[NaCl] 4: Wild - pt 3
Sebelumnya: Wild - pt 2
Usai dengan penyelidikan awal Alan Weaver, Henry Griffith, dan Mark Hommund, Chris menemui si kembar untuk melaporkan perkembangan penyelidikannya.
“Dugaan Mr Saltman benar, soal keberadaan apotek ini tersebar di dunia maya,” kata Chris memulai laporannya.
“A-ha,” kata Chloe. Di seberangnya, Nate yang lehernya masih dibebat perban, mengeluarkan suara mendesis dari sela giginya. “Kalau begitu kau sudah mendapatkan namanya? Heheheheh.”
“Tidak semudah itu,” tukas Chris. “Aku sudah melihat situs, blog, dan forum yang disebutkan oleh para narasumber. Semua yang memulai topik mengenai apotek ini tidak memiliki username yang mirip atau sama.”
“Username?”
“Semacam nama yang kau gunakan di forum atau blog. Biasanya justru menghindari nama asli untuk menjaga identitas asli di dunia nyata.”
“Bisa saja kan satu orang menggunakan username berbeda-beda?” tanya Chloe lagi, ditimpali dengan anggukan dari Nate.
“Bisa. Aku belum menyelidiki lebih jauh akan kemungkinan itu, tapi biasanya orang-orang menggunakan username yang sama di berbagai forum supaya lebih mudah mengingatnya dan orang lain bisa mengidentifikasikan dirinya.”
“Tidak konsisten,” komentar Chloe. Kepalanya bergerak maju-mundur sedikit saat ia terkekeh. “Katanya menjaga identitas, tapi tetap ingin dikenali di tempat berbeda di internet. Dasar manusia.”
“Alter ego,” kata Chris, mengangkat bahu. “Mungkin sukar dipahami oleh kalian, tapi memiliki ‘diri yang lain’ adalah sesuatu yang menyenangkan bagi manusia. Yah, bahkan bagi kami pun. Meskipun kebanyakan dalam kasus kami adalah demi keselamatan kami sendiri.”
“Yaaa, eheheheheh.”
“Oh, ya. Aku perlu ijin dari kalian untuk penyelidikan selanjutnya, terkait dengan ibu Thomas Daryll. Untuk kasus Thomas, aku akan mengatakan yang sebenarnya, bahwa aku mengenal kalian seperti mereka mengenal kalian berdua.”
“Boleh saja,” jawab Chloe. Ia menunduk sedemikian rupa hingga bagian matanya tertutup bayang-bayang tudung jaket dan hanya seringai gigi-gigi runcingnya saja yang terlihat. “Dan semakin cepat akan semakin baik, ya, kan, Nate?”
“Heh, heh.” Nate mengangguk.
Chris terdiam sejenak. Ragu-ragu.
“Bagaimana … perkembangan kalian, ehm, seputar Alia?” tanya Chris.
“Heh, heh. Lumayan,” jawab Chloe. Ia mencondongkan kepala ke depan. “Kami mencocokkan dengan banyak kasus Sindrom Kavanov, yang kami minta dari temanmu itu.”
Nate dan Chloe meminta secara khusus pada Chris untuk dihubungkan dengan Putra Purnama yang banyak meneliti kasus Sindrom Kavanov. Keduanya rupanya meminta seluruh data penelitian kenalan Chris itu untuk dijadikan referensi.
“Ada sesuatu yang berbeda dari kasus anakmu,” lanjut Chloe. “Bisa menjadi kabar bagus atau kabar buruk. Entah. Kami belum dapat memastikan.”
Nate mengacungkan tiga jari ke arah Chris.
“Heheheheh. Tiga hari lagi kami bisa memberitahumu.” Chloe menerjemahkan apa yang hendak dikatakan Nate.
“Baiklah. Aku akan mengontak kalian lagi.”
