Bali Trip 2014

Mungkin beberapa orang menyadari kalau beberapa hari kemarin aktivitas saya di internet turun.

Itu karena saya sedang pergi ke Bali bersama ibu saya selama kurang lebih satu minggu. :P


Saya pergi dari tanggal 21 Oktober dan baru kembali tanggal 29 Oktober 2014. Dan meskipun saya banyak mengambil foto, jujur saja saya bingung bagaimana harus menceritakannya kembali di blog karena sebagian besar foto saya ambil secara impulsif dengan pikiran "wah, bagus ini untuk referensi ilustrasi atau komik". :))

(Tentu saja "referensi untuk ilustrasi atau komik"-nya itu lebih ke buat nunjukin ke teman yang biasanya saya mintai tolong membuatkan ilustrasi. Dari dulu sampai sekarang saya cuma bisa gambar kubus.)

Saya jarang naik pesawat. Serius.

Dulu waktu saya SD, saya sering naik pesawat ke Solo, tapi itu rasanya sudah lama sekali. Waktu kuliah, saya pernah satu kali pergi ke Malaysia, tapi itu 7 tahun lalu, jadi sama saja sensasi naik pesawatnya sudah terlupakan lagi.

Kok bandara di Bali indah sih???
#plakh
Hari pertama tiba di Bali (rasanya aneh juga perjalanannya secepat Jakarta-Bandung dengan mobil travel, bedanya guncangan di pesawat tidak sedahsyat guncangan mobil :)) ), saya belum merencanakan apa-apa karena selain belum menentukan tempat yang hendak dikunjungi, saya tiba sore hari.

Oh, iya, ini foto-foto kamar kost yang saya tempati selama seminggu. Kost ini lokasinya di daerah Nusa Dua, tepatnya di jalan Bisma.

Lumayan gede kamarnya
Itu foto yang diambil di hari terakhir di Bali sebenarnya, jadi kondisi kamarnya sudah kapal pecah.

Hari Kedua - 22 Oktober 2014

Bermodalkan brosur pariwisata yang diambil di bandara, saya melingkari lokasi-lokasi yang nampaknya menarik. Ada satu majalah pariwisata gratisan kerjasama dengan Jepang yang menyediakan peta, jadi berdasarkan peta itu bisa terlihat tempat-tempat wisata mana saja yang letaknya sejalur atau berdekatan dan dapat dijangkau dalam satu hari.

Malamnya, ayah saya (yang menjadi alasan kenapa saya dan ibu saya ke Bali: beliau bekerja di Bali sejak bulan April tahun ini) mengajak makan seafood ke daerah Kedonganan yang mana sebenarnya dia sendiri belum pernah ke sana.

Setelah banyak bertanya, kami tiba di daerah Kedonganan itu. Sebenarnya terjadi keraguan terkait harga makanan dan lokasinya karena ayah saya berkata bahwa Kedonganan itu kayak Jimbaran tapi dengan harga lebih terjangkau. Waktu melihat menu, kisaran harga seafood-nya masih ada di kisaran ratusan ribu. Ditambah lagi dari tempat kami duduk di pinggir pantai, kami masih bisa melihat bandara Ngurah Rai, yang mana katanya adalah merupakan ciri-ciri Jimbaran.

Tapi karena sudah pesan dan duduk, awkward juga kalau kami pindah tempat. Apalagi sebenarnya kami tidak ada yang tahu Kedonganan itu sebenarnya di mana. :P

Saya lupa memfoto makanan yang kami pesan, ngomong-ngomong. [=_=] Karena saya bersikeras selama di Bali akan banyak memfoto menggunakan kamera digital alih-alih ponsel supaya hemat baterai, saya tidak sigap memfoto makanan.

Lain kali ada yang berniat menikmati suasana makan di pinggir pantai, harap dicatat bahwa datang ketika masih sore adalah pilihan terbaik. Ketika malam, kita tidak bisa melihat laut dan ombak yang sulit terlihat jadi agak mengejutkan kalau berniat dekat-dekat pinggir pantai.

Di foto terakhir, saya menyesal tidak membawa Graphig ABS yang saya dapat dari orang Jepang yang saya temui waktu Miku Expo. Padahal kayaknya lucu memfoto si figure unyu itu di meja dan di tempat-tempat lain.

Hari Ketiga - 23 Oktober 2014

Hari ini akhirnya ayah saya berhasil mendapat pinjaman sopir dari seorang kenalannya.

Saya lupa bilang bahwa selama di Bali, kami menyewa mobil, tapi tanpa sopir.

Hari ini tempat tujuan kami masih simpel: Joger. Monumen Bom Bali, dan DMZ (Dream Museum Zone).

