Arsip "Nasional"
Suatu kali, saya menemukan Senior Dian alias Klaudiani dan Shienny M.S. mengobrolkan sesuatu di Twitter, yang kemudian ditimbrungi oleh Xeno dan entah gimana caranya Oyabun Noirciel juga ikutan. Setelah saya gulir-gulir mundur sedikit, ternyata mereka berdua sedang membicarakan sebuah artifak bersejarah yang namanya "naskah/draft tulisanmu pada jaman dahulu kala yang ketika dilihat lagi sekarang super malu banget rasanya".
Berawal dari sana, saya jadi ikut-ikutan membongkar "arsip nasional" saya sendiri dan memutuskan untuk membuat postingan blog mengenai hal tersebut.
Jika diingat-ingat kembali, saya mulai iseng menulis cerita itu kelas 6 SD, sekitar tahun 1999-2000, yang berarti sekitar 12 tahun silam.
Jadi inilah "arsip nasional" yang berhasil saya bongkar:
Yep, karena pada masa-masa SD saya belum sering menggunakan komputer, saya menuliskan cerita saya di buku tulis bergaris. Hal ini berlangsung sampai sekitar kelas 2 SMP. Saat itu bisa dibilang saya sudah beralih dari 3 cerita yang berbeda.
"Buku cerita" pertama adalah buku hitam bergambar bebek (yang pose si bebeknya Daffy Duck banget, kalian tahulah buku tulis suka gitu gambar kovernya ...). Coba kita intip isinya ...
TADA!
Saya masih menulis dengan tulisan sambung besar-besar dan bulat-peyang (dari dulu saya rasanya nggak pernah dapat nilai bagus di mata pelajaran menulis sambung). Saat itu saya sama sekali belum mengenal peraturan pembagian paragraf, terutama jika berkaitan dengan pergantian paragraf jika ada kalimat langsung/dialog. Tiap bab cerita dijatah satu halaman dan setiap "jilid" terdiri atas sekitar 10-12 bab.
Ceritanya sendiri?
Saat itu novel yang banyak beredar adalah yang semacam Goosebumps, Fear Street, dan Animorphs. Saya--dikompori oleh teman sekelas yang juga hobi membaca--tergila-gila pada Animorphs waktu itu dan karena merasa ingin membuat cerita yang "mirip", saya membuat manusia yang dengan rekayasa genetika (jaman itu sudah ada X-Men, jadi saya tahu mutan, tapi tepatnya apa mutan itu dan apa rekayasa genetika itu murni hasil nggak pakai referensi sama sekali, hanya khayal belaka) dapat berubah menjadi setengah-hewan, bukan sepenuhnya menjadi hewan seperti di Animorphs.
Dan dengan standar keren seorang anak SD, saya memberi judul cerita ini "Humorphs". Saya sampai sedih setiap kali mengingatnya. Kok bisa ada masa-masanya saya begitu payah ngasih nama. :))
Saya terlalu malu untuk berusaha mencarinya, tapi saat itu saya juga sempat membuat semacam logo untuk cerita ini: huruf "H" kapital dalam lingkaran dengan tiga guratan berdarah bekas cakaran.
Evolusi selanjutnya dari draft naskah jaman dahulu kala ini ...
BUKUNYA PAKAI YANG LEBIH TEBAL!!!
Saat itu sudah masuk kelas 1 SMP, dan Harry Potter sedangbooming ctarr membahana di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Untuk pertama kalinya, saya mencermati pembagian paragraf yang baik dan benar, menganggap buku EYD yang tipis itu (buku wajib waktu kelas 6 SD, tapi entah kenapa nggak pernah dipakai ...) sebagai sumber pencerahan teknis. Kali ini juga, saya sudah tidak membatasi lagi bahwa 1 bab = 1 halaman, tapi sekitar 5 halaman (lha, sama aja, gubraks).
Cerita yang ini masih semacam revisi atau melanjutkan dari cerita setengah-manusia dari jaman SD, tapi kali ini bukan berawal dari manusia yang direkayasa genetis--tenang, saya tahu sekarang kalau rekayasa genetika tidak seindah itu, salahkan pelajaran biologi semasa SMP-SMA dan film Splice--tapi mutan sejak lahir. Saya hanya ingat bahwa mereka tinggal di tempat semacam konservasi, lalu kemudian tempat tersebut diserang, entah untuk alasan apa, dan ceritanya tidak dilanjutkan di sana.
