Kamis, 04 Desember 2014

Pasar Seni ITB 2014

Sekali lagi, postingan telat.

Setelah mengunjungi HelloFest 10 di tanggal 22 November 2014, keesokan harinya, tanggal 23 November, saya pergi ke Pasar Seni ITB.

Karena Pasar Seni ITB diadakan setiap 4 tahun sekali, terakhir kali saya pergi ke Pasar Seni ITB adalah tahun 2010.

Mau tahu impresi saya tentang Pasar Seni ITB?

PENUH MANUSIA! :))

Dan konon katanya, itulah ciri khas dari Pasar Seni ITB. Ramai dan penuh sesak oleh manusia.

Nah, postingan kali ini tidak memuat terlalu banyak gambar karena saya juga memang hanya berjalan-jalan sebentar bersama teman saya dari gereja yang sesama alumni ITB, seangkatan, tapi beda jurusan.

Awalnya saya berangkat dengan menggunakan angkot dari daerah Taman Lalu Lintas. Setelah menunggu angkot cukup lama sambil kehujanan, akhirnya saya dan teman saya dapat angkot.

Daaan, angkot terjebak kemacetan di ujung jalan Dago. Sepakat bahwa kemacetan ini akan berlarut-larut, saya dan teman saya turun, membayar angkot, dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menyusuri jalan Dago hingga mencapai jalan Ganesha. Untung tidak hujan.


Gambar yang harus banget difoto

Ketika imej tali gantungan
tidak lagi menyeramkan ...

Berputar kalau kena angin

Saya bukan orang seni, jadi jangan tanya
ini instalasi seni tentang apa

Antrian merchandise
Saya dan teman saya sempat tergoda waktu melihat daftar merchandise resmi Pasar Seni yang dipajang besar-besar, tapi setelah melihat ada antrian panjang mengular dan sepertinya itu adalah antrian beli merchandise, kemalasan sukses mengalahkan godaan kami untuk berbelanja.

Pintu gerbang

Cakar "Transformer"
Saya terkesan dengan yang satu ini.

Cakar raksasa itu digerakkan dengan menggunakan tenaga listrik dan benar-benar harus dijagain banget karena rupanya pawang hujan yang dipakai di Pasar Seni kali ini gagal menahan hujan turun.

Saya menyikut teman saya waktu mendengar ada pengunjung yang nyeletuk, "Ah, cuma gitu doang ..." waktu melihat instalasi yang satu ini.

Kata saya ke teman saya itu: "Yang ngomong 'cuma gitu doang' itu kayaknya belum pernah jadi mahasiswa dan terjebak tugas akhir atau tesis. Belum ngerasain percobaan itu gagalnya gak cuma sekali." :))

Teman saya langsung setuju soal itu.

Lanjut ke sayap kiri kampus ...

Virgin--what?
(tapi minumannya kayaknya enak)

NOPENOPENOPENOPE
 Saya memutuskan untuk putar balik karena tidak melihat adanya peluang berhasil menembus kerumunan di sisi kampus yang ini.

Dino 1 ton, objek foto utama event ini

Hutan Kenangan
(kalau saya tidak salah ingat)




Sebenarnya foto di atas ini bukan memfoto si bapak dan anak yang tampak kepanasan (udaranya memang sedikit tidak enak, mataharinya panas terik, tapi kadang hujan turun). Tadinya saya bermaksud memfoto situasi ramai yang masih terus berlanjut.


Sumpah, ada orang di dalam gundukan plastik itu!

Si "Manusia Plastik" itu adalah SPG atau maskot atau ... entahlah sebutannya apa, untuk booth di belakangnya (Masih Pake Kantong Plastik?) yang berjualan aneka jenis tas kain yang bisa digunakan berulang kali.

Menara Cina
(lagi, kalau saya tidak salah ingat)
Ada beberapa kejadian yang cukup bikin geli ketika saya berjalan menembus keramaian.

Pengunjung Pasar Seni tidak hanya mahasiswa ITB atau alumni ITB, tapi juga orang awam yang tidak mengenal denah kampus dan kemungkinan besar tidak menyangka keramaian Pasar Seni akan sedahsyat ini.

Beberapa pengunjung awam itu janjian dengan temannya, tapi karena mereka pergi masing-masing lalu janjian ketemu di Pasar Seni, mereka saling menelepon untuk menanyakan, "Elu di mana sekarang?"

Beberapa patokan yang mereka pakai untuk menunjukkan lokasi mereka:

  1. Kumpulan balon kuning --> "Lu liat balon kuning? Nah gw di situ!" (padahal saya lihat ada dua kumpulan balon kuning yang tertambat di dua ujung booth berbeda)
  2. Menara Cina --> "Lu liat ada menara? Gw tungguin di deket situ!" (letak menara cukup jauh dari pintu masuk dan berada di permukaan yang lebih tinggi dari pintu masuk)
  3. Pengamen (?) --> "Eh, denger suara itu gak?" (MAS, JANGAN BILANG MAS MAU NYURUH TEMENNYA NYARI PENGAMEN???)
Saya sendiri dan teman saya cuma terpisah 1,5 meter saja sudah celingukan kebingungan, apa kabarnya mereka yang janjian ketemuan itu ...

Lelah oleh perjuangan berjalan dalam kerumunan manusia, plus kejar-kejaran dengan gerimis yang datang dan pergi, saya dan teman saya kabur ke daerah tempat makan terdekat dan makan siang di sana. Hujan deras sempat turun ketika saya makan siang, membuat saya khawatir dengan si "Cakar Transformer" di dekat pintu gerbang.

Berasumsi bahwa kemacetan masih berlanjut kemana-mana, kami nekat pulang berjalan kaki. Selama berjalan kaki itulah kami menyadari bahwa lahan yang dipakai untuk parkir motor dan mobil untuk Pasar Seni ITB telah meluas melampaui kompleks kampus ...

Tahun ini saya memang hanya menjelajahi tidak sampai separuh area pameran dan juga tidak membeli apa-apa dari Pasar Seni, tapi ada banyak ide menarik dari melihat barang-barang yang dijual di sana. :D :D :D

Tidak ada komentar: