobil dan mendorong keduanya masuk. Ia sebenarnya tidak menyangka trik intimidasi para Putra Purnama--kombinasi dari intonasi, nada, kalimat-kalimat perintah pendek yang jelas, dan sedikit kekuatan aura--akan berhasil pada si kembar.

Chris berlari ke sumber suara ledakan. Asap terlihat membumbung ke langit. Jendela-jendela flat di sekitar sana terbuka, menampakkan penghuni-penghuni yang penasaran. Beberapa orang bahkan turun dan keluar ke jalan.

Api menyala-nyala dari apa yang tersisa dari Apotek Saltman. Kaca-kaca jendela remuk, sebagian atap runtuh, dan api dari bagian belakang apotek menjilat bangunan yang ada di dekatnya. Api yang menjalar ke sekitarnya itulah yang lebih mengkhawatirkan. Melihat sekilas ke orang-orang yang sudah terlebih dahulu tiba, Chris mendapati lebih banyak yang menggunakan ponselnya untuk memotret lokasi ledakan ketimbang berusaha menghubungi pemadam kebakaran.

Ya ampun ...

Chris mengeluarkan ponselnya sendiri dan menghubungi nomor darurat.

==bersambung==

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Simple Notes: Fiction Junction (Character Part 1: Classification)

[Resensi] Valharald