Oh, mungkin saya lupa bilang, tapi cerita pertama saya menggunakan sudut pandang orang pertama, dengan karakter yang berganti-ganti setiap "jilid". Di versi buku tebal ini, saya masih menggunakan sudut pandang orang pertama, namun pergantiannya terjadi setiap bab.
Oke, next ...
Bukunya lebih tebal dan ceritanya berhasil berlanjut begitu panjang sampai ganti buku tebal lainnya!
Tapi ceritanya juga nggak selesai, bahkan setelah ganti buku itu pun. :| Memang "arsip nasional" itu sebagian besar statusnya masa lalu kelam yah sepertinya. :P
Saya tidak begitu ingat, tapi masih sama seperti sebelum-sebelumnya, saya menggunakan sudut pandang orang pertama dan berganti-ganti karakter di tiap babnya, melabel kecil nama karakter yang saat itu sedang digunakan sudut pandangnya di pojok kanan atas tiap halaman.
Nah, ada banyak elemen yang sebenarnya mempengaruhi cerita ini makanya dia tidak lagi hanya berputar di setengah hewan-setengah manusia, rekayasa genetika, mutan, dan alien. Mulai dari Saint Seiya dengan 12 kuil zodiaknya, Rurouni Kenshin yang saat itu sedang ditayangkan ulang di televisi, Final Fantasy IX, Final Fantasy X, Suikoden II, dan lain-lain. Cerita ini berakhir menjadi cerita yang tidak lagi mengetengahkan hal-hal terlalu sci-fi ngasal pure khayal, tapi cenderung seperti game RPG dan anime.
Ini cerita tentang 12 orang yang terpilih untuk menyelamatkan dunia.*
(Saya yakin ada yang langsung tahu ini predecessor dari apa.)
*Dan ketika itu saya bahkan tidak merencanakan akan dihancurkan macam apa kali ini dunia tempat mereka tinggal ... orz
Ngomong-ngomong, saya mendapati selain draft dan naskah-naskah lama tulisan tangan itu, saya juga menemukan sejumlah "dokumen tambahan" berupa side-story, biodata karakter dan semacam denah setting.
Memasuki masa SMP akhir, saya semakin sering menggunakan komputer (meskipun hanya boleh hari Sabtu) dan sudah lebih mahir juga menggunakannya. Untuk pertama kalinya saya aktif menggunakan internet untuk kegiatan di forum adalah ketika kelas 3 SMP. Karena saat itu masih menggunakan internet dial-up te-not-te-not-ngiiingggg saya dilarang menggunakan internet terlalu lama dan selain hari Sabtu.
Saya mulai memiliki rutinitas aneh saat kelas 2 SMP: pasang headphone, dengarkan lagu dari Winamp, buka MsWord dan mengetik cerita. Dan ditambah dengan selingan posting cerita serta membalas komentar di forum ketika kelas 3 SMP.
Rutinitas yang hanya seminggu sekali itu berkontribusi pada kemampuan mengetik-tanpa-melihat-huruf-di-keyboard saya. :P
Dan ketika SMA ...
Bentuk hard-copy pertama saya!
Entah atas dorongan apa ketika itu, saya memutuskan untuk memprint draft saya dan meminjamkannya untuk dibaca kepada teman-teman saya di sekolah. Hal yang sama sebenarnya juga terjadi pada dua draft tulis tangan sebelumnya, tapi rasanya baru di bentuk hard-copy ini saya menyebarkan ke lebih banyak orang.
Kebiasaan menulis saya menggunakan MsWord kala itu adalah menggunakan font Bookman Old Style. Ketika diprint, saya mengecilkan ukurannya dari 12 menjadi 10, untuk menghemat kertas. Awalnya saya menjepitnya dengan penjepit kertas, lalu setelah muncul keluhan dari salah satu pembaca, saya membolongi per halaman dan membundelnya dengan jilidan kawat pipih berpenjepit-geser (kebayang? Itu bukan benda terlalu asing kok setahu saya sih ...). Ketika ukuran bukunya semakin tebal, saya terpaksa membawanya ke tukang fotokopi dekat rumah untuk dijilid.
Yang jilid kawat di gambar itu hasil jilidan teman saya dalam rangka permintaan maaf karena naskahnya kena cipratan kopi atau susu. :P
Waktu itu saya sudah memprint sampai 4 buku, semuanya hasil gerilya menulis seminggu sekali entah setiap kali sesi menulis dapat berapa kata.
