Nightspadian's Solo Trip!

Jadi, selama hari Jumat-Sabtu-Minggu (12-14 Oktober 2012) kemarin saya sempat menghilang sejenak dari peredaran dunia maya. YM gak nyala, email gak direspons, blog gak diupdate, gak ninggalin komen atau postingan gak jelas di forum-forum atau di Facebook.

Sebenarnya ...

Saya dan beberapa--kalau bukan semua--rekan kerja saya di Nightspade pergi ke Solo!

Alasan kenapa alih-alih datang ke Indonesia Game Show yang juga diadakan pada tanggal 12-14 Oktober adalah karena CEO kami menikah! (CEO kami yang namanya Inas Luthfi, btw)


Seperti yang tertera pada peta, acara pernikahannya diadakan di Sragen. Tapi dengan berbagai pertimbangan (salah satunya adalah pertimbangan wisata, tentu saja) kami memutuskan untuk pergi ke Solo dan menginap di sana alih-alih langsung ke Sragen.

Kami berangkat ke Solo menggunakan kereta api. Lodaya Malam, kelas bisnis.

Buat saya, ini pertama kalinya saya naik kereta kelas bisnis. :P

Dalam Gerbong Kereta
Dari mulai bentuk tempat duduk (tempat duduknya asik banget untuk segi bisa diubah mau menghadap depan/belakang, jadi seperti teman saya yang ada di bagian kanan foto, empat orang bisa duduk saling berhadapan) sampai pendingin (di kelas bisnis pakai angin alami dari kipas angin atau jendela kecil yang bisa dibuka) banget sama kelas eksekutif.

(Iya, harganya aja katanya bisa beda sampe 90.000 tuh tiket bisnis dan eksekutif, apalagi waktu akhir pekan, apalagi waktu menjelang Lebaran)

Satu-satunya keluhan saya di kelas bisnis ini adalah posisi tidur yang susah mencapai posisi "paling wuenak" karena kursi yang tidak bisa diubah kemiringannya. Saya sering terbangun entah setelah tidur 1-2 jam dengan leher kaku tidak enak. Yang tidak kalah janggalnya adalah posisi tidur saya dan yang lainnya. Satu kali saya sempat mendapati teman di seberang saya (dalam perjalanan pulang giliran saya yang membalik posisi kursi jadi saling berhadapan) tidur dengan posisi ekstra janggal (tidak saya foto karena saking janggalnya sampai tidak tega saya foto).

Oke, singkat cerita kami sampai di Solo. Ada tiga orang teman kami yang turun di Jogja karena perlu mengurus beberapa hal--termasuk di dalamnya transportasi untuk sampai di Sragen--dan sekalian pulang ke rumah (dua dari belasan kru Nightspade berasal dari Bantul, salah satunya adalah yang sering saya mintai tolong untuk membuatkan ilustrasi cerita :P).

Tempat menginap di Solo berada di daerah Nonongan dan tempat ini bisa dibilang lumayan menarik untuk standar saya.

Bagian Depan-Dalam Rumah Tempat Menginap
Rumah ini ternyata rumah lama yang dibangun ulang dan--ini sih kata saya berdasarkan pengamatan sekilas--meskipun direnovasi, aspek "kuno-klasik Jawa"-nya tetap dipertahankan, sehingga ada perpaduan aneh antara modern-klasik di dalam sini.

Saya harus menekankan bahwa rumah ini panas. orz

Panas. Panas bangeettt. Ada yang salah sepertinya sehingga udara di dalam rumah ini sepertinya stagnan tidak bergerak dan membuat kru Nightspade yang baru pertama kalinya ke Solo meratap kegerahan.

Kebetulan saya sih tidak sebegitunya karena kedua orang tua saya berasal dari Solo dan saat kecil saya lumayan sering diajak pulang ke Solo. :P Jadi sudah dapat bayangan suhu udaranya akan seperti apa.

Akhirnya saya berhasil mengajak dua teman saya jalan-jalan keluar. Percayalah, jalan kaki itu jauh lebih sejuk karena kita ketemu udara yang mengalir meskipun mataharinya terik (disarankan untuk membawa topi bagi yang tidak pernah/sering ke Solo). Dalam keputusasaan berusaha mencari mini-market semacam Alfamart atau Indomart (belakangan saya baru tahu bahwa di Solo memang tidak ada dua itu, sepertinya keputusan pemerintah kota untuk memajukan pengusaha Solo; hal yang sama juga terjadi untuk jasa taksi), kami akhirnya mendinginkan diri di sebuah restoran di ujung jalan masuk menuju daerah rumah tadi.

Dan kami bertiga bisa dengan bangga menyatakan bahwa hanya kami bertiga sajalah dari rombongan ini yang berhasil melihat kereta api kuno yang dijalankan melintasi tepian jalan Slamet Riyadi, Solo.

Keretanya kereta kuno--sepertinya memang untuk keperluan wisata. Dari mulai suara loncengnya, bentuk lokomotif, gerbong, sampai asapnya pun semua bernuansa tahun '70an! Keretanya masih menggunakan kayu--jika dilihat dari tumpukan kayu di lokomotif--dan dari bau asapnya--yang ini, teman saya yang bilang--memang bahan bakar utamanya adalah kayu.

Kapan lagi melihat ada kereta api dijalankan di rel yang benar-benar ada di sepanjang tepian jalan besar seperti itu? :D

Satu-satunya yang saya sayangkan dari keputusan jalan-jalan keluar itu hanya satu: saya tidak bawa hape! :| Alhasil tidak ada foto kereta yang saya jabarkan tadi. Maafkan. orz

Lanjut lagi ceritanya.