Chris membuat janji dengan Jonathan dan Thomas Daryll di hari Minggu. Keduanya orang yang religius, jadi Chris sengaja membuat janji di siang hari agar keduanya bisa pergi ke ibadah pagi lebih dulu. Chris sendiri tidak suka dekat-dekat dengan gereja. Beberapa pendeta memiliki “kepekaan” terhadap makhluk non-manusia dan banyak dari mereka secara sembarangan menempatkan kaum non-manusia ke dalam kategori yang sama dengan iblis atau setan.
“Pertama-tama, saya mohon maaf karena mengungkit-ungkit hal tidak enak,” kata Chris membuka pembicaraan. “Dan … saya turut berduka cita.”
Jonathan “Jon” Daryll hanya mengangguk singkat. Anaknya, Tom, menunduk menatap cangkir teh di hadapannya.
“Seperti yang sudah kukatakan kemarin, aku kenal dengan si kembar. Nate dan Chloe. Mereka … sedang berada dalam masalah.”
“Hei, kalau kau ingin meminta bantuanku untuk mengusir para polisi yang mengawasi apotek, aku tak bisa melakukan itu,” kata Jon. “Mereka sudah membantu kami, tapi aku tidak punya alasan untuk tidak melaksanakan perintah atasanku untuk menyelidiki mereka.”
“Yeah, saya tahu.” Chris mengangkat bahu. “Saya punya teman di kepolisian. Tiap kali keluar minum-minum bersamanya, dia selalu mengeluh soal tekanan dari publik.” Chris mencomot sepotong kentang goreng dari piring. “Orang tua Mark Hommund akan berkicau kesana kemari kalau merasa tidak ditanggapi serius oleh polisi, kan?”
“Kau tahu kasus itu?”
“Tentu saja.” Chris kembali mengambil kentang goreng. “Kalian cukup menjawab satu-dua pertanyaanku, sungguh. Tidak ada urusannya dengan pengalihan tugasmu mengawasi dan menyelidiki apotek.”
Jon Daryll menghela napas. “Baiklah.”
“Siapa orang terakhir yang ditemui oleh Veronica Daryll? Atau siapa yang pertama kali menemukannya saat ia jatuh di dapur?”
“Orang terakhir … orang terakhir …” Kening Jon mengernyit. “Aku dan Tom berangkat bersama … Aku menurunkan Tom di sekolah lalu ke kantor. Jadi harusnya … kami berdua? Aku sama sekali tidak tahu ke mana Vero pergi dan dengan siapa dia bertemu setelahnya—“
“Paman Brad,” ujar Tom, melihat ke arah ayahnya. Ayahnya menoleh ke arah Tom. “Paman Brad yang waktu itu mengantar ibu ke rumah sakit.”
“Hmm? Brad?”
“Bradley Hughes,” kata Jon. “Dia adik tiri istriku. Kadang-kadang dia memang datang ke rumah kami.”
Nama itu … rasanya familier …, batin Chris. Agak mirip dengan nama perawat yang disebut-sebut Mr Cross … Siapa? Britney Hugs? Britlee? Bardeley? Birdy?
Tiba-tiba Chris menyadari sesuatu. Ia sampai berhenti mengunyah kentang goreng.
Chloe sedang memeriksa tenggorokan Nate dengan senter saat Chris tiba di ruang bawah tanah.
“Aku menemukannya,” kata Chris. Ia harus menarik napas panjang beberapa kali sebelum melanjutkan kalimatnya. “Orang yang kalian inginkan. Sang necromancer. Dan aku sudah melakukan yang kalian minta.”
“Luar biasa,” puji Chloe. Ia mematikan senter dan melangkah mundur menjauhi kembarannya.
“Kerja bagus dan efektif,” puji Nate. Suaranya masih terdengar serak, tapi pengucapan kata-katanya jauh lebih jelas ketimbang Max Cross.
“Sesuai janji, bayaranmu.”
Sementara Nate membuka bebatan perban di sekeliling lehernya, Chloe merogoh ke balik jaketnya dan meletakkan sesuatu di atas meja. Sebuah kotak logam bertutup transparan. Sebuah tombol terlihat di balik penutupnya.
Chris mengernyit tak paham.
“Kami sudah menyelidiki kondisi putrimu,” kata Nate. “Secara menyeluruh dan mendetail.”
“Dan harus kami katakan bahwa kami menemukan sebuah kabar bagus.”
Nate dan Chloe terkekeh rendah sebelum melanjutkan.
“Anakmu menderita sejenis alergi aneh.” Nate mengetukkan jemarinya dengan ringan ke permukaan meja, seperti sedang bermain piano. “Darahnya tidak cocok. Gejalanya memang seperti Sindrom Kavanov, tapi kau beruntung dia tidak mengalami kelainan genetika seperti yang dijabarkan pada penelitian Sindrom Kavanov.”
“Lucu juga karena gejala alergi putrimu mirip seperti Sindrom Kavanov.” Chloe memiringkan kepala. “Itu kabar baik. Hanya alergi. Kami bisa mengatasinya. Kalau sampai kelainan genetika, kami mungkin harus meleburnya ulang dan menjadikannya homunculus atau chimera.”
“Heheheheh.”
“Heheheheh.”
Chris merinding mendengar kedua sosok berjaket itu mengatakan “melebur ulang”. Mereka mengucapkannya seolah-olah hanya merencanakan sebuah proyek prakarya.
“Memang ada kemungkinan anak Anda tidak selamat, Sir Kane,” lanjut Nate. “Tapi jika hal itu terjadi. Jika kami gagal. Kami akan memastikan ia tidak merasakan apapun ketika kami membuatnya beristirahat dengan tenang.”
“Hei,” geram Chris. Otot-otot rahangnya menegang. “Kalian membicarakan tentang membunuh anakku seperti memperbaiki mainan …”
“Jika dan hanya jika kami gagal, Master Kane,” potong Chloe. “Kami tidak yakin kami akan gagal semudah itu. Prosedurnya bukan sesuatu yang baru. Kami bukan pertama kalinya melakukannya.”
“Ya, ya.”
“Eheheh.”
“Tepatnya, kami akan mengganti penyebab alergi anak Anda.” Nate menjelaskan. “Kami akan mengganti seluruh darah di dalam tubuh anak Anda. Dia mungkin tidak bisa lagi bertransformasi menjadi setengah-hewan atau hewan sepenuhnya. Dia akan jadi manusia biasa. Kemungkinan besar.”
“Seluruh darahnya?” ulang Chris memastikan.
“Benar.”
“Tapi mengganti darah seperti itu butuh kecocokan kan?”
“Benar lagi.”
“Kebetulan kami memiliki stok darah yang cukup untuk menggantikan darah anak Anda. Darah yang cocok.”
“Anda sangat beruntung.”
Nate dan Chloe menunjuk ke sebuah pintu di sisi lain ruangan.
“Di dalam sana,” kata Nate, “terbaring tubuh Mark Hommund.”
“Seluruh organ dalamnya masih berfungsi secara normal,” kata Chloe. “Otaknya pun masih berfungsi, tapi tidak lagi dengan normal.”
“Tunggu!” tukas Chris. Ia dapat merasakan wajahnya memucat. “Kalian ingin mengatakan bahwa kalian hendak menggunakan darah anak itu? Dia bisa mati kalau darahnya diambil sebanyak itu!”
“Sir.”
“Master.”
“Mati itu adalah sesuatu yang tergantung pada deskripsi yang Anda pegang, Sir Kane,” kata Nate. “Anda bisa mengatakan seseorang telah mati jika jantungnya telah berhenti berdetak. Atau kalau otaknya sudah tidak berfungsi. Atau malah kalau sebagian atau seluruh organnya telah gagal berfungsi.”
“Mark Hommund tidak akan pernah sadar lagi karena abnormalitas aktivitas otaknya,” kata Chloe. “Tidak akan pernah sadar lagi adalah sesuatu yang juga bisa dikategorikan sebagai ‘mati’.”
Nate dan Chloe meraih kotak logam bertombol bersama-sama. Keduanya membuka tutup transparannya seperti membuka kotak berisikan cincin sakral dan menyorongkannya ke arah Chris.
“Silakan.”
“Keputusannya ada di tangan Anda.”
Chris menelan ludah.
“Kalau aku menekan tombolnya, maka seluruh darah Mark akan langsung disedot habis?” bisik Chris ngeri.
“Tidak, tidak.”
“Kami perlu membersihkan darahnya terlebih dahulu.”
“Ini hanya untuk memantapkan jawaban Anda.”
“Heheheheh.”
“Heheheheh.”
Chris kembali menelan ludah. Pemandangan di sekitarnya memburam. Satu-satunya yang terlihat olehnya hanyalah kotak bertombol di meja. Keheningan menyelimuti ruang bawah tanah. Tidak ada tawa-tawa aneh dari Nate maupun Chloe. Tidak ada saran, provokasi, nasihat, maupun komentar. Segalanya terasa berhenti. Segalanya menunggu.
Tangan Chris terulur.
Dia bisa meminta Nate dan Chloe untuk membuatkan obat yang dapat membuat anaknya pergi ke alam lain.
Dia bisa meminta Nate dan Chloe untuk mencari alternatif lain. Obat-obatan yang harus dikonsumsi setiap saat oleh anaknya, misalnya, meskipun bayarannya bisa berarti dia harus menjadi budak keduanya seumur hidup.
Dia bisa membunuh anaknya sendiri.
Ada banyak pilihan. Atau seolah-olah demikian.
Chris menarik napas, membaui aroma obat-obatan dan aroma aneh dari si kembar.
Yang mana? Yang mana yang harus kupilih?
Chris Kane harusnya tidak perlu menanyakannya.
Jawabannya sudah ada bahkan sebelum ia merasa bimbang.
Usai dengan penyelidikan awal Alan Weaver, Henry Griffith, dan Mark Hommund, Chris menemui si kembar untuk melaporkan perkembangan penyelidikannya.
“Dugaan Mr Saltman benar, soal keberadaan apotek ini tersebar di dunia maya,” kata Chris memulai laporannya.
“A-ha,” kata Chloe. Di seberangnya, Nate yang lehernya masih dibebat perban, mengeluarkan suara mendesis dari sela giginya. “Kalau begitu kau sudah mendapatkan namanya? Heheheheh.”
“Tidak semudah itu,” tukas Chris. “Aku sudah melihat situs, blog, dan forum yang disebutkan oleh para narasumber. Semua yang memulai topik mengenai apotek ini tidak memiliki username yang mirip atau sama.”
“Username?”
“Semacam nama yang kau gunakan di forum atau blog. Biasanya justru menghindari nama asli untuk menjaga identitas asli di dunia nyata.”
“Bisa saja kan satu orang menggunakan username berbeda-beda?” tanya Chloe lagi, ditimpali dengan anggukan dari Nate.
“Bisa. Aku belum menyelidiki lebih jauh akan kemungkinan itu, tapi biasanya orang-orang menggunakan username yang sama di berbagai forum supaya lebih mudah mengingatnya dan orang lain bisa mengidentifikasikan dirinya.”
“Tidak konsisten,” komentar Chloe. Kepalanya bergerak maju-mundur sedikit saat ia terkekeh. “Katanya menjaga identitas, tapi tetap ingin dikenali di tempat berbeda di internet. Dasar manusia.”
“Alter ego,” kata Chris, mengangkat bahu. “Mungkin sukar dipahami oleh kalian, tapi memiliki ‘diri yang lain’ adalah sesuatu yang menyenangkan bagi manusia. Yah, bahkan bagi kami pun. Meskipun kebanyakan dalam kasus kami adalah demi keselamatan kami sendiri.”