Jilidan paling rapi di kiri adalah draft yang diperbaiki dan diformat sesuai ketentuan (Times New Roman 12) untuk dikirim ke penerbit. Kenapa naskah itu ada di saya sekarang? Ya, jawabannya jelas sih: karena tidak diterima penerbit. :P
Cerita yang kali ini adalah upgrade dari cerita tentang 12 orang terpilih yang sudah pernah saya buat dalam format draft tulisan tangan. Perbedaan paling signifikan sekarang ini adalah saya tidak lagi menggunakan sudut pandang orang pertama, tapi sudut pandang orang ketiga.
(Lagi, beberapa orang pasti sudah mengendus cerita yang mana gerangan ini, barangkali malah terlihat dari gambar.)
Saya memposting cerita ini juga di forum, saat itu di Gameindo dan di VideoGamesIndonesia, tapi saya sudah menghapus yang di VGI dan yang di GameIndo tidak terselamatkan karena forum itu telah karam sekarang.
Selain upgrade dari segi penggunaan komputer untuk menulis, ada juga upgrade dari material sampingan untuk cerita ini:
Saya menggambar petanya dengan metode barbar: menggunakan kertas kalkir untuk menjiplak tepian berbagai pulau/benua dari atlas dan menyambungkan berbagai tepian itu hingga menjadi sebuah benua/pulau baru.
Ruwr.
Capek juga membahas tentang arsip "nasional".
Yah, arsip "nasional" saya sebenarnya tidak akan berhenti sampai di sini. Masih banyak file-file di dalam hardisk PC dan laptop saya yang saya kategorikan sebagai arsip "nasional", tapi tidak saya bahas di sini.
Jadi untuk topik arsip "nasional" kali ini, saya hanya akan bercerita mengenai masa-masa menggunakan bentuk fisik dan tulisan tangan saja. :D
Thanks for reading, rawr. :D :D :D
Bocoran (highlight utk membaca):
draft tulisan tangan yang memakan sampai dua buku tebal dan draft yang diprint dan cerita yang pernah saya post di Gameindo dan VGI adalah cerita yang sama: Dyneearth, yang sekarang berubah nama menjadi Dunamis aka DNMS
Berawal dari sana, saya jadi ikut-ikutan membongkar "arsip nasional" saya sendiri dan memutuskan untuk membuat postingan blog mengenai hal tersebut.
Jika diingat-ingat kembali, saya mulai iseng menulis cerita itu kelas 6 SD, sekitar tahun 1999-2000, yang berarti sekitar 12 tahun silam.
Jadi inilah "arsip nasional" yang berhasil saya bongkar:
![]() |
| Arsip "Nasional" |
Yep, karena pada masa-masa SD saya belum sering menggunakan komputer, saya menuliskan cerita saya di buku tulis bergaris. Hal ini berlangsung sampai sekitar kelas 2 SMP. Saat itu bisa dibilang saya sudah beralih dari 3 cerita yang berbeda.
"Buku cerita" pertama adalah buku hitam bergambar bebek (yang pose si bebeknya Daffy Duck banget, kalian tahulah buku tulis suka gitu gambar kovernya ...). Coba kita intip isinya ...
![]() |
| "Arsip Nasional" Jaman SD |
TADA!
Saya masih menulis dengan tulisan sambung besar-besar dan bulat-peyang (dari dulu saya rasanya nggak pernah dapat nilai bagus di mata pelajaran menulis sambung). Saat itu saya sama sekali belum mengenal peraturan pembagian paragraf, terutama jika berkaitan dengan pergantian paragraf jika ada kalimat langsung/dialog. Tiap bab cerita dijatah satu halaman dan setiap "jilid" terdiri atas sekitar 10-12 bab.
Ceritanya sendiri?
Saat itu novel yang banyak beredar adalah yang semacam Goosebumps, Fear Street, dan Animorphs. Saya--dikompori oleh teman sekelas yang juga hobi membaca--tergila-gila pada Animorphs waktu itu dan karena merasa ingin membuat cerita yang "mirip", saya membuat manusia yang dengan rekayasa genetika (jaman itu sudah ada X-Men, jadi saya tahu mutan, tapi tepatnya apa mutan itu dan apa rekayasa genetika itu murni hasil nggak pakai referensi sama sekali, hanya khayal belaka) dapat berubah menjadi setengah-hewan, bukan sepenuhnya menjadi hewan seperti di Animorphs.
