Hiking ke Papandayan

Tanggal 15-16 November 2014 kemarin ini saya pergi hiking ke Gunung Papandayan. Seumur-umur, ini pertama kalinya saya pergi hiking (dan kemping di alam bebas).

Dulu, ketika saya masih SD, salah satu bacaan saya adalah novel Lima Sekawan. Dari beberapa petualangan mereka saat libur sekolah, beberapa di antaranya melibatkan kemping. Terpengaruh dari sana, saya jadi penasaran seperti apa rasanya kemping di alam bebas. (Saya tidak pernah ikut kegiatan pramuka yang sampai berkemah di suatu tempat.)

Jadi ketika salah satu teman saya mengajak untuk hiking ke Gunung Papandayan dan berkemah semalam di sana, saya langsung tertarik dan setuju.



Rombongan berangkat dari Bandung hari Sabtu, 15 November 2014, kira-kira pukul 01.00 dini hari dengan titik kumpul di Giant HyperPoint. Selama menunggu jam itu, saya dan beberapa teman saya (termasuk yang mengajak hiking) berkumpul di rumah saya, sekalian menitipkan barang. Untungnya teman yang lain ada yang tidak keberatan menjemput dan mengantar kami ke titik kumpul sekitar jam 12 malam. :P

Kenapa berangkatnya kok jamnya aneh?

Perjalanan dari Bandung hingga Garut memakan waktu sekitar 4-5 jam, jadi sengaja berangkatnya saat dini hari supaya ketika sampai di kaki gunung, hari masih pagi dan pendakian bisa selesai sebelum jam makan siang.

... Bukan masalah makan siangnya, tapi bayangkan saja mendaki gunung dengan matahari di atas kepala itu panasnya kayak apa ...


Titik awal pendakian--atau apa sebutan benarnya yah?--adalah sebuah lapangan tempat di mana mobil bisa parkir dan ada sejumlah warung serta WC umum.

Beberapa mobil yang terlihat di lapangan ini adalah mobil pick-up carteran. Biasanya para pendaki yang menggunakan mobil tersebut adalah yang berangkatnya mengandalkan kendaraan umum. Jadi dari tempat lain di bawah lapangan parkir ini mereka menyewa mobil pick-up lalu naik ke lapangan ini.

Rombongan kami kebetulan menyewa mobil, jadi langsung naik hingga ke lapangan parkir ini.


Ini jalur awal pendakian. Di kiri kanan masih terlihat tetumbuhan yang cukup rimbun.

... Dan setelah dipikir lagi, saya yakin gunung yang dipakai untuk referensi lagu Naik-naik ke Puncak Gunung pasti bukan Gunung Papandayan karena pohon di sini bukan pohon cemara.


Mengambil foto ini hanya karena teman saya bilang, "Ambilin foto semak-semak random dong di gunung nanti."

Tapi yah itung-itung gambaran vegetasi di jalur awal?



Jadi rupanya orang Indonesia itu suka menandai batu untuk bukti pencapaiannya. :v Itu kesimpulan saya ketika melihat coret-coretan ini.

Ingat kasus ada coret-coretan di Gunung Fuji? Nah itu kayaknya salah satu efek "meninggalkan jejak" semacam ini.

... Sejujurnya saya merasa coretan di batu di foto yang bawah itu membuatnya terlihat seperti batu nisan ... Seolah-olah orangnya mencapai titik itu tapi ...


Ada aliran sungai kecil di antara bebatuan di jalur pendakian awal ini. Di ketinggian ini (belum terlalu tinggi sih, kira-kira 10 menit pendakian kok) tumbuh-tumbuhan sudah mulai menipis bahkan tidak ada sama sekali.

Saya tidak banyak mengambil foto setelahnya karena saya tertinggal cukup jauh dari rombongan yang lain. :| Selain karena saya lumayan sering berhenti dan memfoto, stamina saya payah banget akibat kurang olahraga jadi sering berhenti untuk menarik napas dan akibatnya saya disusul oleh teman sesama rombongan yang berjalan lebih belakang dari saya.