Karena bisa dibilang tidak sampai separuh dari rombongan yang pernah ke Solo dan memiliki bayangan tentang kota ini, sebenarnya kami bingung harus pergi ke mana. Saya dan teman saya yang pernah ke Solo bersikeras bahwa di Solo ini wisatanya adalah wisata kuliner. :))

Salah satu jajanan yang kami cicipi--ini atas provokasi dari saya--adalah timlo.

Timlo Pak Sastro, di daerah Pasar Gede
Dari dulu saya sih suka banget dengan masakan Solo yang satu ini, tapi sepertinya tidak terlalu impresif untuk yang lainnya. :P

Kemudian, karena kamimerasa wisata itu harusnya nggak cuma wisata kuliner (tapi kalo di Solo memang lebih dominan wisata kuliner! *masih ngotot*), kami pergi ke Keraton.

Saya dengar keraton di Solo ada dua, tapi tolong jangan ditanya ini yang mana. Saya juga susah mau bilangnya.

Ternyata ...

Keratonnya tutup jam 2 siang! Kami sampai di sana sekitar jam 3 kurang! A-a-a-a-a-a-a-a-a-a!

Pesan moral: risetlah tempat tujuan wisata Anda!

Saya hanya sempat mengambil satu foto saja untuk Keraton. Sebuah menara yang terlihat seperti menara jam. Menara itu letaknya di bagian lebih dalam Keraton dan karena sudah tidak boleh masuk ya hanya bisa difoto dari luar saja.

Menara Jam (?) 
Karena bingung harus bagaimana selanjutnya kami akhirnya keluyuran ke museum Keraton. Sementara teman-teman saya cenderung santai dan banyak mengambil foto-foto, bahkan sempat berfoto bersama, perasaan saya super nggak enak waktu mencapai pintu keluar museum.

Rasanya ada penunggunya di sekitar sana. :| Di meriam-meriamnya.

Makanya saya lebih banyak diam dan menolak ikutan foto bareng.

Berbekalkan rute di Google Maps (saya pribadi kurang suka mengeluarkan gadget terlalu lama karena merasa akan terlihat seperti sedang pamer padahal kesasar, jadi ini teman saya yang bawa tablet yang menjadi penunjuk arah), kami berjalan pulang.

Oke. Cukup cerita di hari Sabtu-nya. Mari beranjak ke cerita hari Minggu di mana rombongan dari Jogja berangkat menggunakan bus untuk mengangkut kami yang berada di Solo, lalu berangkat ke Sragen.

... Saya sebenarnya lupa siapa yang mengambil foto ini. Dari Whatsapp yang siapapun bebas upload foto ke grup sih.

Sang Pengantin - Mas Inas dan Mbak Sevi
Sang CEO nampak rada senyum-senyum kaku (jangan-jangan kram karena dipaksa harus banyak senyum menawan sepanjang hari). Tapi mereka berdua tetap tampil gagah-ganteng dan cantik-menawan. :D

Nah, resepsinya ternyata berbeda juga dari yang biasa saya datangi. Jika di resepsi pernikahan biasanya hidangan disajikan dengan model prasmanan alias silakan ambil sendiri, model resepsi kali ini justru para tamu dipersilakan duduk di kursi-kursi yang telah disediakan dan nantinya akan ada petugas yang mengantarkan makanan ke para tamu.

Waktu saya menceritakan tentang model resepsi tersebut pada ibu saya, beliau mengkonfirmasi bahwa memang ada model resepsi seperti itu. Bisa dibilang resepsi model Jawa kuno (tapi nggak sekuno itu juga sih). Orang tua saya bahkan katanya menggunakan model resepsi seperti ini waktu menikah dulu. :P

Saya memvonis model resepsi seperti ini adalah resepsi paling efektif yang pernah saya ketahui. Tidak ada waktu yang terbuang percuma. Semua tamu tahu kapan harus pulang. Pengantin juga tidak capek karena harus menunggu sampai tamu yang datang sepi. :D

... Apesnya, ada teman kami yang mengira dia menghadiri resepsi seperti pada umumnya yang menggunakan sistem prasmanan. Dia terlambat bangun, gagal ikut bersama rombongan bus, menyusul sendiri, dan tiba ketika hampir semua tamu sudah pulang dan panitia sudah membereskan ini-itu.

Ya, keempat orang yang datang terlambat itu tidak kebagian makan, tentu saja.

Pesan moral: jangan terlambat untuk urusan ini-itu.

Minggu malam, kami bersiap-siap pulang ke Bandung lagi dengan kereta. Kami berangkat dari Solo, dan yang dari Jogja akan naik dari stasiun Jogja. Sekali lagi, saya susah tidur dalam perjalanan sehingga berakhir dengan bolos kerja (teman saya yang lain lebih kuat dari saya dan langsung datang ke kantor kira-kira siang hari) karena masuk angin lumayan parah. Ini saja saya baru menulis postingan blog setelah sakit kepala reda pasca punggung dikerokin, minum obat, makan yang banyak, dan excessive sleeping sepanjang pagi dan siang.

Begitulah cerita singkat Solo Trip tempo hari. :D Beberapa bonus foto tambahan:

Model Lain Larangan (yang mungkin lebih efektif)

Card Game 1: Citadel

Card Game 2: Bang!
P.S: Gara-gara permainan role-play werewolf dan card game Bang! saya mendapat dua ide cerita yang lumayan menarik untuk dikembangkan. Terutama sekali dari permainan role-play werewolf. :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Simple Notes: Fiction Junction (Character Part 1: Classification)

[Resensi] Valharald