Dan dengan standar keren seorang anak SD, saya memberi judul cerita ini "Humorphs". Saya sampai sedih setiap kali mengingatnya. Kok bisa ada masa-masanya saya begitu payah ngasih nama. :))
Saya terlalu malu untuk berusaha mencarinya, tapi saat itu saya juga sempat membuat semacam logo untuk cerita ini: huruf "H" kapital dalam lingkaran dengan tiga guratan berdarah bekas cakaran.
Evolusi selanjutnya dari draft naskah jaman dahulu kala ini ...
![]() |
| UPGRADE LV 2!!! |
BUKUNYA PAKAI YANG LEBIH TEBAL!!!
Saat itu sudah masuk kelas 1 SMP, dan Harry Potter sedang
Cerita yang ini masih semacam revisi atau melanjutkan dari cerita setengah-manusia dari jaman SD, tapi kali ini bukan berawal dari manusia yang direkayasa genetis--tenang, saya tahu sekarang kalau rekayasa genetika tidak seindah itu, salahkan pelajaran biologi semasa SMP-SMA dan film Splice--tapi mutan sejak lahir. Saya hanya ingat bahwa mereka tinggal di tempat semacam konservasi, lalu kemudian tempat tersebut diserang, entah untuk alasan apa, dan ceritanya tidak dilanjutkan di sana.
Oh, mungkin saya lupa bilang, tapi cerita pertama saya menggunakan sudut pandang orang pertama, dengan karakter yang berganti-ganti setiap "jilid". Di versi buku tebal ini, saya masih menggunakan sudut pandang orang pertama, namun pergantiannya terjadi setiap bab.
Oke, next ...
![]() |
| UPGRADE LV 3!!! |
Bukunya lebih tebal dan ceritanya berhasil berlanjut begitu panjang sampai ganti buku tebal lainnya!
Tapi ceritanya juga nggak selesai, bahkan setelah ganti buku itu pun. :| Memang "arsip nasional" itu sebagian besar statusnya masa lalu kelam yah sepertinya. :P
Saya tidak begitu ingat, tapi masih sama seperti sebelum-sebelumnya, saya menggunakan sudut pandang orang pertama dan berganti-ganti karakter di tiap babnya, melabel kecil nama karakter yang saat itu sedang digunakan sudut pandangnya di pojok kanan atas tiap halaman.
Nah, ada banyak elemen yang sebenarnya mempengaruhi cerita ini makanya dia tidak lagi hanya berputar di setengah hewan-setengah manusia, rekayasa genetika, mutan, dan alien. Mulai dari Saint Seiya dengan 12 kuil zodiaknya, Rurouni Kenshin yang saat itu sedang ditayangkan ulang di televisi, Final Fantasy IX, Final Fantasy X, Suikoden II, dan lain-lain. Cerita ini berakhir menjadi cerita yang tidak lagi mengetengahkan hal-hal terlalu sci-fi ngasal pure khayal, tapi cenderung seperti game RPG dan anime.
Ini cerita tentang 12 orang yang terpilih untuk menyelamatkan dunia.*
(Saya yakin ada yang langsung tahu ini predecessor dari apa.)
*Dan ketika itu saya bahkan tidak merencanakan akan dihancurkan macam apa kali ini dunia tempat mereka tinggal ... orz
Ngomong-ngomong, saya mendapati selain draft dan naskah-naskah lama tulisan tangan itu, saya juga menemukan sejumlah "dokumen tambahan" berupa side-story, biodata karakter dan semacam denah setting.
![]() |
| Guide Book (?) |
Memasuki masa SMP akhir, saya semakin sering menggunakan komputer (meskipun hanya boleh hari Sabtu) dan sudah lebih mahir juga menggunakannya. Untuk pertama kalinya saya aktif menggunakan internet untuk kegiatan di forum adalah ketika kelas 3 SMP. Karena saat itu masih menggunakan internet dial-up te-not-te-not-ngiiingggg saya dilarang menggunakan internet terlalu lama dan selain hari Sabtu.
Saya mulai memiliki rutinitas aneh saat kelas 2 SMP: pasang headphone, dengarkan lagu dari Winamp, buka MsWord dan mengetik cerita. Dan ditambah dengan selingan posting cerita serta membalas komentar di forum ketika kelas 3 SMP.
Rutinitas yang hanya seminggu sekali itu berkontribusi pada kemampuan mengetik-tanpa-melihat-huruf-di-keyboard saya. :P
Dan ketika SMA ...
![]() |
| UPGRADE LV4!!! |
Bentuk hard-copy pertama saya!
Entah atas dorongan apa ketika itu, saya memutuskan untuk memprint draft saya dan meminjamkannya untuk dibaca kepada teman-teman saya di sekolah. Hal yang sama sebenarnya juga terjadi pada dua draft tulis tangan sebelumnya, tapi rasanya baru di bentuk hard-copy ini saya menyebarkan ke lebih banyak orang.
Kebiasaan menulis saya menggunakan MsWord kala itu adalah menggunakan font Bookman Old Style. Ketika diprint, saya mengecilkan ukurannya dari 12 menjadi 10, untuk menghemat kertas. Awalnya saya menjepitnya dengan penjepit kertas, lalu setelah muncul keluhan dari salah satu pembaca, saya membolongi per halaman dan membundelnya dengan jilidan kawat pipih berpenjepit-geser (kebayang? Itu bukan benda terlalu asing kok setahu saya sih ...). Ketika ukuran bukunya semakin tebal, saya terpaksa membawanya ke tukang fotokopi dekat rumah untuk dijilid.
Yang jilid kawat di gambar itu hasil jilidan teman saya dalam rangka permintaan maaf karena naskahnya kena cipratan kopi atau susu. :P
Waktu itu saya sudah memprint sampai 4 buku, semuanya hasil gerilya menulis seminggu sekali entah setiap kali sesi menulis dapat berapa kata.
Jilidan paling rapi di kiri adalah draft yang diperbaiki dan diformat sesuai ketentuan (Times New Roman 12) untuk dikirim ke penerbit. Kenapa naskah itu ada di saya sekarang? Ya, jawabannya jelas sih: karena tidak diterima penerbit. :P
Cerita yang kali ini adalah upgrade dari cerita tentang 12 orang terpilih yang sudah pernah saya buat dalam format draft tulisan tangan. Perbedaan paling signifikan sekarang ini adalah saya tidak lagi menggunakan sudut pandang orang pertama, tapi sudut pandang orang ketiga.
(Lagi, beberapa orang pasti sudah mengendus cerita yang mana gerangan ini, barangkali malah terlihat dari gambar.)
Saya memposting cerita ini juga di forum, saat itu di Gameindo dan di VideoGamesIndonesia, tapi saya sudah menghapus yang di VGI dan yang di GameIndo tidak terselamatkan karena forum itu telah karam sekarang.
Selain upgrade dari segi penggunaan komputer untuk menulis, ada juga upgrade dari material sampingan untuk cerita ini:
![]() |
| World Guide (?): Chara Bio dan Peta |
![]() |
| Peta 4 Benua |
Ruwr.
Capek juga membahas tentang arsip "nasional".
Yah, arsip "nasional" saya sebenarnya tidak akan berhenti sampai di sini. Masih banyak file-file di dalam hardisk PC dan laptop saya yang saya kategorikan sebagai arsip "nasional", tapi tidak saya bahas di sini.
Jadi untuk topik arsip "nasional" kali ini, saya hanya akan bercerita mengenai masa-masa menggunakan bentuk fisik dan tulisan tangan saja. :D
Thanks for reading, rawr. :D :D :D
Bocoran (highlight utk membaca):
draft tulisan tangan yang memakan sampai dua buku tebal dan draft yang diprint dan cerita yang pernah saya post di Gameindo dan VGI adalah cerita yang sama: Dyneearth, yang sekarang berubah nama menjadi Dunamis aka DNMS








Komentar
Postingan ini mengingatkanku pada arsip nasionalku sendiri. Masih ada sih, tapi nggak tahu sanggup ngeliatnya lagi apa nggak. Takutnya masuk rumah sakit saking shocknya ^^;
Kapan2 difoto dan dimuat aja di blog. :D Agak gimana gitu pas bongkar2nya, tapi gw merasa kalo diginiin, jadi lebih plong dan membantu kalo mau move-on ke cerita baru. (kenapa omongannya kayak move-on sehabis putus ama pacar gini ...?)
Hehe.