“Yaaa, eheheheheh.”
“Oh, ya. Aku perlu ijin dari kalian untuk penyelidikan selanjutnya, terkait dengan ibu Thomas Daryll. Untuk kasus Thomas, aku akan mengatakan yang sebenarnya, bahwa aku mengenal kalian seperti mereka mengenal kalian berdua.”
“Boleh saja,” jawab Chloe. Ia menunduk sedemikian rupa hingga bagian matanya tertutup bayang-bayang tudung jaket dan hanya seringai gigi-gigi runcingnya saja yang terlihat. “Dan semakin cepat akan semakin baik, ya, kan, Nate?”
“Heh, heh.” Nate mengangguk.
Chris terdiam sejenak. Ragu-ragu.
“Bagaimana … perkembangan kalian, ehm, seputar Alia?” tanya Chris.
“Heh, heh. Lumayan,” jawab Chloe. Ia mencondongkan kepala ke depan. “Kami mencocokkan dengan banyak kasus Sindrom Kavanov, yang kami minta dari temanmu itu.”
Nate dan Chloe meminta secara khusus pada Chris untuk dihubungkan dengan Putra Purnama yang banyak meneliti kasus Sindrom Kavanov. Keduanya rupanya meminta seluruh data penelitian kenalan Chris itu untuk dijadikan referensi.
“Ada sesuatu yang berbeda dari kasus anakmu,” lanjut Chloe. “Bisa menjadi kabar bagus atau kabar buruk. Entah. Kami belum dapat memastikan.”
Nate mengacungkan tiga jari ke arah Chris.
“Heheheheh. Tiga hari lagi kami bisa memberitahumu.” Chloe menerjemahkan apa yang hendak dikatakan Nate.
“Baiklah. Aku akan mengontak kalian lagi.”
Chris membuat janji dengan Jonathan dan Thomas Daryll di hari Minggu. Keduanya orang yang religius, jadi Chris sengaja membuat janji di siang hari agar keduanya bisa pergi ke ibadah pagi lebih dulu. Chris sendiri tidak suka dekat-dekat dengan gereja. Beberapa pendeta memiliki “kepekaan” terhadap makhluk non-manusia dan banyak dari mereka secara sembarangan menempatkan kaum non-manusia ke dalam kategori yang sama dengan iblis atau setan.
“Pertama-tama, saya mohon maaf karena mengungkit-ungkit hal tidak enak,” kata Chris membuka pembicaraan. “Dan … saya turut berduka cita.”
Jonathan “Jon” Daryll hanya mengangguk singkat. Anaknya, Tom, menunduk menatap cangkir teh di hadapannya.
“Seperti yang sudah kukatakan kemarin, aku kenal dengan si kembar. Nate dan Chloe. Mereka … sedang berada dalam masalah.”
“Hei, kalau kau ingin meminta bantuanku untuk mengusir para polisi yang mengawasi apotek, aku tak bisa melakukan itu,” kata Jon. “Mereka sudah membantu kami, tapi aku tidak punya alasan untuk tidak melaksanakan perintah atasanku untuk menyelidiki mereka.”
“Yeah, saya tahu.” Chris mengangkat bahu. “Saya punya teman di kepolisian. Tiap kali keluar minum-minum bersamanya, dia selalu mengeluh soal tekanan dari publik.” Chris mencomot sepotong kentang goreng dari piring. “Orang tua Mark Hommund akan berkicau kesana kemari kalau merasa tidak ditanggapi serius oleh polisi, kan?”
“Kau tahu kasus itu?”
“Tentu saja.” Chris kembali mengambil kentang goreng. “Kalian cukup menjawab satu-dua pertanyaanku, sungguh. Tidak ada urusannya dengan pengalihan tugasmu mengawasi dan menyelidiki apotek.”
Jon Daryll menghela napas. “Baiklah.”
“Siapa orang terakhir yang ditemui oleh Veronica Daryll? Atau siapa yang pertama kali menemukannya saat ia jatuh di dapur?”
“Orang terakhir … orang terakhir …” Kening Jon mengernyit. “Aku dan Tom berangkat bersama … Aku menurunkan Tom di sekolah lalu ke kantor. Jadi harusnya … kami berdua? Aku sama sekali tidak tahu ke mana Vero pergi dan dengan siapa dia bertemu setelahnya—“
“Paman Brad,” ujar Tom, melihat ke arah ayahnya. Ayahnya menoleh ke arah Tom. “Paman Brad yang waktu itu mengantar ibu ke rumah sakit.”
“Hmm? Brad?”
“Bradley Hughes,” kata Jon. “Dia adik tiri istriku. Kadang-kadang dia memang datang ke rumah kami.”
Nama itu … rasanya familier …, batin Chris. Agak mirip dengan nama perawat yang disebut-sebut Mr Cross … Siapa? Britney Hugs? Britlee? Bardeley? Birdy?
Tiba-tiba Chris menyadari sesuatu. Ia sampai berhenti mengunyah kentang goreng.
Chloe sedang memeriksa tenggorokan Nate dengan senter saat Chris tiba di ruang bawah tanah.
“Aku menemukannya,” kata Chris. Ia harus menarik napas panjang beberapa kali sebelum melanjutkan kalimatnya. “Orang yang kalian inginkan. Sang necromancer. Dan aku sudah melakukan yang kalian minta.”
“Luar biasa,” puji Chloe. Ia mematikan senter dan melangkah mundur menjauhi kembarannya.
“Kerja bagus dan efektif,” puji Nate. Suaranya masih terdengar serak, tapi pengucapan kata-katanya jauh lebih jelas ketimbang Max Cross.
“Sesuai janji, bayaranmu.”
Sementara Nate membuka bebatan perban di sekeliling lehernya, Chloe merogoh ke balik jaketnya dan meletakkan sesuatu di atas meja. Sebuah kotak logam bertutup transparan. Sebuah tombol terlihat di balik penutupnya.
Chris mengernyit tak paham.
“Kami sudah menyelidiki kondisi putrimu,” kata Nate. “Secara menyeluruh dan mendetail.”
“Dan harus kami katakan bahwa kami menemukan sebuah kabar bagus.”
Nate dan Chloe terkekeh rendah sebelum melanjutkan.
“Anakmu menderita sejenis alergi aneh.” Nate mengetukkan jemarinya dengan ringan ke permukaan meja, seperti sedang bermain piano. “Darahnya tidak cocok. Gejalanya memang seperti Sindrom Kavanov, tapi kau beruntung dia tidak mengalami kelainan genetika seperti yang dijabarkan pada penelitian Sindrom Kavanov.”
“Lucu juga karena gejala alergi putrimu mirip seperti Sindrom Kavanov.” Chloe memiringkan kepala. “Itu kabar baik. Hanya alergi. Kami bisa mengatasinya. Kalau sampai kelainan genetika, kami mungkin harus meleburnya ulang dan menjadikannya homunculus atau chimera.”
“Heheheheh.”
“Heheheheh.”
Chris merinding mendengar kedua sosok berjaket itu mengatakan “melebur ulang”. Mereka mengucapkannya seolah-olah hanya merencanakan sebuah proyek prakarya.
“Memang ada kemungkinan anak Anda tidak selamat, Sir Kane,” lanjut Nate. “Tapi jika hal itu terjadi. Jika kami gagal. Kami akan memastikan ia tidak merasakan apapun ketika kami membuatnya beristirahat dengan tenang.”
“Hei,” geram Chris. Otot-otot rahangnya menegang. “Kalian membicarakan tentang membunuh anakku seperti memperbaiki mainan …”
“Jika dan hanya jika kami gagal, Master Kane,” potong Chloe. “Kami tidak yakin kami akan gagal semudah itu. Prosedurnya bukan sesuatu yang baru. Kami bukan pertama kalinya melakukannya.”