Saya bahkan malah jadi berjalan bersama rombongan lain yang naik lebih belakangan ...


Ini penampakan sekilas dari lokasi kemping. Rombongan kami ternyata berhasil mencapai lokasi ini dalam waktu sekitar 2 jam, padahal menurut teman saya yang mengajak saya ikut hiking, di perjalanan terakhir, butuh waktu 2,5 jam untuk mencapai tempat kemping.

Kontur tempat ini relatif datar (haish, siapa saya ngomongnya pake kata "kontur"), cukup luas, dan banyak ditumbuhi rumput, jadi cocok sebagai tempat kemping.

Sementara saya beristirahat, para ranger (gak pake "power" di depannya, dan sebutan "ranger" ini lebih ditujukan kepada orang-orang yang sudah berpengalaman mendaki gunung ketimbang penjaga/pengawas hutan) mendirikan tenda-tenda, termasuk satu di antaranya adalah tenda yang disebut sebagai "dapur umum".


Ini penampakan tendanya.

Satu tenda ini ditempati empat orang. Memang jadi tidak leluasa bergerak sih, tapi cukup lah untuk tidur.


Ini pertama kalinya saya melihat kompor yang lebih portable daripada kompor portable yang saya lihat. Bentuknya hanya kotak dengan bilah penyangga yang bisa dilipat. Tabung gasnya pun cukup dicolok, tidak perlu masuk kompartemen tambahan lagi.

Begitu tenda dapur umum selesai didirikan, rombongan kami langsung mengeluarkan bahan makanan yang dibawa masing-masing, mulai dari telur asin (ternyata banyak juga yang bawa), abon, mi instan, sarden kalengan, kornet kalengan, beras, dan bumbu-bumbu, termasuk di dalamnya bumbu pecel.




Dari kejauhan sudah terlihat kabut mulai turun. Kabut ini turunnya saat menjelang jam 12 siang lho, bukan ketika sore.


Ngomong-ngomong soal memasak, mau tahu apa yang kita masak untuk cemilan sebelum makan siang?

Jawabannya adalah cireng!

Tapi karena tidak ada yang menemukan minyak goreng tepat pada waktunya (padahal ada yang bawa sebotol kecil dan di warung sekitar juga ada yang jual), cireng ini digoreng dengan menggunakan margarin.

Itu menjelaskan kenapa cireng yang terlihat di foto berwarna kuning.


Kembali soal kabut. Foto di atas diambil sekitar jam 1 siang, masih di hari yang sama.

Sempat terjadi insiden ketika hujan turun sekitar jam 3 siang.

Saya kebetulan berbagi tenda dengan teman saya yang juga adalah oknum pengajak pergi hiking ini. Dia sudah pernah pergi satu kali dan pengalaman terakhirnya dengan hujan dan tenda sangat buruk: dia tidak membuat parit, ketika hujan turun, air menggenang di tanah di bawah tenda lapisan dalam sehingga setiap kali dia bergerak ketika tidur, air berkecipak (untung tidak dikombo dengan tenda yang bocor).

Kapok dengan pengalaman buruk tersebut, teman saya ngotot membuat parit di sekeliling tenda kali ini. Jadilah saya membantunya dengan perlengkapan seadanya (bikin parit pakai golok dan pisau lipat itu ... ya gitu deh :v ) dan saat hujan turun rintik-rintik pun kami masih melanjutkan di bawah perlindungan jas hujan.

Jas hujan saya kegedean dan berat karena hasil nyomot dari bagasi motor ayah saya. Saran buat yang mau hiking: investasikan uangmu untuk membeli jas hujan plastik tipis seharga 10 ribuan.

