Jumat, 10 April 2015

Boardgame Challenge - Day 1

Saat sedang scrolling timeline Facebook kemarin ini, salah satu teman saya men-share link tentang sebuah lomba, yakni Boardgame Challenge.


Saya selama ini berkutat di dunia game digital dan meskipun sudah pernah bermain beberapa boardgame/cardgame (Monopoly, Monopoly Deal, Saboteur, Combo Arena, Arkham Horror, Power Grid) saya belum pernah benar-benar mencoba mendesain sebuah boardgame. Padahal di sebuah buku game design yang saya baca, sesungguhnya desain game itu bermula dari pensil dan kertas.

Dan melihat lomba ini diadakan juga di Bandung, saya akhirnya mendaftar.




Hari ini adalah hari pertama dari tiga hari rangkaian acara Boardgame Challenge di Bandung. Kebetulan oh kebetulan, lokasi acaranya jarak jalan kaki dari rumah saya. :)) Jadi dengan semangat hari pertama, saya berangkat setengah jam sebelum acara (dan sesungguhnya saya cuma butuh sekitar 15 menit dari rumah).

Inilah yang pertama kali saya foto ketika tiba di lokasi:


Dua di bawah ini sebenarnya foto nggak penting sih, tapi saya pajang saja sekalian. :))

Yang ini adalah demi supaya tidak langsung divonis sebagai programmer gara-gara saya bawa tas laptop padahal nggak ada laptopnya:


Yang mana tas itu efeknya kayaknya adalah "Otaku-ness +99".

Sekitar 10 peserta kemudian, kami dipanggil lagi untuk registrasi ulang. Selain name tag rupanya juga dikasih harian Kompas. (Ya maklumlah yang mengadakan acara ini adalah Kompas bekerjasama dengan Kummara. :P)


Setelah dibuka dengan seorang perwakilan dari Kompas (saya tidak memfoto beliau karena belum kepikiran untuk memasukkan soal acara ini sebagai postingan blog), acara dilanjutnya dengan presentasi dari Mas Eko Nugroho dari Kummara. Materinya mencakup boardgame super jadul (namanya Senet), boardgame jadul yang hingga sekarang masih bertahan (Monopoly), dan boardgame yang lebih baru.


Ada cerita yang lumayan amazing dari Mas Eko yang tak lain adalah CEO tapi ngakunya pembantu umum ini. Dia bercerita pengalamannya selama belajar di Jerman. Selama ini ia mengira orang Jerman individualis dan serius, tapi di luar dugaan dia mendapati bahwa orang Jerman menganggap boardgame selevel dengan buku. Banyak keluarga di Jerman yang memiliki minimal satu boardgame dan bahkan ada sebuah event pameran boardgame merangkap acara main bareng dan playtesting.

Baru sekarang saya akhirnya paham kenapa di Bandung pernah diadakan acara main boardgame bersama yang berlokasi di Goethe Institut (yang sesungguhnya bersebelahan dengan lokasi acara ini, tapi lokasinya bukan dipilih karena bersebelahan dengan Goethe, percayalah).

Sesi pagi berakhir kira-kira jam 11 siang untuk rehat makan siang dan sholat Jumat. Begitu istirahat diumumkan, langsung deh ada yang menggelar Heroclix di meja yang menganggur:


Gara-gara melihat peta Heroclix, saya akhirnya mendapatkan ide untuk coret-coretan game yang kemarin ini mandeg (ide gamenya bukan untuk acara ini).

Setelah break, acara dilanjutkan lagi dengan sesi memainkan boardgame yang dibawa oleh panitia. Kelompok dadakan saya (yang bermula dari tengok kanan dan tanya "Mas, datengnya bareng temen ato sendiri? Mau sekelompok?" dan satu orang yang sudah kenal dengan teman saya dan orang terakhir yang diajak secara acak gara-gara boardgame-nya membutuhkan 4 pemain) kebagian cardgame Mat Goceng.

Sesungguhnya sesi bermain ini ada fase setelahnya lagi. Setiap kelompok harus semacam mendekonstruksi game tersebut, mencari keuninkan, keunggulan, dan faktor menariknya untuk kemudian dipresentasikan.

Saya sempat menjepret salah satu peserta, tapi waktu dia melepas kertas presentasinya:


Sesi presentasi ini ... tinggal selangkah lagi sebelum bisa dijadikan materi stand up comedy! :))

Salah satu kelompok menjabarkan game yang mereka mainkan sebagai "game yang merepresentasikan kehidupan" padahal kreatornya yang hadir di acara ini mengaku bahwa dia nggak mikir sejauh itu waktu merancang gamenya.

Sementara kelompok saya membuka presentasi dengan "Game ini mengajarkan kapitalisme.". Padahal yang lebih tepat adalah "Game ini mengajarkan tentang sejarah premanisme di Indonesia.".

Iyah. Serius. Mat Goceng itu cardgame tentang preman jaman kolonialisme Belanda.

Nih, saya copaskan introduksi game yang dicantumkan di bagian belakang kotak gamenya:

Batavia, capital of Dutch East Indies, 1922. 'Vrije man' or 'free men' roamed the corners of the city. Their appearance often troubled the Dutch colonial government as they were master of Silat (local martial art) and refuse to bow down to the government. They were called heroes by the local citizens at the time.
FYI, "Vrije man" adalah asal muasal kata "preman". Saya nggak bohong.

Presentasi ini dinilai dengan voting dari peserta lain dan pemenangnya mendapat hadiah dari panitia:


Saya penasaran apa isinya sebenarnya.

Kegiatan selanjutnya tidak saya dokumentasikan karena waktunya yang mepet dan saya beserta kelompok harus sibuk di saat itu untuk mencari ide boardgame berdasarkan tema yang diberikan oleh panitia.

Laporan untuk hari kedua lanjut besok yak~ (^_^)/

==BERSAMBUNG==

Tidak ada komentar: