Jumat, 06 Februari 2009

Kok Gw Punya Nyokap Super Garing Sih Alih-alih Superwoman...?

Sesaat sebelum berangkat latihan kendo di kampus.

Nyokap: "Tahu gak hape apa yang ganti kelamin?"
Gw: "Haa...?" (memikirkan semua merek hape)
Nyokap: "Tahu gak?"
Gw: "Nggak..."
Nyokap: "Xperia. (dia menyebutnya "eks priya" yang diartikan jadi "ex pria")"
Gw: "..."

==

Hehe.

Pengetahuan Dari Setiap Sudut

Dulu, saya pernah mendapat tugas membaca sebuah buku berjudul "Menjadi Manusia Pembelajar" karangan Andrias Harefa (lupa, tolong diralat kalau salah). Berhubung waktu yang diberikan untuk membaca tidak banyak dan saya juga kurang berminat untuk membeli jenis buku yang--menurut saya--bertema "bagaimana menjadi...", saya tidak membaca teliti dan tuntas buku tersebut.

Lama kemudian, saat liburan panjang pergantian semester, saya menghabiskan banyak waktu di rumah dengan bermain game. Seumur-umur belum pernah saya memainkan game seantusias itu! Rata-rata 4-8 jam saya habiskan setiap harinya di depan layar TV, memainkan game tersebut (maklum, game konsol PS2).

Sudah jelas ini antara efek baik-buruk video game! Menurut pakar kesehatan, sudah pasti saya akan dihujat karena kegiatan saya berpotensi mengakibatkan berbagai komplikasi kesehatan mulai dari obesitas, berkurangnya daya lihat, dan aneka kerusakan lain yang sering disebut-sebut dalam artikel kesehatan yang memojokkan video game. Di lain pihak, saya selaku mahasiswa teknik informatika, terpukau pada AI dalam game, terobosan baru dalam gameplay-nya, cerita yang apik, dan segala hal yang menurut salah satu mata kuliah saya merupakan indikator sukses sebuah perangkat lunak.

Anda harus berhenti membaca pada detik ini juga jika berharap saya membahas video game. :D Yang akan saya bahas masih tetap sesuai dengan judul yang saya tulis dan sedikit kalimat pembukaan di atas, yaitu mengenai belajar, tapi belajar yang akan saya bahas sedikit banyak terinspirasi oleh game adiktif yang saya mainkan selama liburan, itu sebabnya saya menuliskannya.

Selain sekedar bermain, saya juga memikirkan apa sih yang sebenarnya menyebabkan kecanduan yang amat sangat pada game tersebut? Cerita, itulah jawabannya.

Sangat di luar pandangan yang dianut oleh sebagian besar orang bahwa game selayaknya dikonsumsi oleh anak-anak saja, saya setuju jika game yang saya mainkan mendapat rating "mature". Alasannya? Kekompleksan cerita. Orang dewasa dengan pikiran terbuka yang bersedia memainkan game tersebut pastinya mengerti bahwa tema "true self" dan konflik utama berupa pembunuhan berantai dalam game tersebut bukanlah konsumsi bagi mereka yang bermental anak-anak, tapi dapat menjadi suatu pelajaran tersendiri bagi mereka yang bermental dewasa. (Dalam hal ini, saya membedakan "mature" dan "adult" dari segi kedewasaan mental, bukan fisik.)

Setelah berpikir dan merenung--saya biasanya terlihat bengong jika memasuki taraf "merenung", jadi mungkin orang yang mengenal saya jarang mendapati saya berpose ala patung Sang Pemikir--akhirnya saya kembali teringat akan buku yang saya sebut di atas dan berkesimpulan bahwa memang benar selama hidupnya manusia tidak bisa berhenti belajar.

Kemudian, saya memikirkan kembali tentang suatu hal yang terus teringat oleh saya setelah mengekstrak intisari dari buku di atas, yaitu tentang manusia yang berhenti belajar. Apa sebabnya?

Menurut saya, sebabnya tidak sukar untuk disimpulkan. Mereka gagal melaksanakan tahap-tahap awal menjadi seorang pembelajar.

Dan menurut saya (saya tebalkan, mengingat seorang pakar telematika pernah menuduh blogger adalah para penipu, harap diingat ini murni hasil pemikiran saya, tidak ada usaha penjiplakan, penipuan, dan lain-lain di dalamnya), tahap-tahap awal menjadi seorang pembelajar adalah:

1. Berpikiran positif
Berkat pelajaran dari orang tua yang ditanamkan sejak kecil, orang menjauhi sesuatu yang buruk, jelek, atau negatif. Sebenarnya, pemikiran akan sesuatu yang negatif sangat bergantung pada sudut pandang orang tersebut.

Mengadaptasi cerita dari kuliah agama, bayangkan seseorang mendengar sesuatu di luar rumahnya di malam hari. Ia pergi keluar untuk mengecek dan mendapati ada sesuatu yang panjang serta melingkar di sela-sela rumput di halamannya! ULAR! Orang itu pun berlari kembali ke dalam rumah, dengan tergesa-gesa mengambil kapak, dan segera mencacah makhluk yang ia lihat. Setelah puas, ia kembali ke dalam rumah, mengunci pintu, dan tidur dengan nyenyak hingga esok hari.

Saat ia keluar pagi berikutnya, ia mendapati bahwa apa yang dilihatnya semalam ternyata seekor ular-ularan plastik yang ditinggalkan anaknya di halaman. Sesuatu yang sama sekali tak berbahaya, berbeda sekali dengan apa yang ia kira semalam!

Dari cerita di atas, terbukti bahwa orang seringkali mendapati sebuah pandangan yang berbeda dari sudut lain. Dengan mempercayai bahwa suatu hal tidak mutlak negatif, ia seharusnya dapat mengubah sudut pandangnya hingga menemukan suatu hal yang positif. Intinya selalu: positive thinking!

2. Percaya bahwa selalu ada yang bisa dipelajari dari berbagai sumber
Prasyarat: positive thinking. Setelah melewati taraf berpikiran positif, telah melihat dari sudut pandang yang berbeda, janganlah diteruskan dengan pikiran, "Ah, sisi baiknya lebih sedikit dari sisi buruknya, tidak ada yang bisa dipelajari.". Anda telah berhenti belajar dengan mengatakan hal tersebut.

Mari ambil satu contoh konkret, yaitu rokok. Menurut pakar, zat-zat yang ada dalam rokok tidak ada satupun yang menguntungkan. Semuanya menyebabkan gangguan kesehatan dan semuanya bukan zat yang selayaknya dikonsumsi manusia. Jadi apa gunanya mero--STOP! Anda berpikir positif di sini. :D

Dari yang saya dengar, para perokok merasa tenang dengan mengkonsumsi rokok. Saya mengaitkannya dengan pelajaran biologi semasa SMP/SMA, rokok mengandung zat bernama nikotin yang ternyata mempengaruhi hormon dalam tubuh, memberikan perasaan lebih tenang dan bahkan--menurut artikel Wikipedia--kewaspadaan. Dengan ini kita telah berhasil menemukan satu sisi positif dan alasan mengapa para perokok demikian keras kepala kalau disuruh berhenti merokok.

Lalu? Apakah dengan satu sisi positif kita jadi sebaiknya merokok? Sudah jelas tidak. Anda semua pasti tahu pelajaran apa yang didapat dari pembahasan di atas: "jangan merokok kalau merasa hormon Anda dapat dipicu dengan hal lain"! :D

Percaya tidak percaya, dalam proses mencari sisi negatif dan sisi positif pun Anda mempelajari suatu hal. (Harus diakui, saya pun terpaksa membuka Wikipedia untuk mengklarifikasi ingatan saya akan nikotin)

3. Rendah hati
Siapa bilang orang yang lebih muda memiliki pengetahuan yang lebih sedikit daripada Anda? Siapa bilang orang yang kerjanya di pasar lebih--maaf--bodoh daripada orang yang mengendarai limusin dengan seorang sopir? Buktinya preman pasar bisa menakut-nakuti seorang bos yang tidak dalam pengawalan. :D

Bahkan orang yang strata atau statusnya lebih rendah pun menyimpan sesuatu yang tidak Anda ketahui selama ini. Anda belum bisa menyombongkan diri akan suatu hal sebelum mengetahui dengan pasti bahwa lawan bicara Anda tidak kalah dalam hal tersebut.

Keterangan: Saya tidak melarang Anda bersikap sombong, tapi pesan saya adalah sombonglah dengan elegan dan pasti setelah mengenali "lawan" Anda dan jangan pernah sungkan menelan malu seandainya kesombongan Anda berbalik karena kita tidak pernah tahu serapi apa lawan menyembunyikan kehebatannya.

4. Tertariklah pada hal baru seperti anak-anak
Poin terpenting dalam belajar adalah merasa tertarik, sebuah pemicu untuk belajar, mengalahkan segala hal lain seperti ambisi, ego, dan persaingan. :D

Dengan modal versi saya tersebut, main game di hari libur pun tidak usai hanya dengan rasa capek karena kelamaan duduk, tapi saya merasa mendapat pengetahuan baru. Anda boleh mencobanya jika berminat, tapi saya juga tidak keberatan jika Anda menganggap tulisan di atas hanyalah selingan saja. Saya bisa belajar membuat artikel lebih baik lagi kan dengan demikian? :D

Selasa, 03 Februari 2009

Ada Apa Dengan Cinta? -- Pembahasan Santai Mengenai Lagu-lagu Lokal

Saya sebenarnya tidak terlalu mengikuti perkembangan musik lokal, tapi karena Mama hobi menyetel radio dan televisi (televisi di pagi hari, radio di malam hari) yang tengah menayangkan musik lokal (nyokap mana yang hobi dengerin Oz? :D) otomatis saya jadi ikut mendengarkan dan cukup tahu seputar perkembangan musik Indonesia.

Jadi... saya mendapati bahwa ternyata musik Indonesia polanya agak monoton:
- Penyanyi atau band yang personilnya laki-laki (terutama kalau vokalisnya laki-laki) bercerita tentang sang wanita. Entah ia mengejar tapi tidak kesampaian, entah dia merasa ditipu sang cewek, entah dia rebutan dengan laki-laki lain, dan sebagainya. Sebenarnya variasinya banyak, tapi belakangan ini terasa semakin banyak keluhan mengenai kaum hawa dalam lagu-lagu mereka.
- Penyanyi atau band yang personilnya wanita (terutama kalau vokalisnya wanita) bercerita tentang sang pria. Kurang lebih sama dengan penyanyi/band pria, hanya saja ditambahkan variasi tema "punya pacar lebih dari satu". Tetap saja, belakangan banyak komplain soal sang pria.

Ini membuat saya berpikir... Kok jadi sama-sama mempermasalahkan lawan jenisnya yah...? Mungkin ini yang menyebabkan perceraian jadi lazim di kalangan selebritis? Karena masing-masing akhirnya menyadari kalau pasangannya "lelaki buaya darat", "memang dasar kamu *piip*", dan semacamnya dan memutuskan untuk "cari pacar lagi"?

Lama-lama semua lagu kembali ke "ada apa dengan cinta" deh kalau begini. :D

Kalau saya sih lebih suka "ayo goyang duyu~". Variasi di antara tema cinta!

Hehe.