Selesai dengan parit yang sudah lumayan, saya dan teman saya tertidur di dalam tenda. Saya sempat merasakan genangan air di tempat saya berbaring, tapi karena airnya tidak masuk, saya tidur juga.

Sementara kami tertidur, rupanya tenda-tenda teman kami kebanjiran.

Ada yang kebanjiran begitu parah hingga dia menggunakan baju gantinya sebagai pel (yang bersangkutan membawa sekitar 5 stel baju--ini kebanyakan untuk kemping 2 hari 1 malam, percayalah, cuma bikin tas berat--jadi karena kesal dan sudah tidak tahu harus berbuat apa dia memakainya jadi pel).

Dan bawalah senter yang besar dan cukup terang kalau hiking!

Ketika malam tiba, saya akhirnya memutuskan untuk menembus hujan demi bisa ke toilet (ada toilet umum, tapi senantiasa ngantri, jadi buat yang gak suka opsi "semak-semak = WC" masih ada pilihan lain kok).

Senter yang saya bawa kekecilan, jadi saya setengah tersesat ketika pergi dan pulang dari toilet. Untungnya yang berkemah di sekitar sana cukup banyak, dan ada warung yang bisa dijadikan patokan.

Makan malam kami lebih amburadul daripada makan siang kami yang sudah amburadul sebenarnya, tapi saya tidak memfotonya karena suasana yang gelap.

Saya jabarkan saja bahwa makan malam kami berupa kornet (dan sarden sepertinya?) yang diberi bumbu pecel dan mi goreng yang diberi bumbu sarden.

Saya lebih suka bumbu sardennya, masalahnya bumbunya pedas!

Kami tidur pukul 9 malam. Kira-kira.

Penasaran dengan kabutnya seperti apa di pagi hari?



Dua foto di atas adalah foto yang diambil keesokan paginya, kurang lebih sekitar jam 6 pagi. Dinginnya menusuk kulit, apalagi semalam hujan.

Rombongan kami sengaja bangun cukup pagi (rencananya malah jam 5 pagi) karena kami akan melanjutkan pendakian sedikit menuju tempat yang disebut Hutan Mati dan Tegal Alun.




Inilah penampakan dari tempat bernama Hutan Mati.

Kalau saya tidak salah, tempat ini tadinya adalah hutan, lalu ketika terjadi letusan gunung/aliran lava (karena gunung tidak selalu harus meletus untuk mengeluarkan lava, setahu saya sih, CMIIW), udara panas dan lava mengeringkan instan pohon-pohon yang ada di sekitarnya.


Parit ini terlihat seperti aliran lava.


Bisa dibilang, ini batas akhir dari Hutan Mati.

Setelahnya, medan pendakian kembali menyusuri jalan setapak menembus hutan. Saya tidak memotret apapun karena saya khawatir kamera saya tamat riwayatnya kalau saya tidak sengaja terperosok akibat salah pijak di jalur licin dan terjal.



Nah ini dia kita sudah sampai ke Tegal Alun! Karena no pic = hoax, saya fotokan sekalian papan namanya.


Ini Tegal Alun edisi panoramik.


Tanaman ini katanya Edelweiss, tapi bunganya agak beda jauh dengan yang saya lihat di Wikipedia. Mungkin belum mekar?


Panoramik lagi.


Pasangan suami istri di rombongan saya (iya serius mereka suami istri) yang paling hobi selfie berbekalkan tongsis.


Lanjut perjalanan sedikit lebih jauh lagi dan ...


Ada papan penanda menuju Puncak Papandayan!

Jadi pendakian 2 jam kemarin, ditambah 1, 5 jam menuju Tegal Alun itu belum mencapai Puncak Papandayan.

Ketika di Hutan Mati, saya sebenarnya berpapasan dengan rombongan lain yang membawa ransel mereka.

Saya tidak melihat mereka di sini, jadi barangkali mereka naik hingga puncak?


Panoramik lagi. (Mentang-mentang ada fitur panoramik di kamera digitalnya).