Ibu saya sebenarnya agak was-was. Terakhir kali beliau pergi ke Bali bersama adik saya (dan saya jaga rumah), sopir mobil sewaannya sengaja mengarahkan untuk pergi ke tempat yang agak mahal (yang kemungkinan dia ada kenalan jadi dapat persenan). Karena sopir yang kami pakai kali ini adalah orang baru lagi, jadinya ibu saya di hari pertama jalan-jalan ini terlihat mewaspadai usulan dari sang sopir.

Waktu kami bilang bahwa kami hendak ke Joger, sang sopir (namanya Gusti, tapi lengkapnya siapa saya tidak tahu) mengusulkan untuk sekalian mencoba tempat belanja bernama Agung Bali.

Lalu kami ke DMZ. Sekedar informasi, ini DMZ-nya bukan Demilitarized Zone! Saya sempat chatting dengan teman saya, menceritakan kunjungan saya ke DMZ dan dia mengira saya mendadak dikirim ke perbatasan Korea Utara-Korea Selatan.

DMZ ini adalah galeri lukisan 3D, kerjasama Korea-Indonesia. Lukisan yang ada di sini adalah hasil karya 11 orang pelukis (3 orang Korea, 8 orang Bali).

Saya sampai lupa berapa banyak foto yang diambil di DMZ ini, jadi saya hanya akan mencantumkan beberapa saja di sini.

Jasa cuci zebra,
karena cuci mobil sudah mainstream
Awalnya saya mencoba memotret sendiri, tapi kemudian guide yang menyertai kami selama di dalam museum menawarkan diri untuk mengambilkan foto dengan kamera setelah saya salah sudut waktu mengambil salah satu foto. (Tadinya si guide mengambilkan foto dengan ponsel ibu saya, tapi katanya hasil jepretan kamera saya lebih cerah.)

DZIEGH!
Fatalnya, ketika berfoto-foto itu, kamera saya kehabisan baterai. :v

Lain kali ada yang pergi ke galeri lukisan 3D, di manapun, saya sangat menyarankan untuk mengisi penuh baterai kamera digitalnya. Atau ponselnya. Jangan lupa sediakan space kosong di memory card.

Sehabis dari DMZ, saya menuju sebuah tempat yang sebenarnya bukan tujuan wisata tapi saya merasa harus ke sana aja.

Ground Zero alias titik tempat Bom Bali 1 terjadi.

Monumen Bom Bali

Beberapa foto, bendera dan kartu ucapan

Plakat nama kenangan dan sajen

Monumen Bom Bali ini letaknya di tengah-tengah keramaian daerah Kuta, tapi begitu saya melangkah naik ke atasnya (setelah menghindari orang yang kelihatannya narikin ongkos masuk--padahal barangkali si orang itu cuma tampangnya aja yang tampang "tukang-narikin-ongkos") ada perasaan "berat" yang bikin hiruk pikuk sekitar teredam.

Sopir yang mengantar kami selama di Bali kali ini ternyata pernah bekerja di sekitar Kuta dan ketika bom meledak, dia sempat melihat bagaimana jenazah korban diangkut. Karena korbannya begitu banyak, sampai terpaksa diangkut dengan mobil bak terbuka bertempat duduk yang biasanya dipakai kepolisian ketika razia.

Trauma Bom Bali ini sampai sekarang masih terasa di orang-orang Bali. Terutama sekali mereka yang bekerja di bidang pariwisata, mereka jadi was-was dan takut dalam level yang mungkin menurut orang-orang non-Bali adalah ketakutan yang tidak perlu ketika membaca ada kejadian kriminal seperti pembunuhan yang berlokasi di Bali. Dan kalau dari sikap sopir yang menemani kami, kentara sekali kalau dia bertanya-tanya: "Kenapa kalian melakukan ini? Kenapa kalian meledakkan bom dan membunuh banyak orang?"

Itu sikap yang rasanya wajar, melihat--mungkin tidak terlihat sih dari foto saya--jumlah korban kedua terbanyak dari Bom Bali 1 adalah orang Bali sendiri (terbanyak pertama adalah orang Australia, yang katanya memang lebih banyak yang tinggal di daerah Kuta). Bukan orang Amerika, bukan orang Inggris, bukan orang Belanda, tapi orang Bali, yep.

Selanjutnya, kami mampir ke Joger sekalian balik arah kembali menuju tempat menginap di Nusa Dua. Tidak ada foto menarik gimana banget kalo dari Joger sih. Selain bahwa saya menemukan sebuah mug yang lumayan menarik karena bentuknya miring. Mug itu untuk oleh-oleh dan sudah saya berikan kepada orangnya dan lupa saya foto. :v

Hari Keempat - 24 Oktober 2014

Hari ini tempat tujuan kami adalah ke daerah Ubud: Hutan Monyet, Tegallalang, Kintamani.