“Ya, ya.”
“Eheheh.”
“Tepatnya, kami akan mengganti penyebab alergi anak Anda.” Nate menjelaskan. “Kami akan mengganti seluruh darah di dalam tubuh anak Anda. Dia mungkin tidak bisa lagi bertransformasi menjadi setengah-hewan atau hewan sepenuhnya. Dia akan jadi manusia biasa. Kemungkinan besar.”
“Seluruh darahnya?” ulang Chris memastikan.
“Benar.”
“Tapi mengganti darah seperti itu butuh kecocokan kan?”
“Benar lagi.”
“Kebetulan kami memiliki stok darah yang cukup untuk menggantikan darah anak Anda. Darah yang cocok.”
“Anda sangat beruntung.”
Nate dan Chloe menunjuk ke sebuah pintu di sisi lain ruangan.
“Di dalam sana,” kata Nate, “terbaring tubuh Mark Hommund.”
“Seluruh organ dalamnya masih berfungsi secara normal,” kata Chloe. “Otaknya pun masih berfungsi, tapi tidak lagi dengan normal.”
“Tunggu!” tukas Chris. Ia dapat merasakan wajahnya memucat. “Kalian ingin mengatakan bahwa kalian hendak menggunakan darah anak itu? Dia bisa mati kalau darahnya diambil sebanyak itu!”
“Sir.”
“Master.”
“Mati itu adalah sesuatu yang tergantung pada deskripsi yang Anda pegang, Sir Kane,” kata Nate. “Anda bisa mengatakan seseorang telah mati jika jantungnya telah berhenti berdetak. Atau kalau otaknya sudah tidak berfungsi. Atau malah kalau sebagian atau seluruh organnya telah gagal berfungsi.”
“Mark Hommund tidak akan pernah sadar lagi karena abnormalitas aktivitas otaknya,” kata Chloe. “Tidak akan pernah sadar lagi adalah sesuatu yang juga bisa dikategorikan sebagai ‘mati’.”
Nate dan Chloe meraih kotak logam bertombol bersama-sama. Keduanya membuka tutup transparannya seperti membuka kotak berisikan cincin sakral dan menyorongkannya ke arah Chris.
“Silakan.”
“Keputusannya ada di tangan Anda.”
Chris menelan ludah.
“Kalau aku menekan tombolnya, maka seluruh darah Mark akan langsung disedot habis?” bisik Chris ngeri.
“Tidak, tidak.”
“Kami perlu membersihkan darahnya terlebih dahulu.”
“Ini hanya untuk memantapkan jawaban Anda.”
“Heheheheh.”
“Heheheheh.”
Chris kembali menelan ludah. Pemandangan di sekitarnya memburam. Satu-satunya yang terlihat olehnya hanyalah kotak bertombol di meja. Keheningan menyelimuti ruang bawah tanah. Tidak ada tawa-tawa aneh dari Nate maupun Chloe. Tidak ada saran, provokasi, nasihat, maupun komentar. Segalanya terasa berhenti. Segalanya menunggu.
Tangan Chris terulur.
Dia bisa meminta Nate dan Chloe untuk membuatkan obat yang dapat membuat anaknya pergi ke alam lain.
Dia bisa meminta Nate dan Chloe untuk mencari alternatif lain. Obat-obatan yang harus dikonsumsi setiap saat oleh anaknya, misalnya, meskipun bayarannya bisa berarti dia harus menjadi budak keduanya seumur hidup.
Dia bisa membunuh anaknya sendiri.
Ada banyak pilihan. Atau seolah-olah demikian.
Chris menarik napas, membaui aroma obat-obatan dan aroma aneh dari si kembar.
Yang mana? Yang mana yang harus kupilih?
Chris Kane harusnya tidak perlu menanyakannya.
Jawabannya sudah ada bahkan sebelum ia merasa bimbang.
==fin==
Komentar