Apa saya sudah menyebutkan kalau saya mengambil foto-foto ini dengan kamera digital bukan dengan kamera ponsel?

Saya berusaha menghemat baterai ponsel saya (tidak punya power bank dan meskipun bawa kabel charger, entah bisa mencolok di mana) jadi selama di gunung, saya mematikannya. Dan lagi, di atas gunung sama sekali tidak ada sinyal.

Menjelang siang, rombongan kami kembali ke tempat kemping. Sebenarnya kelompok kami terpisah karena salah satu anggota kakinya sakit dan cukup sering beristirahat. Tidak kunjung menemukan kelompok lain yang katanya mau foto-foto dulu, rombongan bagian saya kembali ke tempat kemping untuk membereskan barang-barang.

Nah, sekarang saya merasa bersalah kenapa saya tidak memfoto si tukang cuanki di Hutan Mati. Tidak setiap hari kalian menemukan tukang cuanki di atas gunung kan?

Rencananya rombongan kami akan turun di hari ini (Minggu, 16 November 2014) jadi kami harus berkemas dan menyiapkan makan siang. Mengingat hujan turun selewat jam 12 siang, kami harus bergegas kalau tidak mau turun di bawah siraman air hujan.



Dan sungai ini juga kemungkinan besar akan naik permukaannya jika hujan turun.




Siang ini kabut tebal kembali turun. Dan suasana berkabut ini malah membuat teman saya yang membawa kamera DSLR akhirnya menyerah pada kemalasan mengeluarkan kamera dan mengeluarkan kameranya kembali dari tas demi memfoto pemandangan ini.

Singkat cerita, kami berhasil tiba di bawah sebelum terkena guyuran hujan. Saya kelaparan karena hanya makan siang pop mie dan akhirnya membeli nasi goreng di warung di tempat parkir.

Pulang dengan mobil sewaan, kerjaan saya adalah ... tidur. :)) Bangun hanya ketika kehausan saja.

Kurang lebih saya tiba kembali di Bandung pukul 8 malam.

Apakah saya kapok naik gunung?

Sebenarnya tidak.

Lain kali ada yang mengajak naik gunung lagi, saya akan dengan senang hati ikut jika medannya sesuai dengan kemampuan saya. :D :D :D

Komentar

Unknown mengatakan…
Benar2 .... "silent hill" :v /plak/
Juno Kaha mengatakan…
YESH.

Tapi ini sih di alam terbuka jadi gak terlalu kerasa.

Dulu pernah lho di ITB, di dalam kota, kabutnya tebel banget sampe jarak pandang gw cuma sekitar 10 meter ke depan. Itu lebih Silent Hill lagi.

Hehe.
Khairunnisa mengatakan…
Yakin mas. Sdh smp puncak pas papandayan? Sy tgl 18 feb 2017 kmrin g nemuin..sprtinya sngaja diumpetin..krn bs ke pncak pas 2622mdpl jk pake guide yg byrnya lmayan... Wat yg bner2 dah dpetin tuh pncak ppndyan dan rncn k sna lg...blh ikutan bareng...se7 wat yg ska crat coret..mngkin mrka mati dgunung biar namanya dkenang...aneh2 aja..yg jlas bkan pndaki sjati..
Khairunnisa mengatakan…
Yakin mas. Sdh smp puncak pas papandayan? Sy tgl 18 feb 2017 kmrin g nemuin..sprtinya sngaja diumpetin..krn bs ke pncak pas 2622mdpl jk pake guide yg byrnya lmayan... Wat yg bner2 dah dpetin tuh pncak ppndyan dan rncn k sna lg...blh ikutan bareng...se7 wat yg ska crat coret..mngkin mrka mati dgunung biar namanya dkenang...aneh2 aja..yg jlas bkan pndaki sjati..

Postingan populer dari blog ini

Simple Notes: Fiction Junction (Character Part 1: Classification)

[Resensi] Valharald