Menurut cerita dari sang sopir (ibu saya sudah mulai sreg dengan sopir ini dan kemungkinan besar kalau kami pergi ke Bali lagi, kami akan mengontak sopir yang sama), Hutan Monyet itu adalah semacam penggantinya Sangeh. Daya tarik utama dari Sangeh juga sama--objek wisata dengan banyak monyet hidup bebas--tapi monyet-monyet di sana makin sering menimbulkan insiden mulai dari membawa kabur barang milik pengunjung hingga menggigit pengunjung, jadi objek wisata Sangeh mulai "diturunkan pamor"-nya dan dialihkan ke Hutan Monyet ini.

Di Hutan Monyet ini memang para monyet penghuninya tidak banyak bertingkah sih selain kadang mereka saling kejar antar kelompok kalau ada monyet yang mengganggu monyet lain.

Patung yang menjaga jalan masuk

Kolam yang katanya "center point"
tempat ini

Nengok sini dong~

Pura Utama

Patung di gerbang Pura Utama
(gayanya "I'm sexy and I know it" banget)

Tempat tujuan selanjutnya masih berada di wilayah Ubud, tapi jaraknya rupanya cukup jauh dari Hutan Monyet dan lain kali pergi ke Tegallalang, saya mungkin harusnya mengalokasikan lebih banyak waktu supaya bisa turun ke sawah di bawah.

Tegallalang view pertama

Tegallalang view kedua

Ada banyak tempat makan yang dibangun di tepian Tegallalang ini, rata-rata menawarkan view ke hamparan sawah, tapi jujur saja saya bukan jenis orang yang berminat dengan makan sambil menyaksikan pemandangan.

Tujuan selanjutnya adalah Kintamani.

Percaya tidak percaya, di Kintamani dinginnya setara dengan di Puncak! Padahal cuaca di Bali pada umumnya termasuk panas.

Ada tiga gunung yang berhasil saya foto dari tempat pemberhentian kami di Kintamani. Sopir yang menemani kami juga menunjukkan bahwa di kaki gunung di bagian seberang danau terletak Desa Trunyan yang katanya merupakan "Hindu Bali Asli". (Katanya lagi, Hindu yang berkembang di Pulau Bali adalah Hindu asimilasi antara Hindu-Bali dengan Hindu-Jawa.)

Desa Trunyan ada di sekitar sana

Gunung Agung

Hari Kelima - 25 Oktober 2014

Saya sebenarnya capek berat gara-gara salah rute perjalanan kemarin. Barangsiapa ingin pergi ke Kintamani, sebaiknya alokasikan sekalian satu hari untuk pergi ke sana supaya tidak capek di jalan.

Hari ini lokasi yang saya tuju sama-sama berada di Nusa Dua: Tanjung Benoa, Garuda Wisnu Kencana, dan Pantai Pandawa.

Di Tanjung Benoa iya, ampun, saya boros, saya mengaku saya mencoba dua permainan air: jet ski dan satu permainan lagi yang saya lupa namanya tapi permainan itu sedikit mirip dengan yang namanya Flying Fish, hanya saja tidak sampai terbang dan--katanya--sensasinya lebih mirip rafting.

Selesai basah kuyup di Tanjung Benoa, saya menuju ke Garuda Wisnu Kencana aka GWK. Dulu sebenarnya saya sudah pernah mengunjungi tempat ini ketika acara study tour SMA kelas 3, tapi saya pikir, setelah sekian tahun berlalu, pasti ada perubahan yang terjadi (meskipun ternyata pembangunan patungnya masih belum selesai).

Sekedar iseng, saya mencoba mengambil foto panoramik.



Memang ada banyak perubahan jika dibandingkan saat saya kunjungi dulu. Terutama sekali saya ingat kalau dulu tidak ada "panggung jalanan" ini.

Street Performance
Lalu kolam ini.

Kolam ini bikin adem, serius
Bagian patung Wisnu sepertinya dari dulu sampai sekarang masih sama.


Beberapa hal menarik lain yang saya temui di sekitar GWK adalah adanya "calon-calon" permainan yang memanfaatkan sisa potongan bukit kapur di sekitar lokasi utama patung.

Reaksi pertama saya: "Hah? Di mana???"

Ternyata ini tempat wall climbing-nya

Reaksi saya: "Apa pulak ini???"

Jangan bilang kabel itu ...

... Kayaknya beneran itu marine bridge-nya ...

Lalu ada juga amphitheater yang bikin saya kepingin nonton pementasannya kapan-kapan kemari lagi.

Amphitheater

Keluar melalui toko souvenir, saya malah mendapat objek foto tak terduga.

Barong Bangkal dan Barong Macan

Ini pertama kalinya saya tahu bahwa barong itu jenisnya bukan cuma satu saja. Ada entry di Wikipedia yang menjelaskan mengenai Barong Bangkal, tapi saat saya meng-update posting ini, entah kenapa artikel Wikipedia versi bahasa Indonesia mendadak jadi lebih lengkap tapi bahasanya adalah bahasa terjemahan dari artikel bahasa Inggris yang saya baca kemarin dulu, sementara artikel versi bahasa Inggris jadi singkat. :v

Intinya, btw, Barong Bangkal yang wujudnya seperti babi hutan itu adalah jenis barong yang digunakan ketika perayaan Galungan-Kuningan dan biasanya ditampilkan berkeliling dari pintu ke pintu di desa. Agak berbeda dengan Barong Macan yang sekarang ini pementasannya terjadwal di suatu lokasi dan memang cenderung ditujukan untuk turis.

Saya gagal menahan diri untuk tidak membeli souvenir di sini, ngomong-ngomong.

Tujuan selanjutnya, Pantai Pandawa!

Saat saya SMA, nama pantai ini sama sekali belum pernah disebut-sebut, jadi dugaan saya pantai ini baru dikembangkan menjadi objek wisata sekitar 2 tahun terakhir. Mau tahu apa yang unik dari pantai ini?

Patung Dewi Kunti

Patung Dharma Wangsa aka Yudhistira

Patung Bima

Patung Arjuna

Patung Nakula

Patung Sadewa

Di Pantai Pandawa ini sebenarnya ada penyewaan kano, tapi tangan saya sudah terlanjur super pegal gara-gara di Tanjung Benoa, makanya saya kehilangan minat untuk mencoba berkano.

Tepi pantai

Lautnya


Hari Keenam - 26 Oktober 2014

Karena hari ini sopir yang kami pakai jasanya berhalangan, saya dan ibu saya nongkrong di kost saja hingga siang. Saat siang, ayah saya mengajak pergi ke Pantai Balangan.

Saya sedang mengenakan celana panjang saat itu (dua celana selutut saya sedang dikirim ke laundry sekitar) jadi saya sama sekali tidak turun hingga ke bibir pantai dan hanya menjepret foto dari tempat yang agak tinggi.





Hari Ketujuh - 27 Oktober 2014

Hari ini saya kembali bepergian dengan ayah saya, kali ini menuju ke Pantai Padang-padang.

Berdasarkan buklet yang kami ambil ketika di bandara, Pantai Padang-padang ini terkenal sebagai spot selancar.

Kami sempat salah belok dan malah berhenti di Pura Uluwatu. Karena tidak ada persiapan untuk datang ke tempat ini (ada peringatan untuk menyimpan kacamata dan perhiasan, kemungkinan besar ada monyet berdiam di daerah sini), kami hanya menanyakan jalan, lalu melanjutkan perjalanan. Lain kali ke Bali lagi, saya mungkin menyempatkan datang lagi ke Pura Uluwatu ini.

Pantai Padang-padang itu agak sedikit ... "tersembunyi". Tangga turunnya saja seperti ini.

Kayaknya yang klaustrofobia susah deh

Yap, tangganya membelah karang begitu
Lalu pantainya sendiri ...
Bentuk batuannya tidak biasa, IMHO

Yang mau belajar selancar, sedang foto-foto



Ibu saya memunguti rumput laut dan membawanya pulang, ngomong-ngomong. Hingga postingan ini dipublikasikan, rumput laut itu terakhir saya ketahui berhasil dibawa hingga ke Bandung tapi entah bagaimana nasibnya sekarang. Ibu saya mengeluhkan tentang sulitnya membersihkan pasir dari rumput-rumput laut itu, jadi sekarang saya maklum kalau ada yang berjualan rumput laut goreng atau sejenisnya di daerah pantai dan makanan ringan tersebut diberi bonus pasir, itu karena membersihkannya sulit.

Hari Kedelapan - 28 Oktober 2014

Saatnya membereskan dan memilah barang-barang, siap-siap kembali ke Bandung besoknya. Karena saya dan ibu saya menginap di tempat terpisah, barang-barang--terutama oleh-oleh atau titipan--harus dibagi-bagi supaya bisa saya bawa kembali ke tempat saya menginap dan saya masukkan dalam tas saya.

Hari Terakhir - 29 Oktober 2014

Pulang ke Bandung~

Komentar

NagaBenang mengatakan…
LAUT. LAUT. LAUT.

Dan di foto yang museum dan pantai itu anda mengenakan baju yang sama? :v
Juno Kaha mengatakan…
Eh, sepertinya iya bajunya sama. :v

Ato gw bawa baju dua2nya warnanya merah yah waktu itu. :v

Tapi emang sempat 2 harian pake baju yang sama sih, sebelum baju itu dicuci di laundry sekitar.

Hehe.

Postingan populer dari blog ini

Simple Notes: Fiction Junction (Character Part 1: Classification)

[Resensi] Valharald